PAK SAYED BERAPA DIBAYAR?

image: saidmuniruddin.com

Pak Sayed Berapa Dibayar? 
Oleh Said Muniruddin

Teman: “Pak Sayed berapa dibayar untuk menyampaikan materi pada berbagai diskusi, seminar dan pelatihan?”

Saya: “Ouh! Sangat beragam. Mulai dari Rp 0,- sampai berjuta-juta rupiah.”

***

Demikian diskusi singkat dengan seorang sohib suatu ketika. Pertanyaan itu muncul karena beliau sering melihat saya posting foto dan resume terkait bidang minat dan pengabdian saya: Spiritual Leadership™. 

“Berapa saya harus dibayar?” Pertanyaan ini juga sering diajukan para pengundang. Pertanyaan seperti ini juga akan anda temukan saat menghadapi test wawancara. Mungkin pewawancara ingin melihat sejauh mana anda menilai kelayakan diri anda untuk diapresiasi.

Tapi yang jelas, bagi umumnya orang Asia, ini termasuk pertanyaan yang agak sulit untuk dijawab. Karena memberikan “harga” untuk diri sendiri sedikit tabu dalam budaya kita yang cenderung masih sosial. Kita punya ketakutan untuk dicap sebagai “materialis”.

Tapi salah satu trik yang diajarkan adalah dengan memberikan rentang “rate” bayaran dari sekian sampai sekian, menurut pengalaman yang sudah-sudah. Namun lagi-lagi, itu sifatnya tidak mutlak. Kita bisa memberikan keputusan terkait jumlah honor sepenuhnya kepada si pengundang atau pemberi kerja.

Jawaban paling diplomatis yang bisa kita berikan adalah, pada prinsipnya kita selalu siap untuk berbagi ilmu dan kebaikan kepada siapa saja. Masalah berapa bayaran, itu sepenuhnya kita serahkan sesuai aturan, kemampuan anggaran, kebijakan, ataupun SOP perusahaan.

Sebuah seminar atau pelatihan sebenarnya juga dapat dilihat sebagai proses “take and give”. Audien mengambil ilmu dari pemateri. Lalu rasa syukur atas perolehan ilmu itu diikuti tindakan untuk menghadiahkan sesuatu kepada pemateri. Dan itu tidak mesti selalu uang. Terkadang selembar sertifikat sudah cukup memadai.

Pada kasus saya (saya yakin kebanyakan anda yang juga menjadi pembicara dimana-mana turut mengalami hal serupa), sejumlah kegiatan bahkan kita tidak menerima bayaran atau penghargaan material. Karena kegiatannya memang murni sosial. Organisasi pelaksananya pun masih memerlukan banyak dukungan. Bahkan tidak jarang setelah memberi materi kita juga memberi lagi mereka sejumlah uang.

Saya kira tidak semua even harus diukur dalam perspektif komersial. Nilai-nilai aktifisme masih penting untuk kita pertahankan.

Prinsip saya, setiap diundang berbicara, dibayar atau tidak, semaksimal mungkin kita harus penuhi itu. Karena pada hakikatnya, panggilan untuk memberi materi adalah panggilan Tuhan untuk meneruskan sepotong dua potong ilmu yang sudah Dia titipkan.

Hidup ini tidak untuk selalu dinilai dalam konteks bisnis sesama manusia. Hakikat hidup adalah dakwah, perdagangan dengan Tuhan. Maka semua bayaran sesungguhnya datang dari Allah Swt:

 وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖإِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam” (QS. asy-Syu’ara: 109).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s