APA ITU “ISLAM?”

image: whatisislam.org.uk

Apa itu “Islam”?
Oleh Said Muniruddin

Apa itu “Islam”? Ada yang menjawab “selamat”, “damai”, atau “sejahtera”. Jawaban-jawaban seperti ini tidak salah, meskipun belum menyentuh makna mendasar. Jawaban umum lainnya, “Islam” adalah “sebuah agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammadsaw melalui malaikat Jibril guna disampaikan kepada ummatnya”. Definisi ‘sempit’ seperti ini sering diajarkan dalam kurikulum-kurikulum formal sejak di bangku sekolah. Meskipun tidak total salah, ada pemahaman lain tentang “Islam” yang lebih benar. Penting kita bahas tentang kerancuan ini. Sebab, ekstrimisme kita dalam beragama juga diakibatkan oleh dangkalnya pemahaman tentang “Islam.” 

Definisi “Islam”

Pertama, jika “Islam” adalah agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammadsaw, maka nabi-nabi sebelum Muhammadsaw beragama apa? Nabi Isa as, Nabi Musa as, Nabi Ibrahim as dan nabi-nabi Tuhan lainnya beragama apa? Ini akan membingungkan. Ada yang menjawab, sebelum Muhammadsaw adalah “agama tauhied”.

Tapi bukankah tauhied itu akar dari “Islam”? Tauhied itu prinsip utama dari “Islam”. Tanya jawab akan semakin membingungkan. Lalu ada yang menjawab, “Nabi-nabi terdahulu menganut agama “Islam” yang belum disempurnakan”. Jika itu jawabannya, tetap saja beragama “Islam”, apakah sudah disempurnakan atau belum.

Oleh sebab itu, memahami “Islam” sebagai islamisme atau mohammedanisme adalah salah, karena “Islam” itu visi dari langit bukan pandangan Muhammadsaw. Memaknai “Islam”sebagai “agama yang diturunkan kepada Muhammadsaw saja” juga salah. Karena berimplikasi bahwa nabi-nabi sebelumnya tidak memiliki agama, atau tidak mempunyai hubungan keagamaan dengan Muhammadsaw. Dan mustahil nabi-nabi tidak jelas agamanya, sementara mereka senantiasa menerima wahyu. Dan jawaban “Islam” adalah “agama yang turun sejak masa Nabi Muhammadsaw saja” menjadikan “Islam” sebagai agama baru, yang lahir 500 tahun setelah masehi. Bandingkan dengan agama-agama lainnya seperti Budha yang lahir 500 tahun sebelum masehi, atau Hindu yang lahir sekitar 2500 tahun sebelum masehi bahkan bisa lebih tua dari itu.

Mengklaim “Islam” sebagai “agama Muhammadsaw saja”, menjadikan Muhammadsaw terpisah dengan agama nabi-nabi Tuhan sebelumnya. Singkatnya, menjadikan “Islam” sebagai “agama sejak masa Muhammadsaw” menyebabkan “Islam” menjadi agama baru, agama kemarin sore. Sementara definisi “agama” itu sendiri sebenarnya sangat menjebak. Karena “agama” sering diidentikkan dengan ajaran yang dibawa oleh seseorang untuk bangsa tertentu dan pada waktu tertentu.

Sedangkan “Islam” sendiri seperti yang akan kita bahas selanjutnya, tidak demikian. “Islam” memiliki makna yang universal. Oleh sebab itu, perlu memahami “Islam” dalam makna paling mendasar. Salah satu caranya dengan kembali kepada berbagai penjelasan yang diberikan Kitab Suci.

Apa kata alQur’an tentang “Islam”?

Dalam alQur’an, “Islam” disebut dalam berbagai kata. Diantaranya: “muslimatan”, “muslimun”, “muslimin”, “muslimaini”, “aslama”, “aslamtu”, dan “aslim”. Semuanya diterjemahkan dengan “berserah diri”, “pasrah”, “tunduk”, atau “patuh” (Inggris: Submission to the will of God). Dari ayat-ayat alQur’an kemudian kita mendapatkan sejumlah informasi penting, bahwa:

  • Semua nabi dan pengikutnya adalah “Islam”. Ini dapat dibaca dalam QS. alBaqarah: 128 dan 131 (Ibrahim dan Ismail “Is­lam”), alBaqarah: 132-133 (Ibrahim dan anak-anaknya, serta Ya’qub dan keturunannya “Islam”), QS. Aali Imran: 52 dan QS. alMaidah: 111 (Isa dan pengikutnya kaum Hawariyyun “Islam”), QS. Yunus: 72 (Nuh “Islam”), QS. alBaqarah: 136 dan QS. Aali Imran: 84 (semua nabi dan rasul “Islam”);
  • Semua kitab suci terdahulu mengajarkan “Islam”. Seperti tersebut dalam alMaidah: 44 (Taurat beserta nabi-nabi, orang-orang alim dan pendeta-pendeta Yahudi mengajarkan “Is­lam”).

Dengan demikian sudah jelas, semua nabi dan rasul memiliki “sikap pasrah” serta membawa ajaran “berserah diri” kepada Allahswt, yaitu “Islam”. Atas dasar inilah Ahmad Deedat (1918-2005), menjelaskan:

“Seandainya Musa as hidup kembali, lalu dihadirkan di tengah-tengah kita untuk diajukan satu pertanyaan, “Wahai Nabi Allah Musa, agama apa yang engkau anut?” Kira-kira apa jawaban Musa? Akankah Beliau menjawab agama “Judaisme” seperti klaimnya orang-orang Yahudi? Tentu tidak. Musa tidak pernah mendengar kata itu selama hidupnya dan juga tidak ada nama “agama judaisme” dalam kitab-kitabnya, baik dalam Taurat maupun Talmud. Jika demikian, apa agama Nabi Musa as? Jawaban yang akan Beliau berikan adalah, “agama saya adalah agama berserah diri, pasrah, tunduk dan patuh secara tulus dan ikhlas kepada Tuhan yang satu”. Satu kata untuk jawaban indah dan panjang ini, dalam bahasa arab disebut “Islam”.

