SUDAH PUTUSKAH KETURUNAN NABI SAW?

al-kautsarSudah Putuskah Keturunan Nabi SAW?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

Pengantar. Waktu itu pertengahan Januari 2010. Jam menunjukkan pukul 12 dini hari. Sekelompok pemuda dari Pidie turun dari mobil kijang dengan nomor polisi BL 389 AJ. Mereka berhenti untuk minum di sebuah warung kopi di daerah Tutut, Aceh Barat. Rombongan ini baru saja pulang mengantarkan bantuan kepada sebuah keluarga miskin di daerah Panton Pangé, Nagan Raya. Terdiri dari tujuh orang, enam diantara mereka memiliki nama “sayyid” atau di Aceh lebih familiar dengan “said.” Mereka adalah Said Hamzah (29th), Said Zulfikar (37th), Said Usman (38th), Said Muazzin (24th), Said Rahmat (30th), dan saya sendiri Said Muniruddin (30th) yang memimpin rombongan. Sedangkan satu lagi bernama tgk. Ayyub (38th), beliau bukan sayyid.

Pertanyaan Menarik di Awal Diskusi. Di sini terjadi diskusi hangat antara saya sebagai ketua tim dengan tgk. Ayub. Beliau dalam rombongan ini dikenal sebagai orang yang boleh dikatakan memiliki cukup pengetahuan mendasar tentang agama. Ia suka berdiskusi bahkan berdebat tentang agama. Karena hampir semua anggota tim merupakan “sayyid”, maka tgk. Ayub menjadi tertarik untuk mengajukan sebuah pertanyaan tentang apa yang sudah umum menjadi kepercayaan dalam dunia Islam.

“Apakah sayyid dan syarifah itu keturunan Nabi saw?”, beliau membuka diskusi.

Saya sedikit terkejut dengan pertanyaan sederhana dan singkat ini, namun berat untuk dijawab. Lama saya menatap beliau. Agak malu juga untuk menjawab apalagi mengaku-ngaku sebagai keturunan Nabi saw. Walau bagaimanapun saya harus menjawab.

“Ya benar. sayyid dan syarifah adalah keturunan Rasulullah saw”, jawab saya singkat.

Tgk. Aiyub kembali menanggapi secara kritis, “Mengapa sayyid dan syarifah disebut keturunan Nabi saw? Bukankah Nabi saw tidak memiliki keturunan? Sebab keturunan itu dari pihak laki-laki, bukan dari pihak perempuan.”

Menurut tgk. Ayub, sayyid dan syarifah terlahirkan dari putri Nabi saw, jadi bukan keturunan dari putra Nabi saw, karena Nabi saw tidak punya putra. Jadi, sayyid dan syarifah adalah keturunan putri Nabi saw, bukan keturunan Nabi saw. sayyid dan syarifah bukan anak Rasulullah saw, tetapi bernasab kepada Ali bin Abi Thalib kwh”.

“Sayyid”, Cucu sekaligus Keturunan Nabi saw. Mendapat tanggapan menarik ini, saya kembali menjawab: “Kami pribadi dengan rendah hati sebenarnya tidak berani mengakui diri sebagai keturunan imamul mukminin Ali bin Abi Thalib, apalagi keturunan manusia sempurna Muhammad bin Abdullah. Ini dikarenakan akhlak kami yang masih jauh dari apa yang mereka teladankan. Banyak dari kami yang kalian lihat sendiri melakukan maksiat. Terlalu berat mengemban nama besar mereka. Namun karena ini bagian dari diskusi agama yang baik, maka yang benar harus kami sampaikan.”

Maka kemudian saya meminta izin untuk menjawab pertanyaan tersebut atas dasar kebutuhan pencerahan intelektual, sehingga kita dapat memahami sesuatu dengan lebih baik. Penting bagi kita ummat Islam yang beriman kepada Nabi saw untuk memiliki pengetahuan tentang Beliau, keluarga dan keturunannya. Jawaban saya semoga tidak berdasarkan nafsu apalagi atas dasar arogansi nasab keturunan. Saya akan menggunakan dalil agama, baik yang bersumber dari alQur’an maupun Hadist. Serta dari beberapa literatur yang dishahihkan oleh para ulama yang menjelaskan bahwa sayyid dan syarifah tidak hanya cucu Rasulullah saw, tapi juga keturunan Beliau.

Perspektif Ayat. Sebelumnya ingin kami sampaikan, diskusi berjalan secara spontan dengan topik yang terkadang berlompatan. Tulisan ini berusaha merapikan kembali isi diskusi dengan kelengkapan dalil dan referensi. Dengan demikian, topik ini menjadi sebuah dokumen yang memiliki nilai ilmiah bagi para pembaca.

Kembali kepada diskusi. Saya menjelaskan: “Kalau sayyid dan syarifah adalah cucu Nabi saw itu sudah jelas benar. Karena yang namanya cucu tidak hanya dari anak laki-laki, tapi juga dari anak perempuan. Kalau anda punya anak perempuan. Lalu anak perempuan anda punya anak. Sudah jelas, anak dari anak perempuan anda tersebut adalah cucu anda. Jadi sayyid dan syarifah adalah cucu Nabi saw, tidak perlu dibantah lagi. Karena mereka adalah anak turunan dari anak perempuan Nabi saw”, saya menjelaskan. “Tetapi sayyid dan syarifah tidak hanya cucu Nabi, bahkan juga keturunan Nabi saw dari jalur anak perempuan beliau, Fathimah”. Berikut penjelasannya.

Pertama, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim…. dan Kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya.… dan dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Isa, dan Ilyas semuanya termasuk orang-orang yang saleh” (QS. alAn’am -6: 83-85).

Ayat ini berbicara tentang sejumlah nabi dan anak keturunannya. Disitu juga disebutkan nama Isa as. Lalu siapa ayah nabi Isa as? Tentu Isa as tidak memiliki ayah. Tetapi, dalam ayat tersebut Allah swt menisbatkan Isa as kepada keturunan para Nabi melalui garis ibunya, Maryam. Demikian juga sayyid, Rasul sendiri yang menisbatkan mereka kepada beliau melalui ibu mereka Fathimah. Hadist tentang penisbatan keturunan para sayyid melalui garis Fathimah akan saya jelaskan kemudian.

Kemudian, dalam ayat lain Allah swt juga berfirman, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkanmu, maka katakanlah (kepadanya), “marilah kita memanggil anak-anak kami (abna ana) dan anak-anak kamu, perempuan kami (nisa ana) dan perempuan kamu, diri kami (anfusana) dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta” (QS. Ali ‘Imran -3: 61).

