“ANAK HARAM”

image: bribenigeria.com

image: bribenigeria.com

“Anak Haram”
Oleh Said Muniruddin

Judul artikel seperti ini akan menuai protes dari aktifis pejuang hak-hak anak. Istilah “anak haram” tidak ada dalam kamus advokasi dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Jadi kenapa kata-kata “anak haram” muncul? Ini merupakan konstruksi sosiologis, sebutan masyarakat kita untuk anak yang lahir di luar nikah. Namun secara substantif dapat dibuktikan bahwa “anak haram” lebih dari itu. Melalui perspektif syari’at dan kajian genetis, “anak haram” dalam pengertian yang lebih substantif benar-benar eksis.

Sistem Produksi “Anak Haram”

Dalam makna yang lebih luas, “anak haram” adalah mereka yang lahir dari sebuah totalitas “sistem produksi”, baik sebagian atau keseluruhannya dilakukan secara “haram”. Islam itu kaffah. Sesuatu idealnya dinilai secara menyeluruh. Jika bicara sistem, harus dilihat secara utuh. Mulai dari inputprocess, dan output.

Anak hasil zina adalah “output” yang lahir dari sebuah “process” yang haram, yakni tanpa nikah. Sementara ada banyak model anak lain yang lahir justru dari “in­put” yang haram, meskipun “process”-nya halal. “Output” dari “input” haram inilah yang banyak lahir di sekeliling kita, bahkan dalam keluarga kita. Boleh jadi itu anak kita, atau kita sendiri.

Seorang ayah atau ibu yang bekerja dengan cara haram akan menghasilkan pendapatan haram. Kerja-kerja tersebut dapat berupa merampok, mencuri, menipu, korupsi, atau manipulasi. Semua ini kerja-kerja kapitalisme, mengakumulasi kekayaan dengan cara-cara haram. Pendapatan yang berasal dari usaha yang benar dan beretika pun dapat menjadi harta kotor, ketika tidak dibersihkan dengan zakat dan pengeluaran sosial lainnya. Penghasilan haram dan kotor inilah yang kemudian menjadi rumah, pakaian, dan pangan. Jadi, dalam perspektif fiqh dan etika bisnis, keharaman makanan tidak hanya dari segi “dzat” makanan itu sendiri, tetapi juga dari “cara perolehan” dan “penggunaan”.

Makanan hasil manipulasi dan korupsi inilah yang mengisi perut kita. Makanan ini berubah jadi darah, daging dan tulang. Makanan haram ini juga yang membentuk “sperma”. Benih dari saripati makanan haram inilah yang jadi cikal bakal keturunan. Lahirlah “anak-anak haram”. Lalu mereka tumbuh menjadi pemimpin negara. Inilah pemimpin-pemimpin yang berasal dari benih haram. Mata rantai “anak haram” inilah yang kini mewarnai dan menguasai setiap sendi kehidupan bangsa. “Anak-anak haram” inilah yang kini sedang diperangi oleh berbagai gerakan anti korupsi di Indonesia.

Pertumbuhan “Anak Haram” di Indonesia

Menurut Transperancy International (TI, 2015), sebuah lembaga yang berpusat di Berlin yang menyusun indeks korupsi negara-negara di seluruh dunia, Indonesia masih berwarna “merah.” Meski ada perubahan yang semakin baik dari tahun ke tahun, namun angka korupsi masih cukup tinggi. Kita berada pada ranking 88 dari 186 negara. Bandingkan dengan tetangga kita Malaysia yang rangkingnya 54, atau Singapore yang menduduki 10 besar terbersih, yakni di peringkat 8. Semakin kecil rangking, semakin bersih dari korupsi. Peringkat 3 besar terbersih diduduki negara-negara Skandinavia seperti Denmark, Finlandia, dan Swedia.

