MENGAPA DARI QURAISY?

image: doamuslim.com

image: doamuslim.com

Mengapa dari Quraisy?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Hampir 2000 tahun lamanya “kepemimpinan dari langit” dipegang Bani Israil. Sejak Yaqub sampai Isa as, pemegang otoritas wahyu hampir semuanya dari klan mereka. Hal ini berubah total 500 tahun setelah Isa as, divine leadership berpindah ke Bani Quraisy. Yahudi terlalu meyakini dirinya sebagai the chosen People (“wa fadhdalnahum ‘alal ‘alamin”- QS. 45:16). Dengan diangkatnya Nabi terakhir dari ras lain, mereka merasa dikhianati Tuhan. Bagaimana mungkin tongkat risalah beralih ke sebuah suku dari daerah Arab yang tak terkenal. Mereka tidak terima, lalu melawan Tuhan.

Berbagai cara dilakukan untuk menyembunyikan data dalam kitab suci tentang kemunculan “Ahmad”. Mereka bahkan berencana membunuh “Nabi akhir zaman” itu di mana pun dia ditemukan. Maka tak heran suatu ketika Pendeta Buhaira menyarankan Abu Thalib untuk menjaga anak kecil yang dia lihat dalam sebuah tenda kafilah dagang ke Syam. Anak ini ia identifikasi sebagai sosok Nabi yang tersebut dalam berbagai risalah Kristen dan Yahudi (Qs. 61:6). Bukan perkara baru bagi Yahudi untuk membunuh para Nabi. Jangankan Nabi dari suku lain, dari suku sendiri juga tak segan-segan untuk disalib (Qs. 2:61, 2:87, 2:91, 3:21, 3:112, 3:181, 3:183, 4:155, 5:70).

Kehendak Tuhan sudah jelas, pemimpin tidak lagi dari Bani Israil. Pemimpin harus dari Quraisy. Ini dipertegas oleh Nabi SAW, “al-‘Aimmah min Quraisy.”

Mengapa dari Quraisy? Pertanyaannya, “why Quraisy?” Apa alasan Tuhan sehingga lebih memilih Quraisy atas suku-suku lain? Apakah hanya kebetulan saja kalau leader terakhir umat manusia berasal dari Quraisy? Dalam kosmologi Islam, tidak ada yang namanya ‘kebetulan’. Semua by design, ada alasan.

Ternyata, surah Quraisy ayat 1-4 adalah jawaban terhadap semua pertanyaan itu. Surah yang singkat ini merupakan intisari dari keseluruhan konsepsi tentang leadership yang kita kenal hari ini.

Faktor Kebiasaan. Ayat pertama: Li ii laa fi Quraisyin (Karena kebiasaan orang-orang Quraisy). Siapa itu Quraisy? Quraisy adalah nama leluhur ke-12 di atas Nabi Muhammad SAW. Silsilahnya sebagai berikut: (1) Muhammad, bin (2) Abdullah, bin (3) Abdul Muthalib, bin (4) Hasyim, bin (5) Abdu Manaf, bin (6) Qusyai, bin (7) Kilab, bin (8) Murrah, bin (9) Ka’ab, bin (10) Lu’ay, bin (11) Ghalib, bin (12) Quraisy atau Fihr. Dari sini nasab Rasul SAW bersambung ke Ibrahim as, seterusnya sampai ke Adam as. Quraisy itu laqab atau nama lain dari Fihr. Quraisy mengandung makna “berhimpun kembali”, “memenuhi kebutuhan dengan berusaha”, dan “memeriksa”. Semua terkait dengan sifat-sifat Fihr dalam memimpin kaumnya. Anak cucu Fihr atau Quraisy inilah yang disebut orang-orang Quraisy atau Bani Quraisy.

Jadi, Muhammad SAW adalah figur ke-12 yang muncul pada salah satu rentetan jalur anak turunan Quraisy yang hanif ini. Menariknya, huruf “Sin” berada pada urutan ke-12 dalam struktur hijaiyah. Para ulama tasawuf menyebutkan, “Sin” (sebagaimana tersebut di awal surah “Ya-Sin”) adalah salah satu laqab Nabi Muhammad SAW. Panggilan lain untuk Muhammad SAW adalah “Thaha” (QS. Thaha: 1), “Nun” (QS. Al-Qalam: 1), “Abduh” (QS. Al-Isra: 1), dan “Ahmad” (QS. as-Shaff: 6). Angka 12 ini juga menjadi kode “Sin” yang menunjukkan urutan Muhammad SAW dalam kepemimpinan Bani Quraisy.

