MENGENAL 3 JENIS TASAWUF

image: “Karamah Auliya” (2019)

Mengenal 3 Jenis Tasawuf
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, kata Nabi SAW. Misi sufismenya kental sekali: penyempurnaan atau kekeramatan akhlak (makarimul akhlak). Sementara tauhid (akidah) dan syariat (fikih) hanya untuk membentuk dasar-dasarnya saja (dengan cara meyakinkan manusia untuk percaya kepada adanya Allah, lalu memaksa mereka melakukan berbagai ritual fisik untuk menyembah-Nya, walau Allah sendiri tidak pernah bisa dirasakan kehadiran-Nya). Tasawuflah yang mengantarkan itu semua pada bentuknya yang sempurna.

Terkait dengan pembentukan akhlak, tasawuf itu terbagi tiga. Mulai dari tasawuf tauhidi (tasawuf teoritis), tasawuf syar’i (adab tasawuf) sampai kepada tasawuf irfani (makrifatullah).

Pertama, “Tasawuf Falsafi” (Tasawuf Tauhid/Ontologi Tasawuf/Ilmu Tasawuf)

Ini jenis tasawuf yang sifatnya teoritis. Aktifitasnya mengkaji dan memahami konsep-konsep tasawuf semacam ittihad, wahdatul wujud, gradasi wujud, insan kamil, nur muhammad, tajalli, dan terma-terma batiniah ilahiah lainnya.

Tasawuf ini fokus pada kajian dan baca-baca kitab saja. Pekerjaan para murid hanya mendengar tausiah guru. Yang disasar adalah kesadaran kognitif (otak). Diharapkan, dengan banyak membaca dan mendengar, para murid memahami ruang lingkup dan aspek tasawuf.

Tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada Allah. Tasawuf ini hanya membawa murid sampai pada level “mengetahui” adanya Allah dengan berbagai filosofi relasi manusia dengan-Nya, dengan sesama, dan dengan alam semesta.

Kata para arif: “1000 gelas anggur tidak akan memabukkan, sampai engkau meminumnya. Pun 1000 kitab yang kau baca tidak akan membawamu kepada Tuhan, sampai engkau bersedia menempuh jalan.” Oleh sebab itu, bertasawuf harus melampaui kajian dan ceramah.

Kedua, “Tasawuf Akhlaki” (Tasawuf Syar’i/Fikih Tasawuf/Adab Berguru)

Tasawuf ini berfokus pada birokrasi atau aturan-aturan formal untuk membentuk sikap dan perilaku murid. Targetnya adalah perbaikan langsung moral dan etika. Tasawuf ini menekankan pada adab lahiriah dan batiniah (ada yang menyebutnya dengan “hadap”) dalam berguru. Sehingga terkenal aturan: “dahulukan adab daripada ilmu”. Kalau sekedar berilmu, iblis lebih alim. Semua kitab sudah dibacanya. Tetapi ia angkuh, merasa paling benar. Kepatuhannya kepada Allah tidak ada.

Untuk mencapai ini, ditemukan bentuk-bentuk ketaatan kepada ulil amri (guru spiritual). Semua yang ingin menemui Allah diwajibkan “bersujud” kepada Adam (sebuah objek wasilah atau kiblat material, namun dalam dirinya terdapat entitas nurullah yang maksum).

Namun lagi-lagi, tasawuf ini tidak membawa murid sampai kepada penyaksian langsung akan keberadaan Allah (musyahadah). Mereka hanya diajari menjadi baik, merasakan seolah-olah Allah melihat mereka. Namun terbentuknya dasar-dasar akhlak (hilangnya ego/keakuan) melalui ubudiyah dan ‘penghambaan’ kepada walimursyid menjadi prasyarat untuk sampai kepada Wajah Allah yang hakiki.