Ini pertanda, Indonesia termasuk negara yang masyarakatnya masih banyak “makan haram.” Dari sisi “dzat” makanan, negara-negara terbersih itu memang masih rutin makan haram (babi misalnya). Tetapi dari sisi keharaman “cara perolehan”, kita bahkan lebih kapitalis (korup) dari mereka. Ditambah dengan laju pertumbuhan penduduk pertahun yang mencapai 1,49% (yaitu sekitar 4,5 juta, setara dengan jumlah penduduk Singapore), jangan-jangan ini ikut menjadi indikasi tingginya angka kelahiran “anak haram” di Republik ini.

Beberapa penelitian terbaru, seperti yang dilakukan oleh Populi Center (2015), tingkat korupsi tertinggi lembaga negara dipegang oleh Polisi dan Parlemen, disusul oleh Peradilan dan Partai Politik. Apakah ini dapat menjadi kesimpulan bahwa kontribusi “anak haram” paling banyak diberikan oleh lembaga-lembaga terhormat tersebut? Wallahu ‘alam. Yang jelas, di negara kita korupsi ada di mana-mana. Karena penelitian-penelitian lainnya, baik yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, 2013) dan Transparansi International Indonesia (TII, 2013); juga menunjukkan korupsi yang merata dilakukan oleh para pejabat publik diberbagai instansi dan birokrasi.

Maka, menjadi anak orang kaya di Indonesia, belum menjamin keselamatan. Karena pertanyaannya, darimana orang tua kita membawa pulang semua harta. Gaji kecil, kenapa rumah besar. Posisi sebagai staf biasa, tapi asetnya dimana-mana. Beruntunglah yang memiliki orang tua sederhana, walaupun pas-pasan, membawa pulang sesuatu dari sumber yang halal. Jangan sedih dengan kemiskinan orang tua. Karena boleh jadi, dalam kekurangan itulah mengalir darah yang bersih dan terbentuk genetik yang suci.

Memang setiap anak terlahir dalam keadaan “suci”, karena jiwanya tidak pernah membawa dosa warisan. Namun, peran orang tua dalam pembentukan wujud anak tetap ada. Seperti kata hadist, “Setiap anak terlahir dalam keadaan suci, orang tuanya lah yang membuat mereka jadi Yahudi dan Nasrani” (Hadits diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa No. 507; Ahmad bin Hambal dalam Musnad-nya No. 8739; dan Bukhari dalam Kitabul Jana`iz No. 1358, 1359, 1385).

Memperbaiki Keturunan

Wujud manusia merupakan gabungan dari “ruh” dan “materi”. Ruh itu sesuatu yang suci dari Tuhan. Sementara fisik berasal dari darah orang tua. Artinya, jiwa memang terlahir dalam keadaan bersih, namun tubuh kita bagian dari materi dunia. Boleh jadi kita ini anak dari saripati makanan yang halal lagi baik atau (“anak suci”). Atau bisa jadi produk dari orang tua yang korup, atau anak dari saripati makanan haram (“anak haram”). Inilah makna hadist; lahir dalam keadaan “suci”, tapi tumbuh dalam cangkang ‘yahudi’ dan ‘nasrani’.

Itulah mengapa, ketika hendak berkeluarga, Rasulsaw memberi 4 alat penilai: “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena “hartanya”, “keturunannya”, “kecantikannya”, dan “agamanya”. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, niscaya kamu beruntung” (HR. Bukhari dari Jabir bin Abdillah).

Dalam empat perkara itu, “harta” menjadi penekanan awal. Bukan “banyak” harta, namun lebih kepada “kebersihan” harta. Karena dari harta yang bersih lahir anak yang bersih. Faktor “anak siapa” (keturunan) juga muncul lebih awal dalam urutan pilihan yang disarankan Nabisaw, dibandingkan elemen “agama”. Padahal menurut logika awam, bukankah yang pertama harus dilihat adalah “agamanya”? Ternyata tidak. Karena awal seseorang menjadi baik atau buruk, bukan pada agama, melainkan genetik. Agama lebih kepada sesuatu yang diajarkan ketika sudah besar. Sementara genetik itu bawaan lahir, sebuah komponen dasar pembentuk watak.

Meski unsur “keturunan” penting sekali, namun pilihan “se-agama” juga sesuatu yang dianjurkan. Karena hadist tersebut mengisyaratkan, “menyembah Tuhan yang sama” akan membawa “keberuntungan”.

