QURBAN DAN KEDEKATAN DENGAN ALLAH

image: kurban (foto: Abd Djamal)

Qurban dan Kedekatan Dengan Allah
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Diceritakan, Hamzah bin Abdul Muthalib, seorang panglima yang digelari Nabi SAW “asadullah” (singa Allah), tubuhnya bergemuruh setiap mendengar genderang perang ditabuh. Badannya senantiasa terkoneksi dengan sinyal-sinyal ilahiah, atau yang dalam dunia tasawuf disebut “muraqabah”.

Sahabat, paman sekaligus saudara sepersusuan Nabi SAW ini adalah contoh manusia yang sudah mendapat pendidikan ruhiyah sehingga “Allah lebih dekat dari urat lehernya.” Seluruh molekul tubuh sosok yang berdua bersama Ali bin Abi Thalib pernah memimpin perang Badar pada tahun 2 hijrah ini sudah terisi cahaya Allah. Hatinya (dalam dimensi batiniah disebut: qalbu) senantiasa bergetar manakala mendengar Kalimah-Kalimah Suci.

Untuk orang-orang seperti ini Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal: 2).

Hamzah syahid dalam perang Uhud pada tahun 3 hijrah. Ia bersama Muhammad menjadi target utama pembunuhan. Sebelumnya dalam perang Badar ia pernah menghabisi ayah dari Hindun. Begitu dendamnya perempuan ini lalu mengupah dan melatih budaknya Wahsyi bin Harb untuk membunuh Hamzah.

Hamzah diintai. Dalam kegentingan perang yang amburadul karena pasukan muslim mengabaikan perintah Nabi, Hamzah berhasil ditombak dari belakang. Ia rubuh. Tubuhnya dicincang. Bahkan hatinya dirobek dan dimakan Hindun.

Paska perang, kaum muslim menelusuri mayat-mayat dan mencari tubuh Hamzah. Tak lagi dikenali karena fisiknya sudah dirusak.

Diriwayatkan, untuk mengetahui kepingan tubuh Hamzah, kaum muslimin harus menabuh kembali genderang perang. Jika ada bagian dari jasad yang bergerak-gerak, itulah daging Hamzah. Tubuhnya masih mengalami muraqabah bahkan ketika sudah mati sekalipun. Spirit mujahadahnya tinggi sekali.

Cerita serupa kita temukan pada kisah-kisah sufi yang mati dibunuh. Termasuk Siti Jenar, Hamzah Fansuri dan ahli muraqabah lainnya. Katanya, begitu dipancung, darah mereka mengalir membentuk Kalimah Allah.

Secara rasional agak sulit kita cerna fenomena mistis seperti ini. Namun setidaknya secara hakikat kita diberi tahu bahwa orang-orang beriman itu senantiasa “hidup”. Kalimah Allah sudah menyatu dalam darah dan daging mereka.

Dikemudian hari juga ditemukan adanya jasad para syuhada yang tubuhnya masih utuh, darahnya masih segar. Padahal sudah ratusan bahkan ribuan tahun meninggal. Celah-celah dinding dan lantai kuburan imam Husain, misalnya, dilaporkan masih sering mengeluarkan bercak merah darah. Pun demikian dengan banyak makam syuhada, para pemimpin dan orang-orang shaleh lainnya. Bumi terkesan enggan menghancurkan tubuh-tubuh yang Nur Allah sudah bersemayam dalam diri mereka.

***

Salah satu tugas Nabi adalah mengisi Kalimah Allah ke dalam jiwa setiap kaum muslimin. Kalimah yang diisi haruslah Kalimah yang asli. Sebab, kalau sekedar membaca ayat suci, iblis juga bisa. Tapi masalahnya, kalimat itu tidak berasal dari dimensi yang tinggi. Sehingga pengaruhnya tidak ada.

Seorang arifbillah di Dayah Sufimuda sering mengilustrasikan ini dengan sebuah surat yang berisi kalimat-kalimat dari presiden, katakanlah Jokowi. Setiap orang bisa meniru surat itu. Namun, jika surat tersebut palsu, tetap tidak punya efek apapun. Sebab, sebuah surat dan kalimat yang asli, itu turun dari lembaran negara. Surat dan kalimat-kalimat inilah yang punya efek luar biasa, bisa menaikkan atau menurunkan harga BBM. Sementara surat-surat palsu tidak memiliki power semacam itu, walaupun kop dan tandatangannya persis sama.

Itulah mengapa resonansi dari bacaan kita terhadap kalimat-kalimat Tuhan sudah lemah. Meskipun diayun-ayun dengan 1001 irama, ditambah fasahah yang sempurna, getaran ilahiah tetap tidak ada. Karena yang membaca itu dimensi “aku”, bukan “Dia.” Bukan unsur Tuhan yang membacanya. Tapi nafsu.

