BINTANG ‘ARASY DI DUMAI

image: Peta Riau dan Dumai.

Bintang ‘Arasy di Dumai
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kali ini saya kembali mendapat kemuliaan, diundang untuk memberi materi Spiritual Leadership di Kota Dumai, Riau. Berangkat pukul 6 pagi dari Banda Aceh. Setelah transit sesaat di Kualanamu Medan, pukul 9 pesawat mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru. Lengkap dengan atribut organisasi, dua pengurus HMI Cabang Dumai, Khairul dan Bustamel, sudah menunggu.

Kami menghabiskan waktu 3 jam santai disebuah warung kopi Aceh di Pekanbaru, sambil menunggu tibanya Amlen Sutrisno. Beliau pemateri juga. Pengamal tarekat Syattariyah ini pernah menjabat sekretaris umum HMI Cabang Pekanbaru pada masa Reformasi 1998-1999.

Bang Amlen tinggal di Teluk Kuantan, sebuah kota yang hampir berbatasan dengan Sumatera Barat. Jaraknya 4 jam perjalanan ke selatan Pekanbaru. Guru SMA ini masih dipercayai sebagai pemateri NDP pada training-training HMI wilayah Riau. Ia terlihat begitu perhatian dengan perkaderan.

***

Jarak tempuh Pekanbaru-Dumai mencapai 200 km. Meskipun jaraknya termasuk jauh, perjalanan dengan mobil ke Dumai dari Pekanbaru memberi saya kesempatan untuk mengamati keadaan. Sementara kepulangannya langsung ke Medan melalui bandar udara lokal Pinang Kampai di Dumai.

Perjalanan darat ke Dumai dimulai. Khairul yang mengemudikan Avanza, mengebut sejadi-jadinya. Setiap berjumpa truk, diselipnya. Seperti sedang berusaha memenangkan balapan. Persis di video game.

Tak ada variasi pemandangan. Lima jam perjalanan hanya kebun di kiri kanan jalan. Begitu produktifnya pemanfaatan lahan. Tidak ada yang kosong. Hampir seluruhnya sawit.

Aktifitas bisnis dijalanan juga terlihat cukup padat. Truk-truk bermuatan hilir mudik. Asap mengepul dari cerobong-cerobong pabrik pengolahan crude palm oil (CPO).

Mengamati itu semua, akal sehat saya mengatakan, “Jika perkebunannya begini luas, pabrik sawitnya begitu produktif, mustahil masyarakatnya ada yang miskin”. Ternyata ini kontradiktif dengan sebuah fenomena lainnya.

Hampir setengah hari perjalanan, disisi kiri dan kanan jalan terlihat rumah-rumah kayu yang lusuh berdebu. Padahal, dibelakang rumah-rumah itu terdapat perkebunan sawit yang terbentang tak ada batas.

Sehingga akal sehat kembali bertanya, “Kemana dibawa semua uang dari hasil alam di sini?”. “Siapa pemilik semua kebun dan industri ini?”. Pertanyaan serupa juga bisa kita ajukan ke daerah-daerah lain di Indonesia yang kaya sumberdaya alam, namun rakyatnya miskin-miskin.

Perusahaan tambang multinasional Chevron yang berpusat di Amerika juga hadir disana. Dulunya bernama Caltex. Mereka sudah melakukan eksplorasi di Riau sejak tahun 1955. Pipa minyaknya terlihat mata terlanjang terbentang 150 kilometer sepanjang jalan, dari tempat pengeborannya di Minas dan Duri sampai ke tempat pengolahannya di Dumai. PERTAMINA juga sudah beroperasi sejak awal 1970an. Mereka juga memiliki lahan, fasilitas dan kompleks perumahan yang sangat luas.

Telah lama pembangunan industri kita di kritik, karena tidak memberi kedaulatan bagi rakyatnya. Lahan milik masyarakat hampir tidak ada lagi. “Semuanya dikuasai mafia”, begitu sebut kelompok-kelompok kritis. Industri-industri hanya menjadi “dapur” bagi bos korporasi, pejabat, politisi dan beberapa jenderalnya saja. Pertumbuhan ekonomi yang tidak adil melahirkan ketimpangan yang luar biasa diberbagai belahan dunia.