Suatu ketika Nabi Isa as kembali hadir ke dunia ini, kita akan mendapat satu kesempatan untuk bertanya, “Wahai Ruhullah Isa as, apa agama mu?”. Berharapkah kita mendengar Isa as menjawab ‘Kristen’? Tidak, karena kata ‘Kristen’ tidak pernah ada ketika Isa masih hidup. Kata ini berasal dari bahasa Yunani ‘Christos’, terjemahan dari ‘alMasikh’ atau ‘yang diberkati’. Kristus adalah nama Yunani yang diberikan untuk Isa setelah Isa tidak ada lagi. Jadi tidak mungkin Nabi Isa beragama Kristen karena agama ini sendiri tidak diberi nama oleh Isa, tetapi oleh orang lain yang tidak pernah ia kenal. Jadi apa agama Kristus? Jika ini nanti kita tanyakan kepada beliau, maka jawaban yang diberikan adalah, “agama saya adalah agama berserah diri, tunduk dan patuh secara tulus dan ikhlas kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Jawaban indah dan panjang ini dalam bahasa arab disingkat dengan: ‘Islam’ (A. Deedat. 1987. Islam, Judaism and Christianity, a Lecture in Geneve ).

Jadi, semua nabi adalah “Islam” dan membawa ajaran tentang “kepasrahan” kepada Allahswt.

Semua yang ada di Alam secara Alamiah adalah “Islam”

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah hanya manusia saja yang “Islam”? Ternyata alQuran memberikan informasi yang menarik: “Maka apakah mereka mencari ketundukan (din) selain kepada Allah? Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS. Aali ‘Imran -3: 83).

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Ayat ini menjelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, tanpa kecuali, suka atau tidak suka, adalah “Islam” (berserah diri kepada Allahswt). Tidak hanya manusia; seluruh alam semesta (matahari, bulan, bintang, malaikat, jin, gunung, batu dan sebagainya) semuanya, suka tidak suka, tanpa kecuali, hidup dan berkembang sesuai hukum Allahswt (sunnatullah).

Coba perhatikan, seluruh benda yang ada di alam semesta melakukan rotasi dari kanan ke kiri –berlawanan arah dengan jarum jam. Persis seperti orang-orang yang sedang melakukan thawaf, mengelilingi Ka’bah. Semua yang ada di alam semesta “tunduk patuh”, “terikat” pada hukum-hukum Tuhan yang menguasai alam semesta. Semuanya juga akan mati dan kembali hanya kepada Allahswt. Demikian juga dengan pertanggungjawaban, suka tidak suka, kelak juga harus dipertanggungjawabkan dihadapanNya. Sikap “pasrah”, “tunduk”, dan “patuh” secara total kepada hukum-hukum kehidupan dan kematian yang telah di tetapkan Tuhan ini disebut “Islam”.

“Islam”, Agama Universal

Dari semua penjelasan di atas dapat disimpukan, “Islam” adalah ajaran atau agama universal. Setidaknya ada empat argumen untuk menjelaskan ini.

Pertama, seperti tersebut pada ayat sebelumnya (QS. Ali ‘Imran -3: 83) seluruh isi alam, manusia dan non-manusia, secara alamiah “Islam”. Yakni, tunduk patuh pada hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan (hukum alam).

Kedua, ajaran Muhammadsaw bukan ajaran baru, melainkan kelanjutan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Seluruh nabi mengajarkan hal yang sama, yakni tauhied[1], hanya syari’atnya saja yang berbeda. Banyak dari ajaran Muhammadsaw juga kelanjutan dari spiritualitas Ibrahim[2], serta kontinuitas dari syariat Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa[3].

Ketiga, Tidak seperti nabi-nabi sebelumnya yang memiliki mandat tugas terbatas kepada kaum tertentu saja, ajaran “Islam” yang diteruskan Muhammadsaw bersifat global, sebagai rahmat bagi semesta alam: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. alAnbiya -21: 107).

Keempat, “Islam” itu sendiri sebuah kata yang bersifat “universal”. Bandingkan dengan agama-agama lain. Judaisme misalnya, diambil dari kata “Yehuda” anak Nabi Ya’qub. Artinya, agama Yahudi adalah agama yang eksis karena adanya Yehuda. Mereka sebelum Yehuda dan yang tidak ada hubungan dengan Yehuda, tidak menjadi bagian dari agama ini. Maka dari itu, agama Yahudi sangat eksklusif. Kemudian Budha (yang tercerahkan), diambil dari nama atau gelar untuk “Siddharta Gautama”. Agama ini mengidentikkan diri dengan pendirinya. Artinya, sebelum pendirinya ada, agama ini tidak ada. Dengan demikian, agama ini menjadi agama yang terbatas karena ada awal batas waktu kelahirannya. Begitu juga dengan Konghucu, Zoroaster dan keyakinan-keyakinan lainnya yang membatasi diri dengan nama pembawa ajarannya.

Sementara Hindu membatasi dirinya dengan wilayah geografis. Hindu diambil dari kata “Shindu” yakni mereka yang menempati daerah Indus di barat laut India. Kata “India” diambil dari nama ini, sebuah wilayah tempat agama ini pada awal mulanya dipraktikkan. Dengan demikian, hindu adalah agama yang identik dengan wilayah Hindustan.

Bagaimana dengan “Islam”? Kita tidak menemukan kaitan nama ini dengan nama seseorang atau suatu tempat. “Islam” bukanlah ajaran eksklusif yang diperkenalkan oleh Muhammadsaw. Sehingga “Islam” tidak dapat dipersempit menjadi “mohammedanism” atau “mohammedans”, sebuah terminologi sempit yang coba dipopulerkan dalam berbagai kamus keagamaan. “Islam” juga bukan nama lain dari “Arab”. “Islam” adalah “Islam”, sebuah konsep universal untuk menggambarkan sikap “ketundukan”, “kepatuhan” atau “kepasrahan” kepada Tuhan Yang Esa, oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun.

Empat universalitas makna “Islam” ini menjadi alasan mengapa agama yang dianut oleh hampir seperempat populasi dunia dewasa ini (1.6 milyar orang) disebut “Islam Universal”. Dan segala sesuatu tentang “Is­lam”, pada wujud paling hakiki, termaktub dalam berbagai catatan wahyu, shuhuf, dan kitab agama-agama samawi. Untuk zaman terakhir ini, seluruh wahyu telah ter’up-date’ dalam alQur’an. Dalam kitab ini terkandung berbagai konsep dan praktik “kepasrahan”, baik yang bersifat universal teoritis (keyakinan tentang eksistensi atau akidah) maupun yang universal praktis (tentang syari’ah dan akhlak).

