SUDAH PUTUSKAH KETURUNAN NABI SAW?

al-kautsarSudah Putuskah Keturunan Nabi SAW?
Oleh Said Muniruddin

Pengantar. Waktu itu pertengahan Januari 2010. Jam menunjukkan pukul 12 dini hari. Sekelompok pemuda dari Pidie turun dari mobil kijang dengan nomor polisi BL 389 AJ. Mereka berhenti untuk minum di sebuah warung kopi di daerah Tutut, Aceh Barat. Rombongan ini baru saja pulang mengantarkan bantuan kepada sebuah keluarga miskin di daerah Panton Pangé, Nagan Raya. Terdiri dari tujuh orang, enam diantara mereka memiliki nama “sayyid” atau di Aceh lebih familiar dengan “said.” Mereka adalah Said Hamzah (29th), Said Zulfikar (37th), Said Usman (38th), Said Muazzin (24th), Said Rahmat (30th), dan saya sendiri Said Muniruddin (30th) yang memimpin rombongan. Sedangkan satu lagi bernama tgk. Ayyub (38th), beliau bukan sayyid.

Pertanyaan Menarik di Awal Diskusi. Di sini terjadi diskusi hangat antara saya sebagai ketua tim dengan tgk. Ayub. Beliau dalam rombongan ini dikenal sebagai orang yang boleh dikatakan memiliki cukup pengetahuan mendasar tentang agama. Ia suka berdiskusi bahkan berdebat tentang agama. Karena hampir semua anggota tim merupakan “sayyid”, maka tgk. Ayub menjadi tertarik untuk mengajukan sebuah pertanyaan tentang apa yang sudah umum menjadi kepercayaan dalam dunia Islam.

“Apakah sayyid dan syarifah itu keturunan Nabi saw?”, beliau membuka diskusi.

Saya sedikit terkejut dengan pertanyaan sederhana dan singkat ini, namun berat untuk dijawab. Lama saya menatap beliau. Agak malu juga untuk menjawab apalagi mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi saw. Walau bagaimanapun saya harus menjawab.

“Ya benar. sayyid dan syarifah adalah keturunan Rasulullah saw”, jawab saya singkat.

Tgk. Aiyub kembali menanggapi secara kritis, “Mengapa sayyid dan syarifah disebut keturunan Nabi saw? Bukankah Nabi saw tidak memiliki keturunan? Sebab keturunan itu dari pihak laki-laki, bukan dari pihak perempuan.”

Menurut tgk. Ayub, sayyid dan syarifah terlahirkan dari putri Nabi saw, jadi bukan keturunan dari putra Nabi saw, karena Nabi saw tidak punya putra. Jadi, sayyid dan syarifah adalah keturunan putri Nabi saw, bukan keturunan Nabi saw. sayyid dan syarifah bukan anak Rasulullah saw, tetapi bernasab kepada Ali bin Abi Thalib kwh”.

“Sayyid”, Cucu sekaligus Keturunan Nabi saw. Mendapat tanggapan menarik ini, saya kembali menjawab: “Kami pribadi dengan rendah hati sebenarnya tidak berani mengakui diri sebagai keturunan imamul mukminin Ali bin Abi Thalib, apalagi keturunan manusia sempurna Muhammad bin Abdullah. Ini dikarenakan akhlak kami yang masih jauh dari apa yang mereka teladankan. Banyak dari kami yang kalian lihat sendiri melakukan maksiat. Terlalu berat mengemban nama besar mereka. Namun karena ini bagian dari diskusi agama yang baik, maka yang benar harus kami sampaikan.”

Maka kemudian saya meminta izin untuk menjawab pertanyaan tersebut atas dasar kebutuhan pencerahan intelektual, sehingga kita dapat memahami sesuatu dengan lebih baik. Penting bagi kita ummat Islam yang beriman kepada Nabi saw untuk memiliki pengetahuan tentang Beliau, keluarga dan keturunannya. Jawaban saya semoga tidak berdasarkan nafsu apalagi atas dasar arogansi nasab keturunan. Saya akan menggunakan dalil agama, baik yang bersumber dari alQur’an maupun Hadist. Serta dari beberapa literatur yang dishahihkan oleh para ulama yang menjelaskan bahwa sayyid dan syarifah tidak hanya cucu Rasulullah saw, tapi juga keturunan Beliau.

