INI 3 HAL YANG SEBAIKNYA KITA LAKUKAN SEBELUM MENGAJAR

image: saidmuniruddin.com

Ini 3 Hal Yang Sebaiknya Kita Lakukan Sebelum Mengajar
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada berbagai hal yang harus dipersiapkan seorang guru atau dosen sebelum mengajar. Termasuk menyiapkan silabus, Satuan Acara Perkuliahan (SAP), ppt slides, serta berbagai kebutuhan material tutorial. Saya tidak akan membahas ini. Karena saya yakin anda sebagai pengajar sudah paham semua teknis birokratis akademis yang sangat penting itu.

Namun ada tiga hal esensial lain yang cenderung orang lupakan. Ini tidak terbatas pada guru atau dosen saja, tetapi juga bagi siapa saja yang berprofesi sebagai pembicara. Tiga hal ini yang sesungguhnya mentransendensikan setiap proses transfer of knowledge. Apa saja itu?

1. Berwudhuk.

Kita mengerti, mengajar itu ibadah. Tapi tidak banyak yang menghayati, sedalam mana nilai ibadah dari profesi ini.

Mengajar itu pekerjaan para nabi, nilai perjuangannya tinggi sekali. Bayangkan, kita telah memilih menjadi dosen. Kita akan menghabiskan umur dan pensiun, bahkan mati dalam pekerjaan ini. Jika pekerjaan mengajar tidak bisa membawa kita ke syurga, maka apalagi yang kita andalkan dihadapan Tuhan nantinya? Apakah memadai dengan ritual shalat dan puasa?

Tugas dosen atau guru besar sekali. Ia diamanahkan untuk mencerdaskan orang-orang agar paham berbagai rahasia dan hukum Tuhan yang menyelimuti alam dan masyarakat. Diatas itu semua, tugas dosen adalah mendidik murid-muridnya agar memakrifati (mengenal) Tuhan, Pemilik segala ilmu dan kesempurnaan.

Dengan bertambahnya ilmu dan kesadaran, para mahasiswa diharapkan menjadi khalifah (pemimpin yang ilmuwan), yang tinggi akhlaknya dalam membangun berbagai sektor kehidupan.

Tetapi dunia pendidikan masih mengabaikan dimensi spiritual. Ini juga terjadi pada level guru. Dalam budaya pragmatis, mengajar hanya dianggap sebatas mengajar. Mendidik dipahami sebagai sebuah pekerjaan yang harus dilakoni dalam rangka memperoleh gaji bulanan atau kum kredit kepangkatan.

Oleh sebab itu, perlu ada proses “penyucian” cara berfikir yang seperti itu. Ritual “wudhuk” sebelum melaksanakan tugas-tugas harian, sesungguhnya adalah bagian dari kurikulum yang disiapkan Tuhan guna “meluruskan” niat kita.

Orang awam mengira, wudhuk itu hanya untuk sholat saja. Tidak. Dimensinya luas. Kesucian lahir dan batin, yang direpresentasikan oleh wudhuk, harus melingkupi berbagai aktifitas.

Wudhuk menjadi peneguh bahwa kita mengajar dalam rangka mengabdi semata-mata hanya kepada-Nya, bukan kepada yang lain. Ini tauhied.

Wudhuk menjadi pengingat bahwa sebentar lagi kita akan memasuki sebuah “ruang suci”, tempat dimana ilmu-ilmu Tuhan akan dipaparkan. Begitulah seharusnya kita memberi nilai terhadap pekerjaan kita. Dengan wudhuk kita juga berharap Tuhan memudahkan hati dan lidah kita dalam menyampaikan berbagai ilmu yang pada hakikatnya adalah milik Dia semua.

Saya pribadi sering mengalami hal-hal yang tidak saya sangka-sangka (mungkin anda juga pernah mengalaminya). Dalam berbagai forum, saya tiba-tiba berbicara hal-hal “luar biasa” yang saya sendiri belum pernah baca atau mempelajarinya. Tetapi itu mengalir begitu saja.