Segala sesuatu tentang wujud (Tuhan, alam dan manusia) dan beragam sikap “pasrah” baik lahir maupun batin terhadap wujud tersebut terdapat dalam alQur’an. Islam is all about Qur’anic Values. Segala sesuatu (prinsip-prinsip umum) tentang “Islam” ada dalam alQuran. Dengan demikian, “Islam” adalah “Wahyu”[4].  “Islam” sebagai wahyu (dienullah) memiliki kelengkapan yang menjadi kebutuhan umum manusia, yang dapat dibagi dalam tiga dimensi:

  • Akidah (“teoritis imani”: konsep dan keyakinan tentang Tuhan, alam dan manusia);
  • Syari’ah (“praktis lahiriah”: tata cara berhubungan dengan Tuhan, alam dan manusia: ibadah mahdah/personal dan ibadah ghairu mahdah/sosial/muamalah atau kemaslahatan umum);
  • Akhlak (“praktis batiniah”: moralitas, etika dan estetika hubungan dengan Tuhan, alam dan manusia).

Pada dimensi yang pertama dan ketiga (akidah dan akhlak) terkandung “makna batin” (esoteris) dari “Islam”. Sedangkan pada yang kedua (syari’ah), terdapat “makna lahir” dari “Islam”.

Dimensi “Esoteris dari Islam adalahAqidah” dan “Akhlak. Ayat “innaddina ‘indallahil Islam” paling sering dikutip untuk menjelaskan tentang “apa itu Islam”. Pada ayat ini terdapat makna esoteris (batin) dari pasrah atau “Islam”:

… إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya patuh (din) yang benar di sisi Allah (indallah) adalah dengan cara berserah diri kepadaNya (Islam)…” (QS. Aali ‘Imran -3: 19).

Pada sisi paling substantif, secara esoteris, “Islam” adalah sebuah “agama” atau “sikap patuh batin” berupa ke-pasrah-an total kepada Tuhan, dalam bentuk akidah (imani) dan akhlak (batiniah/spiritual).

Pertama, dari sisi akidah, “pasrah” (Islam) atau tidaknya seseorang kepada Kebenaran tergantung sejauh mana ia memiliki keyakinan tentang keberadaan wujud, terutama Tuhan (teoritis imani). Sehingga, “kepatuhan” yang benar (din) disisi Tuhan sangat tergantung sejauh mana seseorang memiliki kesadaran akal tentang segala eksistensi termasuk Tuhan. Tidak mungkin seseorang disebut memiliki “agama” atau “kepatuhan yang benar” (din), jika sikap pasrah kepada Tuhan hanya bersifat fanatisme atau ikut-ikutan.

Sikap pasrah kepada kebenaran (“Islam”) harus dimulai dengan ma’rifah, yaitu pemahaman yang benar terhadap segenap eksistensi termasuk Wujud Mutlak. Karena pandangan universal keimanan merupakan sistem pengetahuan tentang segala eksistensi (worldview), maka ma’rifah terhadap Pandangan Dunia Ilahiyah dibangun dengan bantuan wahyu (alQuran) dan penggunaan segenap potensi intelek. Seseorang baru dapat dikatakan telah menjadi muslim ketika sudah ber-iman, atau sudah mempunyai sistem keyakinan rasional (teoritis) tentang semua eksistensi, termasuk diri sendiri dan Tuhan. Dalam sebuah hadist disebut sebagai “telah mengenal diri dan Tuhan”, man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu.

Pada iman yang rasional ini terdapat pemahaman yang benar tentang Tuhan dan segala hukum (qadar) yang menguasai alam dan manusia. Dari kesadaran rasional tauhied ini tumbuh kesadaran akan adanya keadilan Tuhan yang memberi petunjuk kepada manusia melalui para nabi-Nya. Juga terdapat kesadaran rasional lain tentang kefanaan dunia serta kesempurnaan dan kebahagiaan abadi (akhirat) yang menjadi tujuan semua hamba. Semua ini merupakan “prinsip-prinsip umum iman” (ushul atau akidah) tentang Tuhan, alam dan manusia.

Kedua, dari akidah atau pandangan keimanan yang rasional terhadap Tuhan, alam, dan manusia ter­bangun akhlak; yang juga sebuah bentuk “kepasrahan spiritual” atau “sikap praktis batiniah” terhadap semua eksistensi, terutama Tuhan. Berikut contoh akhlak yang lahir dari kesadaran rasional-spiritual (fitrah) atas eksistensi Tuhan, alam, dan manusia:

Mendemontrasikan nikmat (syukur), gembira kepada Allah (ridha), berfikir positif (husnudzan), berserah diri (tawakkal), selalu ingat kepadanya (dzikr), berusaha untuk mendekat (taqarrub), cenderung pada perilaku fitrah (khair), memiliki kesadaran rasional (ilm), kecepatan dan kejernihan batin untuk memahami (fahm), kepatuhan batin kepada kebenaran (taslim), kepatuhan formal pada kebenaran (istislam), takut sekaligus cinta kepada-Nya (taqwa), takut terhijab dari Allah (rahbah), berjiwa merdeka (ikhlas), berperilaku baik (ihsan), tidak suka menyakiti (dhalim), berkepribadian seimbang (adil), tidak berlebih-lebihan (tabzier), tidak pamer (riya’), tidak memakan yang bukan hak (riba), bertanggungjawab (taklif), menjaga kesucian (iffah), tidak cinta atau terpaut hati dengan dunia (zuhud), mencintai kesempurnaan dan keindahan (alkamal wal jamal), penuh harapan pada rahmat-Nya (raja’), menahan diri dari mengeluh dan kecemasan batin (sabr), terus mencari dan menggali (ilmu), teguh dan hati-hati dalam berurusan (tu’adah), rendah hati (tawadhu), sabar dan bijaksana (hilm), toleran (tasamuh), bersikap ramah dan harmonis (rifq), suka menolong (ta’awun), mema’afkan (shafh), diam dari bicara tidak karuan (shamt), tidak merusak (fasad), menerima kebenaran serta meyakininya dengan kuat dan pasti (tasdiq), penuh belas kasih dan penyayang (ra’fah dan rahmah) dan banyak lainnya; termasuk meniru akhlak-akhlak terbaik dari Dzat Yang Maha Mutlak seperti rahman, rahim, dan seterusnya.

“Kepasrahan” kita kepada alam dan manusia pada prinsipnya merupakan bagian “kepatuhan” kepada Tuhan dan hukum-hukumNya. Hakikat pasrah yang sesungguhnya adalah kepada Tuhan. Namun kita memberi pengakuan adanya sunnatullah (qadar) yang menguasai alam dan masyarakat. Misalnya, ada hukum-hukum fisika yang kita harus taati karena memang sifatnya given, ketentuan Tuhan. Demikian juga “kepasrahan” (ketundukan) kita kepada hukum-hukum yang menguasai masyarakat, termasuk nilai-nilai ikhlas, adil dan ihsan yang menjadi fondasi kemajuan peradaban; pada prinsipnya juga sebuah bentuk “kepasrahan” kita kepada hukum tasyri’i universal yang telah ditetapkan Tuhan.

