PANGGILAN ZIARAH

image: (almarhum) Said Ali Abdullah dan Cut Wan Khadijah.

Panggilan Ziarah
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pada suatu pagi (Selasa, 15/5/2018), tiba-tiba air mata bercucuran. Saat itu saya sedang mengendarai mobil menuju Kampus Darussalam. Saya merasa seperti ada yang memanggil pulang. Kelihatannya ada yang merindukan. Sayapun tiba-tiba sangat rindu kepada mereka. Arah sinyalnya dari Lameue, Pidie.

Maka tanpa ada rencana, setelah mengambil daging Makmeugang, saya menjemput anak dan istri di Kajhu agar ikut serta pulang. Menjelang siang, mobil saya pacu menuju Sigli. Sepanjang perjalanan saya berdoa agar langkah ini punya arti.

Sempat singgah shalat dhuhur di Saree dan juga makan minum di Horas. Sekitar pukul 3 siang Swift 282 mendarat mulus di Rumoh Raya. Seperti biasa, terlihat ramai anak muda yang sedang ‘ziarah’ ke rumah itu.

Sempat shalat sunat beberapa rakaat di pelataran bawah rumah Aceh ini. Saya berdo’a agar lingkungan ‘istana’ ini dilindungi Allah, dijauhkan dari aktifitas tidak mulia.

Saya beranjak menuju kuburan Lampoh Drien. Tapi entah kenapa, tiba-tiba saya terlebih dahulu meminta parang sama juru kuncen keraton Al-Lamuri, Said Zulfikar. Ini sesuatu yang tidak lazim. Tidak pernah sebelumnya bawa parang untuk pergi ziarah. Biasanya cukup dengan membawa Alquran atau buku Yasin.

Ternyata benar. Sesampai disana, kuburan sudah tertutup semak benalu. Aksesnya juga terhalangi oleh rebahan batang bambu. Sebagian kuburan yang ada disana malah tak terlihat lagi batu nisannya.

Sekitar satu jam saya babat dan bersihkan, termasuk mengutip sampah dedaunan. Saya sendirian. Tapi belakangan Bang Cut datang, dan mengaku tak sempat membersihkan makam sejak kepulangan dari Sabang.

Saya tidak menyalahkan siapapun. Saya justru menangkap isyarat, bahwa mungkin kali ini sayalah yang dibisikkan untuk hadir guna sedikit merapikan kondisi makam. Biasanya selalu Said Zulfikar yang mengerjakan tugas itu.

Saya semakin merasakan bahwa semua ini ada hikmahnya. Kepulangan saya pada hari Makmeugang menjelang puasa ini adalah sebuah langkah untuk meminta maaf kepada para arwah indatu dan ortu. Khususnya kepada waled, yang saya mungkin banyak sekali melukai hatinya dalam sikap dan tutur kata.

Sebab, sudah lama saya merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam hidup saya. Sehingga saya sulit sukses untuk mencapai beberapa cita-cita. Memang begitu. Kalau kita tidak bahagia, sering gagal atau mengalami hidup yang tidak memuaskan, itu diakibatkan oleh dosa-dosa kepada Tuhan. Atau, karena ada hak-hak saudara atau orang disekitar yang kita abaikan. Apalagi kalau menyakiti hati orang tua, kita pasti celaka.

Saya sudah hampir berumur 40 tahun. Sudah pasti banyak sekali cacat akhlak dalam rentang usia ini. Saya ingin menempuh jalan untuk lebih dekat kepada Allah. Semua orang sebenarnya ingin seperti itu. Belakangan, saya mulai lebih mendalami tarekat guna memahami rahasia diri. Tarekat adalah amalan zikir yang dulu dibawa oleh para indatu yang membuat mereka mulia dihadapan Tuhan dan masyarakatnya. Tarekat atau zikir adalah juga pakaiannya para habaib, yang kini banyak dari mereka telah meninggalkannya.

Itulah mengapa, pagi ini saya diarahkan oleh sebuah pesan misterius untuk pulang menghadap orang tua, meminta maaf kepada mereka, sebelum melangkah lebih lanjut untuk menjumpai Allah ta’ala. Apalagi dua hari lagi sudah masuk Ramadhan mulia, yang Allah sudah menunggu kita disana.

Akhirnya menjelang magrib semua urusan di Lameue selesai. Habib Ahmad dan Nyakpo Fatimah Rumoh Raya pun masuk mobil, lalu pamit sama Abua. Tiba-tiba hujan lebat, setelah sebelumnya cuaca dalam keadaan baik-baik saja. Kami pun berangkat.

Istri saya Farhana juga sebelumnya sempat keheranan, saat memandikan Fatimah dengan air sumur Rumoh Raya. Biasanya Fatimah akan menangis atau merengek-rengek setiap bersentuhan dengan air sejuk. Tapi khusus ie mon Rumoh Raya, sejak tuangan air pertama ia terlihat tersenyum bahagia. Sepertinya sangat menikmati setiap tetes air dingin yang mengalir di tubuhnya.

Rumoh Raya memang tiada duanya. Ada aura spiritual yang ditinggalkan oleh para orang tua.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s