Begitu pentingnya aspek “keturunan”. Tidak heran banyak orang tua kita memiliki sebuah tradisi, jika bertemu seorang anak selalu bertanya, “Siapa ayah mu?”. Mengapa itu pertanyaannya? Seperti kata pepatah, Ayah kencing berdiri, anak kencing berlari. Atau, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bagaimana ayah, begitulah anak. Memang pendidikan dapat merubah perilaku seseorang. Namun tidak bisa dibantah, jika genetik mewarisi sifat-sifat terbaik (atau terburuk) nenek moyang.

Ada klan tertentu yang secara umum dikenal memiliki kesamaan watak. Ada sekelompok orang yang turun temurun dikenal sebagai pencuri, rakus dan licik. Ada ‘sakit bawaan’ yang susah disembuhkan, se-alim apapun mereka. Begitu juga dengan sejumlah orang, walaupun telah dibina siang malam, sifat jahatnya tetap dominan. Walaupun disekolahkan sampai ke jenjang doktor, watak korupnya tidak hilang. Dilatih sampai menjadi jenderal sekalipun, tabiat mengumpulkan harta haram tidak kunjung lekang. Sekuat apapun sistem yang dibangun, mereka masih mencari cara untuk mencuri. Diyakini ini “warisan ge­netik” yang buruk dari indatunya. Mungkin sudah menjadi hobi nenek moyangnya memakan makanan yang buruk, atau memperolehnya dengan cara-cara yang buruk.

Menjaga Kesucian Makanan

Maka jika ingin membuat perubahan, perbaikilah keturunan. Untuk mencipta­kan pemimpin yang unggul di masa depan, ubahlah generasi. Mulailah dari “rekayasa genetik”. Rubahlah darah. Rubahlah sperma. Bagaimana ini dapat dilakukan?

Pertama, “sucikan makanan”. Hindari makan yang haram. Tidak hanya haram dari segi “dzat” yang dikandung, tetapi juga dari “cara perolehan”, “pengolahan”, dan “penggunaan” (halalan tayyiban). Dalam sebuah ayat Allah swt berfirman, “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah (QS. anNahl -16: 114)Di ayat lain Dia berkata, “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS. alMaidah -5: 88)Kemudian Allah swt juga mengingatkan, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (QS. alBaqarah -2: 168).

Totalitas kesucian makanan inilah yang menjadi penentu kesucian bibit keturunan. Dikisahkan:

“Pernah suatu ketika, seorang pemuda bernama Sayyid Abu Sholeh, tanpa sengaja memakan sebuah apel yang hanyut di sungai. Baru setengah dia makan, teringat bahwa pohon tersebut ada pemiliknya. Disusurinya sungai tersebut untuk dicari si empunya kebun guna dimintai maaf. Ketika bertemu, si pemilik apel bersedia memaafkan, jika Sayyid Abu Sholeh mau menjadi tukang kebunnya. Selama 12 tahun sesuai persyaratan, si Sayyid bekerja. Tetapi kemudian, si pemilik kebun menambahkan syarat baru, akan dimaafkan jika bersedia menikahi anaknya yang buta, tuli dan bisu. Ingin darahnya suci dari setengah apel yang 12 tahun lalu dimakannya serta memperoleh maaf dari pemiliknya, Sayyid Abu sholeh kembali meng-iya-kan. Ternyata anak perempuan yang bernama Sayyidah Ummul Khair Fathimah itu cantik sekali, tidak seperti yang digambarkan ayahnya. Apa yang dimaksud dengan ‘buta’ adalah tidak suka melihat yang dilarang, ‘tuli’ tidak suka mendengar hal-hal buruk, serta ‘bisu’ tidak berbicara kotor. Dari perkawinan kedua darah suci ini lahir ‘Hujjatul Islam’ Imam alGhazali.”

