SEKALI LAGI, TENTANG ERDOGAN DAN TURKI

image: liputan6.com

image: liputan6.com

Sekali lagi, Tentang Erdogan dan Turki
Oleh Said Muniruddin

Saya mengapresiasi saudara-saudara semua, karena tulisan sebelumnya “Erdogan vs. Gulen” menuai banyak perhatian, baik yang bersifat afirmatif maupun negatif.

Seperti sudah saya prediksi, bakal ada yang merespon secara “sporadis bombastis”. Bahwa kalau ada sedikit saja yang membuat Erdogan ‘tergores’, maka pelakunya akan mendapat label yahudi, kafir, musyrik, munafik, sekuler, liberal, syiah, dan sebagainya. Istilah-istilah yang tidak pernah saya dapatkan ketika dulu belajar menulis dan berdiskusi. Padahal, ini cuma bagian dari analisis regional dalam “political economy.”

Namun semua komen saya beri “like”, karena saya anggap itu bagian dari kebebasan berpendapat dalam indahnya demokrasi di Republik yang kita huni ini.

Selain itu ada pertanyaan-pertanyaan kritis yang patut kita lanjutkan dalam diskusi ini. Salah satunya adalah “Mengapa Gulen bersembunyi di Amerika? Tidakkah ini menjadi bukti bahwa ia seorang antek-antek Yahudi dan Amerika yang terlindungi disana?”

Dalam politik tidak selalu tepat kalau menilai sesuatu secara “hitam-putih.” Apakah hanya karena toleran dengan semua agama termasuk Kristen dan Yahudi melalui gerakan “hizmet”-nya lantas seorang yang dianggap imam dan sufi seperti Gulen dapat dikatakan sebagai Nashara dan Yahudi? Saya kira seorang Nabi sekaliber Muhammad pun juga sering menyuapi para Yahudi disudut-sudut Madinah. Indikator kemanusiaan seperti ini tidak menjadikan beliau sebagai Yahudi.

Terkait mengapa Gulen menetap di Amerika dan apakah dia bagian dari “peliharaan” Amerika, saya kira anda akan menemukan jawabannya kalau pernah menonton “The Bridge of Spies” (2015) yang diperankan Tom Hanks dan Mark Rylance. Singkatnya begini. Adalah sebuah keuntungan bagi Amerika punya Gulen dinegaranya. Gulen ini menjadi barang berharga jika suatu saat terjadi negosiasi antara Erdogan dengan Amerika. Amerika pasti tidak akan menyerahkan Gulen begitu saja. Dan Gulen juga tau, Amerika tak akan menjual murah dirinya kepada Erdogan.

Jadi, Gulen saat ini dalam kondisi ‘terpenjara’ di Amerika. Ia menjadi alat tawar menawar antara U.S dengan Erdogan.

Sebenarnya Erdogan sendiri sudah lama, sejak 1999 sudah melanglang buana di Amerika. Amerika itu mitranya Turki, mitranya Erdogan. Ini tentunya juga tidak menimbulkan masalah apa-apa bagi Gulen berada di Amerika, karena ia sendiri sejak bersahabat dengan Erdogan dulu sudah menjadi bagian dari Turki yang bermitra dengan Amerika.

Jadi agak aneh kalau disebut Turki itu bermusuhan dengan Amerika, hanya gara-gara ingin menunjukkan betapa “islaminya” Turki. Bagaimana bisa bermusuhan? Pangkalan militer NATO yang dipasang untuk menakut-nakuti negara-negara Islam Timur Tengah itu ada di Turki. Walaupun ada “simulasi” gertak menggertak diantara keduanya, itu bagian dari dinamika politik biasa.

Melihat perkembangan Turki yang begitu pesat, saya tidak memungkiri ada Erdogan disana. Erdogan itu termasuk pemimpin sangat cerdas. Ia termasuk sedikit dari para pemimpin (tepatnya politisi) yang mampu membangun kekuasaan dengan mengakomodir berbagai kekuatan, bahkan yang berseberangan.

