MANUSIA INI DITEBAS PADA 19 RAMADHAN DAN MENEMUI TUHANNYA PADA 21 RAMADHAN

image: hidayatullah.com

image: hidayatullah.com

Manusia ini Ditebas pada 19 Ramadhan dan Menemui Tuhannya pada 21 Ramadhan
Oleh Said Muniruddin

Saat lahir, engkau diberi nama oleh ibumu “Asad” yang berarti “Singa.” Sementara keluargamu yang lain menamaimu “Haidar” yang juga berarti “Singa.” Meskipun Alquran belum turun, tapi Allah telah ilhamkan kepada kekasih-Nya Muhammad untuk memberimu nama dari salah satu Asma-Nya: “Ali”, yang artinya “Tinggi.” Namun tak ada yang menyangkal, secara perlahan engkau menjelma menjadi “asadullahil ghalib”, Singa Allah ta’ala yang perkasa.

Engkau lahir ditempat istimewa dengan cara istimewa. Engkau disebut “Pemuda Kakbah”, karena engkau satu-satunya manusia yang lahir di dalam Kakbah, sesaat setelah ibumu Fatimah binti Asad merasakan mulas setelah melakukan thawaf. Pintu Kakbah terbuka, dan disanalah engkau lahir ke dunia. Itu terjadi pada 13 Rajab, 3 tahun sebelum Muhammad menikah dengan Khatijah, 30 tahun Gajah, 610 Masehi, 23 tahun sebelum hijrah.

Pertanyaan “kapan engkau masuk Islam” tidak relevan. Karena engkau termasuk orang yang ikut mencium semerbak wahyu, karena ketika masih kecil sudah mendampingi Nabi merenung di gua Hira’. Engkau pula yang sejak balita disuapi oleh tangan Nabi. Dalam dirimu mengalir benih-benih makanan yg bercampur kunyahan dari air liur Nabi. Engkau dirawat, dimandikan, digendong, dipakaikan pakaian, dan selalu tidur bersama Nabi. Maka siapa yang lebih mengerti Nabi selain engkau?

Itulah Ali bin Abi Thalib. Kemuliannya bukan hanya karena ia orang yang nantinya akan mewarisi ilmu-ilmu Nabi. Ia juga keturunan orang-orang mulia dan juga sepupu Nabi. Kakek-kakeknya yang juga kakek-kakek Nabi adalah pemimpin-pemimpin Quraisy, para khadam Rumah Tuhan, orang-orang hanif yang tak pernah menghadapkan wajahnya kepada patung berhala. Namun masih saja ada yang percaya kalau ayahnya Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. Padahal keimanan ayahnya kepada Allah dan Rasulullah jauh lebih tinggi daripada keimanan orang-orang yang menuduhnya kafir.

Siapa yang meragukan loyalitas imam Ali kepada Muhammad? Saat kecil wajahnya sering lebam dan berdarah, hanya gara-gara berantam dijalanan dengan anak-anak lain di kota Mekkah yang lebih besar darinya yang sering mengejek Muhammad sebagai tukang sihir atas perintah orang tua mereka.

Di usia 14 tahun ia sudah jadi pengawal Muhammad dan dikenal sebagai “qadhim” (tukang banting). Karena tak sedikit anak-anak seusianya bahkan lebih tua darinya ia jewer dan banting karena mengusik dakwah Nabi.

Karena kedekatannya dengan Nabi sejak belia maka tidak heran jika Nabi mengatakan, “Kedudukan Ali disisiku seperti Harun di sisi Musa, hanya saja tdk ada lagi nabi sesudahku.”

Keberanian Ali bin Abi Thalib bukan dongeng sejarah. Kemenangan selalu menyertai setiap perang yang ia menjadi komandannya. Hampir semua tokoh-tokoh besar jago perang musyrik tewas ditangannya. Dunia Islam sepertinya tidakk mengenal nama pedang selain “Dzulfaqar”-nya Ali. Sehingga dalam sebuah perang Jibril memuji Ali melalui lisan Nabi, “Tak ada pemuda selain Ali, tak ada pedang selain Zulfaqar” (La fata illa Ali, La syaifa illa Zulfaqar). Kata-kata inilah yang ditemukan tertulis dalam panji-panji perang muslimin Aceh pada masa kolonial Belanda.