Angka “12” memang identik dengan konsepsi leadership. Al-Quran sendiri menyebutkan angka 12 dalam berbagai konteks. Misalnya, “12 bulan” (QS. At-Taubah: 36), “12 mata air” (QS. Al-Baqarah: 60), “12 suku” (QS. Al-Araf: 160), “12 naqib” Bani Israil (QS. Al-Maidah: 12), serta juga “12 hawariyyun” (apostles) atau pengikut setia Nabi Isa as. Pun berbagai mazhab dalam Islam ikut bersandar pada mistisisme angka 12 ini. Syiah punya konsepsi “12 imam”. Pandangan serupa juga ditemukan dalam Sunni. Bukhari menyebutkan tentang “12 Khalifah” yang akan memerintah paska Nabi SAW dalam Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy. Sedangkan Muslim menyebutnya di awal Ad-Imarah.

Sejumlah kata dalam Al-Qur’an terkait leadership juga disebutkan sebanyak 12 kali. Misalnya kata “imam” dan berbagai padanannya disebut dalam surah 2:124, 11:17, 25:74, 46:12, 15:79, 36:12, 17:17, 9:12, 21:73, 28:5, 28:41, dan 32:24. Demikian juga dengan berbagai pujian tentang “khalifah” beserta isim turunannya disebut 12 kali dalam surah 2:30, 38:26, 6:165, 10:14, 10:73, 35:39, 7:69, 7:74, 27: 62, 24:55 (disebut dua kali), dan 7:129.

Kita hindari kajian sufistik tentang angka dan huruf ini. Kita fokus pada pendekatan rasional lainnya tentang leadership.

Kembali pada ayat. Ketika muncul pertanyaan mengapa dari Quraisy? Spontan Tuhan menjawab: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.” Kata kuncinya “kebiasaan”. Perhatikan, Tuhan menegaskan bahwa Dia tidak bersikap rasis dalam memilih seseorang. Tuhan memilih untuk memuliakan suatu kaum karena faktor “kebiasaan” yang ada pada kaum tersebut. Kebiasaan-kebiasaan positif yang terdapat pada sebuah suku bangsa, dapat membuat bangsa tersebut lebih bertakwa sehingga lebih mulia di mata Tuhan (QS. Al-Hujurat: 13). Pada Bani Quraisy ditemukan kebiasaan-kebiasaan yang membuat mereka layak diangkat Tuhan sebagai bangsa teulebéh ateuh rhueng dönya. Apa saja kebiasaan mereka?

Karakteristik Quraisy: Entrepreneur dan Spiritualis. Dijelaskan pada ayat kedua: ii-laa fihim rihlatasy syitaa-i wash-shaifi (Yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas). Quraisy adalah suku yang dinamis. Mereka bergerak jauh sampai ke Yaman pada musim dingin, ke Syam pada musim panas. Sampai abad modern ini kita bisa melihat, bangsa maju punya karakter untuk melakukan koneksi dan penetrasi bisnis melampaui batas-batas wilayah mereka. Sebut saja Cina, Amerika, dan Jerman yang menjadi leader karena inovasi dan mobilitas usaha. Mereka berani mewarnai pasar luar negeri, serta berusaha memenuhi kebutuhan warga dunia. Semua karakter ini dikenal dengan “jiwa wirausaha”.

Entrepreneurship adalah sebuah karakter dinamis, progresif, optimis, visioner, penuh perhitungan, selalu melihat peluang, ingin menambah value terhadap pekerjaaan, serta punya determinasi untuk terus maju. Entrepreneurship adalah kumpulan sikap-sikap leadership. Entrepreneurship inilah karakternya Quraisy. Islam sebagai produk terbaik dari langit tidak akan laku di pasar dunia, jika tidak “dijual” oleh sales person (da’i) yang punya sikap entrepreneurial. Kemampuan menjual menjadi kata kunci bagi kemajuan. Bani Quraisy punya kompetensi ini. Maka dari bangsa saudagar inilah pemimpin dunia dilahirkan. Terbukti Muhammad SAW dikenal tidak hanya ahli dalam menjual barang, tapi juga jago dalam “mempromosikan” pesan-pesan Tuhan. Leadership sebuah bangsa atau agama sangat ditentukan oleh kemampuan “menjual”. Bahkan sejarah penyebaran Islam ke Nusantara juga tidak terlepas dari peran-peran perdagangan orang-orang Arab termasuk para sayyid anak turunan Quraisy ini yang menjadi basis ekonomi mereka dalam berdakwah.