Ayat ini turun ketika Nabi saw bermubahalah dengan kaum Nasrani, yang menyertakan Ali, Fathimah, Hasan, dan Husen dalam jubah atau kain kisa. Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa arti dari kalimat abna ana (anak-anak kami) dalam ayat ini adalah Hasan dan Husen. Sementara arti dari nisa ana (perempuan kami) adalah Fathimah. Serta anfusana (diri kami) adalah imam Ali.

Sejumlah ulama ketika menafsirkan surah Ali ‘Imran ayat 61 tersebut mengatakan bahwa Hasan dan Husen adalah keturunan Rasulullah saw karena dalam ayat ini Allah menjadikan Isa as sebagai keturunan Ibrahim. Padahal, Isa as tidak memiliki nasab dari Ayah. Dari garis ibunyalah Isa as bernasab kepada Ibrahim as. Demikian juga Hasan dan Husen sebagai keturunan Rasulullah saw dari garis ibu. Hal ini diantaranya dijelaskan dalam Tafsir “al-Kabir” karya Imam Fakhrurrazi, jilid 7, juz 13, hlm.66, (2). Kitab “al-Ihtijaj”, juz 2, diskusi No.271, hal.335, (3). Syarah “Nahjul Balaghah” oleh Abu Bakar alRazi.

Perspektif Hadist. Sejumlah statement Nabi saw juga menjelaskan bahwa Hasan dan Husen adalah keturunan Rasulullah saw. Misalnya, “Kedua anakku ini (sambil menunjuk Hasan dan Husen) adalah kesturi dan kedua anakku ini adalah pemimpin (sayyid), baik ketika berdiri, maupun ketika duduk”. Riwayat ini dapat dibaca misalnya dalam karya (1) Khatib al-Khawarizmi dalam “al-Manaqib”; (2) Mir Sayid Ali al-Hamdani al-Syafi’i dalam “Mawaddah al-Qurba”; (3) Imam Ahmad bin Hambal dalam “musnad”-nya; dan (4) Sulaiman al-Hanafi al-Balkhi dalam “Yanabi al-Mawaddah”.

Banyak hadist-hadist mu’tabar yang Rasul saw menyatakan bahwa Hasan dan Husen sebagai anak-anaknya. Sering nabi memperkenalkan kepada sahabat-sahabat beliau sambil berkata, “inilah kedua anakku”. Penasaban mereka sebagai anak-anak Nabi saw tentu menjadi penasaban istimewa dalam Islam. Dan inilah kelebihan dan hak prerogratif Rasul. Apa yang diucapkan Rasul menjadi hukum dalam Islam. Dan hal ini menjadi hukum penasaban khusus dalam agama Islam. Hukum khusus lainnya dapat dilihat dalam semua mazhab Islam dimana sayyid dan syarifah adalah golongan yang haram menerima dan memakan zakat, semiskin apapun mereka. Ini hadist, perintah Nabi saw yang menjadi hukum Islam.

Kenapa mesti ada pengecualian khusus? Begitulah Rasul saw ingin menjelaskan kekhususan keturunannya melalui Ali bin Abi Thalib dan Fathimah azZahra. Dalam hal ini Nabi sekaligus ingin menyatakan bahwa beliau tidak menuntut upah dan harta apapun atas pekerjaannya berdakwah untuk umat (QS. asySyura -42: 23). Demikian juga beliau perintahkan kepada keluarga dan keturunan beliau melalui Fathimah untuk tidak menerima sedekah dan zakat.

Dalam hadist lainnya Rasulullah saw bersabda, “Allah azza wajalla menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib”. Ini hadist dengan sanad dari Jabir bin Abdullah al-Anshari yang dapat ditemukan dalam (1) “Kifayah al-Thalib” karya Allamah Kanji (Muhammad bin Yusuf al-Syafi’i); (2). Riwayat Ibn Hajar al-Makki dalam “al-Shawa’iq al-Muhriqah”, hal.79 & 94, dari at-Thabrani dari Jabir bin Abdulah al-Anshari; dan (3) Riwayat Khatib al-Khawarizmi dalam “Manaqib ibn Abbas”.

Pada kesempatan lain ketika Nabi saw sedang duduk dengan Abbas, Ali datang menemui Rasul. Setelah menjawab salam Ali, lalu Rasul merangkul dan mencium kening Ali. Melihat ini, Abbas bertanya pada Rasul, “Apakah anda mencintainya?”. Rasul menjawab, “Wahai paman, demi Allah, Allah lebih mencintainya daripada aku. Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi orang ini”. Hadist ini disebutkan at-Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabir”.

Tentu ada yang membantah, bagaimana bisa keturunan Nabi saw adalah melalui imam Ali. Seharusnya melalui Fathimah. Sementara keturunan melalui Fathimah adalah keturunan melalui anak perempuan. Maka keturunan melalui anak perempuan bukan keturunan ayahnya. Mereka yang membantah ayat dan hadist yang telah tersebutkan di atas, biasanya berpegang pada syair berikut ini: “Putra-putri kita adalah anak putra kita, anak putri kita adalah anak orang lain”. Sejumlah ulama telah membantah bahwa syair ini tidak berlaku untuk Nabi (S.M alMusawi, “Mazhab Pecinta Keluarga Nabi”, MPress & Alhuda, 2009).

Keturunan Nabi saw “Terputus”? Dalam sejarah awal Islam, selain Yahudi, ada satu kelompok yang paling senang ketika mengetahui Nabi saw tidak punya anak laki-laki yang hidup sebagai penerus keturunan (tiga putra Nabi; Qasim, Abdullah dan Ibrahim semuanya meninggal saat masih kecil). Mereka adalah Bani Umayyah. Sebagaimana diketahui, Bani Umayyah adalah pesaing utama Bani Hasyim klan-nya Nabi saw. Padahal kedua mereka ini (Hasyim dan Umayyah) adalah sama-sama dari suku Quraisy, anak dari Abdu Manaf. Sejak masa jahiliah, kedua kelompok yang sebenarnya bersaudara ini telah bersaing memperebutkan kepemimpinan kota Mekkah, termasuk dalam hal penjagaan Kakbah. Tetapi Bani Hasyim lebih dicintai oleh masyarakat sehingga memenangkan leadership kota Makkah, baik secara politik maupun spiritual. Bahkan salah satu cicit Hasyim, yaitu Muhammad saw, merupakan sosok paling dicintai dan dipercayai oleh warga Mekkah karena kejujurannya (al-Amin). Anak turunan Bani Hasyim ini pula yang kemudian dipilih Tuhan menjadi pemimpin dunia.

