EFFECTIVE LEADERSHIP

image: “menikmati sajian kopi muraqabah bersama tamu yang membawa berkah” (dek mie, rukoh darussalam, 16/10/2018)

Effective Leadership
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ …

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kamu…” (QS. Annisa: 59).

Kepemimpinan dan Kepatuhan

Pemimpin adalah seseorang yang memiliki vision and passion untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari kepentingannya sendiri. Untuk mencapai itu, masyarakat harus digerakkan dan dibuat menjadi patuh. Untuk itu tentu butuh pengaruh.

Makanya, ketaatan kepada pemimpin menjadi salah satu isu krusial dalam relasi pengikut dengan pemimpin. Tanpa kepatuhan dari bawahan, seorang pemimpin benar-benar kehilangan segalanya.

Agama, yang tersusun dari nilai-nilai dan para penjaganya (pemberi petunjuk), merupakan sistem leadership. Ia akan berjalan efektif jika nilai-nilai dan para pemimpinnya dipatuhi. Dalam kenyataannya, ada agama yang sudah tidak lagi dipatuhi. Bahkan menjadi bahan olok-olok kaumnya.

Oleh sebab itu, dalam perspektif Islam, agama disebut “din” yang artinya “patuh.” Sebagaimana diterangkan dalam Annisa 59 di atas, ketaatan kepada Allah, Rasul, dan para pemimpin yang mewarisi mereka menjadi sebuah keniscayaan agar agama ini menjadi efektif.

Sekularisasi kepemimpinan

Di satu sisi kita meyakini ketidak terpisahan antara agama dan politik. Namun realitas moderen telah memisahkan antara kepemimpinan agama dengan politik.

Di dunia Barat, sebab musabab sekularisasi kepemimpinan ini bisa ditelusuri dari pemisahan institusi gereja dari politik. Gereja tidak lagi dipercayai. Agama yang harusnya menjadi kekuatan pembebas (liberation force) ternyata dalam pengalaman empirik telah berubah menjadi kekuatan yang menipu saat dikuasai oleh pseudo ulama.

Perancis pada tahun 1789 menjadi negara pertama yang memisahkan institusi agama dari politik. Selanjutnya berkembang teori-teori kekuasaan yang berusaha memisahkan kekuasaan (i.e., Trias Politikanya Montesquie dan sebagainya). Kekristenan sendiri memiliki contoh Yesus, sosok pemimpin suci namun tidak pernah menjadi penguasa negara.

Lain halnya Islam, kita punya sosok Muhammad SAW, pemimpin spiritual yang berjuang menjadi pemimpin negara. Harusnya ini menjadi contoh bagi kita semua. Orang-orang “suci” harus diberi kepercayaan untuk memimpin negeri.

Namun arah sejarah terlihat telah mengalami deviasi dari yang dicontohkan Nabi SAW. Kepemimpinan spiritual telah dipisah dari kepemimpinan politik. Ada ketegangan yang rumit dalam dunia Islam paska kenabian. Ada yang meyakini, sebagaimana Nabi, seorang imam harusnya memegang dua kekuasaan sekaligus, agama dan politik.

Namun raja-raja yang muncul dalam berbagai dinasti ke khalifahan bukanlah sosok imam. Bahkan banyak pemimpin spiritual yang dikucilkan bahkan dibunuh guna mengamankan kekuasaan. Perbedaan pandangan tentang kepemimpinan ini melahirkan “sunni-syiah”.

Pengalaman panjang kekuasaan yang berdarah-darah, sejak masa Muawiyah sampai Abbasiyah misalnya, menyebabkan sebagian anak cucu Nabi SAW pindah ke Yaman. Disana terbentuk tarekat Alawiyah yang menjaga jarak dengan kekuasaan. Namun sebagian lain yang tinggal di Irak, Iran dan berbagai tempat lainnya di dunia ini masih terintegrasi dengan kehidupan politik.

Kepemimpinan Politik vs. Kepemimpinan Agama

Beda dengan kepemimpinan agama yang cenderung dipatuhi (spiritualis),  kepemimpinan politik memiliki ruang untuk “protes” (demokratis). Kepemimpinan dalam bentuk-bentuk demokratis disitu sisi diyakini bagus karena memiliki kekuatan “check and balances” dalam menghadapi sosok pemimpin yang otoritarian.

Namun demokrasi memberi peluang masuknya berbagai suara, termasuk suara “setan”. Banyak negara yang mengalami demokratisasi, karena begitu terbuka, disusupi suara-suara “halus” (intervensi asing) dalam berbagai kebijakan negara. Kekuatan asing ini memainkan pengaruhnya baik melalui LSM, politisi bahkan intelijen.

Kontras dengan itu, ada negara yang menekankan pada pentingnya “strong leadership”. Kepatuhan kepada satu pintu kepemimpinan menjadi keniscayaan.

Kepentingan Israel dan US untuk mengalahkan Iran misalnya, tidak pernah bisa terwujud. Karena negara ini selain memiliki bentuk demokrasi (dalam pemilihan presiden), juga punya pemimpin spiritual (rahbar) yang ditaati diseluruh negeri. Pemimpin spiritual memegang kekuasaan tertinggi.