Perspektif Ayat. Sebelumnya ingin kami sampaikan, diskusi berjalan secara spontan dengan topik yang terkadang berlompatan. Tulisan ini berusaha merapikan kembali isi diskusi tersebut dengan melengkapi dalil dan referensi . Dengan demikian, hasil diskusi menjadi sebuah dokumen yang memiliki nilai ilmiah bagi yang ingin memperoleh pengetahuan.

Kembali kepada diskusi. Saya menjelaskan: “Kalau sayyid dan syarifah adalah cucu Nabi saw itu sudah jelas benar. Karena yang namanya cucu tidak hanya dari anak laki-laki, tapi juga dari anak perempuan. Kalau anda punya anak perempuan. Lalu anak perempuan anda punya anak. Sudah jelas, anak dari anak perempuan anda tersebut adalah cucu anda. Jadi sayyid dan syarifah adalah cucu Nabi saw, tidak perlu dibantah lagi. Karena mereka adalah anak turunan dari anak perempuan Nabi saw”, saya menjelaskan. “Tetapi sayyid dan syarifah tidak hanya cucu Nabi, bahkan juga keturunan Nabi saw dari jalur anak perempuan beliau, Fathimah”. Berikut penjelasannya.

Pertama, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim…. dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya.… dan dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Isa, dan Ilyas semuanya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. alAn’am -6: 83-85).

Ayat ini berbicara tentang sejumlah nabi dan anak keturunannya. Disitu juga disebutkan nama Isa as. Lalu siapa ayah nabi Isa as? Tentu Isa as tidak memiliki ayah. Tetapi, dalam ayat tersebut Allah swt menisbatkan Isa as kepada keturunan para Nabi melalui garis ibunya, Maryam. Demikian juga sayyid, Rasul sendiri yang menisbatkan mereka kepada beliau melalui ibu mereka Fathimah. Hadist tentang penisbatan keturunan para sayyid melalui garis Fathimah akan saya jelaskan kemudian.

Kemudian, dalam ayat lain Allah swt juga berfirman, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkanmu, maka katakanlah (kepadanya), “marilah kita memanggil anak-anak kami (abna ana) dan anak-anak kamu, perempuan kami (nisa ana) dan perempuan kamu, diri kami (anfusana) dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta” (QS. Ali ‘Imran -3: 61).

Ayat ini turun ketika Nabi saw bermubahalah dengan kaum Nasrani, yang menyertakan Ali, Fathimah, Hasan, dan Husen dalam jubah atau kain kisa. Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa arti dari kalimat abna ana (anak-anak kami) dalam ayat ini adalah Hasan dan Husen. Sementara arti dari nisa ana (perempuan kami) adalah Fathimah. Serta anfusana (diri kami) adalah imam Ali.

Sejumlah ulama ketika menafsirkan surah Ali ‘Imran ayat 61 tersebut mengatakan bahwa Hasan dan Husen adalah keturunan Rasulullah saw karena dalam ayat ini Allah menjadikan Isa as sebagai keturunan Ibrahim. Padahal, Isa as tidak memiliki nasab dari Ayah. Dari garis ibunyalah Isa as bernasab kepada Ibrahim as. Demikian juga Hasan dan Husen sebagai keturunan Rasulullah saw dari garis ibu. Hal ini diantaranya dijelaskan dalam Tafsir “al-Kabir” karya Imam Fakhrurrazi, jilid 7, juz 13, hlm.66, (2). Kitab “al-Ihtijaj”, juz 2, diskusi No.271, hal.335, (3). Syarah “Nahjul Balaghah” oleh Abu Bakar alRazi.

Perspektif Hadist. Sejumlah statement Nabi saw juga menjelaskan bahwa Hasan dan Husen adalah keturunan Rasulullah saw. Misalnya, “Kedua anakku ini (sambil menunjuk Hasan dan Husen) adalah kesturi dan kedua anakku ini adalah pemimpin (sayyid), baik ketika berdiri, maupun ketika duduk”. Riwayat ini dapat dibaca misalnya dalam karya (1) Khatib al-Khawarizmi dalam “al-Manaqib”; (2) Mir Sayid Ali al-Hamdani al-Syafi’i dalam “Mawaddah al-Qurba”; (3) Imam Ahmad bin Hambal dalam “musnad”-nya; dan (4) Sulaiman al-Hanafi al-Balkhi dalam “Yanabi al-Mawaddah”.