Hal ini tentu semakin membuat sakit hati Bani Umayyah. Sehingga tidak heran, salah satu perlawanan terbesar terhadap risalah yang dibawa Muhammad saw datang dari Abu Sufyan dan anak-anaknya. Abu Sufyan termasuk orang yang paling akhir masuk Islam. Ia baru menerima kebenaran yang dibawa Muhammad saw ketika “futuh Mekkah”. Artinya, ia menerima Islam justru ketika sudah berada dalam posisi sangat tersudutkan dan tidak lagi punya kekuatan untuk melakukan perang terbuka. Padahal, kelompok Umayyah ini masih menyimpan hasrat untuk menjadi penguasa Arab dan Mekkah. Tapi kemunculan Islam dibawah Muhammad saw telah menghalangi impian mereka.

Itulah sebabnya, sindiran sering dilakukan kepada Muhammad saw karena tidak punya anak-laki. Mereka senang karena menganggap “trah” Muhammad saw sudah terputus. Atas sikap ini Allah swt mengutuk mereka, “… Sesungguhnya merekalah yang terputus” (QS. alKautsar -108: 3). Juga melalui lisan Nabi-Nya, baik melalui berbagai hadist baik yang sudah kita bahas maupun hadist-hadist lainnya, disebutkan bahwa keturunan Muhammad saw adalah dari anaknya Fathimah, serta tidak akan terputus sampai hari kiamat. Sebagaimana diriwayatkan, Rasul saw berkata, “Setiap hasab dan nasab terputus pada hari kiamat kecuali hasab dan nasabku”.

Hadist ini dapat ditelusuri dalam sejumlah karya seperti (1) Allamah al-Kanji dalam “Kifayah at-Thalib”, hal.380, riwayat at-Thabari dalam Tarjamah al-Hasan; (2) Sulaiman Hanafi dalam “Yanabi al-Mawaddah”; (3) Jalaluddin as-Suyuthi dalam “ Ihya al-Mayyit fi Fadhail Ahl Bayt”; (4) Abu Bakar bin Syihabuddin dalam “Rasyfah al-Shadi fi Bahr Fadhail Bani al-Nabi al-Hadi”, bab 3, cetakan Mesir; (5) Ibnu Hajar Haitami dalam “al-Shawaiq al-Muhriqah”, Bab 9, Pasal 8, Hadist No.17; dan (6) Ibn Hajar dalam “Shawaiq”, Bab 11, Pasal 1, ayat 9.

Dari hadist ini kita juga memahami mengapa kaum habib, sayyid, atau syarif termasuk kelompok yang paling rapi pencatatan nasabnya di muka bumi. Ada lembaga resmi yang mereka kelola sendiri untuk mencatat nasab keluarga di seluruh dunia, dan -atas izin Allah- tidak akan terputus sampai kiamat.

Keturunan Nabi saw dari Jalur Anak Perempuannya, Fathimah. Tentang betapa beliau memuliakan anaknya Fathimah sebagai penerus nasabnya sudah sering diceritakan dalam sejarah. Misalnya diriwayatkan bagaimana Nabi saw dengan bangga membawa Fathimah dikeramaian Mekkah sambil berteriak menyatakan bahwa ini adalah anaknya. Padahal, memiliki anak perempuan pada masa itu bukanlah sesuatu yang membanggakan. Bahkan ada kasus-kasus jahiliah yang membunuh anak perempuannya karena rasa malu. Bahkan sampai hari ini, masih banyak ayah yang kecewa jika yang terlahir dari rahim istrinya adalah anak perempuan.

Tetapi tidak demikian dengan Nabi saw. Selain bangga dengan anak perempuannya, beliau membuat pernyataan hukum yang mengejutkan, bahkan masih sulit diterima oleh sebagian orang sampai hari ini: “Keturunan ku adalah dari anak perempuan ku, Fathimah.” Seperti tersebut dalam hadist yang sanadnya dari Umar bin Khatab juga disebutkan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Semua anak dari perempuan bernasab kepada ayah mereka, kecuali yang dilahirkan Fathimah. Akulah ayah mereka”. Hadist ini dapat dibaca dalam Allamah al-Kanji dalam “Kifayah at-Thalib”, hal.381.

Ini termasuk pernyataaan tertinggi tentang gender dan emansipasi perempuan dalam Islam. Karena Nabi saw menyuarakan secara terbuka bahwa Fathimah adalah anak kebanggaannya, dan dari anak perempuannya ini pula keturuanannya berlanjut. Beliau mengangkat derajat anak perempuan justru pada era dimana perempuan tidak diakui dan sangat direndahkan. Garis keturunan yang biasanya mengikuti jalur laki-laki (patriarchal), tetapi khusus bagi dirinya Nabi saw menyatakan, keturunannya dari jalur anak perempuan.

Demikianlah. Penerus Nabi saw adalah dari sulbi Fathimah (dan Ali). mereka ini adalah: Hasan dan Husein. Kedua sayyyidusy syabab ahlul jannah inilah yang kemudian kembali menjadi saingan Bani Umayyah dan berusaha dihabiskan “trah”-nya oleh Muawiyah, Yazid, dan anak turunan Abu Sufyan lainnya dari klan Bani Umayyah.

Kontestasi politik untuk menguasai Arab dan memimpin dunia Islam pasca Muhammad saw terus berlanjut. Ketika Bani Umayyah berhasil mengkudeta khalifah Ali bin Abi Thalib (yang juga dari Bani Hasyim), mereka terus berusaha mengeleminir seluruh pengaruh Bani Hasyim. Secara politik terlihat berhasil untuk beberapa waktu, karena mampu menghilangkan kepemimpinan politik Bani Hasyim keturunan Nabi saw, khususnya kaum “sayyid” dari jazirah Arab. Sehingga dapat dipahami mengapa kaum sayyid anak cucu Rasul saw mengalami diaspora yang luar biasa ke berbagai belahan dunia. Mereka hijrah dari Makkah, ke Madinah, kemudian ke Irak, Iran, Yaman, dan seterusnya keberbagai belahan dunia (termasuk Indonesia) sambil berdakwah.

Hukum Penasaban Khusus (Lex Specialis). Kembali kembali ke topik utama. Maka jelas sudah, bahwa keturunan Nabi saw adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein dari Sayyidah Fathimah. Dalam beberapa ayat Al-Qur’an  lainnya juga terdapat hujjah yang jelas tentang kekhususan penasaban Hasan dan Husen kepada Muhammad saw melalui ibu mereka Fathimah. Ini sebagaimana Isa yang sebelumnya telah dijelaskan, bersambung nasabnya kepada Nuh dari pihak ibunya Maryam (QS. alAn’am -6: 84-85). Artinya, penasaban Hasan dan Husen kepada Nabi saw, walaupun dari pihak ibu, tidak terhalang. Seperti penasaban Isa as kepada Nuh as melalui ibunya Sayyidah Maryam. Tentang ini turut dijelaskan at-Thabrani dalam “al-Mu’jam al-Kabir”.