Namun “pasrah” kepada hukum-hukum ini tidak bermakna “perbudakan”, melainkan pengakuan akan sifatnya yang objektif (pasti). Karena objektifitasnya maka hukum-hukum ini dapat dimengerti dan dimanfaatkan untuk kemajuan manusia.

Makna “Eksoteris” dari Islam adalahSyariat”

Disamping “Islam” dalam makna esoteris (batin) diartikan sebagai “sikap pasrah” atau “tunduk patuh secara tulus ikhlas” kepada Allahswt, “Islam” juga terdefinisikan dalam sebuah pengertian eksoteris (lahir). Dasarnya sama, QS. Ali Imran ayat 19, yang diartikan secara langsung: “Sesungguhnya agama disisi Tuhan adalah agama Islam”. 

Disini, “Islam” diartikan sebagai sebuah “agama formal” dengan berbagai “syariat lahiriah”; tidak lagi sebatas “kepasrahan batin” dalam wujud “imani” (akidah) dan “sikap spiritualitas/batiniah” (akhlak). Dalam pengertian eksoteris ini, “Islam” adalah sebuah “institusi agama” dengan sejumlah “ritual fisik”. Dalam konteks ini, ke-Islam-an seseorang diukur dari ketaatan terhadap berbagai wujud ibadah formal. Misalnya, seseorang baru dinyatakan sah “beragama Islam” jika telah “mengucap” dua kalimah syahadat, serta melaksanakan sejumlah “kewajiban formal” lainnya. Tidak dapat disalahkan pengertian Islam yang teknis ini, karena dalam sebuah Hadist disebutkan:

“Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah” (HR. Muslim).

Ada manfaat duniawi tertentu dari makna “Islam” yang teknis-formal-birokratis ini. Misalnya, seseorang berhak mendapat perlakuan sesuai hukum-hukum Islam selama memiliki KTP Islam. Untuk kepastian penerapan syariat dan hukum-hukum Islam, “formalisasi Islam” sebagai sebuah agama dirasa menjadi kebutuhan. Meskipun dalam pemahaman sufistik, seorang muslim belum dapat disebut “Islam” jika masih mengotori jiwanya dengan korupsi, manipulasi, kejahatan kemanusiaan, dan perilaku tidak bermoral lainnya. Bagaimana mungkin dikatakan sudah “berserah diri” kepada Allahswt secara tulus ikhlas (Islam) -meskipun bersyahadat dan shalat setiap hari; sementara otak, hati dan perilakunya masih dilumuri kebatilan, kejahatan, keburukan, kejelekan, kemungkaran, kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, dan kedhaliman. Karena secara ukhrawi, Islam lebih mementingkan isi daripada kulit (substance over form). Ber-Islam hanya punya nilai jika disertai pengetahuan akal dan kesadaran batin (aqidah) serta dilandasi nilai-nilai ihsan (akhlak).

Idealnya, totalitas Islam adalah integrasi lahir-batin: aqidah, syariah dan akhlak. Namun dalam perspektif parsial syariat, “merek Islam” sudah disandang oleh seseorang jika “kulit luar” keagamaan (seperti syahadat) sudah dilakukan. Dan dianggap akan lebih ‘islami’ jika semua komponen syari’at (sholat, puasa, zakat, haji) ikut dikerjakan. Pada konteks syariah inilah, “agama yang benar” adalah “agama yang secara formal” bernama -atau memiliki syariat- Islam. Yaitu agama yang ibadah mahdhah dan ibadah muamalah-nya dioperasionalkan berdasarkan hukum-hukum formal Islam (alQuran, asSunnah, dan pemikiran-pemikiran/hasil ijtihad dari keduanya).

Islam Agama Sempurna” (Kaffah): Kumpulan Harmonis Nilai-Nilai yang Berlawanan

Sebagaimana Tuhan disebut sebagai Realitas Yang Sempurna -karena pada Dirinya terletak perpaduan sempurna dua kumpulan sifat yang bertentangan jalaliyah (tegas) dan jamaliyah (lembut)- “Islam” juga demikian. AlQur’an menjadi kitab yang agung ketika secara serasi memadukan keseluruhan nilai-nilai yang bertentangan (esoteris-eksoteris, feminin-maskulin, jamal-jalal) sebagai wujud dari kepribadiannya. Sehingga “Islam” menjadi dinul kamil, agama yang memadukan ‘berbagai pintu’ atau ‘jalan-jalan kecil’ menjadi ‘satu pintu’ atau ‘jalan besar’ yang mengarahkan dan mempermudah manusia menuju Kebenaran.

Ada ulama yang memaknai “Islam” hanya dalam aspek esoteris (sikap “pasrah” dari batin). Sebagian lainnya mendefinisikannya dalam pemahaman eksoteris yang kaku (sebagai “agama formal”). Termasuk dalam kelompok pertama adalah ulama-ulama sufi tertentu. Agama bagi mereka lebih kepada dimensi personal, urusan pribadi. Mereka cenderung kepada pendekatan “kasih sayang” Isa as. Bagi mereka, “Is­lam” hanya sebuah thariqah untuk penyempurnaan akhlak personal, bukan untuk mengatur ranah publik. Ditengah kelompok ini terdapat orang-orang aneh, sikap “pasrah” dianggap cukup hanya dengan ‘eling’ (dzikir hati) dan punya kepribadian yang baik; tanpa perlu lagi beribadah secara formal.

Sedangkan bagi kelompok kedua, yang terdiri dari ulama-ulama syariat tertentu, “Islam” adalah sekumpulan hukum-hukum syariah; mulai yang teoritis sampai kepada detil praktis fiqihnya. Bagi mereka, agama hanya sebatas “aturan-aturan” terhadap kehidupan individu dan sosial yang punya kekuatan untuk memaksa dan menghukum masyarakat. Mereka mengadopsi sifat “keras” dan “tegas” ajaran Musa as. Dalam kelompok ini ada yang ekstrim, menganggap ber-“islam” cukup hanya dengan praktik-praktik terluar saja, serta menganggap asketisme atau mistisisme (praktik-praktik kebatinan) sebagai khurafat, takhayul, atau bid’ah.