Banyak hadist-hadist mu’tabar yang Rasul saw menyatakan bahwa Hasan dan Husen sebagai anak-anaknya. Sering nabi memperkenalkan kepada sahabat-sahabat beliau sambil berkata, “inilah kedua anakku”. Penasaban mereka sebagai anak-anak Nabi saw tentu menjadi penasaban istimewa dalam Islam. Dan inilah kelebihan dan hak prerogratif Rasul. Apa yang diucapkan Rasul menjadi hukum dalam Islam. Dan hal ini menjadi hukum penasaban khusus dalam agama Islam. Hukum khusus lainnya dapat dilihat dalam semua mazhab Islam dimana sayyid dan syarifah adalah golongan yang haram menerima dan memakan zakat, semiskin apapun mereka. Ini hadist, perintah Nabi saw yang menjadi hukum Islam.

Kenapa mesti ada pengecualian khusus? Begitulah Rasul saw ingin menjelaskan kekhususan keturunannya melalui Ali bin Abi Thalib dan Fathimah azZahra. Dalam hal ini Nabi sekaligus ingin menyatakan bahwa beliau tidak menuntut upah dan harta apapun atas pekerjaannya berdakwah untuk umat (QS. asySyura -42: 23). Demikian juga beliau perintahkan kepada keluarga dan keturunan beliau melalui Fathimah untuk tidak menerima sedekah dan zakat.

Dalam hadist lainnya Rasulullah saw bersabda, “Allah azza wajalla menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib”. Ini hadist dengan sanad dari Jabir bin Abdullah al-Anshari yang dapat ditemukan dalam (1) “Kifayah al-Thalib” karya Allamah Kanji (Muhammad bin Yusuf al-Syafi’i); (2). Riwayat Ibn Hajar al-Makki dalam “al-Shawa’iq al-Muhriqah”, hal.79 & 94, dari at-Thabrani dari Jabir bin Abdulah al-Anshari; dan (3) Riwayat Khatib al-Khawarizmi dalam “Manaqib ibn Abbas”.

Pada kesempatan lain ketika Nabi saw sedang duduk dengan Abbas, Ali datang menemui Rasul. Setelah menjawab salam Ali, lalu Rasul merangkul dan mencium kening Ali. Melihat ini, Abbas bertanya pada Rasul, “Apakah anda mencintainya?”. Rasul menjawab, “Wahai paman, demi Allah, Allah lebih mencintainya daripada aku. Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi orang ini”. Hadist ini disebutkan at-Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabir”.

Tentu ada yang membantah, bagaimana bisa keturunan Nabi saw adalah melalui imam Ali. Seharusnya melalui Fathimah. Sementara keturunan melalui Fathimah adalah keturunan melalui anak perempuan. Maka keturunan melalui anak perempuan bukan keturunan ayahnya. Mereka yang membantah ayat dan hadist yang telah tersebutkan di atas, biasanya berpegang pada syair berikut ini: “Putra-putri kita adalah anak putra kita, anak putri kita adalah anak orang lain”. Sejumlah ulama telah membantah bahwa syair ini tidak berlaku untuk Nabi (S.M alMusawi, “Mazhab Pecinta Keluarga Nabi”, MPress & Alhuda, 2009).

Keturunan Nabi saw “Terputus”? Dalam sejarah awal Islam, selain Yahudi, ada satu kelompok yang paling senang ketika mengetahui Nabi saw tidak punya anak laki-laki (yang hidup sebagai penerus keturunan). Mereka adalah Bani Umayyah. Sebagaimana diketahui, Bani Umayyah adalah pesaing utama Bani Hasyim klan-nya Nabi saw. Padahal kedua mereka ini (Hasyim dan Umayyah) adalah sama-sama dari suku Quraisy, anak dari Abdu Manaf. Sejak masa jahiliah, kedua kelompok yang sebenarnya bersaudara ini telah bersaing memperebutkan kepemimpinan kota Mekkah, termasuk dalam hal penjagaan Kakbah. Tetapi Bani Hasyim lebih dicintai oleh masyarakat sehingga memenangkan leadership kota Makkah, baik secara politik maupun spiritual. Bahkan salah satu cicit Hasyim, yaitu Muhammad saw, merupakan sosok paling dicintai dan dipercayai oleh warga Mekkah karena kejujurannya (al-Amin). Anak turunan Bani Hasyim ini pula yang kemudian dipilih Tuhan menjadi pemimpin dunia.

