AKU HANYA PUNYA CINTA DAN SEBUAH JENDELA

cinta dan jendela

image: csopiedmont.com

AKU HANYA PUNYA CINTA DAN SEBUAH JENDELA
Oleh Said Muniruddin (Penerjemah)

Ada dua laki-laki, keduanya sakit parah, menempati kamar yang sama di sebuah rumah sakit. Salah satu dari mereka diizinkan dokter untuk duduk diranjang selama satu jam setiap sore guna mengeringkan cairan yang ada di paru-parunya. Ranjangnya kebetulan tepat berada di dekat satu-satunya jendela ruangan tersebut. Sementara seorang laki-laki lain menempati sudut lain ruangan tersebut dan harus menghabiskan seluruh waktunya dengan terlentang di atas ranjang.

Kedua mereka menjadi akrab, bersahabat. Mereka berbicara berjam-jam tanpa henti. Mereka saling berbagi tentang keluarga, istri, rumah, pekerjaan serta keterlibatan mereka dalam usaha dan perjuangan yang menyebabkan mereka harus lumpuh seperti sekarang ini.

Setiap sore, ketika laki-laki di ranjang dekat jendela dapat kesempatan untuk duduk, dia akan menghabiskan waktu menceritakan kepada kawan sekamar tentang segala hal yang dapat ia lihat di luar jendela.

Pria yang terbaring di ranjang satu lagi mulai merasa hidup kembali selama satu jam tersebut, dimana dunianya mulai terbuka dan bergerak dengan semua aktifitas dan warna dunia luar yang diceritakan oleh sahabat dekat jendela.

Sahabat dekat jendela terus berbagi pemandangan. “Dari jendela terlihat sebuah taman yang luas dengan danaunya yang sangat indah. Itik dan angsa bermain di air, sementara anak-nanak mengayuh perahu-perahu kecil yang dibimbing orang tua mereka. Para kekasih yang baru menikah dan saling jatuh cinta berjalan saling bergenggaman tangan di tengah taman bunga yang beraneka warna. Sekumpulan burung terbang saling kejar dan hinggap dari satu ranting ke ranting lainnya. Agak lebih ke utara terlihat sebuah sungai kecil yang sangat jernih mengalir pelan. Bebatuan pun menonjol keluar dari arus-arusnya. Sejumlah orang terlihat gembira bermain, mandi dan berenang di dalamnya. Tidak jauh di seberangnya sejumlah remaja saling kejar, tertawa dan berguling-guling di rerumputan hijau yang lembut. Sementara jauh di seberang taman dan hutan kecil terlihat indah sayup-sayup gedung-gedung megah pencakar langit tersapu kabut senja”.

Ketika laki-laki dekat jendela menceritakan semua detil keindahan ini, sahabatnya yang di sudut lain ruangan menutup mata dan mulai membayangkan setiap panorama indah seluru penjuru taman tersebut.

Pada satu sore yang cerah, laki-laki dekat jendela menjelaskan sebuah parade yang sedang lewat. Meskipun sahabatnya tidak dapat mendengar alunan musik dan suara marching band, namun ia dapat melihatnya melalui mata pikiran sebagaimana kawan dekat jendelanya menceritakan dengan beragam untaian kata.

Hari-hari terus berjalan. Hari berubah minggu. Minggu kini menjadi bulan. Bulan demi bulan pun berlalu. Itulah yang terjadi setiap hari.

Pada satu pagi, seorang dokter muda yang bertugas memeriksa pasien pagi hari menemukan tubuh tak bernyawa dari laki-laki dekat jendela, yang meninggal dengan tenang dalam tidur setelah puas menceritakan semua pemandangan luar kepada temannya.

Dalam empati dan kesedihannya, dokter muda yang sangat dekat dengan pasiennya ini memanggil perawat untuk memindahkan mayat tersebut.

Kini tinggallah laki-laki lumpuh yang tidak pernah bangun itu. Tidak lama berselang, ia pun meminta izin kepada dokter untuk bisa dipindahkan ke ranjang dekat jendela yang pernah ditempati sahabatnya. Dengan senang hati sang dokter menuruti permintaannya. Setelah memastikan ia nyaman dengan ranjang dan posisi barunya, dokter pun meningalkan ia sendirian.

Secara perlahan dengan menahan rasa sakit yang luar biasa, ia memaksakan diri untuk duduk dengan bertumpu pada satu bahu. Hal ini dilakukan hanya untuk mencoba melihat secara nyata dunia yang ada di luar jeldela. Dia terpatah-patah perlahan memutar badan dan kepalanya berusaha melihat keluar jendela yang berada di samping tempat tidurnya.

Namun apa yang terjadi? Ia hanya melihat tembok kosong!!

Ia tercengang. Terkejut dan kecewa. Tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya, ia pun bergerak pelan dari ranjang, lalu terjatuh ke lantai. Ia bangun lagi, secara perlahan berjalan tertatih tatih ke luar ruangan mencari perawat dan dokter. Ajaib, laki-laki lumpuh ini telah berjalan! Begitu bertemu dokter, ia menanyakan apa penyebab hilangnya semua panorama dan keindahan di luar jendela yang pernah diceritakan almarhum sahabatnya. Dokter menjawab, bahwa sebenarnya, sahabatnya yang telah tiada itu buta bahkan samasekali tak bisa melihat tembok tersebut. Dokter menambahkan, “ia ingin menyemangati, agar suatu ketika kamu mampu berdiri dan sembuh dari lumpuh. Ia tau hidupnya tidak lama lagi, namun ia ingin sahabatnya bisa hidup lebih lama dari dia. Ia memahami bahwa tidak ada batasan untuk bisa membahagiakan orang lain, meskipun dia sendiri dalam keterbatasan”.

Dokter melanjutkan, “Pernah suatu ketika saya menanyakan kepadanya mengapa ia terus menceritakan hal-hal yang tidak pernah ia lihat kepada kamu. Lalu ia berbisik kepada saya, “kebahagiaan bersumber dari keikhlasan dalam membahagiakan orang lain. Aku tidak punya uang untuk membeli obat-obatnya. Aku tidak memiliki kekuatan untuk membantunya berjalan. Aku tidak punya mata untuk melihat penderitaannya. Tapi aku punya cinta dan sebuah jendela untuk menyembuhkan sahabatku”.*****

(Saya edit dan terjemahkan dari sebuah sumber Anonim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s