Apakah karena “jiwa dagang” ini yang membuat bangsa Quraisy berhak mewarisi world leader? Ternyata bukan itu saja. Mereka punya satu karakteristik lain yang menarik perhatian Tuhan, yaitu “spiritualitas”. Dijelaskan pada ayat selanjutnya.

Ayat ketiga: Falya’buduu rabba haadzal baiti (Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Rumah ini). Tidak hanya sibuk berniaga, Bani Quraisy juga fokus pada aktivitas spiritual. Mereka bangsa penyembah Tuhan Pemilik Ka’bah. Secara turun-temurun sejak dari moyang mereka Ibrahim as, suku Quraisy menjadi jurukuncen Ka’bah. Mereka meneruskan tradisi sebagai pemelihara Masjidil Haram.

Memang dalam perkembangannya ditemukan berbagai kepercayaan yang menjadikan tempat suci itu sebagai lokasi ibadah. Sehingga ditemukan berbagai model patung di sana. Namun ini juga menjadi indikasi bahwa masyarakat jahiliah adalah masyarakat yang punya pandangan spiritual, meskipun musyrik. Tetapi garis nasab Muhammad SAW merupakan orang-orang hanif, penganut ajaran Ibrahim as. Maka dari genetik orang-orang Quraisy yang lurus inilah lahir “cahaya dunia”, Nabi Muhammad SAW.

Kapital dan Spiritual: Sumber Pengaruh. Pada tiga ayat di atas terdapat pelajaran tentang apa yang menjadikan seseorang sebagai leader. Setidaknya ada dua power yang membuat seseorang berpengaruh. Pertama adalah faktor entrepreneurial, yaitu penguasaan ekonomi atau kapital. Kenyataannya begitu, berbagai belahan dunia dipimpin orang kaya, entrepreneur-kapitalis. Kedua, kalaupun tidak punya uang, seseorang masih punya daya untuk menjadi leader ketika mampu mengimami batin kaumnya. Berbagai belahan dunia juga dipimpin oleh ulama, imam, waliyullah dan tokoh-tokoh spiritual yang sederhana. Artinya dengan uang kita berpengaruh, dan dengan kapasitas intelektual-spiritual juga mampu memberi pengaruh. Pada Bani Quraisy dua kekuatan ini berpadu. Mereka entrepreneur kaya sekaligus “imam-imam Rumah Allah”.

Tentang kekayaan pemimpin Quraisy telah dijelaskan dalam sejarah. Abdul Muthalib, misalnya, punya 200 ekor unta yang disita Abrahah dalam ekspedisi penghancuran Ka’bah. Nabi SAW sendiri diriwayatkan memberikan Khadijah 100 ekor unta beserta emas sebagai mahar pernikahannya. Katakanlah 1 ekor unta setara dengan 1 lembu yang berharga Rp 10 juta; maka Muhammad mengeluarkan sekitar Rp 1 miliar hanya untuk unta saja, belum lagi emas. Ini beberapa data saja bahwa Bani Quraisy cukup powerful dari sisi ekonomi.

Demikian juga dari segi keikhlasan dalam melayani Tuhan. Sejarah tercatat bagaimana misalnya anak-anak Hasyim bekerja melayani jamaah haji di Tanah Suci pada masa pra-Islam. Mereka ditugaskan oleh Hasyim untuk menyediakan air bagi jamaah haji secara gratis. Mereka juga menyembelih ratusan unta mereka untuk memberi makan jamaah haji yang merupakan tamu di “Rumah Tuhan” (M.Quraish Shihab, “Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW”, 2012).

Tiga ayat di atas menguraikan sebab seseorang atau sebuah bangsa diangkat menjadi leader. Dalam hal ini pada diri Quraisy terdapat semua alasan. Mereka punya jiwa entrepreneur sekaligus spiritualis. Pertanyaan kemudian, apa tugas seorang leader?

Tugas Pemimpin. Dijawab oleh ayat terakhir: Alladzii ath’amahum min juu-in; wa aamanahum min khaufin (Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar, dan memberi rasa aman dari ketakutan). Pada ayat ini Tuhan ajarkan kita dua misi besar leader, yaitu pertama “menghilangkan rasa lapar” dan kedua “memberi rasa aman.”

