“ULAMA SEKULER”

image: ureechan.wordpress.com
image: ureechan.wordpress.com

“ULAMA SEKULER”
Oleh Said Muniruddin

“Ulama” itu kan “Ilmuwan”: orang “Alim.” Siapapun yang alim dalam bidang ilmu apapun yang baik, ya Ulama. Toh ilmu dunia dan akhirat itu milik Tuhan. Bahkan disetiap penutup do’a kita diajarkan Allah swt untuk mengejar dua hal sekaligus: “kebahagiaan dunia” dan “kebahagiaan akhirat.” Yg pertama dicapai dengan ilmu dunia, yang kedua dengan ilmu tentang akhirat. Kalau hanya belajar dunia saja tanpa akhirat, itu namanya “sekuler”. Demikian juga kalau fokus akhirat saja tapi lupa dunia, itu juga “sekuler”.

Idealnya, seorang ulama menguasai ilmu dunia sekaligus ilmu akhirat, tanpa terpisah. Tapi sayangnya, sebagian ulama larut di kampus dengan ilmu dunianya. Sebagian lain larut di pesantren dan dayah-dayah dengan ilmu akhiratnya. Dua-duanya sekuler, karena memisahkan akhirat dengan dunia.

Di era klasik Islam, ulama itu juga seorang profesor yang ahli pengetahuan dunia sekaligus akhirat. Mereka pakar matematika, biologi, kedokteran, fisika, kimia, bahasa, sastra, filsafat, astronomi, geologi, ekonomi, bisnis, politik, seni, dsb. Tapi sekaligus ahli teologi, fikih, dan juga seorang sufi. Mereka bukan cuma terus belajar dan mengajar, tapi juga terus menulis.

Adakah ulama kita di dayah dan kampus yang sekarismatik itu? Rasanya sudah langka, karena kita sudah diajarkan “spesialisasi” (wujud lain dari “sekularisasi”). Yakni fokus pada satu hal saja: dunia saja, atau akhirat saja.*****