Terkait tata kelola pemerintahan, Riau memiliki catatan yang memprihatinkan. Tiga gubernurnya secara berturut-turut ditangkap KPK sebelum selesai masa jabatan mereka. Dua yang terakhir tersandung kasus kehutanan dan perkebunan.

Rusli Zainal (gubernur periode 2003-2008) menjadi tersangka korupsi kehutanan. Sementara Annas Maamun (2014) tertangkap OTT. Ia menerima suap 2 milyar dari pengusaha sawit dan seorang politisi untuk memuluskan alih fungsi lahan dari Hutan Taman Industri (HTI) menjadi Areal Penggunaan Lain (APL).

Sebuah investigasi terbaru memperkuat fakta ini. Riau tahun 2017 tercatat paling banyak mengeluarkan izin eksploitasi alam (Koran Tempo, Senin 6 Agustus 2018). Semua kepala daerahnya kini dalam bidikan KPK.

***

Ternyata, potret rumah kumuh di banyak titik sepanjang jalan Pekanbaru-Dumai milik para pendatang. Disebut-sebut, umumnya suku batak. Mereka paling berani membuat tempat tinggal di pinggir-pinggir jalan yang katanya juga masih bagian dari lahan milik industri.

Meskipun rumah-rumah memprihatinkan seperti itu terpampang sepanjang 5 jam perjalanan dari Pekanbaru ke Dumai, data BPS 2017 justru menyajikan statistik yang menarik. Kemiskinan di Riau hanya 7,72 persen atau di bawah rata-rata nasional (10,64 persen).

Artinya, provinsi dengan jumlah penduduk 6,6 juta jiwa ini berada pada ranking 23 termiskin (atau posisi ke-12 dengan angka kemiskinan terendah di Indonesia). Bandingkan dengan Aceh yang satu pulau, juga memiliki kilang migas serta sumberdaya alam lainnya, tapi berada pada urutan ke-7 termiskin secara nasional pada tahun 2017 (dengan tingkat kemiskinan mencapai 17 persen).

***

image: Pengurus cabang, panitia, alumni, pemateri dan MoT LK-II HMI Cabang Dumai 2018.

Saya ke Dumai diundang oleh Ilham Ma’arif. Kami sudah saling kenal. Sekretaris umum (Pjs) HMI Cabang Dumai ini pernah mengikuti Advance Training (LK-III) di Banda Aceh pada Maret 2018 silam, yang saya juga ikut menjadi pematerinya.

Dia dan kawan-kawannya memiliki semangat yang cukup tinggi untuk kembali melaksanakan LK-II di Dumai setelah vakum selama 5 tahun. Efek melemahnya perkaderan menyebabkan jumlah komisariat aktif yang dulunya ada 7, kini tinggal 3.

Iklim perkaderan di kabupaten/kota memang agak berbeda dengan yang biasa kita temukan di banyak ibukota provinsi. Geliat organisasi kemahasiswaan di tingkat provinsi lebih terasa. Selain karena memiliki kampus-kampus negeri, mahasiswanya juga fokus dengan dunia kampus, bukan dunia kerja. Sehingga dinamika keorganisasiannya lebih tinggi.

Sementara untuk kota industri seperti Dumai, mayoritas mahasiswanya terdiri dari para pekerja. Siang bekerja, malam kuliah. Disini terdapat 8 sekolah tinggi yang semuanya berstatus swasta.

Disisi lain, keberadaan berbagai industri di Dumai menjadi nilai lebih bagi daerah. Maka program-program CSR dari perusahaan-perusahaan ini juga harus memperkuat penguatan kapasitas keorganisasian dan leadership mahasiswa setempat. Termasuk untuk kegiatan-kegiatan training yang dilakukan oleh HMI. Organisasi ini sangat gigih membangun spirit kebangsaan dan keummatan. Pendirinya, Lafran Pane, merupakan pahlawan nasional.

***

image: Forum LK-II HMI Cabang Dumai, diskusi, doa dan shalawat.

Peserta Intermediate Training (LK-II) berjumlah 25 orang, berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dari Riau, ada dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jakarta, dan Bandung.