Alhasil, tidak satupun dari dua kutub radikal ini mencapai kesempurnaan ideologi. Sebab, “Islam” itu kumpulan dari semua dimensi “lahir” (syari’ah: ibadah individual dan ibadah muamalah) dan “batin” (aqidah/tauhied imani, serta akhlak praktis/ irfani). Kumpulan dari keseluruhan dimensi ‘Musa’ dan ‘Isa’ inilah yang membentuk “Islam sempurna”[5], Islam kaffah[6], “Islam” yang didakwahi oleh the seal of the prophets.[7] Pada “Islam”-nya Muhammadsaw, terpadu dua arus besar tauhied (akhlak dan syariah) sehingga menjadikan “Islam” yang kita anut hari ini sebagai “Islam” yang batin sekaligus dhahir, sufistik sekaligus syariat, ‘agama personal’ sekaligus ‘mainstream politik kenegaraan dan perekonomian’. Meninggalkan salah satu sisinya akan membuat ke-“Islam”-an kita jadi cacat.

Manusia sendiri sebagai ciptaan terbaik Tuhan me­rupakan kumpulan dualitas (keserba-duaan): “ruh” dan “material”, “yang dalam” dan “yang luar”, “batin” dan “dhahir”, “yin” dan yang”, “feminin” dan “maskulin”, “pasif” sekaligus “aktif”. Kumpulan harmonis semua sisi yang bertentangan inilah yang membentuk insan kamil.

“Islam” juga demikian, kumpulan dua sisi berlawanan: “sisi pasif” (batin) dan “sisi aktif” (dhahir) dari alQur’an. Pada satu sisi, “Islam” mengandung arti ‘pasif’: “tunduk” atau “pasrah” kepada Allahswt. Artinya, dalam pendakian menuju kesempurnaan dan kebahagiaan, ketika telah berhasil mendapat pandangan akidah (worldview) yang benar, maka pilihan rasionalnya adalah bersikap patuh kepada doktrin-doktrin akidah tersebut (alQur’an). Menjadi muslim yang baik harus dengan bersikap ‘pasif’, ‘diam’: tidak boleh membantah petunjuk dan perintah Tuhan (alQur’an). Pada aspek ini, “Islam” dipahami sebagai “agama doktriner imani”. Orang-orangnya dibangun kesadaran untuk menjadi pasukan yang berakidah, disiplin dan taat (cinta) kepada Atasan Yang Maha Tinggi.

Pada sisi lain, “Islam” dipahami sebagai “syariat” dan “thariqat” yang bermakna “jalan” menuju sumber mata air. Sebagai sebuah ‘jalan’, tentu tidak pernah diharapkan orang-orang yang berada di atasnya memiliki sikap pasif, karena akan terlindas oleh roda. Pada definisi ini, “Islam” merupakan sesuatu yang dinamis. Untuk memperoleh pengetahuan dan kemajuan, setiap muslim harus terus bergerak, aktif, dan tidak boleh diam. Terutama dalam aspek “kemaslahatan umum” (muamalah), “Is­lam” merupakan agama protes dan perubahan. Disini, “Islam” telah menjadi “agama doktriner amali”. Orang-orangnya ditanamkan nilai-nilai untuk menjadi ‘jenderal-jenderal’ yang memimpin jihad menumpas kebatilan, serta aktif mengorganisir masyarakat untuk membangun kebaikan. Sebagai “agama aktif”, Islam adalah agama amar ma’ruf nahi munkar, agama penegakan keadilan dan ihsan, agama anti korupsi.

Inilah dualitas “Islam”, sebuah agama kemanusiaan yang ‘pasif’ sekaligus ‘aktif’. ‘Pasif’ dalam memahami, serta ‘aktif’ dalam mencari. ‘Pasif’ (reseptif) bukan berarti ‘pasif total’ dalam artian negatif (apatis), melainkan “kekuatan untuk menerima”.[8] ‘Aktif’ juga tidak berarti “pamer”, melainkan “kekuatan untuk memberi”. Pasif dan aktif pada hakikatnya sama saja, tergantung kesiapan seseorang untuk memulainya. Sama seperti berbicara atau merenung, nilainya sama, tergantung situasi dan kebutuhan.

Keseimbangan dua perilaku ‘pasif’ dan ‘aktif’ ini yang menyempurnakan ke-“Islam”-an seseorang. Karena anda tidak akan pernah mendengar ‘suara Tuhan’ jika anda terlalu banyak bicara. Manusia juga tidak akan pernah mendengar anda jika anda diam saja. Inilah “Islam”, agama ka’bah. Agama yang berada pada titik keseimbangan, yang mendamaikan atau merekonsiliasi berbagai ‘sudut’ atau ‘kutub’ yang berlawanan.

‘Pasif’ dan ‘aktif’ merupakan dua unsur yang saling melengkapi, yang berpartisipasi dalam mengumpulkan pengetahuan. Atas konsepsi inilah, training-training perkaderan kader Islam dapat dirancang. Siang hari digunakan untuk mendedah fungsi-fungsi intelek secara aktif-argumentatif, malamnya digunakan untuk pengayaan yang bersifat pasif-kontemplatif, Siang diperkuat dengan metode-metode rasional-filosofis (otak), sementara malam diperkaya dengan dimensi spiritual-mistis (qalbu). Ada keseimbangan antara dimensi eksoteris (dhahir) dengan esoteris (batin).

Sedangkan dalam kehidupan nyata, seorang kader Islam, idealnya,, siang hari aktif bekerja -yang digambarkan dengan “mengaum-ngaum seperti singa”. Malamnya pasif terdiam dalam ibadah -yang dilukiskan dengan “menitikkan air mata didepan Tuhan, seperti bayi yang mengharap cinta ibunya”. ‘Aktif’ sekaligus ‘pasif’. Dhahir sekaligus batin.

Apakah Semua Agama Sama?

Pertanyaan ini sangat polemis, karena berkaitan dengan konsep “pluralitas” vs. “pluralisme”. Jika sebatas mengakui eksistensi (adanya) agama yang begitu banyak muncul di muka bumi, maka disebut dengan “pluralitas” (pengakuan akan kema­jemukan agama-agama). Pada tahap ini tidak ada keributan. Tetapi, ketika menganggap semua agama yang majemuk itu pada prinsipnya “sama” (yaitu esensinya sama-sama menuju Tuhan), ini sama dengan mengakui kebenaran semua agama, atau “pluralisme”. Apakah semua agama benar?

