PROBLEM PRABOWO DAN JOKOWI

image: bay ismoyo/afp/gettyimage (bbc.com)

Problem Prabowo dan Jokowi
Oleh: Said Muniruddin

Prabowo punya “kebutuhan” untuk dikhianati. Alam bawah sadarnya demikian. Makanya beliau sering mendapatkan apa yang diinginkan: dikhianati.

Sejak dulu beliau sudah begitu. Termasuk dikhianati (dipecat) oleh Dewan Kehormatan Perwira, Habibie dan Wiranto ketika Reformasi. Pengalaman lainnya adalah dikhianati (ditinggalkan) oleh istrinya.

Tapi jangan kira beliau lemah dan sedih karena dikhianati. Justru dari pengkhianatan itulah beliau menemukan jati dirinya sebagai kesatria. Sikap beliau terhadap Titiek mantam istrinya juga terlihat semakin bijaksana dan akur-akur saja.

Sebenarnya, disatu sisi, mana ada yang senang dikhianati. Tapi disisi lain, begitulah kenyataannya. Prabowo memiliki rasa puas dengan apa yang dialaminya. Beliau bisa menghadapi itu. Lalu pengalaman pahit itu membuat dirinya semakin berjiwa patriot.

Dan beliau terus membutuhkan pengkhianatan-pengkhianatan itu, guna menunjukkan karakter tabah dan kuat.

Termasuk pengkhianatan terbaru, diberi info palsu dalam kasus ‘penganiayaan’ (operasi plastik) ibu Ratna Sarumpaet. Jangan kira pak Prabowo marah atas berita bohong yang disampaikan kepadanya. Beliau justru semakin tegar. Semakin menunjukkan kepada publik betapa pemaaf dan sabarnya beliau.

“Inilah problem calon presiden kita yang satu ini. Makanya sulit menang. Karena kebutuhannya adalah untuk dikhianati,” demikian kata seorang Guru Sufi saat menjelaskan karakter Prabowo.

Bagaimana dengan Jokowi?

Sufimuda dari Aceh ini cuma mengingatkan masalah pelik yang akan dihadapi Presiden Indonesia tersebut sampai Desember 2018 ini. Bahkan nyungsep lebih parah lagi paska itu, jika tidak ada “invisible hand” yang membantu.

Diujung itu, Guru yang arif ini juga menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan Jokowi jika ingin “selamat.”

Namun ada satu hal penting yang disampaikannya. Bahwa pemimpin Indonesia butuh “Pertolongan Allah” untuk bisa menyelamatkan negeri ini. Bukan lagi sekedar kekuatan uang, politik dan kekuasaan.

Pertanyaannya, siapa yang bisa memanggil Tuhan untuk hadir ke Indonesia?

Begitu bincang politik sekelompok sufi dengan Mursyid mereka pada sore itu.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****