ISLAM, DOKTRIN DAN PERADABAN

image: youtube.com

Islam, Doktrin dan Peradaban
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kita ada sedikit problem dengan doktrin agama, sehingga sulit maju. Doktrin tersebut memang membuat rasa keislaman kita sangat kental, tapi dalam berbangsa tidak sampai membuat kita profesional.

Setiap saat kita di doktrin untuk menyembah Allah (hayya ‘alash shalah). Alhasil, sebagaimana kita lihat, umumnya kita memang rajin shalat. Karena doktrin ini juga, rumusan tauhied sampai kepada fiqh ibadah sudah berkembang dalam dunia Islam dengan sangat baik. Bahkan melahirkan sejumlah mazhab fiqh.

Setiap saat kita juga didoktrin untuk menang bertempur (hayya ‘alal falah). Alhasil, kalau bagian perang kita pasti menang. Perang salib kita unggul. Menghadapi Portugis, Belanda dan Jepang kita juga berani. Semangat jihad umat Islam untuk mencapai kemenangan cukup tinggi. Begitu tingginya semangat ingin menang, sampai-sampai diajak ISIS untuk jihad konyol ke Suriah juga mau. Menghadapi isu PKI juga tak kalah gentar. Siap mati!

Tapi kita tak punya doktrin untuk mengisi kemenangan dengan cara-cara yang profesional. Tak ada seruan bagi kita untuk mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baik amal (hayya ‘alal khairil ‘amal). Alhasil, setelah merdeka, korporasi-korporasi asinglah yang profesional mengisi sendi-sendi kehidupan bangsa kita. Karena doktrin profesionalitas ada sama mereka. Doktrin kita hanya sampai pada level suruh sholat dan mati syahid. Kita tak punya fiqh yang kuat untuk profesional menangani muamalah (politik, sosial dan ekonomi). Lihat dimana-mana, betapa amburadul dan buruknya pelayanan publik. Standar Pelayanan Minimalnya (SPM) tidak ada. Kalau ada juga tak sungguh-sungguh dijalankan. Fiqh kita hanya populer sampai urusan shalat dan jihad. Kita hanya bisa khusyu’ untuk urusan shalat. Kalau melayani masyarakat sudah tidak fokus. Kalau Allah memanggil, kita cepat-cepat ke masjid. Disaat masyarakat butuh, respon kita sangat lambat. Apakah begini cara beragama?

Maka kalau ingin maju dan lebih berperadaban, salah satunya (seperti diriwayatkan Syaikh Shaduq, “Man La Yahdhurul al-Faqih”, Jil. 1, Hal. 289-291, Jamiah al-Mudarrisin, Qum, 1413 H) adalah dengan menyempurnakan doktrin keislaman kita sampai kepada tahap: “hayya ‘ala khairil ‘amal” (mari mengisi pembangunan dengan sebaik-baik amal). Bagi kita Sunni tentu tidak sampai menambah kalimat adzan, melebihi dari yang biasa dikumandangkan. Namun kesadaran khairil amal (amal shaleh atau ihsan) dalam bekerja, harus terus-menerus ditanamkam dalam SOP birokrat, dalam jiwa dan pikiran umat. Be professional!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

3 Comments

  1. Jailani Alfansuri

    Kemampuan mempertahankan yang ada doktrinya pancasila dgn konsep binneka tunggal ika. Namun demikian kita juga sadar penyerangan doktrin asing dengan budaya ke arab-araban dan kebarat-baratan membuat binneka tunggal ika mulai goyang.

    Like

    1. Thank Bro jailani!

      Like

  2. faisal

    Syekh saduq itu klu tdk salah adalah ulama besar syiah pada abad 3 atau 4H, knp kita hrs mengikuti ulama syiah akhi saed,,?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s