Kisah ini sangat populer di kalangan fuqaha dan sufi. Ada yang mengatakan ini sebagai asal-usul alGhazali. Pengikut Hanafi mengklaim cerita ini berhubungan dengan kelahiran Abu Hanifah. Sementara lain meyakininya sebagai awal kemunculan seorang sufi pendiri mazbah isyraqi, Shihabuddin Suhrawardi. Lainnya menyebutkan sebagai kisah asal usul wali qutb Sayyid Abdul Qadir al-Jailani. Ada juga yang meng-klaim ini cerita tentang Imam Syafi’i. Terserah siapa itu, satu pesan penting dari cerita ini, “Jika ingin hidup bahagia, memiliki keluarga serta nasab yang bersih, jauhilah makanan yang haram, terutama dari hasil korupsi.”

Nabi kita Sayyidina Muhammadsaw adalah manusia yang paling suci makanannya. Disebutkan dalam sebuah riwayat, anak beliau Fathimah lahir dari “benih makanan syurga”. Ini bukan cerita baru. Siti Maryam sendiri diabadikan dalam alQur’an sebagai salah satu manusia yang mendapat “hidangan dari Tuhan” ketika sedang bermunajat di mihrabnya. Dari saripati makanan syurga ini lahir dari maryam sesosok “manusia suci”, Ruhullah Isa as. Sebagaimana tersebut dalam ayat:

“…. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” [QS. Aali ‘Imran -3: 37].

“Hidangan” serupa juga pernah dikonsumsi Rasulsaw. Diriwayatkan, suatu ketika baginda Nabisaw sedang duduk disebuah tepi sungai dengan sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba ia didatangi Jibril yang membawa pesan Tuhan yang menyuruhnya berpuasa selama 40 hari. Selama itu pula beliau tidak diperkenankan berkumpul dengan istrinya. Lalu ia mengutus salah satu muridnya Ammar bin Yasir untuk menemui Khadijah, menyampaikan pesan bahwa ia tidak akan pulang selama 40 hari dan akan menghabiskan waktunya beribadah di rumah Fatimah binti Asad, ibunda Ali bin Abi Thalib.

Pada hari terakhir ibadah dan puasa, Beliau mendapat “sajian berbuka dari syurga” yang diantar sejumlah malaikat. Nabisaw hendak berbagi makanan tersebut kepada orang-orang, tetapi dilarang oleh Tuhan. Kata Jibril, makanan itu hanya dikhususkan baginya. Seusai memakannya, beliau diperintahkan Allahswt untuk menemui istrinya. Dengan penuh kerinduan Khadijah menyambut suami tercinta  yang telah sekian lama berpisah dengannya. Dari saripati makanan suci inilah terbentuk nutfah, yang tersemai dalam rahim Khadijah. Dari benih inilah lahir seorang perempuan, yang syurga selalu merindukannya: Fathimah azZahra (I. Amini. 2003. Fathimah Az-Zahra, hal. 16, Penerj. A. Yahya. Penerbit Lentera: Jakarta; Riwayat ini dapat dibaca dalam Durrul Mansur, Mustadrak Shahihain, Dzakhairul Uqbah, dan Tarikh Bagdadi).

Oleh karena itu, selain dijuluki “Sayyidah anNisa-i al’Alamin” (pemimpin wanita di alam semesta), “Sayyidah anNisa-i Ahlul Jannah” (pemimpin wanita di syurga), “azZahra” (yang bersinar), “alBatul” (yang melepaskan diri dari dunia dan mengabdikan diri hanya kepada Allah); “alMuhaddatsah” (wanita yang mampu berkomunikasi dengan ruh-ruh suci”); Fathimah juga digelari Rasulsaw “Haura Insiyyah” (bidadari syurga dalam bentuk manusia). Ini karena wujudnya fisiknya berasal dari saripati makanan syurga. Bahkan diriwayatkan, Nabisaw berkata, “Setiap kali aku rindu akan harum semerbaknya syurga, maka aku cium bau harum putriku Fatimah, karena ia diciptakan dari makanan syurga”. Karena kesucian makanan Rasul ini maka anaknya Fathimah menjadi “manusia suci”, yang perkawinannya dengan Ali melahirkan imam-imam terbaik umat manusia (A. Azizi. 2006. Kisah Fathimah Az-Zahra, cet. III, hal. 122. Penerbit Qarina: Jakarta).