Pertama, untuk memperoleh dukungan Amerika dan Eropa, ia menjadikan Turki sebagai basecamp NATO. Namun seperti saya sebutkan diatas, dari pangkalan Turki inilah pesawat-pesawat pembom U.S dan sekutu-sekutunya memporak-porandakan negari-negeri muslim di Timur Tengah seperti Irak dan Suriah.

Kedua, untuk memperoleh dukungan Yahudi, ia terus membangun dan memperbaiki hubungan dengan Israel. Anda tidak akan menemukan adanya kedutaan dan konjen Israel di negara-negara OKI, tapi itu bisa anda temukan berdiri megah di Istanbul dan Ankara.

Anda tau, normalisasi hubungan dengan Israel termasuk bagian penting dalam proses stabilisasi wilayah. Anda bisa lihat, mereka yang menentang Israel selalu dalam keadaan teraniaya. Iran diembargo. Suriah diluluh lantakkan. Lebanon dibombardir. Palestina dikoyak-koyak. Selebihnya seperti Arab Saudi dan Turki masih dalam posisi aman karena mampu membangun aliansi.

Terakhir, untuk menarik perhatian publik Islam, Erdogan mampu secara baik mengartikulasikan sesuatu dalam bahasa dan emosi keagamaan. Anda mungkin pernah membaca berbagai postingan yang beliau berkata “dimana ada azan disitulah tanah airku”, dan orasi-orasi serupa lainnya.

Bahasa-bahasa seperti ini penting. Karena masyarakat muslim diberbagai belahan dunia sedang mengalami peningkatan rasa spiritualitas. Tidak hanya di Turki tapi juga di Indonesia. Sesuatu yang terbumbui agama terlihat mampu memicu militansi. Contoh gamblang, ISIS itu membesar karena mampu mengeksploitasi isu-isu agama.

Saya tidak mau menyamakan Erdogan dengan ISIS. Tidak, ia jauh dari itu. Meskipun ia disinyalir ikut menjadikan Turki sebagai pintu gerbang bagi rekrutan-rekrutan ISIS dari seluruh dunia untuk masuk ke Suriah. Tetapi ada sisi dari politik keagamaannya yang juga mampu membangun simpati dunia Islam. Dan ini juga tidak terlepas dari media publikasi yang dikelola baik oleh teman-teman Ikhwanul Muslimin yang pernah kehilangan figur setalah tumbangnya Mursi di Mesir. Erdogan menjadi sosok alternatif sebagai pemimpin Islam.

Inilah tiga pilar kekuatan yang secara serentak sukses dibangun oleh Erdogan. Sehingga, bagi Amerika dan sekutu-sekutunya ia disebut sebagai mitra. Sedangkan bagi Israel ia menjadi sahabat. Sementara bagi dunia Islam ia dianggap khalifah.

Politik “tiga kaki” ini cukup membuat posisi Erdogan populer dan aman. Dengan cara ini pula negara seperti Turki tumbuh kembali menjadi imperium menuai banyak kemajuan baik dari sisi politik, ekonomi, dan keagamaan. Meskipun kelompok-kelompok ideologis menilai model berpolitik Turki ini terlalu machiavelis.

Sebenarnya saya pribadi ingin melihat Turki dan Erdogan tumbuh tanpa perlu “merumahkan” Amerika (NATO) dan Israel dinegaranya. Jika itu terjadi malam ini, maka besok pagi saya akan ke Turki untuk mencium tangan “khalifah” saya.

Jika ini tidak terjadi, maka saya masih cukup menghormati Erdogan sebagai orang yang punya banyak prestasi, serta segudang masalah. Penghormatan saya kepada presiden orang-orang Turki ini setara dengan apresiasi saya kepada Jokowi, presiden saya, yang juga tak kurang masalahnya.

Terakhir, mohon jangan tertawa, kalau tiba-tiba saya jadi pengamat politik internasional seperti ini. Saya juga tidak tau, mengapa saya bisa begini. Saya kira anda semua juga sedang mengidap penyakit yang sama dengan saya. Karena mungkin susah terobati, maka ayo kita teruskan saja.

Sebagian pembaca mendukung analisis saya. Sebagian lain menolaknya. Nah, bagi anda yang belum bersikap, tolong jangan lihat dan baca-baca aja. Ayo, dukung siapa?

Wallahu ‘alam bishshawab. *****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s