Kepemimpinan ala tarekat

Bentuk-bentuk “strong leadership” ini juga ditemukan dalam berbagai keorganisasian. Dalam dunia keagamaan, ketaatan paling kentara kepada pemimpin dapat ditemukan dalam berbagai ordo tarekat.

Agak aneh memang, tarekat sering ditolak karena dianggap “mengkultuskan” guru. Padahal, organisasi-organisasi yang efektif di dunia ini, pola kepemimpinannya mengambil gaya-gaya tarekat. Pimpinan wajib ditaati.

Militer misalnya. Ini bentuk organisasi paling efektif di dunia. Komandonya jelas. Semua patuh. Apapun perintah, tak pernah dibantah. Seorang jenderal adalah mursyid dalam struktur tentara.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana organisasi militer yang penuh perdebatan antara prajurit dan komandannya. Jika itu terjadi, masing-masing akan bergerak sendiri. Pertahanan dan keamanan negara pasti kacau balau.

Tentu akan brengsek sekali organisasi dengan kepemimpinan yang powerful seperti ini, jika panglima-panglimanya menjadi backing atas berbagai kejahatan, pelacuran, perjudian, dan peredaran narkoba. Mereka yang seharusnya menegakkan hukum, justru merusaknya. Maka seperti pengalaman Eropa abad silam yang mendegradasi kekuasaan gereja, banyak negara modern juga mereduksi peran militer.

Parpol seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ataupun Ormawa seperti KAMMI sekalipun, walau orang-orangnya banyak kita temukan kontra dengan tarekat dan sufisme, namun gaya kepemimpinannya ikut mengadopsi pola-pola “kultus”. Titah pemimpin wajib ditaati. Ajarannya berlaku efektif tanpa ruang untuk bantah dan diskusi. Massa bisa dimobilisasi dengan mudah.

Ini bisa dipahami, meskipun kedua organisasi ini dikemudian hari banyak dipengaruhi alam pikir wahabisme, organisasi induknya yang bernama Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Hasan Albanna, seorang anggota sufi tarekat Kashafiyyah as-Syadziliyyah di Mesir. Gaya pengkultusan ala mursyid tarekat inilah yang diterapkan dalam konsep kepemimpinan “dewan syuro” dan “murabbi”. Sangat doktriner!

Dan ini berbeda dengan organisasi mahasiswa lainnya seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang terkesan “leaderless”. Jabatan pemimpin memang selalu diperebutkan bahkan secara sangat meriah. Namun setelah itu, ketaatan kepada pemimpin hampir tidak ada. Sebab, pola perkaderannya berupa ketaatan kepada nilai-nilai, bukan sosok. Yang diasah logika (alur pikir akademis), bukan hati (rasa dan empati). Setiap kader diciptakan untuk menjadi pemimpin bukan pengikut. Sangat liberal!

Menemukan sumber kekuatan untuk dipatuhi

Begitulah. Setiap organisasi punya tujuan yang berbeda. Untuk mencapai tujuan maka dibutuhkan model kepemimpinan yang efektif.

Begitu juga dengan pemimpin, dalam organisasi apapun, menginginkan adanya kekuasaan yang efektif: yang memiliki “karamah”, diikuti, mampu memberi reward maupun punishment, dicintai sekaligus disegani.

Apapun organisasi anda, sebagai pemimpin anda bisa menggunakan berbagai cara untuk membuat orang “tunduk dan patuh.” Bisa dengan elemen tahta (pejabat), senjata (tentara), harta (pengusaha), logika (akademisi) ataupun pesona (artis).

Namun pastikan, di atas itu semua, anda punya elemen “cinta.” Itulah kekuatan yang membuat kepemimpinan para Nabi begitu ideologis dan powerful. Mereka melayani dengan penuh hati. Mereka hadir untuk memberi rahmat. Selain mengajari masyarakatnya logika hidup yang lebih sejahtera, mereka juga membawa manusia kepada apa yang paling dicari, yaitu Tuhan.

Itulah sejatinya pekerjaan seorang mursyid, mewarisi kerja-kerja nabi. Sehingga kehadiran seorang mursyid benar-benar menimbulkan vibrasi. Seolah-olah Nabi masih hadir bersama kita. Karena hakikat seorang mursyid adalah kesucian. Ia telah kehilangan (kepentingan) “diri”-nya. Yang tersisa hanya Tuhan. Inilah esensi khalifah atau “wakil Tuhan”. Sehingga ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan

Tantangan terbesar Indonesia kedepan adalah bagaimana membangun sistem pemerintahan yang bisa mendudukkan sosok-sosok spiritual (mursyid) pada kursi politik. Negara kita butuh eksperimentasi kepada bentuk-bentuk demokrasi yang lebih tinggi.

Bencana demi bencana yang melanda Indonesia seolah-olah mengisyaratkan kehadiran seorang pemimpin yang suaranya didengar Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s