Di BADAR perang pertama kaum muslimin yg terjadi pada Ramadhan tahun ke-2 hijrah, Ali mengaum seperti singa. Prajurit Nabi hanya 313, tak terlatih dan bersenjata sederhana karena usia Islam masih sangat muda. Sementara musuh punya 1000 tentara. Tetapi disana ia menghabisi 36 musyrikin dan sebagian mereka adalah panglima perang ternama. Abu Jahal dan orang-oranh yang pernah mengepung rumah Nabi saat hijrah dulu menemui ajalnya disini. Kemenangan yang ia berikan dalam perang perdana ini membuat Nabi dan Islam mulai disegani.

Tetapi di UHUD Ali berdarah-darah. Bersama Hamzah ia memimpin lini depan pertempuran. 700 pasukan Islam menghadapi 3000 invanteri dan 2000 kavaleri kafir quraisy yang kini didukung oleh suku Tahamah dan Kinamah. Musuh-musuh Islam dipimpin Abu Sufyan, dengan wakil-wakilnya seperti Amru bin Ash dan Khalid bin Walid.

Pada perang yang terjadi pada 13 Syawal tahun 3 hijrah ini pada awalnya Ali berhasil menghajar musuh. Tapi mereka yang ditugaskan Nabi untuk menjaga bukit-bukit strategis tergoda dengan harta peninggalan perang lalu meninggalkan pos-pos mereka. Musuh mengetahui ini lalu membalas. Pasukan muslimin dicabik-cabik. Disinilah Hamzah menemui kesyahidannya. Nabi sendiri patah gigi dan tergores pipi terkena lembing musuh.

Namun Ali berhasil menghimpun kembali kekuatan, menyelamatkan pasukan. Namun demikian ia sendiri mengalami luka robek di 90 tempat akibat berusaha melindungi Nabi. Air liur Nabi yang kemudian mengobati luka-luka itu. Drama Uhud ini terekam dalam QS.Aali Imran:140-179.

Setelah Uhud, pada 23 Dzulqaidah tahun 5 hijrah, Ali kembali tampil di KHANDAQ (AHZAB). Kini kaum muslimin punya pasukan 2000 orang. Tapi musuh punya jagoan mengerikan bernama Amru bin Abdiwud. Ia menantang duel dalam parit. Nabi mempersilakan kepada siapa saja dari kaum muslimin yang bersedia menghadapinya. Ali menawarkan diri tetapi ditahan Nabi. Baru setelah tak ada seorang pun yang berani menghadapi Abdiwud (ketakutan ini dilukiskan dlm QS.Al-Ahzab:10), lalu Nabi mempersilakan Ali.

Dalam kecamuk debu dan gemerincing pedang, semua mengira Ali yang tubuhnya jauh lebih kecil dari lawannya itu bakal tewas. Tapi apa yg terjadi? Justru Ali yang keluar sebagai pemenang dari duel dalam parit berdarah itu.

Selesai di Khandaq, lalu Ali tampil di KHAYBAR. Kali ini yang dihadapi muslimin adalah yahudi-yahudi yang pernah diusir dari Madinah karena sering berbuat jahat. Kini yahudi-yahudi ini telah melakukan konsolidasi dalam 10.000 sampai 12.000 pasukan.

KHAYBAR adalah salah satu tempat tinggal Yahudi setelah terusir dari Palestina. Mereka menempati sebuah benteng bernama “Qamus” yang terletak di atas bukit yang curam. Sulit untuk menaklukkan benteng seperti ini.

Pada perang yang terjadi pada bulan Muharam tahun 7 Hijrah ini, satu persatu sahabat-sahabat Nabi diserahi bendera untuk merebut benteng. Tapi tak ada yang berhasil. Sampai kemudian Nabi berkata, “Besok akan kuserahkan panji perang kepada seorang pemberani, yang tidak pernah menyerah, yang mencintai Allah dan Nabinya, dan ia juga dicintai Allah dan Rasulnya. Dan ia akan kembali kepadaku dengan membawa kemenangan.”

Semua orang berharap untuk mendapat panji itu. Tapi tak ada yang menyangka, panji itu justru diserahkan ke Ali. Padahal ia sedang dalam tenda, absen dari perang akibat sakit mata dan demam berat. Rasul memanggilnya lalu mengusap tangannya ke muka Ali. Riwayat menyebutkan, mukjizat inilah yang membuat Ali sejak saat itu tidak lagi panas saat terik siang dan tidak lagi kedinginan saat malam.