Inilah hukum penasaban khusus yang bersifat lex specialis, hak istimewa Rasul saw, yang di jelaskan dalam ayat dan hadist. Kalau Rasul saw sudah mengatakan begitu, apakah mau kita bantah? Rasul saw sendiri bukan jenis orang yang asal ngomong. Beliau tidak berkata sembarangan, kecuali sesuatu yang diwahyukan, “wama yanthiqu ‘anil hawa, inhuwa illa wahyu yuuha” (QS. anNajm -53: 3-4).

Penutup. Jika kita memahami berbagai ayat dan hadist diatas, sebenarnya Rasulullah saw sendiri yang menyatakan Hasan dan Husen (yang dari keturunan mereka digelar sayyid, sayed, said, syed, seyyit, sidi, syarif, habib, dan lain sebagainya) sebagai keturunannya. Bukan kami para sayyid yang fakir-fakir ini yang memaksakan diri mengaku sebagai keturunan Rasul saw.

“Meskipun sayyid keturunan Rasul saw, namun dalam hal amal, Rasul saw tidak membedakan antara orang Arab dan orang ajam. Yang paling mulia disisi Allah adalah yang bertaqwa (QS. alHujurat -49: 13),” demikian saya menutup diskusi.

Malam semakin larut. Jam menujukkan sudah lebih dari pukul 01 WIB. Kami meneguk sisa kopi lalu melanjutkan sisa perjalanan melintasi Geumpang pulang ke Pidie dan Banda Aceh.*****

19 thoughts on “SUDAH PUTUSKAH KETURUNAN NABI SAW?

  1. Assalammualaikum benar said munir.saya jg keturunan sayyid.saya seorang syarifah perlu diketahui bahwa suami sayyidina fatimah Yait Sayiddinna Ali bin abi thalib satu garis keturunan dengan Baginda Rasulullah dari keturunan Nabi Ismail as .jelas otomatis sayyidina Husen cucu Rasulullah satu garis keturunan dengan Rasulullaj sendiri.itu jg yang menyebabkan keturunannya dinamakan keturunan Rasulullah jg.

    Like

  2. Assalammualaikum benar said munir.saya jg keturunan sayyid.saya seorang syarifah perlu diketahui bahwa suami sayyidina fatimah Yait Sayiddinna Ali bin abi thalib satu garis keturunan dengan Baginda Rasulullah dari keturunan Nabi Ismail as .jelas otomatis sayyidina Husen cucu Rasulullah satu garis keturunan dengan Rasulullaj sendiri.itu jg yang menyebabkan keturunannya dinamakan keturunan Rasulullah jg.

    Like

  3. Pingback: KONTRIBUSI TERBESAR NABI TERHADAP PEREMPUAN | Said Muniruddin

  4. KALAU SAYA MENJAWABNYA SIMPLE SAJA :
    NABI MUHAMMAD SAW DAN ALI BIN ABI TALIB ADALAH SEPUPU KANDUNG Yang Kedua Ayah Mereka Adalah ABANG BERADIK KANDUNG…. JADI NASAB KETURUNAN NABI ( RASULLLAH SAW) Adal Tidak Terputus! Itu Saja… Walau Bukan Dari Anak laki2x RAsulAllah SAW.

    Like

  5. padahal sudah jelas pada alquran Allah swt berfirman, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkanmu, maka katakanlah (kepadanya), “marilah kita memanggil anak-anak kami (abna ana) dan anak-anak kamu, perempuan kami (nisa ana) dan perempuan kamu, diri kami (anfusana) dan diri kamu. Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta” (QS. Ali ‘Imran -3: 61).

    dalam ayat ini nabi juga ingin menjelaskan bahwa isa a.s mempunyai isteri dan anak-anak.

    Bukan cucu-cucu kami tetapi anak-anak kami kenapa lebih percaya hadist dari pada alquran?
    Bukankah perempuaan kami termasuk isterinya nabi bukan fatimah?

    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

    Like

  6. Mau bertanya, apabila Nabi Muhammad SAW mengakui garis keturunan dari garis perempuan, mengapa sering saya dengar syarifah yang tidak menikah dengan sayyid kehilangan nasabnya kepada baginda Rasullullah sedangkan disisi lain tadi diakui garis keturunan dari garis perempuan?

    Like

    • Siapa bilang bahwa anak-anak rasulallah yg lelaki semuanya meninggal?hanya satu yg meninggal!

      yg menguasai sejarah siapa?
      yg mengatakan manusia dari monyet siapa?
      yg menguasai dunia keuangan siapa?
      yg menguasai hadits siapa ?
      yg menguasai penterjemahan alquran yg ngawur siapa?

      Emangnya raja2 dan orang2 arab keturunan rasulallah ?
      emangnya mereka muslim.

      Mengapa Allah S.W.T mewahyukan Ayat2 alquran yg tidak dapat diubah? karena kaum zholim itu telah merusak kitab mereka yg sebelumnya!!!! mereka kaum terkutuk.
      siapa lagi klo nggak mereka.

      wassalamualaikum wr.wb,
      ustadz sayyid habib yahya

      Like

  7. Terima kasih penjelasannya
    Sudah dijelaskan dengan pelan pelan sambil ngupi
    Meski masih ada yang berbantah ria biarlah bukan urusan saya
    Sekali lagi terima kasih pak said penjelasannya

    Like

  8. Kenapa Hadits yg terkait dengan perihal keturunan pada tulisan ini tidak ada mencantumkan sumber yg berasal dari kitab atau perawian ahli Hadits populer seperti Imam Syafi’i, Imam Hambali dkk. Saya yang silap atau bagaimana.

    Like

  9. JANGANKAN ISTILAH KETURUNAN AHLUL BAIT, KETURUNAN NABI ATAU KETURUNAN RASUL, ISTILAH KETURUNAN MUHAMMAD SAW SAJA TIDAK DIABADIKAN DI DALAM AL QURAN!

    Oleh karena itu di dalam Al Quran ditegaskan posisi dari Nabi Muhammad SAW sbb.:

    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (SQS. Al Ahzab, 33:40).

    Oleh karena itu, sesuai dengan QS. 33:4-5 dengan tegas diberikan sinyal bahwa nasab itu hanya ada pada pihak lelaki bukan pihak perempuan atau isterinya.

