TUHAN DALAM DIMENSI KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK (TESTIMONI)

image: Dasar-Dasar Mengenal (Kognitif), Merasakan (Afektif) dan Bergerak (Psikomotoris) bersama Tuhan (Aceh Besar, 25 April 2018).

Tuhan dalam Dimensi Kognitif, Afektif dan Psikomotorik (Testimoni)
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada tiga (3) domain yang disasar dalam sebuah proses belajar: kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada hakikatnya, ketiga ini merupakan target pencapaian pengetahuan ketuhanan dalam sebuah pendidikan. Namun karena kita sudah begitu larut dalam filsafat pendidikan barat yang positifis-materialis, dimensi Tuhan tereduksi dari ketiganya. Sehingga lahirlah anak didik yang cerdas, berkarakter dan terampil; namun mengalami diskoneksi (teralienasi) dari Tuhan. Lihat saja contoh hasil dari sistem edukasi barat. Masyarakatnya berilmu, punya sikap dan skillful. Tapi “kosong” (jiwanya). Di tempat kita juga begitu, atau bahkan lebih kacau lagi.

Kognitif dalam filsafat materialis-positifis hanya dipahami sebatas “kecerdasan otak” dalam dimensi duniawi. Sementara afektif sebagai “sikap” yang lahir dari berbagai kesadaran emosional, yang nilai-nilainya terkadang cenderung rasional-pragmatis. Sedangkan psikomotorik dipercaya sebagai “keahlian” (skill) dalam bertindak setelah memperoleh pengetahuan dan memiliki sandaran nilai. Semua konsep ini cenderung berdimensi material (duniawi).

Dalam perspektif kearifan Islam (sufisme), kognisi adalah kemampuan untuk “mengenal Tuhan”. Ini yang disebut awaluddin makrifatullah. Sebuah proses awal memahami Tuhan secara rasional, atau punya konsep yang benar tentang Tuhan (falsafi). Pengetahuan akan adanya Tuhan menjadi basis awal untuk semua kebenaran bagi kehidupan kemanusiaan. Sementara afeksi merupakan kemampuan untuk “merasakan Tuhan” (pengetahuan kehadiran). Hanya pada dimensi qalbu atau jiwa memungkinkan terjadinya internalisasi sifat-sifat Tuhan sehingga membentuk akhlak. “Akhlak” punya kemiripan kata dengan “khalik”. Artinya, hanya mereka yang mampu merasakan kehadiran sang Khalik yang dapat memiliki nilai-nilai, sikap dan perilaku yang sempurna. Sedangkan psikomotorik adalah kemampuan untuk “membawa Tuhan” dalam setiap aktifitas dan gerakan. Ini yang disebut profesional/ahli. Yaitu, selain bekerja karena memang punya pengetahuan dan sikap, juga merasa diawasi serta dibantu oleh Tuhan.

Materi “Tuhan dalam Dimensi Kognitif, Afektif dan Psikomotorik” ini disampaikan pada Training Senior Course (SC) HMI Cabang Kota Jantho, 25 April 2018. setelah memahami konsepsi dasar ini, para peserta diharapkan dapat menemukan berbagai metode yang tepat agar bisa “memperkenalkan Tuhan” (secara rasional/teoritis/argumentatif) kepada anak didik. Kemudian juga dengan metode tertentu dapat membantu para kader “merasakan kehadiran Tuhan” (secara intuitif). Terakhir, membina kader agar terampil berorganisasi dan bekerja dengan mengikutsertakan Tuhan dalam berbagai aktifitas sosial keorganisasian. Berikut beberapa testimoni peserta terkait materi ini.

*****

“Pengertian yang jauh berbeda dari biasanya saya temukan malam ini bersama kakanda Said Muniruddin mengenai kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasa takut untuk mengemban amanah menjadi seorang instruktur di HMI mulai muncul. Ini dikarenakan saya sendiri masih jauh dari capaian memahami Tuhan. Apalagi harus menghantarkan calon kader untuk tujuan itu. Namun kedepan saya usahakan untuk memahami, merasakan sampai kepada bergerak bersama Tuhan secara lebih baik. Terima kasih atas pemahaman baru yang kanda berikan.” – Junaifi, Takengon.

“Pemaparan materi yang abang sampaikan begitu menarik. Berani keluar dari kebiasaan yang selama ini mengekang dunia spiritual calon-calon kader bahkan kader yang sudah mapan ber-HMI. Meskipun hanya pada 3 kajian (kognitif, afektif, psikomotorik) namun sangat berpengaruh terhadap masa depan dunia perkaderan HMI. Apalagi bagi kami calon instruktur HMI yang akan menjadi ulama (versi abang) HMI. Saya dapat menyadari bahwa kegersangan berorganisasi begitu terasa setelah mendapat siraman spiritual malam ini. Hanya saja masih bertolak belakang dengan kultur yang telah mengakar kuat ditengah-tengah kader saat ini. Ini tentunya akan menjadi tugas yang sangat menantang kedepan. Semoga abang dapat terus menjadi guru untuk menajamkan spiritual kader. Oh iya, ketika abang tadi mengatakan bahwa abang adalah pencinta khazanah Ahlul Bait, saya sudah menebak. Mohon juga bimbingannya. Semoga sehat dan sukses selalu.” – Syahrial Arif Hutagalung, Medan.

“Kesan terhadap materi yang kanda sampaikan: (1) Alhamdulillah saya menemukan hal baru dan luar biasa menambah wawasan  terkait metode pendidikan yang berdimensi spiritual; (2) Alhamdulillah dengan apa yang kanda sampaikan tadi membuat saya lebih memahami arti pentingnya membaca untuk mengetahui semua hal.” – Yusriyal, Pekanbaru.

“Kesan saya, bahwasanya SQ (spiritual quotient) sangatlah wajib untuk menjadi metode pembelajaran dalam training-training HMI. Karena faktanya, kader-kader HMI saat ini, begitupun saya, keilmuan tentang ke-Islaman masih sangat minim. Bagi saya pertemuan malam ini menjadi sebuah motivasi untuk berhijrah lalu istiqomah. Semoga kita berjumpa lagi.” – Idham Hariadinata, Ciputat.

“Dari apa yang saya dengar, liat dan rasakan malam ini; sangat berbeda nuansa sebuah forum karna dikelola dengan cara spiritual. Materi dan metode yang sangat luar biasa. Mohon do’a dari kanda supaya saya mampu menekuni jalan dan memiliki cara berfikir yang lebih baik lagi dalam kehidupan ini.” – Usman, Meulaboh.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s