THE QURANIC CODES

image: samad malik photography

“The Quranic Codes”
Oleh: Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Sebagaimana sebuah makalah ilmiah, Alquran juga memiliki abstrak tentang keseluruhan isinya. Yaitu “Alfatihah” yang terdapat di halaman pembuka. Seperti kata Nabi SAWW, “Seluruh rahasia alam semesta ada dalam kitab-kitab samawi. Seluruh rahasia kitab-kitab samawi terdapat dalam Alquran. Seluruh rahasia Alquran terkumpul dalam Alfatihah…”. Jadi, Fatihah itu resume, abstrak atau executive summary, dari keseluruhan isi Alquran.

Alquran merupakan petunjuk bagi umat manusia. Sebagai petunjuk, maka Alquran harus menjadi sebuah kitab yang bisa dipahami oleh manusia. Disinilah letak masalahnya, ayat paling pertama pada lembaran pertama setelah abstrak (Fatihah) justru tidak ada yang paham. Ayat itu adalah “Alif Lam Mim.”

Apa artinya itu? Begitu membingungkan para mufassirin, sehingga Departemen Agama (Depag RI) membuat catatan kaki: “hanya Allah yang tau.” Kok hanya Allah yang tau? Bukankah Alquran diturunkan untuk menjadi pengetahuan bagi kita? Jika ayatnya tidak kita ketahui maknanya, maka untuk apa ayat itu bagi kita?

Memang Alquran terdiri dari ayat-ayat yang muhkamat (jelas makna) dan mutasyabihat (samar-samar maknanya). Kalau ayat seperti “Alif Lam Mim” memang absolutely misterious. Ada lainya seperti “Alif Lam Ra”, “Alim Lam Mim Ra”, “Alif Lam Mim Shad”, “Shad”, “Ha Mim”, “Tha Sim Mim”, “Kaf Ha Ya Ain Shad”, “Ha Mim Ain Sin Qaf”, “Tha ha”, “Yasin”, “Nun” dan “Qaf”.

Aneh memang. Diawal Alquran langsung diawali dengan sebuah ayat yang super mistis. Tidak mungkin Allah berbicara yang tidak perlu atau tak ada arti. Justru pada ayat-ayat seperti ini terkandung rahasia tertentu dari Tuhan semesta alam.

Agak unik juga Allah itu. Apa tujuan Dia diawal kitab suci-Nya langsung diawali dengan sebuah “kode” rahasia. Kelihatannya Dia ingin mengatakan kepada kita, kitab ini isinya penuh dengan rahasia. Tergantung kemampuan kita untuk memecahkan setiap kodenya. Atau mungkin setiap benda yang penting ada password untuk bisa diakses isinya.

Begitulah adanya. Alquran ditangkap oleh para pembaca dan penafsir sesuai kemampuannya. Ada yang hanya mampu memahami pesan-pesan tekstual dan lahiriah saja, mungkin hanya itu kebutuhannya. Sedikit yang bisa masuk ke dimensi batin Alquran. Tergantung kedalaman agama dan kemampuan spiritual seseorang untuk menembusnya.

Tentu tidak ada yang bisa menjangkau rahasia Alquran yang suci, kecuali oleh orang-orang yang suci. Ini kenapa dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Nabi SAWW mengatakan, “Kutinggalkan kepada kalian dua perkara, yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu, Alquran dan Ahlul Bait Suci.”

Alquran adalah teks suci yang memiliki pesan-pesan tersembunyi. Sementara orang-orang suci yang ditinggalkan Nabi SAWW kepada kita merupakan orang-orang yang memahami itu semua secara pasti. Bukan mereka-reka. Sebab, jika banyak ayat hanya Allah yang tau artinya, maka Alquran tidak akan menjadi petunjuk yang sempurna. Ayat yang sekilas terlihat memiliki makna lahiriah, pada dasarnya juga memiliki makna-makna batin yang berlapis-lapis.

Itulah pentingnya keberadaan orang-orang suci sepanjang masa. Termasuk paska Nabi sampai kiamat nanti. Mereka selalu ada dan tetap menjadi sosok-sosok yang memastikan Alquran selalu dipahami. Orang-orang suci ini bisa jadi disebut sebagai imam atau para wali.

Jadi, hanya kesucian yang bisa membuat orang-orang tertentu bisa menjangkau makna-makna tertinggi dari Alquran. Kita yang ingin menyelami samudera Alquran harus terus berguru, mencari orang-orang suci yang memahami makna-makna batin ayat-ayat suci:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Alwaqi’ah: 79).

***

Ramadhan merupakan bulan tazkiyatun nafs, bulan penyucian diri. Pada bulan ini paling memungkinkan bagi kita untuk bisa “menyentuh” makna-makna tersembunyi dari Alquran, kalau kita sudah disucikan (menemukan Lailatul Qadar).

Karena Alquran yang ada pada dimensi tertinggi hanya ditaqdirkan turun ke dada orang-orang suci. “Inna andzalnahu fi lailatil qadri” (QS. Alqadar: 1). Muhammad SAAW menerima Alquran setelah proses khalwat (suluk) di Gua Hira’. Begitu pentingnya ritual “menyendiri” pada bulan ini guna menangkap entitas-entitas suci dari alam yang lebih tinggi. Prosesi ini masih diteruskan dalam berbagai ordo tarikatullah.

Orang-orang ini mengejar pengetahuan-pengetahuan tertinggi dari Tuhannya. Mereka ingin mengisi dada dengan Cahaya. Sebab, mereka yang dada (jiwanya) dipenuhi nilai-nilai ilahiyah yang turun pada malam qadar, pasti akhlaknya menjadi mulia. Maka orang-orang seperti ini akan cenderung berakhlak dengan akhlak Alquran. Karena sudah ada Tuhan dalam qalbu mereka.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

3 Comments

  1. Organ dan tubuh ini memang normal,, tapi tidak dengan saudara ruh saya
    Manusia sudah di beri kenikmatan sendiri sendiri masih saja merebut punya orang
    .
    Aku memohon dengan halus- ;
    Tolong kembalikan semua itu butuh mu hanya merasakan apa yang aku rasa, bukan untuk pemahaman ilmu.

    Liked by 1 person

  2. Tidak akan makan jika tidak di kembalikan dan di hilangkan sihir ini.

    Liked by 1 person

  3. Manusia koq lucu plus aneh , (ngene jare ngunu ngunu jare ngene) percuma saya makan nasi jika kenyangnya yang merasakan orang lain. (Madness)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s