Ibrahim as juga demikian. Beliau dan anak keturunannya menjadi para nabi dan pemimpin besar (imam) karena bagusnya genetik. Namun memiliki nenek moyang yang baik tidak selalu menjamin keturunan yang baik. Banyak keturunan Ibrahim as yang secara aqidah melenceng, seperti Yahudi. Mereka diberitakan dalam alQur’an disebut sebagai kelompok “pengkampanye riba” [QS. anNisa’- 4: 161]. Bahkan kapitalisme global pun dipopulerkan oleh banyak ekonom dan praktisi Yahudi. Dalam studi “Sejarah Pemikiran Ekonomi” kita temukan sejumlah penggagas kapitalisme berasal dari kelompok mereka.

Pun demikian, dengan segala model kedhaliman, mereka masih menjadi penguasa “politik” dan “ekonomi” global. Ini karena potensi besar dalam diri mereka. Mungkin juga karena mereka keturunan Yahudi pengikut Musa as, yang pernah mendapat asupan menu manna wassalwa: 

“Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa. Makanlah dari yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu. Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. alBaqarah -2: 57).

Genetik makanan langit ini masih mengalir dalam darah mereka sampai hari ini. Meskipun berperilaku jahat dan diazab Tuhan berkali-kali, mentalitas Yahudi untuk menguasai dunia masih saja tinggi. “We are the choosen People”, kata mereka.

Yahudi itu anak turunan Ya’qub, cucu Ibrahim dari garis Ishaq. Sementara dari garis Ismail, lahir Muhammadsaw, Fathimah dan anak turunannya bersama Ali. Jika anak cucu Ibrahim dari garis Ishaq (Yahudi) melahirkan banyak pemimpin yang menguasai “ekonomi global”, maka dari jalur Ismail (Quraish) muncul banyak imam yang merajai “spiritualitas Islam” (Suzanna dan Muzaffar. 2010. Ahlul Bait dan Kesultanan Melayu. Washilah Enterprise: Malaysia).

Khoemaini, satu-satunya pemimpin dunia Islam abad modern yang berhasil memimpin revolusi Islam menurunkan Syah Reza Fahlevi dan mengusir Amerika serta Inggris dari Iran, adalah keturunan Muhammadsaw dari Fathimah dan Ali. Hasan Nasrallah; intelektual, panglima militer sekaligus pemimpin spiritual Hizbullah di Lebanon yang berhasil mengalahkan Israel dalam perang 33 hari tahun 2006, juga anak turunan manusia-manusia mulia ini. Umar bin Hafiz, salah satu ulama Hadramaut yang melahirkan banyak da’i dan majelis dzikir di In­donesia dewasa ini, juga turunan makhluk-makhluk agung itu.

Ahlussunnah Waljama’ah sendiri punya fondasi yang kuat pada anak turunan Rasulsaw. Adalah Nu’man bin Tsabit -dikenal Imam Abu Hanifah, Imam pertama Sunni, selama dua tahun belajar dan memverifikasi ilmunya pada Ja’far asShadiq. Ja’far ini maha guru fiqh dan irfan. Beliau cucu ke-4 Rasulsaw dari garis Fathimah. Nasab lengkapnya; Ja’far bin Mu­hammad bin Ali bin Husain bin Ali dan Fathimah binti Rasulullahsaw. Tentang ketinggian ilmunya, Abu Hanifah pernah berkata, “Celaka Nu’man jika tidak dua tahun belajar dengan Ja’far Shadiq” (A. Halim al-Jundi. Al-Imam ash-Shadiq, hal. 163. Majlisul ‘Ala: Kairo; Ibnu Hajar dalam as-Sawaiq al-Muhriqah, penerbit Maktabah al-Qahirah, Kairo 1385 H). Artinya, jika apa yang dipelajari Imam Hanafi tidak pernah dikonfirmasi kebenarannya kepada Ja’far Shadiq, maka mazhabnya bermasalah. Mazhab Abu Hanifah sendiri punya kemiripan dengan Mazhab Ja’fari, dimana “rasionalisme” sangat diapresiasi.

