TEST BACA ALQURAN

image: Test baca Alquran calon anggota DPRK Pidie Jaya tahun 2018 (foto: Fadli Almahary).

Test Baca Alquran
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Jika karena mampu membaca, atau menghafal aturan-aturan hukum, bisa membuat akhlak kita menjadi lebih mulia dan negara semakin sentosa, tentu negara ini sudah lama maju. 

Karena banyak sekali orang yang bisa membaca berbagai kitab hukum, serta menghafalnya diluar kepala. Meskipun tidak semua, tapi lihatlah apa yang terjadi dengan jaksa, polisi, pengacara, hakim dan penegak hukum lainnya. Setiap survey tata kelola menempatkan kelembagaan ini dalam ranking paling korup di Indonesia.

Apakah mereka tidak bisa membaca berbagai pedoman hukum? Bisa. Mereka sangat ahli dalam urusan itu. Bahkan menghafalnya dengan baik sampai kepada nomor pasal dan bunyi kata. Lalu mengapa negara kita justru rusak dibuat oleh mereka? Mengapa hukum diperjual belikan?

***

Lalu bagaimana pula dengan orang-orang yang bisa membaca pedoman lainnya semacam kitab suci? Akankah kemampuan membaca Alquran membuat akhlak dan dunianya menjadi lebih baik?

Jika memang begitu, seharusnya negara-negara yang banyak para pembaca Alquran (negara-negara mayoritas muslim) sudah lebih bersih dan maju. Tapi kenyataannya, negara-negara yang tidak bisa baca Alquran (sebutlah negara-negara Skandinavia) justru lebih rendah tingkat korupsi, lebih tinggi indeks pembangunan manusia, serta lebih tertib masyarakatnya.

***

Apakah kemampuan mengamalkan sesuatu tergantung pada kemampuan membacanya? Di satu sisi, kepatuhan juga disebabkan karena bisa membaca. Namun coba perhatikan mereka yang setiap hari anda dapati melanggar lampu lalu lintas. Adakah itu dilakukan oleh orang-orang yang buta warna, atau justru oleh mereka yang mengerti semua rambu-rambu di jalan raya?

Apakah mampu membaca Alquran pertanda seseorang lebih baik daripada yang tidak bisa? Secara formal literatif, “iya.” Bahwa “bisa membaca” kitab-kitab tertulis adalah sebuah kecerdasan otak (kognitif). Itu yang disebut Intellectual Quotient (IQ).

Meskipun perintah “baca” (iqra’) datang paling pertama (oleh sebab itu ada kewajiban setiap muslim untuk bisa membaca Alquran), namun yang membuat seseorang benar-benar islami ada pada unsur “nafsani” (kesadaran atau jiwa). Sebab, akhlak paling sempurna justru ditemukan pada sosok Nabi yang katanya “tidak bisa tulis baca.” Inilah yang disebut Spiritual Quotient (SQ). 

Kecerdasan intelektual (otak) dan spiritual (hati) sifatnya memang sangat personal. Maka butuh latihan-latihan (amaliyah atau ubudiyah), atau yang disebut-sebut emotional atau adversity quotient (EQ/AQ), agar memiliki dimensi gerak, aplikatif atau lahir produk-produk yang bermanfaat secara sosial.

Kembali kepada perintah membaca. Saya kira esensi dari literasi adalah untuk membuat orang-orang sampai kepada berperilaku baik (taat), bukan sekedar bisa baca (tau). Jika tidak, maka kacau.

Namun itulah tantangan yang sedang kita urai. Banyak yang mengerti hukum tapi perilakunya mendustai hukum. Banyak yang bisa baca Alquran, tapi ignorant. Banyak yang cerdas, tapi jahil. Banyak yang berilmu tapi tidak punya adab.

