MAZHAB DIBALIK GERHANA

solar-eclipse
image: timeanddate.com

MAZHAB DIBALIK GERHANA
Oleh Said Muniruddin

Gerhana matahari 09 Maret 2016 disebut-sebut sebagai sebuah fenomena langka. Orang-orang begitu tertarik dengan peristiwa ini. Dilihat dari perilaku masing individu dan kelompok, lalu kita menemukan setidaknya dua “mazhab” yang berkembang selama gerhana.

Mazhab pertama menilai fenomena ini sebagai sebuah sajian indah dari Allah pemilik alam semesta. Peristiwa langka ini (dengan berbagai dalil dan ayat) diapresiasi sebagai suasana “suka” atau pertanda baik. Sehingga dari lisan mereka muncul kata-kata “subhanallah”, “beautiful”, “incredible”, dan sejenisnya.” Bagi penganut mazhab ini, khutbah-khutbah gerhana biasanya diisi dengan tema-tema “syukur, keagungan Tuhan dan keteraturan hukum-hukum yang menguasai alam.”

Sementara mazhab lain (juga dengan berbagai ayat dan riwayat) cenderung melihat gerhana dalam kacamata “duka” atau pertanda buruk. Meskipun rotasi gerhana sudah ada sejak awal mula alam semesta, fenomena langka ini tetap dipandang sebagai “tanda-tanda kiamat.” Penganut mazhab ini menyambut peristiwa tersebut dengan “astagfirullah”, “oh my God”, dsb. Khutbah pun cenderung dalam topik dosa, murka Tuhan, dan ajakan taubat.

Diluar kedua mazhab ini ada satu kelompok lagi. Yaitu mereka yang “non-mazhab”, alias tak ada urusan dengan gerhana. Jangankan ibadah kusuf, shalat subuh pun lewat. Karena mereka baru bangun jam 10.*****