Misi pertama adalah tugas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pendapatan, lapangan kerja, kemakmuran, atau apa pun namanya yang bertujuan membuat perut kenyang. Ini krusial. Karena kekacauan yang terjadi dimana-mana, jika ditelusuri, akar masalahnya adalah “perut”. Maka misi menciptakan keadilan ekonomi adalah misi utama para pemimpin. Misi seperti ini ada dalam karakter Quraisy. Mereka punya sikap yang disebut muruwah. Kehormatan terletak pada ikatan kekeluargaan dan kemampuan saling menjaga, termasuk memastikan bahwa tidak ada satu pun dari klan mereka yang kelaparan. Tugas pemimpin suku memastikan semua anggota yang kuat bekerja, sedangkan yang lemah akan dipenuhi hak-haknya.

Misi leader yang terakhir adalah “memberi rasa aman dari ketakutan”. Ini terkait “rasa” yang sifatnya sangat batiniah. Termasuk dalam kebutuhan ini adalah “spiritualitas”. Ini yang gagal dipenuhi oleh banyak pemimpin. Karena fokus pada pertumbuhan ekonomi, kita lupa meningkatkan keimanan masyarakat. Padahal penting bagi setiap orang untuk mengenal Tuhan dan mengetahui “arah pulang”. Karena kebutuhan intrinsik ini tak terpenuhi, kebanyakan manusia modern mengalami ketakutan. Termasuk mereka di negara yang maju secara ekonomi umumnya mengalami alienasi atau keterasingan dari dirinya sendiri.

Kata “aman” sendiri berasal dari bahasa arab “iman”. Artinya, orang-orang yang beriman cenderung merasa aman. Misi menciptakan “rasa aman” adalah pekerjaannya Bani Quraisy. Kota Mekkah mereka bangun menjadi negeri aman (baladil amin) sebagaimana disebutkan dalam Alquran (QS. At-Tin: 3). Area suci ini dikenal sebagai wilayah yang tidak boleh ada perang. Begitu amannya, bahkan bermacam berhala dan kepercayaan diizinkan hidup dalam Masjidil Haram pada era pra-Islam, asalkan tidak ada keributan. Nabi SAW sendiri juga menaklukkan Mekkah dengan cara damai.

Oleh sebab itu, membangun masyarakat bertauhid menjadi misi besar seorang leader. Bukan cuma membangun masyarakat yang adil secara sosial dan ekonomi, tetapi juga kaya nilai spiritualitas dan moralitas. Inilah konsepsi ummah, sebuah cita-cita ideal model masyarakat yang sudah punya akar dalam tradisi Quraisy. Tapi kemudian atas bimbingan wahyu dibuat menjadi nyata oleh salah satu anak turunan mereka, Muhammad SAW.

Kesimpulan. Kebanyakan kita masih memahami Quraisy sebagai entitas musyrik. Begitu jahiliahnya mereka dalam benak kita, sehingga Nabi terakhir mesti diutus ke situ. Padahal, jika bicara jahiliah, banyak masyarakat lain di muka bumi yang tak kalah jahiliahnya dari suku Arab. Dengan berbagai bentuk animismenya, boleh jadi etnis-etnis yang dulu mendiami Indonesia sama barbarnya dengan bangsa Arab. Tetapi Alquran berbicara positif tentang Quraisy.

Surah Quraisy itu sendiri tidak bermaksud mempromosikan sukuisme. Ada pesan universal untuk kita. Bahwa true leadership adalah tentang (1) “kompetensi personal”, yaitu entrepreneur dan spiritualis; (2) “kompetensi sosial”, yaitu bekerja membangun perekonomian bangsa serta berjuang untuk meningkatkan moralitas umat. Apapun suku bangsa anda, anda akan menjadi leader yang direstui Tuhan selama punya dua karakter ini. Oleh sebab itu, revolusi mental yang sesungguhnya adalah mendidik bangsa Indonesia menjadi “orang-orang kaya yang bertakwa”, menjadi “para pekerja sosial yang membangun moralitas umat”. Inilah substansi pesan dari maulid Nabi ‘the Quraisy’ SAW.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

(Tulisan ini pernah dimuat di harian Serambi Indonesia pada Jum’at, 02 Januari 2015: http://aceh.tribunnews.com/2015/01/02/mengapa-dari-quraisy).

