HARGAI LEBIH

image: saidmuniruddin.com
image: saidmuniruddin.com

HARGAI LEBIH
Oleh Said Muniruddin

Suatu pagi, dijalan pulang dari warung kopi, tempat biasa nongkrong setiap jam 7 pagi di dusun Lamseunong desa Kajhu – Aceh Besar, saya melewati sebuah kebun yang dikelola oleh Tgk. Amat yang letaknya persis di samping meunasah Lamseunong. Seperti biasa, saya sering melihat beliau pagi-pagi sekali sudah sibuk di ‘kantor’-nya ini. Dia termasuk warga Lamseunong yang gigih. Ia aslinya berasal dari Batèè – Kabupaten Pidie.

Melihat beliau sedang berada di tengah-tengah kebun, saya berteriak, “Peu na yang jeut lon puwoe beungoh nyoe Tgk.Amat?” (Apa ada yang bisa saya bawa pulang dari kebun anda pagi ini Tgk.Amat?)

Terpaku sejenak, lalu ia menjawab: “Hmmm… neupreh siat Sayed Munir!” (Tunggu sebentar Sayed Munir).

Lalu ia mengambil sesuatu dan menghampiri saya dipinggir pagar sambil menyerahkan sebuah “timun phang” segar.

Saya bertanya: “Biasa padum yum neu peubloe ata lagei nyoe buleun puasa?” (Biasanya selama bulan puasa berapa anda jual untuk ukuran buah seperti ini?)

Beliau menjawab: “Rp15.000”

Saya merespon: “Jeut, lon jok keudroen Rp 25.000, karena böh jih segar that mantong.” (Ok, saya kasih anda Rp 25.000 karena buahnya masih sangat segar).

Demikianlah sepenggal kisah yang terjadi pagi itu, seminggu sebelum puasa. Pesan moral bagi diri saya sendiri adalah, usahakan untuk menghargai sesuatu lebih dari yang ditawarkan. Apalagi jika anda sedang berhadapan dengan petani kecil.*****