PUASA ADALAH PERJALANAN MENIRU (MENUJU) ALLAH

image: Santapan rohani paska berbuka bersama santri Dayah Sufimuda (Ahad, 20/5/2018, foto by tgk. khalis)

Puasa adalah Perjalanan Meniru (Menuju) Allah
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Semua ibadah pada hakikatnya untuk kita sendiri. Allah tidak butuh penghambaan (ubudiyah) kita. Kita sendiri yang butuh. Shalat misalnya, Allah tidak berkepentingan dengan rukuk sujud kita. Dia tetap Maha Besar walaupun tidak pernah kita sembah. Kesadaran syukur kitalah yang melahirkan penyembahan kepada-Nya.

Hanya Allah yang pantas berpuasa

Berbeda dengan shalat dan amalan lainnya, “Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya” (Hadis Qudsi, Riwayat Bukhari dan Muslim):

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

Puasa adalah ibadah yang hakikatnya bukan untuk kita, melainkan untuk Allah. Mengapa? Karena puasa adalah ibadah meniru Allah. Allah tidak makan dan tidak minum. Dia hidup dengan cara itu.

Sedangkan manusia beda. Kita perlu makan dan minum untuk berkembang dan bertahan hidup. Tanpa makan dan minum bisa lemas, mati kita. Kira-kira begitu. Makanya, “Puasa itu (hanya cocok) untuk-Ku,” kata Allah.

Puasa adalah perjalanan meniru (menuju) Allah

Makan identik dengan proses penimbunan yang sering berujung pada penyakit. Sementara puasa sebagai lambang pengosongan (penyucian). Dengan berpuasa kita meniru (menuju) Allah yang Maha Suci. Sampai pada suatu titik dimana lapar dan zikir mengantarkan kita kepada sebuah dimensi yang begitu “feminin”, yang diistilahkan sebagai Malam Qadar. Malam ketetapan. Malam yang dijanjikan. Sebuah dimensi dimana kita memperoleh kemuliaan (qadar), termasuk perjumpaan dengan makhluk-makhluk lain (malaikat-malaikat dan Ruh Kudus) yang juga berperilaku sama dengan kita, tidak makan dan minum serta senantiasa bertasbih kepada-Nya.

Ketika sampai pada dimensi malakut ini, berarti kita sudah setingkat (se-alam) dengan mereka. Kemudian perjuangan (mujahadah) yang berterusan bisa membawa kita naik ke alam yang lebih tinggi dari makhluk-makhluk suci ini. Sehingga ketika sampai pada dimensi Rabbani, manusia menjadi lebih mulia dari malaikat. Karena kita sudah bersama Allah. Sebab tidak hanya malaikat; qalbu para nabi, imam, wali dan orang-orang shaleh juga tidak pernah berhenti bertasbih kepada Allah. Ada dimensi malaikat dalam qalbu “adam”.

Pada dimensi (maqam) yang terakhir ini kita sudah diproses menjadi “sebaik-baik makhluk” (QS. At-Tin: 4). Bukan dari sisi biologisnya (puasa dan zikir memang membuat raga kita sehat), tetapi lebih kepada sisi “insan” (makhluk spiritual):

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” QS. At-Tin: 4

Pada ayat yang lain Allah menjelaskan, bahwa kita tidak hanya diciptakan dalam dimensi material. Jiwa kita juga mengalami proses penyempurnaan. Proses evolusi kesempurnaan ini diawali dari penyucian diri melalui praktik tasbih menyebut-menyebut Asma Tuhan. Pada ujung prosesnya kita akan dipertemukan dengan momentum “qadar” serta dilimpahi berbagai “petunjuk”:

 سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى . الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ . وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

“(1) Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, (2) yang menciptakan dan menyempurnakan, (3) dan yang menentukan kadar dan memberi petunjuk” (QS. Al-‘Ala: 1-3)

