GATOT, UANG RECEH, DAN KITA

image: merdeka.com

image: merdeka.com

GATOT, UANG RECEH, DAN KITA
Oleh Said Muniruddin

Hanya karena menyuap hakim PTUN Medan sebesar USD10.000 + SGD 5000 (sekitar Rp185 juta) dalam kasus dana Bansos di Sumatera Utara, Gubernur Gatot Pujo Nugroho ditangkap KPK pada 9 Juli 2015. Pengacaranya OC Kaligis, beberapa hakim dan panitera lainnya yang ikut berperan dalam sogok menyogok ini juga mengalami nasib serupa. Kasus ini bahkan ikut menyeret istrinya Evi Susanti untuk sama-sama mendekam di penjara.

Terus terang saya katakan, untuk ukuran pejabat negara dan pengacara ternama, jumlah sogok sebesar ini tak lebih dari segenggam ‘uang receh.’ Bagi KPK, prestasi mereka tentu bukan pada jumlah uangnya, tapi pada besarnya sosok pelaku.

Sebab, jika hanya karena uang receh seseorang harus ditangkap, maka kita semua sudah berada diruang tahanan KPK. Karena suap menyuap dengan uang receh (yang sering kita sebut dg ‘uang kopi’, ‘uang rokok’, ‘uang terima kasih’, ‘tips’, ‘pelicin’, ‘fee’, dsb) sudah menjadi perilaku kita sehari-hari.

Simpulan saya, Gatot dan kita sebenarnya sama saja. Hanya nasib dia lebih apes dari kita.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s