MIMPI

 

Mimpi
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Mimpi yang benar, itu anugerah dari Allah. Bahkan termasuk sebuah bentuk “ilham” dari Tuhan. Bagi para nabi, mimpi (ru’ya) malah menjadi salah satu media untuk memperoleh petunjuk dari langit. Bahkan ada Nabi yang spesialis dalam urusan mimpi, Yusuf as.

Mimpi yang baik itu seperti tamu, bisa diundang dengan sholat sebelum tidur, tidur dalam keadaan suci, mengiringi tidur dengan dzikir, kamar dalam keadaan wangi serta cukup udara (sering orang mengalami mimpi buruk seperti dicekik oleh sesuatu, padahal salah satu penyebabnya adalah kekurangan udara di kamar tidur).

Mimpi itu macam-macam, ada yang benar dan ada yang ngawur (sebatas “bunga tidur”). Ciri-ciri mimpi ngawur adalah mimpi yang ketika anda bangun anda lupa apa mimpinya. Jika mimpinya tak terekam dengan baik, maka itu bukan mimpi yang benar. Oleh sebab itu, mimpi yang benar diperoleh dari tidur lelap (gelobang otak berada dalam kondisi “delta”).

Ada konten mimpi yang sekedar mewakili kondisi psikologis sehari-hari. “Mimpi basah” misalnya; termasuk jenis mimpi yang lahir dari naluri, pikiran dan motivasi seksual dari kesadaran seseorang yang boleh jadi tidak disadari. Semua sensasi itu terungkap dalam bentuk mimpi. Sigmund Freud (dalam The Interpretation of Dreams, 1899) menyebut mimpi model ini sebagai “pemenuhan keinginan yang terpendam”.

Ada juga jenis mimpi lainnya yang merupakan refleksi pengalaman kita sehari-hari. Misalnya, kalau seharian kita terlalu capek dan bermasalah dengan kehidupan, lalu bisa jadi malamnya kita bermimpi buruk. Semua imej, kenangan dan perasaan kita dihimpun dan diproses kembali dalam mimpi. Nah, itu bukan mimpi yang benar. Melainkan refleksi psikologi kita yang terbawa ke tempat tidur, atau yang dalam beberapa teori mimpi disebut sebagai “information-processing theories of dream”.

Jadi, mimpi yang hanya sebatas “bunga tidur”, itu lahir dari alam kesadaran yang rendah (dari kondisi psikis dan psikologis sehari-hari). Mimpi jenis ini hanya sebatas bentuk interpretasi subjektif dari sinyal otak yang diproses dari aktifitas internal alam bawah sadar kita yang menyimpan begitu banyak memori, emosi dan sensasi. Proses kreatif dari otak ini terkadang punya makna tersendiri (sebagaimana pemahaman Activation-Synthesis Model of Dreaming dari J. Allan Hobson dan Robert McClarley,1977).

Yang luput dari semua sains mimpi di atas adalah, adanya alam yang lebih tinggi dari alam bawah sadar (otak). Yaitu, alam ruhani. Dari alam inilah sebagian informasi dihadirkan saat akal kita ‘mati’ (tertidur). Mimpi-mimpi yang berasal dari “alam atas sadar” ini berdimensi wahyu, punya pesan-pesan yang bernilai ilahiyah. Maka penting untuk menata alam Ruhani, agar memungkinkan bagi Tuhan untuk mengirim sinyal petunjuk. Tidak hanya alam Ruhani yang harus disucikan, alam kesadaran lainnya juga perlu dinetralisir agar emosi menjadi stabil sehingga kita tidak mudah ‘diganggu setan’ saat tidur.

Mimpi yang benar, yang berasal dari alam malakut, biasanya memiliki konten manifes (gambar atau cerita) yang jarang ada kaitannya dengan apa yang sedang kita alami seharian sebelumnya. Meskipun demikian, mimpi yang benar juga terkait dengan tantangan dan kondisi yang selama ini sedang dihadapi. Bisa juga berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat terkini, yang jawaban-jawabannya dihadirkan Tuhan melalui mimpi.

Oleh sebab itu, perlu kemampuan untuk membedakan antara mimpi yang benar dengan mimpi yang ngawur. Mimpi yang benar patut diberi ta’wil, karena itu merupakan sebuah bentuk pengetahuan langsung dari Yang Maha Tinggi.

Berikut adalah beberapa dari ciri-ciri mimpi yang benar. Pertama, kita tertidur dalam keadaan suci. Kedua, mimpi terjadi pada sepertiga malam terakhir, sekitar jam 2 keatas. Ketiga, mimpi yang paling bagus terjadi menjelang subuh dan bahkan begitu selesai bermimpi anda langsung mendengar azan subuh. Keempat, mimpi-mimpi tersebut terekam dengan jelas, bisa jadi teringat bertahun-tahun lamanya bahkan seumur hidup.

Kelima, biasanya mimpi itu berupa bahasa-bahasa simbolik (konten laten) yang butuh tafsir. Jarang ada mimpi bahwa maknanya persis seperti yang terlihat dalam mimpi. Hampir semua mimpi butuh untuk diartikan. Misalnya “mimpi dipatuk ular”, itu artinya ada seseorang yang sangat menyukai anda dan boleh jadi anda akan segera mendapat jodoh. Lihat, apa yang anda impikan beda dengan makna sesungguhnya. Contoh lainnya “mimpi copot gigi”, maknanya akan ada anggota keluarga yang sakit atau juga meninggal.

Dalam Alquran juga diceritakan, Yusuf as bermimpi melihat 11 bintang, matahari dan rembulan sujud kepadanya (QS. Yusuf: 4). Benda-benda langit itu bernilai sangkat interpretatif. Saat dipenjara, Yusuf menafsirkan mimpi raja yang melihat 7 ekor sapi betina kurus yang melumat 7 sapi betina gemuk, 7 tangkai gandum hijau dan kering (QS. Yusuf: 43-49). Baik keberadaan sapi maupun tangkai gandum dalam mimpi ini sangatlah maknawi. Visual mimpi seringkali berbeda dengan realitas sesungguhnya. Maka disini butuh ahli tafsir mimpi. Sebab banyak orang yang bermimpi tapi tidak tau maknanya. Begitulah kita, sudah diberi ilmu (sinyal pengetahuan) tapi tidak paham. Sehingga kita diajarkan sebuah doa: “Ya Allah, anugerahi kami ilmu dan karuniai kami pemahaman”.

Tujuan tulisan ini bukan hendak mempopulerkan dunia mistis. Tapi sekedar berbagi, bahwa sering sekali kita mengabaikan informasi-informasi yang dihadirkan Tuhan dengan media sederhana, seperti mimpi. Memang tidak semua orang diberi oleh Tuhan keahlian untuk bermimpi. Namun jika anda punya kemampuan ini, jaga dan syukuri. Jangan berbuat maksiat, karena kekotoran jiwa dapat menghijab kita dari Pengetahuan. Karena cahaya Tuhan tidak aktual pada wadah yang berdebu.

Kalau anda tidak dianugerahi kemampuan bermimpi, tak perlu kecewa. Karena ada banyak cara lain bagi Tuhan untuk berbagi informasi.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

(Artikel ini pernah dimuat di AJNN, 26.02.2016, http://www.ajnn.net/news/mimpi/index.html)