Advertisements

3 Comments

  1. […] Oleh Said Muniruddin Hampir 2000 tahun lamanya “kepemimpinan dari langit” dipegang Bani Israil. Sejak Yaqub sampai Isa as, pemegang otoritas wahyu hampir semuanya dari klan mereka. Hal ini berubah total 500 tahun setelah Isa as, divine leadership berpindah ke Bani Quraisy.  Yahudi terlalu meyakini dirinya sebagai the chosen people. Dengan diangkatnya Nabi terakhir dari ras lain, mereka merasa dikhianati Tuhan. Bagaimana mungkin tongkat risalah beralih ke sebuah suku dari daerah Arab yang tak terkenal. Mereka tidak terima, lalu melawan Tuhan. Berbagai cara dilakukan untuk menyembunyikan data dalam kitab suci tentang kemunculan “Ahmad”. Mereka bahkan berencana membunuh “Nabi akhir zaman” itu di mana pun dia ditemukan.  Maka tak heran suatu ketika Pendeta Buhaira menyarankan Abu Thalib untuk menjaga anak kecil yang dia lihat dalam sebuah tenda kafilah dagang ke Syam. Anak ini ia identifikasi sebagai sosok Nabi yang tersebut dalam berbagai risalah Kristen dan Yahudi.  Bukan perkara baru bagi Yahudi untuk membunuh para Nabi. Jangankan Nabi dari suku lain, dari suku sendiri juga tak segan-segan untuk disalib. Kehendak Tuhan sudah jelas, pemimpin tidak lagi dari Bani Israil. Pemimpin harus dari Quraisy. Ini dipertegas oleh Nabi SAW, “al-‘Aimmah min Quraisy.” *Mengapa dari Quraisy?* Pertanyaannya, “why Quraisy?” Apa alasan Tuhan sehingga lebih memilih Quraisy atas suku-suku lain? Apakah hanya kebetulan saja kalau leaderterakhir umat manusia berasal dari Quraisy? Dalam kosmologi Islam, tidak ada yang namanya ‘kebetulan’. Semua by design, ada alasan. Ternyata, surah Quraisy ayat 1-4 adalah jawaban terhadap semua pertanyaan itu. Surah yang singkat ini merupakan intisari dari keseluruhan konsepsi tentang leadership yang kita kenal hari ini. *Faktor Kebiasaan* Ayat pertama: Li ii laa fi Quraisyin (Karena kebiasaan orang-orang Quraisy). Siapa itu Quraisy? Quraisy adalah nama leluhur ke-12 di atas Nabi Muhammad SAW.  Silsilahnya sebagai berikut: (1) Muhammad, bin (2) Abdullah, bin (3) Abdul Muthalib, bin (4) Hasyim, bin (5) Abdu Manaf, bin (6) Qusyai, bin (7) Kilab, bin (8) Murrah, bin (9) Ka’ab, bin (10) Lu’ay, bin (11) Ghalib, bin (12) Quraisy atau Fihr. Dari sini nasab Rasul SAW bersambung ke Ibrahim as, seterusnya sampai ke Adam as.  Quraisy itu laqab atau nama lain dari Fihr. Quraisy mengandung makna “berhimpun kembali”, “memenuhi kebutuhan dengan berusaha”, dan “memeriksa”. Semua terkait dengan sifat-sifat Fihr dalam memimpin kaumnya. Anak cucu Fihr atau Quraisy inilah yang disebut orang-orang Quraisy atau Bani Quraisy. Jadi, Muhammad SAW adalah figur ke-12 yang muncul pada salah satu rentetan jalur anak turunan Quraisy yang hanif ini.  Menariknya, huruf “Sin” berada pada urutan ke-12 dalam struktur hijaiyah. Para ulama tasawuf menyebutkan, “Sin” (sebagaimana tersebut di awal surah “Ya-Sin”) adalah salah satu laqab Nabi Muhammad SAW. Panggilan lain untuk Muhammad SAW adalah “Thaha” (QS. Thaha: 1), “Nun” (QS. Al-Qalam: 1), “Abduh” (QS. Al-Isra: 1), dan “Ahmad” (QS. as-Shaff: 6). Angka 12 ini juga menjadi kode “Sin” yang menunjukkan urutan Muhammad SAW dalam kepemimpinan Bani Quraisy. Angka “12” memang identik dengan konsepsi leadership. Alquran sendiri menyebutkan angka 12 dalam berbagai konteks. Misalnya, “12 bulan” (QS. At-Taubah: 36), “12 mata air” (QS. Al-Baqarah: 60), “12 suku” (QS. Al-Araf: 160), “12 naqib” Bani Israil (QS. Al-Maidah: 12), serta juga “12 hawariyyun” (apostles) atau pengikut setia Nabi Isa as.  