Ali meluncur ke benteng Yahudi dan memperkenalkan dirinya, “Aku adalah Ali bin Abi Thalib.” Seisi benteng gemetar. Karena nama inilah yang disebut dalam kitab-kitab Yahudi terdahulu sebagai “Eliya”, orang yang akan mengalahkan mereka. Marhab, Antar, Murra dan Harits adalah panglima-panglima Yahudi yang ‘disekolahkan’ oleh Ali di Khaybar. Melalui sebuah kekuatan yang tak dapat dijelaskan, Ali mengangkat pintu benteng yang sangat berat itu dan menjadikannya sebagai tameng dari hujan panah. Inilah yang membuat pasukan muslim berhasil masuk ke benteng. Dalam 4 jam seisi benteng berhasil ditaklukkan.

Kemenangan demi kemenangan berhasil mengangkat prestise Muhammad dan kaum Muslimin. Maka baru kemudian pada Ramadhan tahun 8 hijrah dilakukan pembebasan (FUTUH) Makkah. Tongkat komandan juga diberikan Rasul ke Ali. Namun tak terjadi perang. Setelah futuh ini, Kakbah menjadi milik kaum muslimin.

Saat pembersihan berhala di Masjidil Haram, Ali diperintah Nabi untuk naik kepundaknya untuk meruntuhkan sebuah patung yang tak terjangkau tangan. Lalu Ali ditanya Nabi, “Bagaimana perasaanmu Ali?”. Berdiri dipundak Nabi, Ali menjawab, “Wahai Nabi Allah, aku temukan diriku berada ditempat yang begitu tinggi, seolah-seolah tanganku menggapai Arasy Allah.”

Paska Futuh Makkah masih terjadi sejumlah perang. Kali ini menghadapi suku-suku (seperti Bani Hazazin, Bani Tsaqif, Bani Nasr, Bani Sa’d, dan Bani Hilal) yang kecewa karena Masjidil Haram sudah menjadi milik kaum muslim sehingga mereka tidak lagi bisa menyembah berhala disana. Mereka menyusun 20.000 pasukan. Menghadapi mereka Nabi mengerahkan 15.000 tentara.

Namun pasukan Nabi terdiri orang-orang baru, yang lemah iman bahkan munafik dan pura-pura masuk Islam saat futuh Makkah. Sehingga pasukan kafir yg dipimpin Khalid bin Walid (yang saat itu masih musyrik) mampu membuat pasukan muslim yang lemah iman ini kucar-kacir serta lari tunggang langgang. Diriwayatkan, dari 15.000 pasukan, yg tersisa hanya 10, dan salah satunya adalah Ali.

Pernah nonton “The 300” yg disutradarai Steven Spielberg? Sebuah film Hollywood yg menggambarkan keberanian 300 orang Sparta dalam menghadapi ratusan ribu pasukan Persia, namun berakhir dengan kekalahan. Apa yang terjadi dalam perang Hunain ini lebih dari itu. Ini kisah nyata sepasukan kecil Islam, mungkin dapat dibuat film dengan judul “The 10”, yang atas izin Allah berhasil mengalahkan musuh. Kisah Hunain ini diabadikan Allah dalam QS.Attaubah: 25.

*****

Saudara-saudara sekalian, ini sekelumit kisah perang dari seorang panglima perang terhebat Nabi saw: Ali bin Abi Thalib!

Inilah sosok agung yang ditebas kepalanya pada Subuh 19 Ramadhan oleh orang Islam fanatik (khawarij) yang bernama Abdurrahman bin Muljam. Lalu pada 21 Ramadhan di Kufah – Irak, ia menghembuskan nafas terakhir. Hanya Allah yang tau betapa besar jasanya dalam menemani dan membela Nabi sejak ia masih kecil.

Masih banyak sisi lain dari seperti spiritualitas, intelektualitas, dan rasa kemanusiaannya yang patut kita ketahui bersama. Namun tidak memadai untuk mengurainya dalam satu halaman ini.

Semoga Allah terima tulisan saya ini sebagai amal ibadah pada malam-malam Lailatul Qadar dalam mengenang sosok-sosok suci yang telah membangun agama ini.

Bagi saya pribadi, tulisan sederhana ini adalah bentuk lain dari SHOLAWAT saya kepada imamul muttaqin Ali bin Abi Thalib yang merupakan keluarga, sahabat, saudara, wali dan washinya Rasul SAAW.*****

*****

Note: Disari dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s