Banyak pemimpin instan yang siang-malam muncul ke bumi. Namun pemimpin sejati lahir dari kesucian jiwa dan fisik. Muhammadsaw dan keturunannya merupakan contoh nyata dari janji Tuhan kepada Ibra­him, untuk menjadikan anak cucunya yang bertaqwa sebagai “imam-imam” bagi manusia (QS. alBaqarah -2: 124).

Ibrahim as itu manusia paling taat kepada Tuhan. Dia diuji berkali-kali. Beliau itu “pengusaha”, tetapi tidak berlaku riba’. Beliau juga “memimpin” tetapi tidak tiranik. Darahnya terbentuk dari makanan yang suci. Sehingga dari genetiknya dikemudian hari muncul manusia-manusia berpengaruh.

Menjaga Kemurnian Genetik

Di Amerika, seorang calon pemimpin wajib ditelusuri “anak siapa”. Tes genetik dilakukan pada semua kandidat presidennya. Bagi mereka, negara punya kewajiban mengetahui rekam jejak calon pemimpin, termasuk siapa dan bagaimana nenek moyangnya. Bahkan, di negara-negara maju, binatang pun ada uji genetiknya. Kuda misalnya, di teliti asal-usulnya (nasab), lalu dibuat “sarakata” atau sertifikat silsilahnya. Tukang adu ayam sekalipun punya kebiasaan serupa. Memilih mana ayam petempur harus dengan menelisik nasabnya, terkadang ada surat keasliannya. Memang sama-sama kuda, ayam, dan sebagainya; namun ada kategori mana bibit unggul, mana bukan. Tidak hanya binatang, tumbuhan juga demikian. Jika benihnya palsu, maka pertumbuhan batangnya tidak akan baik, bahkan tidak menghasilkan buah sebagaimana diharapkan.

Sertifikasi juga tradisi wajib dalam pengidentifikasian benda-benda penting seperti logam. Memang sama-sama logam. Tapi ada jenis “logam mulia” dan “logam biasa”. Tanpa sertifikat keaslian, kepemilikan emas menjadi tidak bermakna. Begitulah, nilai jual benda mati pun diwakili oleh selembar sertifikat. Isu sertifikasi kini semakin mengemuka. Organisasi dan bisnis juga mengejar selembar bukti “mutu” dari Interna­tional Organization for Standardiza­tion (ISO). Kualitas guru dan dosen juga mulai disertifikasi. Akuntan, dokter, pengacara, dan berbagai profesi, “keaslian” mereka juga ter­letak pada “selembar kertas”.

Kebutuhan “sertifikasi” juga tidak kalah pentingnya dalam penelusuran genetik manusia. Memang sama-sama manusia. Namun ada yang berasal dari “bibit tertentu”, ada yang tidak. Ada bangsa, kaum atau suku tertentu di dunia ini yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun memberi apreasiasi terhadap pencatatan keturunan.

Memang di sisi Tuhan, yang mulia adalah yang bertaqwa (QS. alHujurat -49:13). Tapi tahukah kita, “taqwa” itu bukan martabatnya seseorang yang darah dan fisiknya tumbuh dari makanan haram. Sehingga dalam Islam, salah satu fungsi puasa adalah untuk membakar diri, menghilangkan lemak haram dari tubuh. Di akhir proses kelaparan fisik inilah, muncul jiwa taqwa. Bahkan Adam as diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari setelah ‘dilempar’ ke dunia akibat ‘mengkonsumsi’ secuil ‘makanan haram’. Selama 30 hari inilah diriwayatkan, saripati makanan buruk tersebut dibakar melalui puasa agar hilang dari tubuhnya. Inilah asal-usul puasa Ramadhan kita yang harus 30 hari itu. Hanya saja disebutkan, Adam as berpuasa total selama 30 hari dan baru berbuka pada hari ke-30. Kita diberikan rahmat oleh Tuhan dengan berbuka pada setiap penghujung hari (A.J. Amuli. 2001. Rahasia-Rahasia Ibadah. Penerbit Cahaya: Bogor).

