PSM DAN KEPEMIMPINAN SOSIAL

image: saidmuniruddin.com

PSM dan Kepemimpinan Sosial
Oleh Said Muniruddin | Sambutan pada Pelantikan Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kabupaten Aceh Utara

Ilustrasi dari Bangladesh. Saya teringat dengan kisah seorang akademisi Bangladesh pada awal 1970an. Ia baru pulang dari USA menempuh program doktor atas biaya Fulbright. Ia menghadapi dilema hebat. Di kelas ia mengajari ilmu-ilmu canggih terkait Development Economics yang didapatkan dari luar negeri sana. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa ketika di luar kampus menyaksikan kemiskinan yang begitu dahsyat. Bangladesh saat itu baru berpisah dari Pakistan. Kemiskinan tinggi sekali.

Kesadarannya terhadap kondisi membuat ia memilih melakukan sesuatu yang kemudian pada 2006 membuatnya menjadi peraih hadiah Nobel. Ia memulai sebuah gerakan “social entrepreneur” sejak usia 32. Tiga puluh tahun kemudian, model microcredit dan microfinance Grameen Bank dia telah diadopsi oleh lebih dari 250 lembaga di lebih dari 100 negara. Dan angka ini terus bertambah.

Mungkin anda masih ingat sosok sederhana, pekerja sosial masyarakat dari Universitas Chittagong ini. Muhammad Yunus namanya.

Yang ingin saya sampaikan adalah; butuh kesadaran yang tinggi, pemahaman yang baik terhadap kondisi lokal, serta kerelawanan dan inovasi tiada henti untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang ada disekeliling kita.

Aceh Utara. Bangladesh tidak sendirian. Cerita kemiskinan juga terdapat di banyak negara dan daerah di muka bumi ini. Tak terkecuali Aceh, dimana Aceh Utara ini termasuk yang paling menderita.

Berikut beberapa catatan tentang kabupaten ini: (1) Memiliki jumlah penduduk terbanyak di Aceh (mencapai 11% dari total populasi di Aceh, atau sekitar 600.000 jiwa); (2) Kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Aceh (19-20%, lebih dari 100.000 jiwa miskin, dari total 800.000 jiwa yang miskin di Aceh); (3) Kabupaten dengan tingkat pengangguran tertinggi (mencapai 17%).

Ini beberapa data statistik sampai 2015 yang masih saya ingat. Saya kira tidak begitu banyak berubah sampai sekarang.

Menghadapi situasi semacam ini, tentu inspirasi dari sosok-sosok seperti Yunus masih diperlukan. Bisa saja dalam bentuk-bentuk gerakan yang berbeda lainnya. Namun nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, kesetiakawanan dan kerelawanan masih relevan diusung dalam setiap model bangunan perjuangan sosial.

Permasalaham Utama Pembangunan. Secara umum ada 3 tantangan yang dialami stakeholder pembangunan kita (pemerintah, masyarakat sipil, dan kelompok bisnis). Kesemua tantangan ini melahirkan berbagai problem sosial lain seperti masih tingginya angka kemiskinan, dsb. Tantangan utama tersebut adalah:

(1) Melemahnya karakter dan profesionalisme politik dan pemerintahan sebagai penentu utama arah pembangunan. Seperti lambannya pengesahan anggaran, pengelolaan program yang tidak efektif dan efisien. Itu belum lagi korupsi;

(2) Merosotnya nilai-nilai kultural dan kearifan masyarakat sebagai basis pembangunan peradaban, seperti gotong royong dan rasa kepedulian;

(3) Stagnannya pertumbuhan ekonomi dan inovasi pengelolaan sumberdaya produktif yang menjadi fondasi kesejahteraan. Lahan kita luas, namun tidak menghasilkan. Aktifitas ekonomi belum kreatif.

PSM sebagai Stakeholder/Mitra Pembangunan. Di Aceh sudah ada 13 Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) dengan SK Bupati/Walikota. Jumlah anggota mencapai 15 ribu, dan trendnya terus meningkat.

IPSM kabupaten/kota yang merupakan partner strategis dari Dinas Sosial ini juga telah mendapatkan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) serta training penguatan kapasitas yang setiap tahun dilakukan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. IPSM Provinsi (yang diketuai Safwan Nurdin) melalui Dinas Sosial Aceh juga turut membantu IPSM kabupaten/kota dengan beberapa perlengkapan kerja sederhana. Semoga kedepan dukungan bisa terus diberikan.

Potensi PSM Aceh Utara. IPSM Aceh Utara sejauh ini tercatat sangat aktif dengan keanggotaan paling banyak. Banyak program yang sudah dilakukan i.e, bedah rumah, terlibat dalam penanganan bencana banjir dan lainnya. Kiranya kepengurusan IPSM Aceh Utara 2017-2022 dapat terus menunjukkan kinerja yang membanggakan kita semua.

Tantangan Pengembangan PSM. Salah satu tantangan dalam pengembangan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) adalah merubah mindset dari sekedar “worker” bermental material, ke worker yang berjiwa “leader”. Profesi PSM bukan sebagai pekerja karena panggilan anggaran semata, yang baru bergerak kalau ada gaji, ada perintah, ada pada struktur, dsb.

Pemerintah memang harus memberikan perhatian penuh pada kelembagaan seperti ini agar tujuan-tujuan pembangunan sosial dapat lebih mudah diwujudkan dalam kerangka kemitraan. Namun PSM juga harus memahami bahwa mereka bekerja lebih karena panggilan hati, panggilan Tuhan. Bukan semata-mata karena tanggungjawab kepada birokrasi.

Menantang memang. Karena selain memegang mandat dari langit; PSM juga harus memiliki lobbi, koordinasi dan partnership yang baik dengan kepala daerah dan dinas terkait.

Jika ini dipahami, maka PSM akan mengalami transformasi peran menjadi pekerja-pekerja sosial yang memiliki kualitas leadership. Bekerja secara kreatif, penuh inisiatif dan inovatif.

Keberadaan PSM harus inspiring. Karena sejatinya, setiap pekerjaan yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mensejahterakan masyarakat adalah sebuah bentuk ketauladanan bagi yang lain. Virus ketauladanan sosial semacam ini yang harus terus ditularkan, agar bangsa ini terjangkiti demam untuk berbuat baik kepada sesama. Sebab, kalau kita semua berbuat baik, maka tidak ada anak yang putus sekolah. Tidak ada yatim dan fakir yang kelaparan. Tidak ada dhuafa yang tidak punya rumah. Tidak ada pemuda yang terkena narkoba. Kalau kita semua peduli.

Pada pelatihan selanjutnya kita akan bahas bagaimana cara membangun PSM sebagai kumpulan “social leaders” yang memiliki kompetensi kenabian: punya kemampuan merasakan penderitaan dan rasa belas kasihan kepada sesama –raufur rahim (QS. at-Taubah: 128).

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 128).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
Said Muniruddin adalah Dosen FEB Unsyiah, Rector pada http://www.saidmuniruddin.com “The Zawiyah for Spiritual Leadership”, dan support team pada Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan IPSM Aceh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s