Kalau bacaannya berasal dari lembaran jiwa yang suci, maka pasti akan mampu mengobati semua penyakit, mengalahkan setiap musuh, mengusir segala jenis setan, menjadi petunjuk dan menenangkan jiwa. Oleh sebab itu, kesucian jiwa menjadi prasyarat untuk berfungsinya semua Kalimah itu.

Metodologi penyucian jiwa dalam Islam disebut tarekat (sufisme praktis). Tentu dengan bimbingan seorang mursyid yang memiliki kompetensi kewalian (waliyammursyida, QS. Alkahfi: 17).

Ditengah kelangkaan dunia terhadap guru spiritual semacam itu, saya melihat, seorang syaikh sufi di universitas ruhiyah Sufimuda Aceh memiliki kapasitas ini. Untuk membuktikan benar atau tidaknya, para pembaca bisa datang sendiri untuk mendalaminya.

***

Idul Adha dikenal dengan “Idul Qurban.” Makna dari “kurban” adalah kedekatan dengan Allah. Proses berkurban sejatinya membawa kita semakin dekat dengan Allah. Salah satu indikasi “dekat” dengan Allah adalah seperti disebutkan dalam QS. Al-Anfal ayat 2 di atas: “bergetar qalbunya kalau mengingat Allah.”

Apa hubungan penyembelihan hewan kurban dengan kedekatan kepada Allah?

Pertama, seperti sudah umum dijelaskan oleh banyak ulama tasawuf, penyembelihan hewan adalah simbol penyembelihan “diri” (ego, keakuan atau sifat-sifat kebinatangan). Ketika kita sudah bersedia mengorbankan segala yang paling kita cintai di jalan Tuhan, maka saat itulah Allah akan bersedia menghampiri kita. Syarat diterimanya kurban tentu ikhlas.

Namun masih kita jumpai ada orang-orang yang dengan “bangga” menyebutkan betapa banyaknya dia berkurban tahun ini. Dimensi riya (pamer) tidak hilang. Pada kondisi seperti, berkurban justru terjadi karena adanya dorongan syaitan.

Kedua, sesungguhnya, daging kurban itu sendiri jika dimakan akan mengantarkan kita semakin dekat dengan Allah. Sebuah sembelihan yang diawali dengan Kalimah Suci akan mentransfer cahaya ilahi ke dalam darah dan daging kurban.

Anda mungkin masih ingat dengan ujicoba Masaru Emoto (2003) dari Hado Institute Tokyo terhadap segelas air yang dibacakan kalimat-kalimat positif. Kristal air menjadi baik. Tidak sekedar halal, jenis-jenis air yang baik seperti ini yang seharusnya sering kita minum.

Oleh sebab itu, air zamzam itu menjadi berkah bukan karena sekedar unsurnya yang baik. Kristalnya juga terbentuk dari doa para nabi dan orang-orang shaleh. Dalam tasawuf, ini dikenal dengan “air tawajuh”. Air yang dizikirkan dengan Kalimah-Kalimah Suci. Konon lagi jika ditalqin oleh sosok nabi dan para ulama wali Allah.

Pun daging kurban yang dipotong dengan azan dan Kalimah-Kalimah Suci menjadi daging yang baik. Daging yang mengandung unsur-unsur ilahiah ini ketika masuk ke tubuh akan menjadi energi yang akan membawa kita semakin kuat beribadah dan merasakan kehadiran Allah (muraqabah).

Inilah bentuk kurban, yang setelah menyembelih dan memakan dagingnya akan mengantarkan kita semakin dekat (taqarrub) dengan Allah. Oleh sebab itu,  selain dibagi ke masyarakat, sepertiga daging kurban dianjurkan untuk kita bawa pulang guna dimakan bersama keluarga.

Menariknya, Kalimah-Kalimah Suci ini tidak hanya kita bacakan saat menyembelih sapi dan kambing. Selama empat hari tanpa henti; takbir, tahmid, tasbih dan tahlil terus dikumandangkan. Seharusnya, gema ini (jika Kalimahnya asli) mampu mentransfer energi positif ke relung jiwa kaum muslimin.

Namun semakin hari kalimat-kalimat suci yang kita alunkan terlihat semakin bermasalah. Suara azan sekalipun yang seharusnya ketika didengar bisa melembutkan qalbu-qalbu etnis Cina, justru semakin dimusuhi. Ada apa ini?

Pun wuquf di Arafah. Yang seharusnya hadir adalah Allah, yang datang justru angin ribut.

Allahumma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad.***** 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s