Pun sebagian kaum muslim bersandar pada mistisisme angka 12 ini sebagai konsepsi “12 imam” turunan Nabi SAW. Demikian juga dengan sosok leader akhir zaman yang juga bernama Muhammad dengan gelar “Al-Mahdi”, yang nantinya akan muncul bersama Nabi Isa as, juga diyakini sebagian kaum muslim sebagai salah satu dari keturunan ke 12 Nabi Muhammad SAW.  Terkait angka 12 dalam kepemimpinan, Bukhari juga ikut menyebutkan tentang “12 Khalifah” yang akan memerintah paska Nabi SAW dalam Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy. Sedangkan Muslim menyebutkannya di awal Ad-Imarah. Sejumlah kata dalam Al-Qur’an terkait leadership juga disebutkan sebanyak 12 kali. Misalnya kata “imam” dan berbagai padanannya disebut dalam surah 2:124, 11:17, 25:74, 46:12, 15:79, 36:12, 17:17, 9:12, 21:73, 28:5, 28:41, dan 32:24.  Demikian juga dengan berbagai pujian tentang “khalifah” beserta isim turunannya disebut 12 kali dalam surah 2:30, 38:26, 6:165, 10:14, 10:73, 35:39, 7:69, 7:74, 27: 62, 24:55 (disebut dua kali), dan 7:129. Kita hindari kajian sufistik tentang angka dan huruf ini. Kita fokus pada pendekatan rasional lainnya tentang leadership. Kembali pada ayat. Ketika muncul pertanyaan mengapa dari Quraisy? Spontan Tuhan menjawab: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.” Kata kuncinya “kebiasaan”.  Perhatikan, Tuhan menegaskan bahwa Dia tidak bersikap rasis dalam memilih seseorang. Tuhan memilih untuk memuliakan suatu kaum karena faktor “kebiasaan” yang ada pada kaum tersebut.  Kebiasaan-kebiasaan positif yang terdapat pada sebuah suku bangsa, dapat membuat bangsa tersebut lebih bertakwa sehingga lebih mulia di mata Tuhan (QS. Al-Hujurat: 13). Pada Bani Quraisy ditemukan kebiasaan-kebiasaan yang membuat mereka layak diangkat Tuhan sebagai bangsa teulebéh ateuh rhueng dönya. Apa saja kebiasaan mereka? *Karakteristik Quraisy: Entrepreneur dan Spiritualis*  Dijelaskan pada ayat kedua: ii-laa fihim rihlatasy syitaa-i wash-shaifi (Yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas). Quraisy adalah suku yang dinamis. Mereka bergerak jauh sampai ke Yaman pada musim dingin, ke Syam pada musim panas.  Sampai abad modern ini kita bisa melihat, bangsa maju punya karakter untuk melakukan koneksi dan penetrasi bisnis melampaui batas-batas wilayah mereka. Sebut saja Cina, Amerika, dan Jerman yang menjadi leader karena inovasi dan mobilitas usaha. Mereka berani mewarnai pasar luar negeri, serta berusaha memenuhi kebutuhan warga dunia. Semua karakter ini dikenal dengan “jiwa wirausaha”. Entrepreneurship adalah sebuah karakter dinamis, progresif, optimis, visioner, penuh perhitungan, selalu melihat peluang, ingin menambah value terhadap pekerjaaan, serta punya determinasi untuk terus maju. Entrepreneurship adalah kumpulan sikap-sikap leadership. Entrepreneurship inilah karakternya Quraisy.  Islam sebagai produk terbaik dari langit tidak akan laku di pasar dunia, jika tidak “dijual” oleh sales person(da’i) yang punya sikap entrepreneurial. Kemampuan menjual menjadi kata kunci bagi kemajuan. Bani Quraisy punya kompetensi ini.  Maka dari bangsa saudagar inilah pemimpin dunia dilahirkan. Terbukti Muhammad SAW dikenal tidak hanya ahli dalam menjual barang, tapi juga jago dalam “mempromosikan” pesan-pesan Tuhan. Leadership sebuah bangsa atau agama sangat ditentukan oleh kemampuan “menjual”. Bahkan sejarah penyebaran Islam ke Nusantara juga tidak terlepas dari peran-peran perdagangan orang-orang Arab termasuk para sayyid anak turunan Quraisy ini yang menjadi basis ekonomi mereka dalam berdakwah. Apakah karena “jiwa dagang” ini yang membuat bangsa Quraisy berhak mewarisi world leader? Ternyata bukan itu saja. Mereka punya satu karakteristik lain yang menarik perhatian Tuhan, yaitu “spiritualitas”. Dijelaskan pada ayat selanjutnya. Ayat ketiga: Falya’buduu rabba haadzal baiti (Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Rumah ini).  