    Dengan demikian, adanya anggapan dikalangan dari umat Muslim selama ini bahwa ada pewaris nasab melalui Bunda Fatimah bin Muhammad dari anak-anak lelaki beliau bersama dengan suaminya Ali bin Abi Thalib sulit diakui seperti Hasan dan Husein adalah sebagai pewaris nasab atau keturunan dari jalur Nabi Muhammad SAW.

    Karena ada upaya mengalihkan suatu nasab tidaklah bisa beralih misalnya menjadi HASAN IBNU FATIMAH atau pun HUSEIN PUTRA FATIMAH seperti dialami oleh Nabi Isa ibnu Maryam (QS. 19:34). Artinya, baik Hasan maupun Husein atau anak-anak perempuannya tetap saja menggunakan istilah Hasan BIN ALI bin Abi Thalib atau Husein bin Ali bin Abi Thalib atau bagi anak-anak yang perempuannya tetap menggunakan istilah binti Ali bukannya menjadi misal binti Muhammad SAW.

    Ketentuan ayat Al Quran di atas didukung dengan hadits Nabi Muhammad SAW:

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Penutup, dengan akibat dimana Nabi Muhammad SAW tidak mempunyai hak pewarisan keturunannya karena anak-anak lelaki beliau wafat maka dengan demikian Allah SWT telah menghapus impian dan hayalan mereka akan munculnya Imam Mahdi di Akhir Zaman. Lebih anehnya, yang diyakini oleh umat Muslim pun ada dua versi Imam Mahdi, versi Imam Mahdi Syiah si tokohnya sedang raib entah ke mana dan versi Imam Mahdi Sunni tokohnya belum lahir-lahir nanti lahir di Akhir Zaman.

    jika benar tokoh di bawah ini berasal dinasti keturunan maka kekhawatiran itu jadi kenyataan, tapi Allah SWT Maha Mengetahui karena itu tidak diteruskan akan adanya pewaris pun atas nama Nabi Muhammad SAW.

    “CUCU NABI MUHAMMAD ‘MURTAD !-THE GRANDSON OF THE PROPHET MUHAMMAD APOSTATIZED !!

    Like

    • Oleh karena itu di dalam Al Quran ditegaskan posisi dari Nabi Muhammad SAW sbb.:

      Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (SQS. Al Ahzab, 33:40).

      Oleh karena itu, sesuai dengan QS. 33:4-5 dengan tegas diberikan sinyal bahwa nasab itu hanya ada pada pihak lelaki bukan pihak perempuan atau isterinya.

      Bagaimana dengan adam dan keturunannya?
      apakah kita ini keturunan dari manusia inses?
      bukankah ini berbahaya?
      Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa ‘sifat lemah’ dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipe-nya berada dalam kondisi homozigot.

      lain halnya apabila adam adalah seorang wanita seperti maryam yg tidak memerlukan suami untuk memberi keturunan.

      coba pikirkan!

      ustadz sayyid habib yahya

      Like

  10. APAKAH ADA ISTILAH KETURUNAN ATAU PEWARIS AHLUL BAIUT?

    Dalam Al Quran yang menyebut kata ‘ahlulbait’, ada 3 (tiga) ayat pada 3 surat pada hakikatnya penyebutan ahlul bait tidak saja ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW saja tapi pada seluruh keluarga para nabi dan rasul Allah.

    1. QS. 11:73: Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlul baitnya bisa mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika dikaitkan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    Ahlul Bait para nabi terdiri dari:

    1. Kedua orang tua kandung;
    2. Saudara kandung;
    3. Isteri-isteri dan
    4.Anak-anak kandungnya.

    Uraiannya terhadap keluarga Nabi Muhammad SAW bisa jadi sbb.:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sebagai ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki, sayangnya khusus anak-anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’ atau keturunan-nya, tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa dan berkeluarga, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan ‘pewaris’ keturunannya.

    Lalu, apakah masih ada orang yang berani ngaku pewaris ‘keturunan’ Ahlul Bait itu??? Apa lagi sebutan ahlul bait itu hanya buat para nabi dan rasul saja bukan orang biasa. Rasanya yang ngaku masih punya ‘keturunan’ Ahlul Bait di Indonesia maupun di dunia ya itu sebenarnya adalah keturunan Ali bin Abi Thalib itu pun kalau nasabnya nyambung. Apakah keturunan Ali bin Abi Thalib berhak menyandang sebutan ahlul bait?

    Jadi dikaitkan dengan rumusan ahlul bait di atas maka keturunan Ali bin Abi Thalib tidak dapat disebut ‘keturunan’ ahlul bait atau keturunan (baca keturunan) Muhammad SAW seperti orang-orang yang ngaku-ngaku dia atau mereka adalah ‘keturunan’ nabi atau ahlul bait atau terlebih lagi mengaku keturunan rasul?

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Penutup, dengan akibat dimana Nabi Muhammad SAW tidak mempunyai hak pewarisan keturunannya karena anak-anak lelaki beliau wafat maka dengan demikian Allah SWT telah menghapus impian dan hayalan mereka akan munculnya Imam Mahdi di Akhir Zaman. Lebih anehnya, yang diyakini oleh umat Muslim pun ada dua versi Imam Mahdi, versi Imam Mahdi Syiah si tokohnya sedang raib entah ke mana dan versi Imam Mahdi Sunni tokohnya belum lahir-lahir nanti lahir di Akhir Zaman.

    Like

  11. ADAKAH KETURUNAN NABI, KETURUNAN RASUL ATAU KETURUNAN AHLUL BAIT DALAM AL QURAN?

    UMAT YAHUDI MENGKULTUSKAN PEWARIS DINASTI KETURUNAN NABI DAUD AS, SEMENTARA UMAT MUSLIM MENGKULTUSKAN PEWARIS DINASTI KETURUNAN AHLUL BAIT, KETURUNAN NABI BAHKAN KETURUNAN RASUL

    1. Bani Israel atau khususnya kaum Yahudi wajar saja jika mereka membudayakan sistem pengkultusan pada pewaris Keturunan Nabi Daud As karena mereka membuktikan bahwa Daud As sudah sebagai nabi dan rasul Tuhan, beliau pun dianugerahi lagi sebagai seorang KHALIFAH (QS. 38:26) atau penguasa dan dianugerahi kitab suci Zabur (QS. 4:163).

