KITA DAN PELACUR IBUKOTA
Oleh Said Muniruddin

Bulan puasa memakmurkan masjid,
setelah puasa memakmurkan warung kopi.
Bulan puasa rajin mengaji,
setelah puasa menyimpan Quran di lemari.

Bulan puasa berbagi dengan dhuafa,
setelah puasa berfoya-foya bersama sanakĀ famili.
Bulan puasa berbaju syar’i bersarung peci,
setelah puasa tampil ketat ber-fashion seksi.

Bulan puasa ngotot tarawih 20 rakaat,
setelah puasa tak lagi kenal shalat sunnat.
Bulan puasa basah bibir karena dzikir dan sholawat,
setelah puasa kering tenggorok memuja kafir Barca dan berhala Madrid.

Bulan puasa taat menahan lapar dan dahaga,
setelah puasa tamak menikmati aset negara.
Jika bulan puasa hanya untuk ganti baju lalu kembali seperti semula,
maka apa beda kita dengan para artis pelacur ibukota?