Tidak hanya sibuk berniaga, Bani Quraisy juga fokus pada aktivitas spiritual. Mereka bangsa penyembah Tuhan Pemilik Ka’bah.  Secara turun-temurun sejak dari moyang mereka Ibrahim as, suku Quraisy menjadi jurukuncen Ka’bah. Mereka meneruskan tradisi sebagai pemelihara Masjidil Haram. Memang dalam perkembangannya ditemukan berbagai kepercayaan yang menjadikan tempat suci itu sebagai lokasi ibadah. Sehingga ditemukan berbagai model patung di sana. Namun ini juga menjadi indikasi bahwa masyarakat jahiliah adalah masyarakat yang punya pandangan spiritual, meskipun musyrik.  Tetapi garis nasab Muhammad SAW merupakan orang-orang hanif, penganut ajaran Ibrahim as. Maka dari genetik orang-orang Quraisy yang lurus inilah lahir “cahaya dunia”, Nabi Muhammad SAW. *Kapital dan Spiritual: Sumber Pengaruh* Pada tiga ayat di atas terdapat pelajaran tentang apa yang menjadikan seseorang sebagai leader. Setidaknya ada dua power yang membuat seseorang berpengaruh. Pertama adalah faktor entrepreneurial, yaitu penguasaan ekonomi atau kapital. Kenyataannya begitu, berbagai belahan dunia dipimpin orang kaya, entrepreneur-kapitalis. Kedua, kalaupun tidak punya uang, seseorang masih punya daya untuk menjadi leader ketika mampu mengimami batin kaumnya. Berbagai belahan dunia juga dipimpin oleh ulama, imam, dan tokoh-tokoh spiritual yang sederhana.  Artinya dengan uang kita berpengaruh, dan dengan kapasitas intelektual-spiritual juga mampu memberi pengaruh. Pada Bani Quraisy dua kekuatan ini berpadu. Mereka entrepreneur kaya sekaligus “imam-imam Rumah Allah”. Tentang kekayaan pemimpin Quraisy telah dijelaskan dalam sejarah. Abdul Muthalib, misalnya, punya 200 ekor unta yang disita Abrahah dalam ekspedisi penghancuran Ka’bah.  Nabi SAW sendiri diriwayatkan memberikan Khadijah 100 ekor unta beserta emas sebagai mahar pernikahannya. Katakanlah 1 ekor unta setara dengan 1 lembu yang berharga Rp 10 juta; maka Muhammad mengeluarkan sekitar Rp 1 miliar hanya untuk unta saja, belum lagi emas.  Ini beberapa data saja bahwa Bani Quraisy cukup powerful dari sisi ekonomi. Demikian juga dari segi keikhlasan dalam melayani Tuhan. Sejarah tercatat bagaimana misalnya anak-anak Hasyim bekerja melayani jamaah haji di Tanah Suci pada masa pra-Islam. Mereka ditugaskan oleh Hasyim untuk menyediakan air bagi jamaah haji secara gratis. Mereka juga menyembelih ratusan unta mereka untuk memberi makan jamaah haji yang merupakan tamu di “Rumah Tuhan”.  Tiga ayat di atas menguraikan sebab seseorang atau sebuah bangsa diangkat menjadi leader. Dalam hal ini pada diri Quraisy terdapat semua alasan. Mereka punya jiwa entrepreneur sekaligus spiritualis. Pertanyaan kemudian, apa tugas seorang leader? *Tugas Pemimpin* Dijawab oleh ayat terakhir: Alladzii ath’amahum min juu-in; wa aamanahum min khaufin (Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar, dan memberi rasa aman dari ketakutan).  Pada ayat ini Tuhan ajarkan kita dua misi besar leader, yaitu pertama “menghilangkan rasa lapar” dan kedua “memberi rasa aman.” Misi pertama adalah tugas untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pendapatan, lapangan kerja, kemakmuran, atau apa pun namanya yang bertujuan membuat perut kenyang.  