    2. Kaum Yahudi wajar jika mereka membanggakan dinasti keturunan Daud As karena anak beliau, Sulaiman As pun dianugerahi wahyu (QS. 4:163) sebagai nabi juga (QS. 38:30) di samping sebagai khalifah, pengganti bapaknya. Dengan begitu diharapkan dia bisa meneruskan dan menerapkan prinsip-prinsip dibidang kekuasaan dari ajaran kitab suci Zabur yang dianugerahkan oleh Allah SWT pada bapaknya, Nabi Daud As. [SQS. Al-Anbiya, 21:78-79]

    3. Namun sayangnya, walau pun nama Sulaiman diabadikan di dalam Al Quran cukup banyak, sebanyak tujuh belas kali dan kisahnya disebutkan dalam QS. 2: 102, 21: 78-82, 27: 15-44, 34: 12-14, dan 38: 30-40 tetapi keturunan Nabi Sulaiman As tidak dianugerahi pewaris level kenabian lagi karena itu ahlul baitnya tidak ada yang dianugerahi Allah SWT sebagai nabi apa lagi rasul-Nya.

    Oleh karena itu, di dalam tradisi Bani Israel para kaum Yahudi tidaklah membanggakan keturunan Sulaiman As-nya walau pun beliau adalah seorang khalifah atau penguasa hebat dan populer dibandingkan ayahnya, Nabi Daud As. Kaum Yahudi tetap terus berharap adanya kepemimpinan (kenabian atau kerasulan) tetap seorang figur tokoh yang hebat, konglomerat berasal dari keturunan Daud As (QS. 2:246-247) bukan berasal dari keturunan Sulaiman As-nya.

    4. Akibat ‘pengkultusan’ yang berlebihan itulah maka kaum Yahudi tidak ada mengakui adanya para nabi atau rasul di luar dari pewaris langsung dari dinasti keturunan Daud As. Puncak dari tidak adanya pengakuan terhadap para nabi dan rasul yang ‘bukan’ berasal dari keturunan Daud As adalah terhadap Nabi Isa Al Masih, seorang nabi (QS. 19:30), rasul (QS. 5:75) dan dianugerahi kitab suci, Injil (QS. 57:27) serta mukjizat-mukjizat yang luar biasa disertai dengan ruhul qudus (QS. 2:87 dan 253, 5:110, 112).

    Walau pun beliau, Isa Al Masih adalah berasal dari Bani Israel juga tetapi keberadaan Nabi Isa Al Masih putra Maryam (QS. 19:34) tetap dianggap bukan berasal dari keturunan Daud As tetapi beliau hanyalah berasal dari Maryam (QS. 19:20) yakni seorang perempuan yang tidak mempunyai suami tetapi dia dianugerahi Allah SWT seorang anak lelaki sebagai nabi dan rasul-Nya, Isa putra Maryam.

    Wajarlah jika di dalam Al Quran dimuat sinyal: Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israel dengan melalui lisan (atau ucapan)-nya Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. [SQS. Al-Ma’idah, 5:78]

    5. Katakanlah (Hai Muhammad): “Hai orang-orang Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar”. [SQS. Al-Jumu’ah, 62:6]

    Sayangnya, dikalangan umat Muslim pun muncul kelompok mereka yang beranggapan sebagai pewaris hak dari dinasti keturunan baik mereka mengaku berasal dari keturunan nabi atau keturunan ahlul bait maupun keturunan rasul. Pada hal di dalam Al Quran ketiga istilah keturunan ini tidak dikenal alias tidak ada. Jangankan ke-3 istilah ini sebutan keturunan Muhammad saja tidak diabadikan di dalam Al Quran sama hal dengan tidak adanya istilah keturunan Nuh (QS, 19:58).

    Ya karena memang nasab atau keturunan dari kedua nabi memang telah diputus oleh Allah SWT hanya pemutusan keturunannya yang berbeda. Kalau keturunan Nuh As (QS. 19:58) diputus nasabnya karena ahlul bait, anak kandungnya itu durhaka (QS. 11:42-46) maka terhadap Nabi Muhammad SAW nasabnya pun diputus oleh Allah SWT karena ahlul bait, anak kandung lelaki beliau telah diwafatkan ketika mereka masih kecil-kecil.

    Oleh karena itu di dalam Al Quran ditegaskan posisi dari Nabi Muhammad SAW sbb.:

    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (SQS. Al Ahzab, 33:40).

    Oleh karena itu, sesuai dengan QS. 33:4-5 dengan tegas diberikan sinyal bahwa nasab itu hanya ada pada pihak lelaki bukan pihak perempuan atau isterinya.

    Dengan demikian, adanya anggapan dikalangan dari umat Muslim selama ini bahwa ada pewaris nasab melalui Bunda Fatimah bin Muhammad dari anak-anak lelaki beliau bersama dengan suaminya Ali bin Abi Thalib sulit diakui seperti Hasan dan Husein adalah sebagai pewaris nasab atau keturunan dari jalur Nabi Muhammad SAW.

    Karena ada upaya mengalihkan suatu nasab tidaklah bisa beralih misalnya menjadi HASAN IBNU FATIMAH atau pun HUSEIN PUTRA FATIMAH seperti dialami oleh Nabi Isa ibnu Maryam (QS. 19:34). Artinya, baik Hasan maupun Husein atau anak-anak perempuannya tetap saja menggunakan istilah Hasan BIN ALI bin Abi Thalib atau Husein bin Ali bin Abi Thalib atau bagi anak-anak yang perempuannya tetap menggunakan istilah binti Ali bukannya menjadi misal binti Muhammad SAW.

    Ketentuan ayat Al Quran di atas didukung dengan hadits Nabi Muhammad SAW:

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Penutup, dengan akibat dimana Nabi Muhammad SAW tidak mempunyai hak pewarisan keturunannya karena anak-anak lelaki beliau wafat maka dengan demikian Allah SWT telah menghapus impian dan hayalan mereka akan munculnya Imam Mahdi di Akhir Zaman. Lebih anehnya, yang diyakini oleh umat Muslim pun ada dua versi Imam Mahdi, versi Imam Mahdi Syiah si tokohnya sedang raib entah ke mana dan versi Imam Mahdi Sunni tokohnya belum lahir-lahir nanti lahir di Akhir Zaman.

    Like

  12. Mohon maaf untuk ikut berkomentar.
    1. Saya menyarankan Said Munir untuk telaah lebih lanjut hadis hadis yang disebutkan. Saya khawatir kualitasnya maudhu. Dan demi traparansi kaidah ilmiah perlu disebutkan sumber hadisnya.

    2. Dalil al qur’an yang saudara sebutkan tentang nabi isa yang dinasabkan kepada ibunya Bunda Maryam lalu dijadikan dalil untuk keturunan nabi Muhammad adalah kesesatan berpikir. Bagaimana mungkin ayat yang khusus menjelaskan tentang status Nabi Isa anda jadikan dalil kepada keturunan Ali bin Abi Thalib.?
    Ayat ini justru menerangkan lex specialis nabi Isa, karena dia tidak memiliki ayah. Sehingga dinasabkan kepada Ibunya.dan ini adalah kasus satu satunya yang pernah terjadi dan menjadi mukjizat nabi Isa serta bukti kekuasaan Allah SWT. Berbeda hal dengan keturunan Ali bin Abi Thalib, yang jelas jelas Ali ayahnya.