Hal ini tentu semakin membuat sakit hati Bani Umayyah. Sehingga tidak heran, salah satu perlawanan terbesar terhadap risalah yang dibawa Muhammad saw datang dari Abu Sufyan dan anak-anaknya. Abu Sufyan termasuk orang yang paling akhir masuk Islam. Ia baru menerima kebenaran yang dibawa Muhammad saw ketika “futuh Mekkah”. Artinya, ia menerima Islam justru ketika sudah berada dalam posisi sangat tersudutkan dan tidak lagi punya kekuatan untuk melakukan perang terbuka. Padahal, kelompok Umayyah ini masih menyimpan hasrat untuk menjadi penguasa Arab dan Mekkah. Tapi kemunculan Islam dibawah Muhammad saw telah menghalangi impian mereka.

Itulah sebabnya, sindiran sering dilakukan kepada Muhammad saw karena tidak punya anak-laki. Mereka senang karena menganggap “trah” Muhammad saw sudah terputus. Atas sikap ini Allah swt mengutuk mereka, “… Sesungguhnya merekalah yang terputus” (QS. alKautsar -108: 3). Juga melalui lisan Nabi-Nya, baik melalui berbagai hadist baik yang sudah kita bahas maupun hadist-hadist lainnya, disebutkan bahwa keturunan Muhammad saw adalah dari anaknya Fathimah, serta tidak akan terputus sampai hari kiamat. Sebagaimana diriwayatkan, Rasul saw berkata, “Setiap hasab dan nasab terputus pada hari kiamat kecuali hasab dan nasabku”.

Hadist ini dapat ditelusuri dalam sejumlah karya seperti (1) Allamah al-Kanji dalam “Kifayah at-Thalib”, hal.380, riwayat at-Thabari dalam Tarjamah al-Hasan; (2) Sulaiman Hanafi dalam “Yanabi al-Mawaddah”; (3) Jalaluddin as-Suyuthi dalam “ Ihya al-Mayyit fi Fadhail Ahl Bayt”; (4) Abu Bakar bin Syihabuddin dalam “Rasyfah al-Shadi fi Bahr Fadhail Bani al-Nabi al-Hadi”, bab 3, cetakan Mesir; (5) Ibnu Hajar Haitami dalam “al-Shawaiq al-Muhriqah”, Bab 9, Pasal 8, Hadist No.17; dan (6) Ibn Hajar dalam “Shawaiq”, Bab 11, Pasal 1, ayat 9.

Dari hadist ini kita juga memahami mengapa kaum habib, sayyid, atau syarif termasuk kelompok yang paling rapi pencatatan nasabnya di muka bumi. Ada lembaga resmi yang mereka kelola sendiri untuk mencatat nasab keluarga di seluruh dunia, dan -atas izin Allah- tidak akan terputus sampai kiamat.

Keturunan Nabi saw dari Jalur Anak Perempuannya, Fathimah. Tentang betapa beliau memuliakan anaknya Fathimah sebagai penerus nasabnya sudah sering diceritakan dalam sejarah. Misalnya diriwayatkan bagaimana Nabi saw dengan bangga membawa Fathimah dikeramaian Mekkah sambil berteriak menyatakan bahwa ini adalah anaknya. Padahal, memiliki anak perempuan pada masa itu bukanlah sesuatu yang membanggakan. Bahkan ada kasus-kasus jahiliah yang membunuh anak perempuannya karena rasa malu. Bahkan sampai hari ini, masih banyak ayah yang kecewa jika yang terlahir dari rahim istrinya adalah anak perempuan.

Tetapi tidak demikian dengan Nabi saw. Selain bangga dengan anak perempuannya, beliau membuat pernyataan hukum yang mengejutkan, bahkan masih sulit diterima oleh sebagian orang sampai hari ini: “Keturunan ku adalah dari anak perempuan ku, Fathimah.” Seperti tersebut dalam hadist yang sanadnya dari Umar bin Khatab juga disebutkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Semua anak dari perempuan bernasab kepada ayah mereka, kecuali yang dilahirkan Fathimah. Akulah ayah mereka”. Hadist ini dapat dibaca dalam Allamah al-Kanji dalam “Kifayah at-Thalib”, hal.381.