Pelatihan selama satu minggu ini berempat di Hotel Sri Kembar yang terletak dibibir pantai dekat pelabuhan penyeberangan ke pulau Rupat. Master of trainingnya Joni Lubis, pengurus PA PB-HMI yang berasal dari Kisaran Asahan, Sumatera Utara. Beliau juga pernah mengikuti LK-III di Banda Aceh pada tahun 2016.

Pada pertemuan Ahad pagi 5 Agustus 2018 tersebut, saya kembali mengulas isi buku Bintang ‘Arasy. Sesi ceramah dan diskusi selama 4 jam ini ikut diperkaya dengan simulasi-simulasi spiritual guna memboboti sisi kognitif dan ruhiyah dari calon-calon pemimpin bangsa. Peserta terlihat bahagia.

***

Ini merupakan pengalaman pertama saya berkunjung ke Dumai. Sebelumnya hanya mendengar saja tentang keberadaan kota industri dipesisir Riau ini. Kotanya memang tidak seapik Pekanbaru yang terlibat maju pesat dengan gedung-gedung tingginya.

Kota-kota industri seharusnya memiliki pusat perkotaan yang menawan. Namun tata kota Dumai biasa saja. Air bersih juga masih menjadi masalah utama bagi warganya. Air tanahnya kuning, karena lokasinya di atas lahan gambut dan juga dipinggir laut.

Tidak ada wisata alam yang populer disana. Pantainya sudah habis untuk kawasan industri serta pelabuhan yang dikelola PELINDO. Warganya cenderung menyeberang ke pulau Rupat, dengan lama tempuh cuma 15 menit, untuk menikmati pantai yang menghadap Selat Malaka. Sebagian pergi ke Sumatera Barat untuk menikmati pesona alam disana.

Kota yang tumbuh seiring hadirnya industri Migas ini memiliki komposisi penduduk yang sangat heterogen. Terdiri dari Jawa, Melayu, Minang, Batak dan lainnya.

Karena kotanya boleh dikatakan dibangun oleh para pendatang, maka sulit mengidentifikasi apa souvenir asli dari daerah ini. Namun makanan ringan semacam kerupuk cabai (ubi pedas), peyek ikan lomek (keripik ikan) dan kacang pukul (inipun berasal dari kabupaten Rokan Hilir tetangganya) dianggap sudah mewakili oleh-oleh khas Dumai.

***

image: Ngopi-ngopi di Kongkow Caffee dengan dr. Fikri Taufan.

Sejak tiba sampai pulang, dari 11-14 Agustus 2018, praktis saya punya waktu 2 hari untuk bersilaturahmi dan melihat-lihat kota Dumai. Selain ngobrol-ngobrol dengan mantan-mantan Ketua HMI Cabang (seperti bang Yono dan bang Arif), saya juga menghabiskan waktu ngopi-ngopi dengan bang Fikri Taufan, seorang dokter alumni HMI dari Universitas Andalas. Ia punya beberapa bisnis, termasuk klinik kesehatan.

Pada kesempatan lain, saya dan bang Arsyad (dosen UHAMKA Jakarta dan sekarang caleg DPR-RI dari Partai GERINDRA dari Dapil Jakarta) berkunjung ke Institut Agama Islam (IAI) Tafaqquh Fiddin Dumai. Ketua Yayasannya menceritakan sejarah Dumai. Rupanya terkait dengan Aceh.

Sebagian masyarakat masih percaya legenda Putri Tujuh sebagai bagian dari asal usul kawasan Dumai. Namun legenda ini cenderung bernilai mitos dan mistik. Karena selain tidak ada data otentik, periodisasinya juga tidak diketahui. Namun tutur ceritanya juga berkaitan dengan Aceh.

Kisahnya berawal dari seorang putra raja Aceh yang ingin mempersunting Putri Tujuh. Namun putra raja ini tewas terbunuh dengan kehadiran “Umai” dari bangsa jin yang bersenjatakan buah bakau. Dari inilah muncul nama “Dumai”.