Sebagaimana tersebut dalam QS. Aali Imran -3: 19) bahwa agama (din) yang benar disisi Allahswt adalah yang menunjukkan sikap berserah diri secara benar (Islam). Dengan demikian, semua “agama (din) yang benar” disisi Allahswt adalah semua yang menunjukkkan sikap kepasrahan –baik batin maupun lahir- kepada Tuhan (dalam wujud aqidah, syariat, dan akhlak). Apapun nama agamanya, siapapun orangnya, selama memiliki sikap “tunduk patuh”, “pasrah” atau “berserah diri” kepada Allahswt (dalam tiga dimensi Islam ini) maka semuanya Islam. Dengan demikian, semua agama yang memiliki akidah, syari’at, dan akhlak yang benar adalah agama Islam. Jadi benar, “semua agama yang benar” adalah agama Islam.

Pertanyaannya, apakah semua agama “benar”? Semua agama “sama”, kelihatannya “iya”. Yaitu ‘sama-sama’ menyuruh pada kebenaran dan kebaikan. Tetapi tidak semua agama sama dan benar. Karena ukuran kebenaran juga diukur dari keutuhan ideologi:

  • Mempunyai Pandangan Dunia Ilahiyah (akidah) yang benar;
  • Memiliki ketaatan menjalankan semua konsekwensi dari percaya kepada-Nya berupa ‘kepasrahan praktis’ atau ‘kepasrahan lahir’ dalam bentuk syari’ah (ibadah formal dan muamalah) secara baik dan benar, serta;
  • Memiliki ‘sikap kepasrahan batin’ kepada Tuhan (akhlak) secara benar pula.

Artinya, pada level prinsip (ushul) sebuah agama harus memiliki sistem pengetahuan teoritis yang benar (iman atau aqidah) tentang Tuhan, Nabi, dan Ma’ad (hari kebangkitan). Serta pada level praktis memiliki ketaatan lahir dan batin (syariat dan akhlak) untuk menjalankan semua amalan sebagai konsekwensi dari percaya kepada-Nya.

Berkaitan dengan Pandangan Dunia Ilahi tentang Tuhan. Pada prinsip paling umum ini, apakah semua agama mengakui “Tuhan ada”? Mungkin semua menjawab “iya”, kecuali kaum materialis. Pada prinsip turunannya, jika Tuhan ada, apakah agama-agama tersebut mempercayai Dia itu “Esa?”. Bagaimana dengan yang meyakini “Tuhan banyak”, “Tuhan Tiga”, “Tuhan Satu tapi Tiga”, “Tuhan Tiga tapi Satu”, dan sebagainya. Bisakah dikatakan politeisme sebagai agama atau ideologi yang benar? Tentu konsepsi “Three in One” mengalami deviasi dari Pandangan Dunia Tauhied, sehingga menyebabkan agama-agama seperti itu layak berada dalam kategori “ideologi benar bercampur sa­lah” sampai kepada “ideologi palsu”.

Pandangan universal ideologis lainnya yang menentukan “kebenaran” sebuah agama adalah pengakuan terhadap nubuwwah, atau rentetan para nabi sampai kepada Muhammadsaw, termasuk wahyu (kitab) yang dibawanya sebagai kebenaran. Apakah semua agama hari ini punya pandangan bahwa Muhammadsaw merupakan seorang nabi utusan Allahswt? Jika iya, maka agama itu secara prinsipil worldview-nya sudah ter-update. Jika tidak, maka agama itu sudah expired (untuk tidak mengatakan “salah”). Dan apakah semua agama bersyahadah kepada Beliau? Jika iya, maka secara ideologis praktis sudah benar. Jika tidak, maka agama itu lagi-lagi ‘belum ter-update’. AlQur’an bahkan menghukum ‘kafir’ orang-orang yang mengingkari Muhammadsaw[9]. Namun tidak berarti berbeda keyakinan mengharuskan kita berkonflik, kecuali dengan siapa saja yang berperilaku dhalim tanpa memandang akidah.

Itulah mengapa seluruh nabi dan rasul sebelum Muhammadsaw, beserta pengikut-pengikut mereka, memiliki Pandangan Dunia Ilahiyah tentang eksistensi Muhammadsaw jauh sebelum Muhammadsaw lahir. AlQur’an menceritakan bagaimana para Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), mengetahui kedatangan Muhammadsaw, meskipun sebagian mereka menutup-nutupinya:

“Orang-orang yang telah Kami beri al-Kitab mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. alBaqarah -2: 146).

Pada ayat lain dijelaskan, semua nabi terdahulu bersyahadah kepada Muhammadsaw yang akan muncul setelah mereka. Mereka diberitahukan Tuhan, bahwa Muhammadsaw akan datang guna membenarkan apa yang mereka bawa sekaligus menyempurnakan ajaran-ajaran mereka.

“Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu” (QS. Aali Imran -3: 81).

Umat-umat terdahulu, seperti pengikut-pengikut setia Nabi Isa as, telah mengenal sosok Nabi dan Rasul terakhir bernama Ahmad (Muhammad):

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa Putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata” (QS, asShaf -61: 6).

Bahkan Budha (Siddharta Gautama) dan kitab-kitab hindu mengakui kerasulan Muhammadsaw sebagai nabi akhir zaman[10].  Para nabi dan rasul terdahulu yang tersebar di berbagai tempat[11], yang sebagian besar nama-nama mereka tidak disebut dalam alQuran[12], dengan kitabnya masing-masing[13], yang disampaikan dalam bahasa kaumnya[14], mengakui kerasulan Muhammadsaw. Sebuah hadist menjelaskan tentang banyaknya nabi dan rasul, serta kitab-kitab yang dibawa mereka:

Abu Dzar –semoga Allah mengasihinya- berkata, “Ketika aku masuk ke masjid, Rasulullah sedang duduk sendirian. Maka akupun memanfaatkan kesendirian Beliau dan bertanya, “Wahai Rasul Allah! Ada berapa jumlah nabi?” Beliau menjawab, “124.000”. Aku bertanya, “Ada berapa jumlah rasul?” Rasul menjawab, “Semuanya ada 313”. Aku bertanya lagi, “Siapakah nabi pertama?” Beliau menjawab, “Adam.” Aku bertanya lagi, “Apakah dia seorang rasul diantara para nabi?” Beliau menjawab, “Ya, Allah menciptakannya dengan tangan-Nya [kekuasaan-Nya] dan meniupkan baginya dari ruh-Nya.” Lalu beliau melanjutkan, “Wahai Abu Dzar, 4 nabi diantara para nabi adalah orang-orang Siryani; yaitu Adam, Syits, Idris dan Nuh, salam atas mereka. Sementara 4 dari mereka adalah  orang Arab: Hud, Shalih, Syu’aib dan nabimu Muhammad. Nabi pertama dari Bani Israil adalah Musa dan yang terakhir dari mereka adalah Isa, dan ada 600 nabi diantara mereka.” Aku berkata, Wahai Rasulullah, berapa kitab yang telah Allah turunkan?” Beliau menjawab, “104 kitab. Dia menurunkan 50 suhuf kepada Syits, 30 suhuf kepada Idris, dan 20 suhuf kepada Ibrahim. Dia juga menurunkan Taurat, Injil, Zabur, dan Furqan”.[15]

