TONG KOSONG NYARING BUNYINYA

image: Kultum di Masjid Al-Mizan FEB Unsyiah, Selasa 17 April 2018 (foto by Safwan Nurdin).

Tong Kosong Nyaring Bunyinya
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pernah mendengar pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”? Itulah ibadah yang geraknya bagus dan bacaannya nyaring, tetapi tak ada ruhnya.

Bayangkan sebuah kaleng minuman atau makanan yang disain bentuknya keren, labelnya atraktif, dengan tulisan dan warna yang mantap. Tapi isinya tidak ada.

Itulah shalat dan ibadah lainnya, yang fiqhnya sudah bagus (saya tidak katakan sempurna, karena sempurna itu tidak pernah ada batasnya), tetapi kosong dari ikhlas. Ikhlas inilah yang mengisi semua relung gerak fisik dan bacaan kita untuk benar-benar hadir di hadapan-Nya. Ikhlas yang mengantarkan kita sampai kepada-Nya. Ikhlas ini yang terkonsumsi (diterima) disisi Allah ta’ala. Bukan kalengnya.

Ikhlas ini sulit terjadi jika ibadah masih dipersepsikan sebagai kewajiban atau beban tugas. Ikhlas muncul jika kita sudah pada tingkat kesadaran bahwa shalat itu ekspresi dari rasa syukur. Ada perbedaan antara perintah dengan syukur. Kalau perintah datangnya dari Allah. Sementara rasa syukur muncul dari diri kita sendiri. Menyembah Allah harus karena kesadaran kita, bukan karena diperintah. Itu ikhlas (taqwa).

Ibadah yang sempurna tentu ibadah yang kalengnya baik serta isi dalamnya bagus. Karena juga tidak mungkin isinya bagus, jika tak ada gerak dan bacaan yang membungkus. Ikhlas itu sendiri tidak ada, jika tidak ada bentuk-bentuk amaliah. Sebuah qurban sembelihan misalnya, ada kadar kepatutan, baik usia maupun kondisi fisik hewan. Namun lagi-lagi, yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging yang sifatnya lahiriah itu.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj: 37).

Hanya saja kita tak pernah tuntas pada wilayah kajian dan praktik lahiriah (termasuk dalam urusan shalat), sehingga tak pernah masuk ke substansi ibadah berupa praktik-praktik pengayaan jiwa melalui bantuan guru-guru ruhani. Akhirnya lahirlah produk-produk ibadah made in China: packaging-nya bagus, isinya bermasalah. Ibadah seperti ini kita khawatirkan tidak pernah sampai kepada Allah (hakikah), karena mentok pada formalitas (syariah).

Dari bentuk-bentuk ibadah “tong kosong” inilah lahir orang-orang yang “nyaring bunyinya.” Karena jiwanya tidak menjadi halus dalam proses ibadah. Adabnya tidak berkembang, dalam makna semakin radikal, suka mengkafirkan dan membid’ahkan orang.

Karena jiwa kita masih kasar, maka kita jarang (atau mungkin tidak pernah) mengalami shalat yang sampai mencucurkan air mata dan mengalami getaran di seluruh tubuh karena rasa rindu dan harap kepada Allah. Getaran dan rasa takut justru muncul saat bertemu hantu. Ternyata kita ini memang para penyembah hantu!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s