AGAMA DAN RITUAL ‘BERLEBIH’

image: reuters.com

Agama dan Ritual ‘Berlebih’
Oleh Said Muniruddin

Dalam Islam, kita menemukan praktik-praktik ‘berlebihan’ dalam beragama. Salah satunya kita temukan pada masyarakat yang menyebut dirinya sebagai “pecinta Keluarga Nabi saw.”

Sudah lebih dari 1000 tahun imam Husein meninggal, tetapi kesyahidannya terus diperingati. Sekilas terlihat seperti sebuah jamaah yang gagal “move on.” Jutaan muslim Syiah misalnya, berjalan kaki menuju “tanah tumpah darah suci”, Karbala. Disana mereka menangis dan berdoa, merasakan apa yang pernah dirasakan oleh ‘putra putri Nabi’ saat berjuang pada hari-hari menjelang 10 Muharram tahun 61 H.

Aneh memang. Kejadian itu sudah lebih dari 1 milinea. Tapi masih di ulang-ulang. Bagi mereka yang cinta dengan Ahlul Bait, ini dianggap sunnah utama. Karena Nabi saw sendiri juga mencucurkan air mata setiap mengenang pembantaian ‘anak-anaknya’. Bahkan perilaku Nabi terlihat lebih aneh dari saudara-saudara Syiah kita sekarang. Beliau menangis justru saat kejadian itu sama sekali belum terjadi -namun sudah duluan diinformasikan oleh Jibril as.

(Catatan tentang “Untuk Husein Rasul Menangis” dapat dibaca di https://saidmuniruddin.com/2016/10/11/untuk-husen-rasul-menangis/)*

Usaha terus merawat memori ini dilakukan oleh umat Islam sepanjang tempat dan zaman. Ada bermacam ritual dan adat. Di Aceh ada bulan “Asan Usen”, “Kanji Asyura”, bacaan hikayat dan barzanji, serta tarian Saman yang “geleng-geleng dan pukul-pukul dada”. Di daerah lain ada “Hoyak Tabuik” (Palembang), “Tajin Sora” (Madura), dan lainnya. Di tempat tertentu ada segelintir orang yang ekstrim dengan melukai diri, sesuatu yang tidak direkomendasi. Tetapi mayoritas hanya dengan doa, ziarah dan ceramah.

***

Begitulah. Sebuah kejadian pahit sekitar 1000 tahun silam masih terus dirayakan.

Namun ada yang lebih aneh lagi dari ini. Ada derita yang sudah lebih dari 2000 tahun terjadi, tetapi masih juga diulang-ulang sebagai ritual penting dalam Islam. Kejadian itu adalah perjuangan Siti Hajar dalam mempertahankan hidup anaknya.

Setiap tahun, jutaan jamaah haji dari seluruh dunia melakukan ritual “lari-lari” (sa’i) di Tanah Suci. Aktifitas mengenang penderitaan perempuan ini malah menjadi salah satu dari 6 rukun haji. Artinya, rukun Islam kelima tidak sah kalau tidak melakukan rekonstruksi penderitaan dan perjuangan Keluarga Nabi Ibrahim as ini.

Islam sebagai Agama menyembah Tuhan memang agak aneh. Karena di dalamnya juga dipenuhi dengan ritual dan sunnah untuk ‘memuji’ orang. Mondar-mandirnya Siti Hajar akibat hausnya Ismail di tanah gersang Makkah dijadikan bagian dari tata cara ibadah. Sebuah ibadah tentang bagaimana kita harus menghargai jasa perempuan dalam menjaga nafas kehidupan putra-putra mereka untuk menjadi imam masa depan. Ini sebuah epik sejarah yang bernilai tinggi dari anggota keluarga Ibrahim as.

Pun hausnya anak cucu Ibrahim as dan Ismail as kemudian hari di padang Karbala, serta mondar-mandirnya imam Husain membela hak-hak masyarakat sambil menggenggam Dzulfaqar warisan pendahulunya, menjadi sebuah replika perjuangan suci dalam menegakkan keadilan dan menyuarakan kebenaran. Sebuah ketauladanan agung dari Keluarga Muhammad saw.

Maka tak heran, jika sholat yang sebenarnya bertujuan untuk mempertinggi ketauhidan kepada satu-satunya Tuhan, di dalamnya juga berisi doa dan pujian kepada segelintir keluarga/orang: Keluarga Muhammad saw dan Ibrahim as. Karena apa yang telah mereka alami adalah sebuah kilas balik bagaimana kita seharusnya menuju Tuhan.

Dalam drama Siti Sarah kita memiliki contoh bagaimana memperjuangkan kehidupan anggota keluarga sebagai calon pemimpin ummat (jihad personal). Dalam sirah Sayyidina Husain kita belajar bagaimana ia membawa keluarga menjadi pejuang demi tetap bersinarnya agama, walau mereka harus syahid semua (jihad sosial).

Maka tidak aneh jika ibadah sholat kita juga termasuk ritual ‘berlebih.’ Tidak hanya menyembah Allah, di dalamnya kita juga ‘memuja’ beberapa prototip manusia. Tidak sah sholat jika tidak menyebut nama Muhammad saw dan Keluarganya (sebagaimana juga atas Ibrahim as dan keluarganya). Karena pada jejak perjuangan kedua keluarga ini terletak pesan-pesan monoteisme, kejuangan dan kesempurnaan Islam.

“Allahumma shalli ala Muhammad wa ‘ala Aali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala Aali Ibrahim.”

(Catatan tentang “Menyempurnakan Shalawat” dapat dibaca di https://saidmuniruddin.com/2016/09/20/menyempurnakan-shalawat/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s