Namun banyak dari kitab dan ajaran nabi-nabi sebelumnya yang ditolak dan diselewengkan oleh para pengikutnya[16]. Kebanyakan mereka telah terjerumus dalam syirik, menafikan keberadaan Allah Yang Esa. Ada yang mengangkat malaikat-malaikat sebagai dewa-dewa atau anak-anak Tuhan[17]. Tidak hanya mereka berani menolak Muhammadsaw dan kebenaran alQur’an yang dibawanya, mereka bahkan berani dan pernah membunuh nabi-nabi mereka sendiri[18].

Bagi semua nabi dan para pengikutnya, pengakuan keberadaan Muhammadsaw merupakan indikator keimanan. Karena Muhammadsaw merupakan puncak atau hakikat kenabian. Semua nabi-nabi terdahulu merupakan bagian dari citra Muhammadsaw. Maka mengingkarinya merupakan sebuah kekufuran. Sementara berdoa dan memujinya dalam bentuk sholawat, sebagaimana diperintahkan Tuhan, termasuk dimensi praktis ideologis dari iman. Sebuah hadist menjelaskan:

“Lebih dari yang lain, aku ini terlihat seperti Adam. Sedangkan Ibra­him, lebih dari pada yang lain, tampak seperti aku. Sikapnya terhadap orang sama seperti sikapku. Allah, dari ‘Arasy-Nya, memberiku sepuluh nama dan menyampaikan kabar gembira tentang kedatanganku kepada setiap rasul yang diutus-Nya. Dalam Taurat,dan al-Kitab, Dia menyebutkan namaku dan mengajari aku berbicara yang bagus lagi menarik.  Dia membesarkan aku di langit-Nya, dan menamaiku dengan nama yang diambil dari salah satu nama-Nya sendiri. Dia menyebutku ‘Muhammad’, sementara Dia sendiri adalah ‘Mahmud’. Dan benihku disarikan dari sebaik-baik ummatku. Dan dalam Taurat menyebutku ‘Ahid’, karena melalui tauhid Dia mengharamkan raga ummatku untuk disentuh api neraka. Dalam al-Kitab Dia menyebutku ‘Ahmad’, karena akulah yang lebih dipuji oleh penghuni langit (ketimbang penghuni bumi). Dia jadikan ummatku ‘hamidin’ (orang-orang yang memanjatkan pujian untukku). Dalam Mazmur (Zabur) Dia menyebutku ‘Mahi’, karena melalui aku Allah Ta’ala melenyapkan penyembahan berhala. Dan dalam al-Qur’an Dia menamakanku ‘Muhammad’, karena pada Hari Pengadilan, masa ketika keputusan akan dikeluarkan, semua memanjatkan pujian untukku….”[19].

Meskipun yang mengingkari kerasulan Muhammadsaw mendapat label ‘kafir’, umat Islam diperintahkan untuk mengutamakan akhlak dengan tidak dibenarkan bersikap ekstrim terhadap mereka yang berbeda keyakinan[20]. Meskipun berbeda, kita dianjurkan membangun persaudaraan universal (universal brotherhood). Manusia diciptakan bersuku bangsa untuk saling mengenal. Yang paling mulia tentu yang paling bertaqwa -paling bagus iman, ilmu dan amalnya[21]. Karena gelar ‘kafir’ tidak hanya disemat untuk mereka yang berbeda akidah dengan kaum muslim. Seorang muslim yang tidak berakhlak, tidak berperilaku baik, atau tidak taat kepada nilai-nilai alQur’an juga dijuluki Allahswt sebagai ‘kafir, dan dijanjikan azab kepada mereka’:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Barang siapa yang bersyukur akan ditambah nikmat dan barang siapa yang kufur sesungguhnya azab Allah sangat pedih” (QS. Ibra­him -14: 7).

Meskipun berbeda, semua orang dianjurkan untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan[22]. Hakikat perbedaan nanti akan dijelaskan di akhirat[23]. Sebagian ulama bahkan tidak berani menyalahkan jika ada umat yang masih mengikuti ketauhidan dan syari’at nabi-nabi terdahulu. Kita tidak mengetahui hakikat keberadaan setiap orang disisi Tuhan. Siapa saja yang beriman kepada Allahswt, kepada hari akhir dan senantiasa berbuat kebajikan tentu menjadi hak Allahswt untuk membalasnya[24].

Maka dalam memulai dakwah, yang mesti dikedepankan adalah akhlak, seperti menemukan “titik persamaan” (kalimatun sawa), bukan perbedaan[25]. Gunakan cara-cara yang bijak dan pendekatan yang baik[26]. Kita tidak boleh memaksa orang untuk patuh, karena sebagian orang bersikap arogan walaupun sudah mengetahui kebenaran[27]. Kalau Allahswt mau, tentu semua akan beriman[28]. Namun Allahswt telah memberikan setiap orang akal dan hati sebagai potensi untuk memahami kebenaran[29]. Setiap orang diberikan kemerdekaan untuk mengikuti atau menolak kebenaran. Atas prinsip dasar inilah nanti di akhirat orang diberi ganjaran atau hukuman.

Oleh sebab itu, praktik agama harus berada dalam keseimbangan. Disatu sisi, kita dianjurkan untuk toleran bahkan berbuat baik terhadap mereka yang berbeda keyakinan dengan kita[30]. Kita hanya diperintahkan untuk bersikap tegas dan keras terhadap siapapun yang berlaku kufur lagi dhalim[31]. Jadi, Islam mengakui adanya “pluralitas” atau ke-bhinneka-an, yakni keragaman yang muncul secara alamiah. Dalam pluralitas agama itu tentu ada yang benar dan ada yang salah. Secara rasional kita dapat saja mendedah ‘benar-salah’. Namun secara hakikat, merupakan hak Allahswt untuk menentukannya.
___________________

Note:

[1] [1] “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (QS. alAnbiya -21: 25); [2] “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka sembahlah Aku” (QS. alAnbiya -21: 92); [3] “Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Ilah selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa?” (QS. alMukminun -23: 32).

