PUASA DALAM KONSEPSI IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

image: saidmuniruddin.com
image: saidmuniruddin.com

PUASA DALAM KONSEPSI IMAN, ISLAM, DAN IHSAN
Oleh Said Muniruddin

Sekali lagi, ayat puasa dalam Qs.Al-Baqarah 183 adalah konsepsi utuh tentang tujuan agama: “Hai orang-orang yang ber-IMAN, diwajibkan atas kalian ber-PUASA sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu ber-TAQWA.”

Ada tiga kata kunci pada ayat ini: beriman, berpuasa, dan bertaqwa. Ketiga konsep ini terkait dengan iman, islam, dan ihsan; yang merupakan tiga jenjang kesempurnaan kehidupan.

Agama itu diawali dari “keyakinan”, bahwa secara argumentatif-rasional Tuhan dapat diketahui dan dibuktikan ada. Ini makna teoritis aqidah ke-IMAN-an. Tetapi sekedar punya pengetahuan dan percaya kepada Tuhan, kepada para utusan, dan kepada hari akhir belum memberi kesempurnaan bagi hidup. Sebuah sikap tunduk patuh berupa “tindakan-tindakan aktif untuk menyembahnya” diperlukan. Inilah syariah praktis ke-ISLAM-an, salah satunya adalah dengan berpuasa.

Tetapi tujuan beragama bukan sekedar percaya pada Tuhan, lalu menghabiskan waktu untuk menahan lapar. Inti beragama adalah dengan percaya kepada-Nya, lalu kita bersedia beribadah kepada-Nya, dan pada akhirnya kita menjadi orang yang selalu merasakan kehadiran-Nya dalam setiap sisi kehidupan kita. Inilah “taqwa”, merasa bahwa Tuhan selalu mengawasi, sehingga kita takut berbuat jahat dan cenderung melakukan yang baik-baik saja. Pada taqwa inilah terletak IHSAN, kesempurnaan akhlak manusia.

Semoga setelah Ramadhan akhlak kita semakin menyempurna. Karena inilah tujuan beragama, tujuan Muhammad saaw dan nabi-nabi terdahulu diutus ke dunia.*****