Ini krusial. Karena kekacauan yang terjadi dimana-mana, jika ditelusuri, akar masalahnya adalah “perut”. Maka misi menciptakan keadilan ekonomi adalah misi utama para pemimpin.  Misi seperti ini ada dalam karakter Quraisy. Mereka punya sikap yang disebut muruwah. Kehormatan terletak pada ikatan kekeluargaan dan kemampuan saling menjaga, termasuk memastikan bahwa tidak ada satu pun dari klan mereka yang kelaparan. Tugas pemimpin suku memastikan semua anggota yang kuat bekerja, sedangkan yang lemah akan dipenuhi hak-haknya. Misi leader yang terakhir adalah “memberi rasa aman dari ketakutan”. Ini terkait “rasa” yang sifatnya sangat batiniah. Termasuk dalam kebutuhan ini adalah “spiritualitas”.  Ini yang gagal dipenuhi oleh banyak pemimpin. Karena fokus pada pertumbuhan ekonomi, kita lupa meningkatkan keimanan masyarakat. Padahal penting bagi setiap orang untuk mengenal Tuhan dan mengetahui “arah pulang”. Karena kebutuhan intrinsik ini tak terpenuhi, kebanyakan manusia modern mengalami ketakutan. Termasuk mereka di negara yang maju secara ekonomi umumnya mengalami alienasi atau keterasingan dari dirinya sendiri. Kata “aman” sendiri berasal dari bahasa arab “iman”. Artinya, orang-orang yang beriman cenderung merasa aman. Misi menciptakan “rasa aman” adalah pekerjaannya Bani Quraisy.  Kota Mekkah mereka bangun menjadi negeri aman (baladil amin) sebagaimana disebutkan dalam Alquran (QS. At-Tin: 3). Area suci ini dikenal sebagai wilayah yang tidak boleh ada perang. Begitu amannya, bahkan bermacam berhala dan kepercayaan diizinkan hidup dalam Masjidil Haram pada era pra-Islam, asalkan tidak ada keributan. Nabi SAW sendiri juga menaklukkan Mekkah dengan cara damai. Oleh sebab itu, membangun masyarakat bertauhid menjadi misi besar seorang leader. Bukan cuma membangun masyarakat yang adil secara sosial dan ekonomi, tetapi juga kaya nilai spiritualitas dan moralitas.  Inilah konsepsi ummah, sebuah cita-cita ideal model masyarakat yang sudah punya akar dalam tradisi Quraisy. Tapi kemudian atas bimbingan wahyu dibuat menjadi nyata oleh salah satu anak turunan mereka, Muhammad SAW. *Kesimpulan* Kebanyakan kita masih memahami Quraisy sebagai entitas musyrik. Begitu jahiliahnya mereka dalam benak kita, sehingga Nabi terakhir mesti diutus ke situ.  Padahal, jika bicara jahiliah, masih banyak masyarakat lain di muka bumi yang lebih jahiliah dari suku Arab. Dengan berbagai bentuk animismenya, boleh jadi suku bangsa yang dulu mendiami Indonesia lebih barbar dari bangsa Arab. Tetapi Alquran berbicara positif tentang Quraisy. Surah Quraisy itu sendiri tidak bermaksud mempromosikan sukuisme. Ada pesan universal untuk kita. Bahwa true Leadership adalah tentang (1) “kompetensi personal”, yaitu entrepreneur dan spiritualis; (2) “kompetensi sosial”, yaitu bekerja membangun perekonomian bangsa serta berjuang untuk meningkatkan moralitas umat.  Apapun suku bangsa anda, anda akan menjadi leader yang direstui Tuhan selama punya dua karakter ini. Revolusi mental dan kepemimpinan yang sesungguhnya adalah mendidik bangsa Indonesia menjadi “orang kaya yang bertakwa”, menjadi “entrepreneur yang dekat dengan rumah Tuhan”.  Inilah substansi pesan dari maulid Nabi ‘the Quraisy’ SAW.***** (Sumber: https://saidmuniruddin.com/2015/01/02/mengapa-dari-quraisy-perspektif-al-quran-tentang-true-leadersh&#8230😉 […]

    Like

  2. […] Baca Juga: “Mengapa dari Quraisy?” […]

    Like

  3. sayyid

    Assalamualaikum wr.wb,

    Benar dan dapat juga menyebarkan agama islam ke daerah panas dan dingin.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s