Ketiga, “Tasawuf Irfani” (Tarekatullah/Makrifatullah)

Inilah puncak tasawuf. Didalamnya berisi ritual seperti taubat, serta berbagai bentuk dan jenjang meditasi (dzikir). Praktik tasawuf ini terpusat pada aspek pensucian jiwa sehingga memungkinkan baginya untuk melakukan perjalanan ke “langit tertinggi”. Seperti pengalaman “mikraj” Muhammad SAW ke makam spiritual yang bernama “Sidratul Muntaha” (makam musyahadah, fana dan baqa dalam pengetahuan Allah).

Tasawuf ini bersifat amali dan mesti dibimbing oleh seorang “khidir” atau “jibril” yang sudah bolak balik ke alam ketuhanan. Mereka kasyaf. Dapat membaca persoalan, isi hati dan kebutuhan muridnya. Jika tidak, muridnya bisa tersesat. Kalau tidak berguru pada orang-orang seperti ini, pasti setan yang jadi guru kita. Anda harus berdoa untuk mampu menemukan guru seperti ini. Mereka cenderung tersembunyi dalam keramaian.

Orang-orang seperti ini sangat langka. Spiritualitasnya tinggi sekali. Guru-guru irfani punya keajaiban spiritual semacam mukjizat, yang disebut “karamah”. Kemampuan aneh ini berada di luar nalar awam. Dalam kondisi tertentu, mereka seperti tidak terikat dengan hukum alam.

Ini dapat dipahami, karena ruh mereka sudah berada di alam ketuhanan, tidak begitu terjebak lagi dengan materi, ruang dan waktu. Karena itulah jiwa para murid dapat mereka bimbing dari alam material (lahut/jabarut) menuju alam malaikat (malakut), sampai ke alam ketuhanan (rabbani).

Namun semua itu juga tergantung kesungguhan (mujahadah) si murid dalam kedisiplinan olah ruhani (riyadhah). Yang malas-malas tidak akan sampai kemana-mana. Akhlaknya juga akan begitu-begitu saja. Inti tarekat adalah menjalaninya secara sungguh-sungguh.

Inilah tasawuf yang dapat membawa jiwa murid sampai kepada sang Khalik, sehingga terbentuk akhlak yang paripurna (kamil).

***

Buku KARAMAH AULIYA (disingkat KA-37) merupakan hasil riset kami selama hampir setahun terhadap fenomena ketiga bentuk tasawuf yang kami temukan di sebuah dayah thariqah di Aceh, Indonesia. Buku ini tidak hanya berisi dalil filosofis dan doktrin adab dunia tasawuf, namun juga mengandung lebih dari 100 fenomena spiritual para murid yang sedang menempuh jalan (sayr wa suluk).

Buku ini sudah selesai ditulis oleh dua faqir pencari Cinta. Namun masih menunggu izin Allah untuk terbitnya. Kami percaya, berkah akan mengalir bagi siapapun yang membaca. Sayangnya, buku ini tidak ditujukan untuk umum. Hanya bagi anda para pencari dzikir hakiki saja!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Advertisements

1 Comment

  1. sayyid

    Assalamualaikum wr,wb,

    Ada 4 potensi pandangan manusia.
    jangan sebatas ilmu saja yg kita cari , hakikinya lah yg dicari.
    karena ada jasmani ,ruhani,nurani dan rabbani.
    tentang jasamani,ruhani,nurani dan rabbani itu tidak akan ada yg dapat mempaparkannya jika tidak ada karunia , kalau tidak ada karunia tidak lain kesana-sini itu berisi setan saja ceritanya,akhirnya dimabukkan oleh ilmu.

    pakailah kacamata yg sudah disediakan oleh Allah yakni,
    -kacamata jasmani ,banyak di jual di kaki lima
    -kacamata ruhani ada pada hatimu
    -kacamata nurani ada didalam hatimu sirr
    -kacamata rabbani ada dalam sirr hatimu
    dengan pandangan jasmani nyata dipandang dengan mata zahir berwarna-warni jasad manusia.
    dengan pandangan mata ruhani nyata berbagai bentuk makhluk
    dengan pandangan mata nurani lebih nyata baik busuknya
    dengan pandangan mata rabbani terlebih nyata wajib taubatnya akan kebinasaannya.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s