Fenomena ini diistilahkan dengan “beragama (beriman atau percaya kepada Kitab), tapi tidak sampai kepada (akhlak) Tuhan.” Kita banyak tau (baca dan pikir). Tapi kurang resap (zikir). Bahkan kurang kedua-duanya.

***

Tapi yang jelas saya setuju test baca Alquran untuk siapapun dan posisi apapun. Termasuk pada seleksi calon anggota legislatif. Guna menunjukkan bahwa, setidaknya, dia melek terhadap bacaan-bacaan suci yang menjadi pedoman hidupnya. Namun kalau menyimpulkan bahwa tidak bisa baca atau jago baca Alquran sebagai kriteria orang baik, itu terlalu dini.

Sebab, Alquran itu muncul dalam berbagai gradasi wujud. Wujud paling rendah ada dalam bentuk huruf dan tulisan (mushaf), yang dicetak diatas kertas yang bisa lapuk bahkan binasa (makhluk). Alquran ini bisa disentuh oleh siapa saja. Namun secara fikih hanya boleh disentuh oleh mereka yang suci anggota badannya. Inilah yang disebut firman (Alquran) “kitabi”.

Namun dalam wujudnya yang qadim, Alquran itu berupa cahaya Allah, tak berhuruf juga tak bersuara. Sesuatu yang diturunkan ke dada Nabi Muhammad SAW, dan hanya bisa “disentuh” (diperoleh) oleh mereka yang sudah disucikan jiwanya (QS. Alwaqi’ah: 79). Inilah firman (Alquran) “nafsani”, Alquran berjalan, Alquran yang hidup dan hanya bisa ditampung oleh qalbu orang-orang beriman.

Sosok firman berjalan dapat ditemukan pada figur para nabi, imam-imam yang suci (maksum) atau wali-wali Allah. Itulah perlunya “berguru” (berimam atau bermursyid). Maknanya adalah mencari bentuk-bentuk dari Alquran yang hidup.

Apa yang kita baca (firman kitabi) baru akan mengalami vibrasi dan efek kepada kita dan dunia kita, manakala bertemu dengan apa yang ada dalam qalbu (firman nafsani). Ketika huruf bertemu “ruhnya”, pada saat itulah Alquran menjadi obat. Ketika kalimat yang muncul dari lisan bertemu “kalimah” yang bersumber pada pokoknya yang asli, maka saat itulah Alquran menjadi mukjizat.

Kalau tidak, ya tetap menjadi bacaan yang biasa saja. Meskipun dilantunkan dalam berbagai irama.

***

Terakhir, tidak hanya dalam jiwa manusia, cahaya Tuhan juga menyebar di seluruh alam semesta. Bukankah ia juga berfirman, “Allah adalah cahaya langit dan bumi” (QS. Annur: 35). Inilah yang disebut firman (Alquran) “afaqi”.

Mereka yang mampu “membaca” ayat-ayat (hukum-hukum Allah) yang menguasai dunia materi (alam dan masyarakat) akan mampu melahirkan sains dan teknologi.

Dalam konteks ini, makhluk-makhluk Allah yang ada di dunia barat lebih fasih dalam membaca ayat-ayat qauni, sehingga cederung menang dalam persaingan “duniawi”. Itulah mengapa, meskipun miskin spiritual, mereka kaya akan materi. Namun watak kapitalisme dan imperialisme juga menemukan bentuk terburuknya disana. Ini akibat tidak adanya keyakinan kepada dimensi nafsani (ruhiyah).

Jadi, membaca Alquran secara sempurna adalah membaca yang “tersurat” atau kitabi (diakses dengan tilawah, tartil, qiraah sab’ah dan berbagai tafsir yang mengikutinya), “tersirat” atau afaqi (diakses dengan empirisme), sekaligus yang “tersembunyi”  atau nafsani (diakses dengan tasawuf dan tariqat). Maka, tidak hanya para caleg, kita semua harus belajar lagi untuk menguasai ketiga bentuk Alquran ini.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s