[2] “Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik” (QS. alAn’am -6: 161); [2] “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (QS. anNahl -16: 123); [3] “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (QS. alHajj -22: 78).

[3] “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya)” (QS. asSyuura -42: 13).

[4] ‘Catatan’ tambahan tentang ajaran langit ini juga terdapat pada kepribadian Muhammadsaw (asSunnah). Namun beliau telah tiada. Sunnah merupakan petunjuk tambahan, ‘contoh hidup’ dari nilai-nilai alQur’an. Namun jika ada sunnah atau hadist yang berseberangan dengan alQuran, kita disuruh memilih alQur’an. Karena level keabsahan sunnah atau hadist beragam. Pada dasarnya tidak ada perbedaan antara kandungan alQuran dengan kepribadian Muhammadsaw. Hanya saja jalur periwayatan menyebabkan adanya perubahan, perbedaan, bahkan pemalsuan sunnah. Hanya teks alQuran yang terjamin otentisitasnya.

[5] Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam jadi agama bagimu (QS. alMaidah -5: 3).

[6] “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian” (QS. alBaqarah -2: 208).

[7] “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” QS. alAhzab -33: 40).

[8] L. Bakhtiar. 2008. Mengenal Ajaran Kaum Sufi: dari Maqam-Maqam hingga Karya Besar Dunia Sufi, Penerj. Purwanto, hal. 41-44.  Penerbit Marja: Ujungberung.

[9] [1] “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [2] “Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. Ali ‘Imran -3: 31-32).

[10] Muhammad tersebut dalam berbagai kitab Buddha dalam berbagai nama, seperti: “Antim Budha” (orang bijak terakhir) dan “Maitreya” (penyayang). Sementara dalam kitab Samveda Hindu dikenal dengan “Ahamidhi” dan “Girish” (orang yang tercerahkan di gunung). Atharvaveda menyebutnya “Mamaha”. Diberbagai mantra Hindu lain menamainya “Narashangsa” (yang terpuji), “Antim Rishi” (orang bijak terakhir), “Kalki Avatar” (orang bijak akhir zaman). Baik dalam Weda dan Purana, ciri-ciri Muhammad diberikan secara rinci, seperti: lahir di “Shambal” (dekat air –sumur zamzam), ayahnya bernama “Visnu Yash” (hamba Tuhan/Abdullah), dan sebagainya.

[11] [1] Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. atTaubah -9: 128); [2] Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya” (QS. Yunus -10: 47), [3] Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja, dan jauhilah taghut’, maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.” (QS. anNahl -16: 36; [4] “Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan”. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan” (QS. alFathir -35: 24).

[12] Banyak sekali jumlah nabi dan rasul yang telah diutus Tuhan ke bumi. Sementara kita hanya mengetahui (diberitau) sekitar 25 dari mereka:

[1] “Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung” (QS. anNisa -4: 164); [2] “Dan sungguh kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), diantara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu dan diantaranya ada yang tidak kami ceritakan kepadamu….” (QS. alMukmin -40: 78).

[13] “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)” (QS. arRa’du -13: 38).

[14] “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ibrahim -14: 4).

[15] “Al-Qishal”, 2, 525 dalam M.M. Qaim. The Gospel of Ali, hal. 25-26, Penerbit Citra: Jakarta, 2005. Hadis serupa juga diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Albani. Namun terdapat pendapat lain dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa jumlah Nabi dan Rasul tidak dapat kita ketahui, banyak sekali.

[16] [1] “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka merobahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. alBaqarah -2: 75); [2] “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merobah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: `Kami mendengar`, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): `Dengarlah` semoga kamu tidak dapat mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): `Raa ina` dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: `Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami`, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis” (QS. anNisa’ -4: 46).

[17]Dan mereka berkata: “Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan” (QS. Anbiya -21: 26).

[18] Dan apabila dikatakan kepada mereka: `Berimanlah kepada Al quran yang diturunkan Allah`. Mereka berkata: `Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami`. Dan mereka kafir kepada alQuran yang diturunkan sesudahnya, sedang alQuran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: `Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman? (QS. alBaqarah -2: 91).

[19] Y.T Al-Jibouri. 2003. Konsep Tuhan Menurut Islam, cetakan 1, hal. 555-556. Penerbit Lentera: Jakarta.

[20] “Lakum diinikum waliyadiin” (QS. alKafirun -109: 6).

[21] “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. alHujurat -49: 13).

[22] “…. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS. alMaidah -5: 48).

[23] “Bagi tiap-tiap umat telah kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah : “Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan. Allah akan mengadili diantara kamu pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih padanya” (QS. alHajj -22: 67-69).

[24] [1] “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang- orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, akan ada pahala bagi mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati” (QS. alBaqarah -2: 62); [2] “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi dan Sabiin dan Nasrani, barangsiapa beriman kepada Allah, hari akhir dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati” (QS. alMaidah -5: 69).

[25] “Katakanlah, “Wahai ahlul-kitab! Marilah kemari! Kepada kalimah yang sama diantara kami dan diantara kamu”, yaitu bahwa jangan lah kita menyembah melainkan kepada Allah, dan jangan kita menyekutukan sesuatu dengan Dia, dan jangan menjadikan sebahagian dari kita akan sebahagian yang lain menjadi tuhan-tuhan selain dari Allah. Maka jika mereka berpaling, hendaklah kamu katakan: Saksikanlah olehmu, bahwasanya kami ini adalah orang-orang yang berserah diri” (QS. Aali Imran -3: 64).

[26]Ajaklah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan bijak dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. anNahl -16: 125).

[27] Tidak ada paksaan untuk patuh (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. alBaqarah -2: 256).

[28]Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus -10: 99).

[29] “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kejahatan dan ketakwaan(QS. asSyam -91: 8).

[30] Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. alMumtahanah -60: 8).

[31] [1] Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya(QS. Al-Fath -48: 29); [2] Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah merasa ridha kepada kalian sampai kalian mau mengikuti millah (ajaran) mereka” (QS. alBaqarah -2: 120); [3] Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim” (QS. alMumtahanah -60: 9); [4] “Sungguh akan kalian dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah” (QS. alMaidah -5: 82); [3] “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.  Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. alHajj -22: 39-40).

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s