Ini termasuk pernyataaan tertinggi tentang gender dan emansipasi perempuan dalam Islam. Karena Nabi saw menyuarakan secara terbuka bahwa Fathimah adalah anak kebanggaannya, dan dari anak perempuannya ini pula keturuanannya berlanjut. Beliau mengangkat derajat anak perempuan justru pada era dimana perempuan tidak diakui dan sangat direndahkan. Garis keturunan yang biasanya mengikuti jalur laki-laki (patriarchal), tetapi khusus bagi dirinya Nabi saw menyatakan, keturunannya dari jalur anak perempuan.

Demikianlah. Penerus Nabi saw adalah dari sulbi Fathimah (dan Ali). mereka ini adalah: Hasan dan Husein. Kedua sayyyidusy syabab ahlul jannah inilah yang kemudian kembali menjadi saingan Bani Umayyah dan berusaha dihabiskan “trah”-nya oleh Muawiyah, Yazid, dan anak turunan Abu Sufyan lainnya dari klan Bani Umayyah.

Kontestasi politik untuk menguasai Arab dan memimpin dunia Islam pasca Muhammad saw terus berlanjut. Ketika Bani Umayyah berhasil mengkudeta khalifah Ali bin Abi Thalib (yang juga dari Bani Hasyim), mereka terus berusaha mengeleminir seluruh pengaruh Bani Hasyim. Secara politik terlihat berhasil untuk beberapa waktu, karena mampu menghilangkan kepemimpinan politik Bani Hasyim keturunan Nabi saw, khususnya kaum “sayyid” dari jazirah Arab. Sehingga dapat dipahami mengapa kaum sayyid anak cucu Rasul saw mengalami diaspora yang luar biasa ke berbagai belahan dunia. Mereka hijrah dari Makkah, ke Madinah, kemudian ke Irak, Iran, Yaman, dan seterusnya keberbagai belahan dunia (termasuk Indonesia) sambil berdakwah.

Hukum Penasaban Khusus (Lex Specialis). Kembali kembali ke topik utama. Maka jelas sudah, bahwa keturunan Nabi saw adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein dari Sayyidah Fathimah. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an  lainnya juga terdapat hujjah yang jelas tentang kekhususan penasaban Hasan dan Husen kepada Muhammad saw melalui ibu mereka Fathimah. Ini sebagaimana Isa yang sebelumnya telah dijelaskan, bersambung nasabnya kepada Nuh dari pihak ibunya Maryam (QS. alAn’am -6: 84-85). Artinya, penasaban Hasan dan Husen kepada Nabi saw, walaupun dari pihak ibu, tidak terhalang. Seperti penasaban Isa as kepada Nuh as melalui ibunya Sayyidah Maryam. Tentang ini turut dijelaskan at-Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabir”.

Inilah hukum penasaban khusus yang bersifat lex specialis, hak istimewa Rasul saw, yang di jelaskan dalam ayat dan hadist. Kalau Rasul saw sudah mengatakan begitu, apakah mau kita bantah? Rasul saw sendiri bukan jenis orang yang asal ngomong. Beliau tidak berkata sembarangan, kecuali sesuatu yang diwahyukan, “wama yanthiqu ‘anil hawa, inhuwa illa wahyu yuuha” (QS. anNajm -53: 3-4).

Penutup. Jika kita memahami berbagai ayat dan hadist diatas, sebenarnya Rasulullah saw sendiri yang menyatakan Hasan dan Husen (yang dari keturunan mereka digelar sayyid, sayed, said, syed, seyyit, sidi, syarif, habib, dan lain sebagainya) sebagai keturunannya. Bukan kami para sayyid yang fakir-fakir ini yang memaksakan diri mengaku sebagai keturunan Rasul saw.

“Meskipun sayyid keturunan Rasul saw, namun dalam hal amal, Rasul saw tidak membedakan antara orang Arab dan orang ajam. Yang paling mulia disisi Allah adalah yang bertaqwa (QS. alHujurat -49: 13),” demikian saya menutup diskusi.

Malam semakin larut. Jam menujukkan sudah lebih dari pukul 01 WIB. Kami meneguk sisa kopi lalu melanjutkan sisa perjalanan melintasi Geumpang pulang ke Pidie dan Banda Aceh.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s