Saya sadar, ini bukan pengetahuan saya. Ini kekuatan dan bantuan dari Tuhan. Dan saya sadar, wudhuk menjadi salah satu kunci pembuka ilmu-ilmu itu. Wudhuk menjadi motivasi ideologis pada setiap rutinitas pekerjaan duniawi. Inilah pintu yang mengkoneksikan kita dengan Tuhan.

2. Jadikan sholat sebagai penolongmu.

Setelah berwudhuk anda bisa langsung beraktifitas. Tetapi sebaiknya lakukan sholat sunat minimal 2 rakaat untuk memperkuat komitmen pekerjaan. Anda bisa melakukan sholat sunat hajat atau sunat nafilah.

Sunat hajat merupakan sholat yang sengaja kita lakukan karena kita sedang berhajat untuk diberi kesuksesan dan kemudahan dalam suatu urusan.

Mengajar adalah sebuah pekerjaan besar. Kita bisa  saja cuap-cuap, lalu menumpahkan 1001 rumus dan teori kepada anak didik. Namun kita tidak tau, bagian mana yang akan memberi arti bagi masa depan. Atau siapa yang akan benar-benar lahir sebagai pembawa perubahan.

Sebuah pekerjaan yang dimulai dengan sikap “berdiri” lalu “menghadapkan wajah” kepada Allah, akan memberi kelapangan bagi pelakunya. Pada banyak even, saya memiliki kemampuan untuk menyampaikan materi secara baik setelah didahului sholat sunat. Terutama pada forum seminar, diskusi dan pelatihan yang saya diminta sebagai pembicaranya.

Menyembah Tuhan, apalagi jika dilakukan secara khusyuk, bisa memberi efek tenang dan keberanian. Mungkin ini juga bisa menjadi strategi bagi anda yang sering grogi sebelum tampil di podium.

3. Membaca Hamdalah dan Sholawat.

Bisa saja kita memulai pengajaran dengan “salam” lalu langsung to the point. Saya menemukan, masih banyak guru atau dosen yang demikian. Tetapi alangkah baiknya jika didahului dengan pujian kepada Allah SWT beserta sholawat kepada Rasulullah SAAW:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Sebuah forum keilmuan yang baik adalah yang senantiasa memiliki puji kepada Tuhan dan doa kepada Nabinya. Ini semacam pengakuan akan mata rantai keilmuan dan kebaikan dari Tuhan yang pada hakikatnya kita warisi dari Sang Nabi. Tetapi keangkuhan akademik sering melupakan peran Tuhan dan Nabi. Ini terjadi pada sistem pendidikan yang terjajah oleh iklim materialis-positivis.

Ada yang berfikir, hamdalah dan sholawat adalah mukaddimah yang hanya cocok digunakan pada podium ceramah. Tidak. Setiap forum keilmuan etisnya selalu diawali dengan itu, termasuk ruang kuliah. Sebab, keilmuan kita belum tentu mengangkat kita pada derajat yang tinggi, jika apresiasi kita kepada kepada Tuhan dan Nabi masih rendah. Allah berjanji mengangkat derajat orang-orang yang mampu memadukan dimensi iman dengan ilmu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah: 11). 

Kesimpulan. Mengajar, memberi ceramah dan pelatihan, menjadi public speaker dan sebagainya memerlukan persiapan lahir dan batin. Dimensi lahir berupa persiapan bahan dan teknis penyampaian. Dimensi batin mencakupi pengayaan spiritual (berupa wudhuk, sholat, hamdalah dan sholawat).

Kedua dimensi ini memadukan iman dengan ilmu. Konsep dan praktik-praktik yang berlandaskan kedua hal ini insyaAllah akan melahirkan orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah. Dan orang-orang itu adalah anda semua. Selamat bekerja!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

————

Note: Penulis masih banyak kekurangan dan juga sedang belajar kaidah-kaidah yang baik dalam mengajar.

Advertisements

2 Comments

  1. lila

    mantaapp

    Like

    1. Tk kak lila kusuma

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s