KEPEMIMPINAN DAN FIGUR-FIGUR PEREMPUAN TELADAN

Latihan Khusus KOHATI HMI Cabang Banda Aceh, Gedung LPTQ Aceh, Sabtu 02 Desember 2017, 09.00-12.00 wib (image: muhammad iqbal aceh malaka)

Kepemimpinan dan Figur-Figur Perempuan Teladan
Oleh Said Muniruddin 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Mungkin anda akan terkagum jika menelusuri kehidupan singkat Fathimah Azzahra, salah satu dari 4 profil perempuan teragung yang disebut Nabi SAAW sebagai pemimpin perempuan di alam semesta “sayyidatun nisa al-‘alamin”  (H.R Ahmad, Hakim dan Muslim). Anak-anak Fathimah pernah meriwayatkan bagaimana suatu ketika mereka mendengar ibundanya menghabiskan sisa malam dengan berdoa. Tapi anehnya, tak satupun dari doa yang ia panjatkan berisi permintaan untuk dirinya.

Semua doa berisi permohonan agar Tuhan mengabulkan berbagai hajat dan kebaikan bagi anak, suami, saudara, tetangga dan masyarakatnya; sambil menyebut nama mereka satu persatu dihadapan Tuhannya. Berjam-jam ia berdoa, namun tak pernah menyebut namanya sendiri. Sangat berbeda dengan umumnya cara kita berdoa, dari awal sampai akhir hampir-hampir tidak pernah meminta untuk orang lain. Semua tentang diri kita sendiri.

Inilah perbedaan leader dengan follower. Pengikut adalah orang-orang yang kebutuhannya tidak pernah cukup. Pengikut adalah orang-orang yang harus dilayani agar hidupnya menjadi cukup. Sementara pemimpin sejati merupakan orang-orang yang merasa sudah selesai dengan dirinya, walau kebutuhan material mereka juga belum tentu sudah semuanya terpenuhi. Orang-orang yang sudah merasa cukup dengan dirinya ini menghabiskan usia untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Orang-orang seperti ini sangat langka. Tapi sampai hari ini anda masih bisa menemukan satu atau dua jenis manusia seperti mereka. Mereka biasanya orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk memberi makan anak yatim, membangun rumah untuk kaum fakir, menyekolahkan anak-anak terlantar, mengajari membaca anak-anak tertinggal, memberdayakan ekonomi kaum marjinal, membantu petani miskin di pedesaan, memfasilitasi pengobatan orang-orang tak punya kemampuan dan kebaikan sejenis kepada kelompok rentan (mustadh’afin).

Pertanyaan bagi kita yang awam, apa yang orang-orang seperti ini dapatkan dari kesibukannya mengurusi orang? Tidak, ia tidak akan mendapatkan apapun. Hidupnya juga tidak akan lebih kaya setelah itu. Mereka juga tidak akan masuk TV dan koran dengan aksinya. Sebagian kecil, iya. Tapi sebagian besar mereka malah meninggal dalam keadaan sederhana, bahkan tidak pernah dikenal dunia.

Mereka memang tidak pernah mendapatkan prestise dan popularitas sebagaimana layaknya artis yang memamerkan semua aksinya untuk memperoleh bayaran dari sang majikan. Tapi saya bisa pastikan, orang-orang ini memperoleh sesuatu yang orang-orang kaya tidak pernah bisa beli dengan uang. Mereka memperoleh emosi. Mereka menyaksikan kebahagiaan, memperoleh pemahaman yang terdalam. Merasakan cinta.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki memori indah ketika akan meninggalkan dunia. Karena wajah bahagia dari orang-orang yang pernah dibantunya satu persatu muncul disaat ia akan menemui Tuhannya. Semua amal kemanusiaan selama hidup merupakan wujud nyata dari kalimat tauhid mereka. Inilah penyebab bibir mereka tersungging menjelang ajal.

Sementara kita yang jarang membantu orang, tak akan pernah merasakan kebahagian yang seperti ini. Mungkin juga tidak akan tersenyum saat dipanggil Tuhan. To lead is to serve.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s