Legenda serupa juga ditemukan di kerajaan Gasib Siak. Putri Kaca Mayang hendak dilamar oleh putra mahkota kerajaan Aceh. Namun juga berakhir dengan konflik dan peperangan. Sulit membuktikan kebenaran kedua cerita ini. Tetapi setidaknya membuktikan kuatnya pengaruh dan nama Aceh dikawasan melayu ini.

image: Makam Datuk Kedondong, Pelabuhan Dock Yard, Pangkalan Sesai, Dumai

Bukti sejarah lain yang lebih bernilai ilmiah adalah keberadaan sebuah makam yang diklaim keramat oleh masyarakat setempat. Lokasinya di tepi laut dalam kawasan pelabuhan Dock Yard, kelurahan Pangkalan Sesai, Kota Dumai.

Kami mencoba masuk kesana. Birokrasinya ribet. Harus ada izin PERTAMINA. Karena lahannya ada dalam kuasa mereka. Padahal sebuah signboard di luar jalan menyebutkan, itu adalah situs sejarah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Dumai. Bagaimana bisa dipromosikan sebagai destinasi wisata sejarah, jika akses masuknya dipersulit.

Masyarakat setempat menyebut situs itu sebagai makam “Datuk Kedondong”. Disebut demikian karena dulu ada pohon kedondong disamping makam. Bekas pohonnya masih ada sampai sekarang.

Hasil kajian Persekutuan Masyarakat Dumai, Institute Agama Islam Tafaqquh Fiddin Dumai (IAI TF) dan Pecinta Alam Bahari dalam sebuah seminar bertajuk “Dari Makam Datuk Kedondong menuju Paradigma Baru Sejarah Kota Dumai” (2016) menyatakan, sosok yang terkubur disitu memiliki kaitan kuat dengan Aceh.

Ini bisa dilihat dari nisan “Batu Aceh” abad 15-18 yang terdapat pada makam. Diprediksi, Datuk Kedondong ini merupakan petinggi kerajaan ataupun ulama yang memiliki hubungan dengan imperium Aceh yang saat itu sedang pada masa jayanya.

Jejak Aceh disemenanjung Riau juga terlacak pada nama-nama beberapa tempat di kawasan Dumai yang memiliki kata “Aceh”. Seperti kelurahan Bangsal Aceh di kecamatan Sungai Sembilan. “Bangsal” artinya “pangkalan”. Mengapa disebut pangkalan (bangsal) Aceh?

Kerajaan Aceh pada abad 16 tercatat pernah beberapa kali menyerang Portugis di Malaka. Jarak Aceh-Malaka lumayan jauh. Maka untuk bolak balik melakukan penyerangan tentu tidak efektif. Karena transportasi laut saat itu tidak seefisien sekarang.

Sementara Dumai-Malaka sangat dekat. Diduga, wilayah ini ikut menjadi pangkalan pasukan Aceh. Apalagi seluruh pesisir Sumatera disebut-sebut ada dalam peta ekspedisi Kerajaan Aceh Darussalam dibawah Sultan Iskandar Muda. Bahkan sampai ke Malaysia.

“Maka keberadaan Batu Aceh pada makam Datuk Kedondong di Pangkalan Sesai menjadi bukti lainnya yang berkontribusi untuk menyingkap sejarah Dumai”, kata DR. H. M. Rizal M.Phil, salah satu akademisi dan sejarawan di kota Dumai.

Namun komentar berbeda muncul dari beberapa ahli sejarah lainnya. “Mengingat ukuran nisan yang kecil serta kuburannya yang tidak terlalu panjang, boleh jadi itu bukan makam orang dewasa. Perlu penelitian lebih lanjut”, begitu kata beberapa teman peneliti batu nisan di Aceh setelah saya perlihatkan foto nisan dan makam tersebut.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

2 Comments

  1. Cerita yang menarik. Kebetulan salah seorang junior saya juga turut sebagai peserta pada training LKII di sana, Kanda. Selain itu, Master Of Training itu juga merupakan sahabat saya. Menyenangkan membaca cerita kanda Said yang mengungkap sisi-sisi reflektif dari perjalanannya. Suatu inspirasi yang berharga.

    Like

    1. Terima kasih Ahmad D. Rajiv!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s