“GAME OF THE RICHEST”

image: nameoftheyear.com

image: nameoftheyear.com

“GAME OF THE RICHEST”: 
ASAL USUL DEMOKRASI
Oleh Said Muniruddin

Alkisah, berkumpullah para orang kaya di sebuah warung kopi. Biar ilmiah sedikit, sebutlah itu terjadi di sebuah kota di Yunani. Atau kalau mau dalam perspektif yang lebih modern, katakanlah itu bermula di sebuah warung nun jauh di Amerika.

Karena mereka yang berkumpul ini semuanya sudah kaya, mereka ingin sesuatu yang baru: TERKENAL! Ingat, banyak orang yang kaya tapi tak dikenal. Penyakit setiap orang yang sudah kaya adalah ingin popular. Salah satu cara untuk terkenal tentu dengan menjadi kepala negara.

Kalau semua yang kaya menjadi pemimpin di satu negeri tentu tidak bisa. Mesti satu saja. Masalahnya, mereka semua ingin berkuasa dan terkenal. Tetapi mereka juga sadar, bahwa tidak bagus jika sesama orang kaya saling berantam dihadapan orang miskin hanya untuk memperoleh sebuah kursi. Apalagi tujuan menjadi pemimpin hanya sekedar untuk memperoleh titel tambahan, karena pada dasarnya mereka semua sudah pada kaya.

Maka mulailah para orang kaya ini berdiskusi tentang teknis perolehan kekuasaan. Akhirnya mereka setuju untuk menggunakan rakyat sebagai alat untuk mencapai cita-cita. Apalagi mereka melihat rakyat selama ini hanya duduk terbengong-bengong tak ada kerja. Maka didisainlah semacam permainan, dengan sejumlah panitia: ada pelaksana, pengawas, dan sebagainya. Mereka sepakat untuk mengarak rakyat yang miskin-miskin itu, pada hari yang disepakati, guna memilih siapa diantara mereka yang layak memimpin negeri.

Maka kini tugas masing orang kaya bukanlah untuk berantam sesama mereka. Tetapi pekerjaan mereka adalah mempengaruhi rakyat, memberi keyakinan bahwa negeri ini akan maju dibawah kepemimpinan salah satu dari mereka. Jadi, demokrasi itu tak lebih dari “game of the riches”, permainan para orang kaya.

Untuk mencapai kemenangan, rakyat tentu harus dibuat militan dan didorong habis-habisan untuk bekerja bagi mereka. Alhasil, rakyat yang memang bodoh-bodoh saling berantam.

Bagi mereka yang kaya, bunuh-bunuhan ini menjadi semacam tontonan kaum bangsawan di Colosseum Gladiator kota Roma.

Bagi orang kaya, semua keriuhan ini tak lebih dari sebuah pesta untuk mengantarkan salah satu dari mereka ke pelaminan istana. Semakin ramai yang hadir tentu akan terlihat semakin hebat dimata orang kaya negeri tetangga.

Diujung semua pesta dan keributan ini, terpilihlah salah satu orang kaya sebagai pimpinan negara. Urusan sesama orang kaya sudah selesai. Mereka saling mengucapkan selamat, diakhiri salam-salaman. Tapi di dada rakyat awam, yang tersisa hanya ego untuk lanjut gontok-gontokan. Rakyat juga disemangati untuk terus memperjuangkan orang kaya panutan masing-masing, pada episode Pilkada mendatang.

Inilah asal usul demokrasi: “Dari orang kaya, oleh rakyat miskin, untuk orang kaya.”*****

1 Comment

  1. […] Apa yang kami sampaikan terkait dengan sikap Prabowo yang merapat ke kabinet Jokowi. Ternyata, pesta demokrasi hanya dagelan para politisi. Tidak ada yang namanya musuh abadi. Dalam artikel sebelumnya saya pernah menyebut demokrasi abu-abu ini sebagai “Game of the Richest”.  […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s