Balasan untuk yang mensucikan diri

Ayat 1-3 Surah Al-‘Ala di atas menyebutkan dua balasan bagi mereka yang senantiasa mensucikan diri dan meniru/menyerap karakter Allah (baik melalui zikir, puasa, dan ubudiyah lainnya). Pertama, mereka akan diberi qadar (kemuliaan/karamah) seperti kemampuan menyembuhkan. Banyak kita temukan orang-orang yang divonis sakit yang tidak bisa ditanggulangi secara medis, namun “atas izin Allah” bisa disembuhkan melalui metode makrifat. Para sufi umumnya memang ahli dalam pengobatan. Ada banyak bentuk karamah lainnya yang kita temukan sepanjang sejarah pada diri seorang ahli zikir.

Kedua, orang-orang ini juga memperoleh petunjuk (tanda-tanda) dari Allah. Ahli tarikat/sufi paling mengenal tentang “tanda-tanda” ini. Melalui sebuah sinyal tertentu padda tubuh mereka, mereka mengetahui suatu pekerjaan baik atau tidak baik. Mereka bisa membaca orang, juga membaca alam. Mereka bahkan mengetahui kapan suatu kejadian, termasuk kapan seseorang atau dirinya akan meninggal. Hal ini juga disebutkan dalam Fushshilat 53:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53).

Banyak keanehan atau hal-hal suprarasional yang melingkupi kehidupan seorang sufi. Lihat bagaimana para nabi, imam, wali Allah dan orang-orang shaleh melakukan hal-hal “luar biasa”. Ini biasa isebut sebagai mukjizat, karamah, atau maunah. Kalau sudah dekat dengan Allah, maka akan punya kemampuan untuk melihat dengan ‘mata’ Allah, mendengar dengan ‘telinga’ Allah. Mereka juga mengetahui berbagai hal terkait dunia metafisis (gaib/mistis/esoteris). Tirai antara diri mereka dengan Allah sudah teringkap (kasyaf) sehingga senantiasa memperoleh pengetahuan laduni (hudhuri).

Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai telah “beriman” secara meyakinkan dan juga “berilmu” secara mendalam, sehingga ditinggikan derajatnya oleh Allah (.. “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..” QS. Mujadilah: 11). Karena iman dan ilmu yang seperti itu, maka amalan orang-orang ini, terutama dalam dimensi sosial, juga akan terlihat sangat mengagumkan. Perilakunya penuh dengan sifat santun dan kasih sayang, raufurrahim. Itulah perilaku para nabi dan orang-orang suci.

Orang-orang seperti ini juga disebut sebagai orang-orang yang beruntung (Qad aflaha man tazakka, wa zakarasma rabihi fashalla, QS Al-‘Ala: 14-15). Mereka beruntung karena berani dan mau berusaha mendekat kepada Tuhannya melalui proses penyucian diri (termasuk dengan puasa) serta senantiasa menyebut Asma Tuhan (zikir). Dan kemudian mereka menemukan hakikat shalat (khusyuk/fana dalam perjumpaan dengan Allah). Orang-orang seperti ini hidupnya bahagia. Merasakan tenang, damai dan sejahtera hingga fajar hari akhir. Salamun hiya hatta madhla’il fajr (QS.Alqadar: 5).

Kesimpulan

Maka jika puasa dan berbagai bentuk dan proses ibadah tidak sampai membuat kita menjadi “sebaik-baik makhluk” (i.e., memperoleh qadar/kemuliaan/karamah serta petunjuk dari Allah), maka perlu ditinjau ulang, apa yang salah dengan ibadah kita. Bukan berarti kita beribadah untuk mencari karamah. Namun pantas dievaluasi, mengapa Allah tidak bersedia hadir dalam jiwa kita. Mungkin ada yang tidak sempurna dalam proses perjalanan kita para salik ini menuju Allah. Mungkin kita masih beribadah secara spekulatif, tanpa ilmu dan mursyid.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s