    3. Di dalam islam setiap anak yang lahir dinasabkan kepada ayahnya dan anak yang lahir tidak ada ayah (di luar nikah atau anak zinah ) dinasabkan kepada Ibunya. Apakah said munir ingin mengatakan hasan husein itu anak hasil zinah Ali dan Fatimah? Naudzubillah.

    4. Salah satu hikmah Nabi Muhammad SAW tidak memeliki keturunan laki laki (meninggal) , karena Allah Maha Tahu akan ada generasi yg mengaku keturunan nabi Muhammad. Sebab itu Allah menutup jalan itu, walaupun pada akhirnya sekarang banyak yang ngaku ngaku.. Naudzubillah.

    Tidak ada dasarnya seorang itu mulia karena nasab, tapi sesuai firman Allah, kadar mulia itu disisi Allah adalah ketakwaan. Nasab manusia itu tidak dapat dipilih diusahakan , manusia tidak punya kuasa menentukan kita lahir dari sperma siapa di rahim siapa, itu adalah taqdir Allah. Tapi ketakwaan adalal usaha dan pilihan. Wallaahu a’lam

    Like

    • 4. Salah satu hikmah Nabi Muhammad SAW tidak memeliki keturunan laki laki (meninggal) , karena Allah Maha Tahu akan ada generasi yg mengaku keturunan nabi Muhammad. Sebab itu Allah menutup jalan itu, walaupun pada akhirnya sekarang banyak yang ngaku ngaku.. Naudzubillah.

      anda jangan tergesa-gesa memberi kesimpulan ini,karena riwayat keturunan beliau yg di rujukkan oleh hadist blm tentu benar adanya karena banyak yg dipelintir!

      jika anda mengenal asmaul husna ,saya yakin akan terbuka segala sesuatu yg belum anda pahami.

      alquran adalah kitab dari surga maka pahamilah jgn baca latinnya krn sudah dipelintir.

      ustadz sayyid habib yahya

      Like

      • DNA DARI KROMOSOM JENIS Y BERHENTI DI DIRI NABI MUHAMMAD SAW DAN TIDAK DITURUNKAN KE ANAK-ANAK PEREMPUANNYA

        Jadi cucu laki-laki Rasulullah, Hasan dan Husein hanya mewarisi Kromosom Y dari bapak alias menantunya Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Thalib.

        Simak kajian di bawah ini, copasan dan editan sederhana dari tukang copas:

        DNA

        Namun ada cara yang lebih efektif bahkan bisa dibilang cara yang paling akurat untuk mengetahui apakah seseorang adalah satu garis keturunan, yang masih dilakukan hingga sekarang yaitu dengan cara tes DNA yang ditemukan pada tahun 1950.

        Apa itu DNA? DNA merupakan singkatan dari Deoxyribo Nucleic Acid (Asam Deoxyribosa Nukleat) ini merupakan materi genetik yang menyimpan seluruh informasi tentang diri seseorang (termasuk makhluk bersel lainnya, hewan dan tumbuhan) dari ujung kaki hingga ujung rambut, bahkan riwayat penyakit yang pernah diderita orang tua atau keturunan sebelum kita bisa di deteksi melalui DNA ini.

        Atau sederhananya ini merupakan Blue Print/Cetakan biru tentang makhluk bersel yang memuat seluruh informasi diri makhluk tersebut, Jadi ini seperti sebuah chip Alami Super Kecil Ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang benar-benar luar biasa karena menyimpan informasi secara lengkap tentang identitas makhluk tersebut.

        Seberapa kecil DNA itu? mari kita bayangkan. DNA letaknya di dalam inti Sel dalam tubuh jadi bagian tubuh yang tidak tidak memiliki inti sel tidak terdapat DNA di dalamnya seperti sel darah merah/eritrosit, ia tidak memiliki inti sel di dalam selnya.

        Dalam setetes darah sebesar jarum pentul ada terdapat sekitar 6 juta sel, dari 6 juta sel kita ambil 1 sel darah putih (karena ia memiliki inti sel), di dalam inti sel ada terdapat 23 pasang kromosom, nah pada setiap kromosom inilah terdapat DNA yang memiliki bentuk spiral, seperti sebuah tangga yang dipelintir, DNA ini tersusun atas senyawa basa dan Gula fosfat.

        Mencari tahu seseorang satu garis keturunan atau tidak bisa dilihat dari susunan ke empat senyawa basa itu tadi, bahkan penyakit keturunan bisa di lihat dari susunan DNA ini.

        Atau sederhananya ini merupakan Blue Print/Cetakan biru tentang makhluk bersel yang memuat seluruh informasi diri makhluk tersebut, Jadi ini seperti sebuah chip Alami Super Kecil Ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang benar – benar luar biasa karena menyimpan informasi secara lengkap tentang identitas makhluk tersebut.

        Seberapa kecil DNA itu? mari kita bayangkan. DNA letaknya didalam inti Sel dalam tubuh jadi bagian tubuh yang tidak tidak memiliki inti sel tidak terdapat DNA di dalamnya seperti sel darah merah/eritrosit, ia tidak memiliki inti sel di dalam selnya.

        Dalam setetes darah sebesar jarum pentul ada terdapat sekitar 6 juta sel, dari 6 juta sel kita ambil 1 sel darah putih (karena ia memiliki inti sel), di dalam inti sel ada terdapat 23 pasang kromosom, nah pada setiap kromosom inilah terdapat DNA yang memiliki bentuk spiral, seperti sebuah tangga yang dipelintir, DNA ini tersusun atas senyawa basa dan Gula fosfat.

        Jika DNA diibaratkan sebuah tangga, pegangan pada tangga ini merupakan kumpulan senyawa fosfat (gula pentosa/5 karbon + 1basa Nitrogen) sedangkan pijakan pada tangga ini tersusun oleh 4 Senyawa Basa yaitu Adenin (A), guanine (G), thymine (T), atau cytosine (C), keempat senyawa basa ini saling berikatan sehingga membentuk sebuah pola. Nah dari pola-pola inilah DNA seseorang bisa dijadikan sebagai “alat” untuk mengetahui informasi tentang diri seseorang.

        Mencari tahu seseorang satu garis keturunan atau tidak bisa dilihat dari susunan ke empat senyawa basa itu tadi, bahkan penyakit keturunan bisa di lihat dari susunan DNA ini.

