LAILATUL QADAR: POHON-POHON “SUJUD”

image: D.P Silva (wikipedia)

Lailatul Qadar: Pohon-Pohon “Sujud” 
Oleh Said Muniruddin

Mungkin salah satu cara paling ‘nakal’ untuk membuat orang-orang tetap terbangun pada malam-malam ganjil Ramadhan adalah dengan mengatakan bahwa akan ada fenomena langka, dimana pohon-pohon akan sujud. Sebagian orang dibuat percaya dengan cerita-cerita seperti ini.

Dan tentu saja itu tak pernah terjadi. Karena pohon tidak beribadah seperti manusia. Pohon juga “sujud” kepada Allah, tapi tidak dengan mencium tanah. Pohon dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini pastinya selalu “bersujud” kepada Allah dengan caranya sendiri:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri” (QS. An-Nahl 16:49).

***

Lailatul Qadar adalah sebuah malam dimana kita memperoleh kesadaran “eko-teologis” yang sangat tinggi. Kita memiliki penglihatan ma’rifati bahwa pohon-pohon, alam semesta dan malaikat (ruh) senantiasa bersama kita bertasbih dan sujud kepada Allah SWT. Maka menjaga alam tetap lestari dalam proses pembangunan adalah sebuah indikasi bahwa kita telah memiliki visi “kesatuan wujud” dengan seluruh elemen alam semesta (wahdatul wujud). Ini bentuk keimanan/ketauhidan yang tinggi, merasa bahwa kita semua yang beragam ini sebagai satu. Namun kita curiga, tidak banyak dari kita yang memperoleh kesadaran seperti ini dalam keheningan Ramadhan.

Musuh terbesar manusia adalah kapitalisme. Yaitu eksploitasi dan kerakusan terhadap berbagai sumberdaya, termasuk sumberdaya alam. Kehancuran di darat dan laut terjadi akibat kejahatan manusia ini. Jika kesadaran Qurani ini benar-benar turun dan terhujam dalam jiwa-jiwa manusia, maka bumi (yang fana laksana kehidupan malam ini) akan menjadi tempat paling menjanjikan kesejahteraan, mungkin ribuan bulan lamanya, sampai kita semua benar-benar terbangun saat terbitnya “fajar” hari akhir nanti.

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadar 97: 5).*****