MENGAPA IMAM SYAFI’I BERSEDIA DISEBUT SYIAH?

Mengapa Imam Syafi’i bersedia disebut Syiah?
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

Suatu ketika Imam Syafi’i berkata: “Jika karena mencintai Keluarga Nabi disebut Syiah, maka saksikanlah oleh kalian wahai jamaah jin dan manusia, aku adalah Syiah”.

Jadi pengertian Syiah itu sederhana sekali: “mencintai keluarga Nabi”. Siapapun yang mencintai keluarga Nabi dapat dilabeli Syiah. Oleh sebab itulah Imam Syafi’i bersedia disebut sebagai Syiah, karena beliau mencintai Keluarga Nabi. Sebenarnya, Syiah sendiri saya lihat juga bersedia disebut Ahlu Sunnah, karena apa yang mereka praktikkan juga diyakini bagian dari sunnah/perintah Nabi SAW.

Jadi, Syiah dapat diartikan sebagai bentuk khas dari spirit keislaman melalui jalur kecintaan (ketauladanan) kepada keluarga Nabi.

Terkait makna “mencintai” tanyalah orang-orang yang sedang jatuh cinta. Mereka akan melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Kalau biasa-biasa saja, itu bukan cinta. Mungkin anda sendiri pernah mengalami bagaimana rasanya jatuh cinta. Banyak hal tidak rasional yang mungkin anda lakukan ketika jatuh cinta. Begitu juga perilaku orang-orang yang mencintai Keluarga Nabi, banyak hal ‘berlebihan’ yang mereka lakukan atas dasar cinta. Itulah Syiah.

Tetapi, kecintaan kepada Keluarga Nabi bukan monopoli Syiah saja. Sunni juga demikian. Banyak orang ditengah komunitas Sunni yang punya perilaku sama. Ada shalawat, doa dan ritual sebagai bentuk cinta dan pengagungan kepada Keluarga Nabi.

Jadi, Sunni Syiah sebenarnya sama saja. Sama-sama sama cinta kepada Keluarga Nabi. Sebenarnya, hanya ada satu mazhab dalam Islam, yaitu mazhab pecinta Keluarga Nabi.

Hanya saja, ada diantara mereka yang mencintai Keluarga Nabi secara khusus melalui jalur “kepengikutan” (Syiah) kepada salah satu sahabat yang bernama Ali. Ada juga yang secara umum melalui referensi berbagai tradisi Nabi (Sunnah) dari sumber-sumber sahabat lainnya.

Ciri umum Syiah atau Sunni adalah sama-sama mencintai Keluarga Nabi. Kalau tidak mencintai Keluarga Nabi, maka itu bukan Syiah ataupun Sunni. Bukankah dalam setiap shalat kita senantiasa diperintahkan untuk bershalawat kepada Nabi dan Keluarganya? – Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Apakah ada kelompok yang membenci Keluarga Nabi?

Ada. Itulah kelompok yang sempat berkuasa pada masa Imam Syafi’i, juga sebelum dan sesudahnya. Ciri utama kelompok ini adalah membunuh, menyiksa dan meneror siapapun yang menunjukkan kecintaannya kepada Keluarga Nabi. Itulah mengapa Syafi’i disiksa, dan juga banyak pengikut Ahlul Bait Nabi lainnya dikejar selama berabad-abad.

Tekanan yang berat ini menyebabkan sebagian mereka “menyembunyikan” identitasnya (taqiyah). Banyak dari mereka yang berpindah tempat (seperti sebagian kaum sayyid/habaib yang hijrah dari Baghdad ke Yaman pada tahun 317 H /896 M), guna menghindari interaksi dengan para penguasa dan khalifah yang jahat. Disana mereka hidup dengan membangun satu warna keagamaan baru yang adaptif.

Ada kelompok tertentu yang ingin memutuskan umat Islam dari kecintaan kepada Keluarga Nabi. Kelihatannya kelompok inilah yang suka mempopulerkan Abu Thalib serta ayah dan ibu Nabi sebagai kafir. Kelanjutan dari kelompok inilah yang sepertinya ngotot melarang maulid, ziarah, tawasul dan berbagai tradisi kecintaan kepada Nabi dan Keluarganya.

Menurut mereka, jangan berlebihan dalam mencintai. Karena berlebihan adalah bid’ah. Mereka tidak tau, “berlebihan” itulah yang disebut dengan cinta.

Kelompok ini pulalah yang siang malam mencari dalil untuk meyakinkan kita semua bahwa Sunni dan Syiah bermusuhan. Ditengah kaum muslim memang selalu ada perbedaan-perbedaan, baik yang muncul akibat interpretasi ayat dan riwayat maupun yang lahir dari faktor sejarah yang sensitif dan panjang. Perbedaan-perbedaan inilah yang terus mereka eksploitasi. Sementara titik kesamaan disembunyikan.

Hari ini, melalui mimbar-mimbar ceramah merekalah musuh-musuh Islam memainkan peran, untuk membuat kita terus berperang. Itu salah satu cara mereka melemahkan kita guna menguasai tanah, sumur minyak dan sumberdaya alam.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s