        Mengapa bisa demikian? Mari kita bahas satu persatu, seperti kita tahu DNA terdapat pada kromosom, kromosom manusia terdiri dari 23 pasang(total 46 buah), 22 pasang jenis Autosom dan 1 Pasang jenis Gonosom (penentu jenis kelamin).

        kromosom memiliki bentuk seperti huruf X dan huruf Y dan saling berpasangan, maka dari itu Kromosom disebut juga Kromosom X dan Kromosom Y.

        Gonosom inilah yang membentuk jenis kelamin seseorang. jika kromosom jenis X bertemu denga jenis X menjadi XX maka jenis kelaminnya adalah perempuan, sedangkan kalau X bertemu dengan Y menjadi XY maka jenis kelaminnya adalah Laki-laki. perlu diketahui semua kromosom perempuan dari Gonosom dan Autosom adalah X jadi hanya laki-laki yang memiliki kromosom jenis Y yang terdapat pada Gonosom.

        Kita ingat kembali bahwa DNA terdapat pada kromosom dan kromosom terdapat pada inti sel tubuh, jadi semua anggota tubuh manusia yang memiliki inti sel disitu akan terdapat DNA di dalamnya. jadi dari ujung kuku kaki sampai ujung rambut itu memiliki DNA kecuali sel darah merah. sehingga bisa dijadikan sample. bahkan air liur pun bisa dijadikan sample.

        Jadi untuk mencocokkan DNA Rasulullah dengan keturunannya bisa menggunakan DNA pada bagian tubuh rasulullah yang masih ada hingga sekarang dengan DNA keturunan Rasulullah.

        Lalu adakah bagian/anggota tubuh Nabi Muhammad shalallahu Alaihi Wasalam yang masih ada hingga sekarang?
        jawabannya ADA, ada 4 bagian tubuh Rasulullah yang masih tersimpan rapi di Museum Topkapi di Ibukota Istanbul, Turki yaitu Jenggot Rasulullah yang dikumpulkan tukang cukur, orang-orang pada masa itu karena menganggap bagian dari tubuh rasulullah adalah berkah, masya allah.

        Yang kedua adalah Gigi rasulullah yang lepas ketika perang Uhud teradi, sekaligus menjadi saksi betapa dahsyatnya perang Uhud pada waktu itu.

        Yang ketiga adalah Helai rambut rasulullah yang dikumpulkan oleh para sahabat untuk disimpan pada waktu itu.

        Setelah kita bahas semua, sudah dapatkan sample DNA Rasulullah dan juga DNA keturunan Rasulullah. Jadi tes DNA bisa lakukan bukan? benar sekali tes DNA bisa dilakukan, namun ketika hasilnya keluar kemungkinan besar hasil DNA nya TIDAK COCOK alias TIDAK SAMA. Kenapa demikian??

        Inilah alasannya, Kita sudah bahas soal DNA. Memang benar kromosom jenis Y hanya dimiliki oleh laki-laki, dan kromosom jenis Y ini akan diturunkan ke generasi berikutnya secara turun temurun ASALKAN dari setiap generasi memiliki anak lai laki sehingga kromosom jenis Y bisa dipertahankan.

        Yang menjadi pertanyaan, Apakah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam memiliki keturunan laki -laki? beliau mempunyai 7 anak, 4 Anak perempuan dan 3 anak laki-laki. Namun ketika usia masih kecil anak laki-laki Nabi yaitu Abdullah,Ibrahim, dan Qasim meninggal dunia. sehingga tinggal anak perempuannya saja yang masih hidup yaitu Fatimah, Ruqiah, Ummi Qultsum, Zainab bahkan hingga menikah dan memiliki keturunan.

        Karena kesemua anak laki-laki Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam telah meninggal dunia sehingga DNA dari Kromosom jenis Y berhenti di Rasulullah, tidak diturunkan ke anak-anak perempuannya. Beliau hanya mewarisi kromosom jenis X kepada putri-putrinya, sedangkan sulit untuk mendeteksi kromosom jenis X yang diturunkan dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam karena sudah bercampur dengan Kromosom milik Istri Rasulullah. Ditambah lagi jika generasi tersebut terpaut cukup jauh.

        Bukannya Rasulullah punya cucu laki-laki? Benar sekali, namun DNA krmomosom Y nya bukan dari Rasulullah melainkan milik menantu Rasulullah, karena Menantu Rasulullah tidak ada hubungan darah maka DNA Kromosom Y nya berbeda dengan Rasulullah. sehingga cucu Laki-laki Rasulullah mewarisi Kromosom Y dari Bapaknya/menantu Rasulullah

        Seandainya ingin dibuktikan bahwa seseorang adalah keturunan Rasulullah atau bukan maka sample/contoh DNA yang di ambil bukan DNA Rasulullah melainkan DNA dari cucunya Rasulullah. Maka ketika di tes hasilnya akan sama atau cocok antara orang-orang yang merupakan keturunan – keturunan Cucu laki-laki rasulullah dengan dengan cucu laki-laki rasulullah.

        Namun apakah dari Generasi cucu Rasulullah Hingga generasi yang sekarang mereka selalu memiliki anak laki – laki agar dapat mewarisi kromosom Y tersebut?? Silahkan di telusuri, kemungkinan akan sulit untuk menemukan karena generasinya sudah cukup jauh dan keturunan Rasulullah telah menyebar keseluruh dunia. Walahu A’lam Bishahab.

        http://bacadanbagikanilmu.blogspot.com/2016/12/bisakah-membuktikan-seseorang-keturunan.html

        Like

  13. Sy cuma mau tanya, apakah semua keturunan Rasulullah SAW juga dijamin bebas dari salah & dosa? Dijamin benar perilakunya?

    Like

  14. IMAM KHOMEINI PUN SAYID!

    Ada baiknya terlebih dahulu kita membahas tentang buyut kami sebelum membahas yang lainnya. Buyut kami adalah Sayid Din Ali Shah. Beliau adalah keturunan Rasulullah dan bertempat tinggal di Kashmir. Tambahan kata “Shah” di akhir namanya berarti “Sayid”. Sebelumnya saya tidak mengetahuinya. Tapi teman-teman kami yang berasal dari Kashmir mengatakan, “Kakek anda mencapai syahadah di sana. Beliau merupakan ruhaniwan dan tokoh agama di sana.” Teman-teman kami ini mengatakan bahwa para ulama dan masyarakat Kashmir mengetahui tentang masalah ini.

    http://www.hajij.com/id/ethics/moral-advices/item/39-imam-khomeini-keturunan-sayid-kashmir-

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s