LEBAH DAN PERJALANAN “SALIK”

image: independent.co.uk

Lebah dan Perjalanan “Salik”
Oleh Said Muniruddin 

ADA 2 hal yang menarik dari lebah. Pertama, lebah adalah makhluk yang hidup dengan bimbingan wahyu (QS. An-Nahl: 68):

 وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَرْجِعُون

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia” (QS. An-Nahl: 68).

Kedua, lebah merupakan sosok “salik” di jalan Tuhan (fasluki subula rabbika zulula). Demikianlah perumpamaan bagi manusia, bahwa jika kita hidup dengan berpedoman kepada wahyu serta bersedia menempuh jalan kebenaran (salik), maka sesuatu yang keluar dari diri kita (baik itu pikiran, ucapan maupun tindakan) adalah obat bagi manusia – alwanuhu fihi syifaa linnas (QS. An-Nahl: 69)

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu (fasluki) yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An-Nahl: 69).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