Sholat, dzikir, do’a, membaca alQur’an, dan ibadah lainnya juga demikian. Berfungsi untuk memberi perubahan positif pada molekul-molekul darah. Penelitian Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama Jepang dalam bukunya “The True Power of Water: Healing and Discove­ring Ourselves” menyebutkan, molekul-molekul fisik (seperti air) dapat berubah menjadi indah setelah dibaca kata-kata yang positif. Demikian juga jika dibaca kalimat-kalimat negatif, kristal air akan berubah buruk (Emoto. 2006. The True Power of Water: Healing and Discovering Ourselves. MQ Publishing: Bandung). Itulah fungsi ibadah dalam agama, disamping menyucikan jiwa, juga untuk merubah atom-atom di tubuh menjadi baik, sehingga mempengaruhi perilaku yang lebih baik. Oleh sebab itu, “potensi taqwa” diyakini terwariskan melalui “molekul genetik”. Kemudian melalui pendidikan kesadaran jiwa, nilai-nilai ini semakin berkembang.

Cara Taubat dari Korupsi

Maka jika ingin memperbaiki keturunan dan melahirkan pemimpin-pemimpin besar, perbaikilah diri kita. Kita tidak menginginkan dari sulbi kita lahir anak cucu yang “busuk”. Kita punya peluang memperbaiki mata rantai DNA untuk generasi selanjutnya. Caranya, disamping dengan “intensitas ibadah”, pastikan juga bahwa “semua yang masuk ke perut” adalah halal. Jika pun terlanjur memakan hasil korupsi dan manipulasi, “bertaubatlah”.

Bagaimana cara bertaubat dari korupsi? Apakah cukup dengan memohon ampun kepada Allahswt, dan berjanji tidak mengulangi? Atau memadai dengan distribusi sebagian hasil korupsi kepada orang miskin? Atau selesai dengan naik haji dan beristighfar di depan Ka’bah? Imam Ali memberi petunjuk tata cara taubat dari dosa korupsi:

“Jika engkau mengambil hak-hak orang lain, maka pertama harus kau kembalikan semua hak orang itu. Kemudian mohon maaf kepada orang yang haknya telah kau ambil. Pastikan ia mema’afkan mu. Jika tidak, engkau akan celaka. Setelah mereka mema’afkan, lalu berpuasalah. Bila perlu sampai kurus, untuk memastikan semua daging yang tumbuh dari makanan haram itu hilang dari tubuh mu. Lalu mohon ampunlah kepada Allah. Baru kemudian ada harapan Allah akan mengampuni mu” (S.F. al-Ha’iri. 2005. Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku: Kata-Kata Mutira Imam Ali bin Abi Thalib. Pustaka Hidayah: Bandung).

Begitu pentingnya menjaga kejelasan sumber makanan. Ali sendiri sering menjilati sisa-sisa makanan dari jari-jari istrinya Fathimah. Karena kelihatan “lebai”, sahabatnya bertanya, “Kenapa kau lakukan itu Ali?”. Beliau menjawab, “Hanya untuk memastikan bahwa aku tau dari mana asal makanan yang masuk ke perutku” (H. Alhusaini. 2007. Imamul Muhtadin: Ali bin Abi Thalib. Pustaka Hidayah: Bandung).

Ali melakukan ini karena Rasulsaw pernah bersabda, “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka”. Allahswt pun mengingatkan, “Jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” [QS. atTahrim -66: 6]. Jika benar-benar mencintai keluarga, jangan beri mereka makanan dari pendapatan haram. Ka­rena hal tersebut dapat me­nye­babkan mereka layak ber­sama kita, satu paket, di­bakar di neraka.*****

(Note: Artikel ini di up-date dari bagian buku Bintang ‘Arasy, 2014. Versi awal dari tulisan ini pernah dimuat di harian Serambi Indonesia, Minggu 16 September 2012).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s