KEKERAMATAN YANG DIMUSUHI

image: “Karamah Auliya” (Maret 2019)

Kekeramatan yang Dimusuhi
Oleh: Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.

Siapa yang memusuhi Nabi Isa as? Apakah ia ditentang oleh orang-orang yang tidak ia kenal? Ataukah ia diserang oleh orang-orang kafir yang tidak beragama?

Ternyata, Isa dibenci oleh kelompok yang begitu ia kenali. Kaumnya sendiri (Yahudi). Ia tidak dicaci oleh orang-orang bodoh. Ia justru dicerca oleh para ulama yang menguasai dalil (ahli kitab). Mereka adalah para pendeta yang seagama dengannya. Agama warisan nabi-nabi sebelumnya.

Mengapa Isa as dimusuhi?

Karena, disaat agama sudah penuh dengan doktrin dan kajian yang mencekam (radikal dan fundamentalis), ia datang untuk melembutkan kekakuan dan memberi bukti akan kebenaran ayat-ayat Tuhan. Ia menantang kemapanan.

Sama halnya akademisi yang begitu berapi-api mengajari mahasiswa tentang bisnis dan ekonomi. Tetapi hanya mentransfer teori. Tak ada tanggungjawab diakhir pertemuan untuk membuat mahasiswa punya kompetensi dan kaya raya. Begitu pula kebanyakan kita para ustadz. Kita tidak membimbing umat untuk membuktikan kebenaran dalil-dalil ayat. Kita hanya kutip-kutip isi jurnal dan kitab.

Isa datang memperlihatkan kuasa orang-orang yang benar-benar bertuhan. Bahwa dengan Kalimah Allah seseorang dapat menghidupkan yang mati, menyembuhkan yang buta, menghilangkan penyakit, berjalan di atas air, membuat burung dari tanah, menurunkan makanan dari langit, mengusir setan, dan mengetahui yang gaib. Itu hanya sebagian kecil yang tercatat. Ada banyak kelebihan lainnya.

Semua kemampuan ini tidak pernah bisa dilakukan oleh mereka yang sebelumnya hafal berjilid-jilid kitab. Isa datang memberi bukti, bahwa agama itu menyembuhkan, menenangkan dan mensejahterakan. Agama itu aplikatif, melampaui ceramah.

Para ahli kitab tidak sanggup menerima kelebihan sosok belia ini. Jika ditelusuri sejarah, para nabi adalah anak-anak muda hebat. Sejak remaja sudah bermain di dunia makrifat. Namun para rahib merasa lebih tua dan lebih paham ayat. Isa dianggap anak kecil yang sok hebat.

Karena iman para alim Bani Israil hanya berada di sampul kitab, sifat iri mudah mencuat. Maka diaturlah cara, bagaimana figur fenomenal ini tersingkirkan dari masyarakat. Sebab, keberadaan Isa yang jujur dan penuh kasih sayang tidak hanya mempengaruhi orang-orang awam, namun juga menjadi bukti baru akan validitas ayat-ayat.

Ia datang memperlihatkan “Kalimah” yang otentik (the word of God). Kalimah yang memiliki “Ruh” (the spirit of God): “Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan Ruh dari-Nya” (QS. An-Nisa’: 171).

Ia mengajarkan pengikutnya ketersambungan jiwa dengan Allah. Dapat dipastikan, tariqah batiniah yang ditawarkannya bertolak belakang dengan kepicikan yahudi salafi masa itu.

Alhasil, dituduhlah ia sebagai ahli bid’ah dan tukang sihir. Ini tidak berhasil. Imperium Roma yang saat itu menjajah Palestina tidak tertarik dengan isu-isu spiritualitas. Sebab, Romawi saat itu bukanlah kerajaan yang fanatik dengan agama. Mereka hanya haus akan tanah dan kekuasaan.

Lalu difitnahlah ia oleh para ahli kitab sebagai sosok yang hendak mendirikan kerajaan baru, “Kerajaan Tuhan” di muka bumi (padahal itu secara maknawi berarti “menghadirkan Allah” dalam segenap aktifitas duniawi). Isu ini sangat menakutkan bagi penguasa Romawi. Isa pun dicari dan ditangkap untuk diadili.

Bahaya sekali ketika ekstrimisme agama berselingkuh dengan kekuasaan yang absolut. Mereka akan mengejar golongan manapun yang dianggap bertentangan. ISIS adalah wajah terburuk dari Islam milenial. Mereka telah memporak porandakan Timur Tengah, menebar teror di banyak negara, termasuk mengeksekusi para sufi dan situs-situs sejarah. Bayangkan jika mereka berhasil mendirikan sebuah negara. Atau orang-orang yang sama kakunya seperti mereka berhasil menguasai NKRI. Orang-orang berseberangan mazhab dan agama akan dikejar dan dipancungnya.

Kembali ke Isa ‘alaihissalam. Alquran memberitakan, Beliau diselamatkan Allah dari upaya pembunuhan yang direkayasa ekstrimis. Melalui sebuah mukjizat, ia “diangkat kesisi Allah”. Menghilang. Gaib. Wujud Beliau pernah dijumpai oleh murid-muridnya paska tragedi penyaliban yang telah “diatur” Allah (yang disalib adalah orang yang diserupai dengannya – QS. An-Nisa’: 157-159). Kelihatannya Beliau pindah tempat dan melanjutkan ajaran secara sembunyi-sembunyi.

Alquran mengatakan Beliau hijrah ke sebuah dataran tinggi, yang banyak padang rumput dan sungainya: “Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir” (QS. Al-Mukminun: 50).

Ada berbagai riwayat tentang ini. Bahkan ada yang meyakini ia pindah ke dataran tinggi Tibet dan Kashmir. Disana ia dikenal dengan nama Yus Asaf. “Yus” artinya pemimpin/ahli, “Asaf” bermakna tersembuhkan (pemimpin dari orang-orang yang tersembuhkan). Sebab, Isa populer dengan kemampuan menyembuhkan. Disisi lain, orang Tibet juga punya cara sembahyang yang bermiripan dengan Nabi Isa dan kita yang muslim. Pun aroma sufisme di India kuat sekali.

Ajaran tauhid dan tasawuf yang asli ini, selain diselewengkan, juga ada yang murni terjaga oleh pengikutnya (termasuk 12 murid atau khalifah Beliau yang dikenal sebagai Hawariyun). Seterusnya bersambung kepada Muhammad SAW melalui para wali atau guru-guru mursyid pilihan Tuhan.

Memang antara Isa dan Muhammad ada rentang 500 tahun lebih kekosongan kenabian. Namun, bumi ini tidak pernah benar-benar kosong dari seorang pemberi petunjuk: “Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk” (QS. Ar-Ra’d: 7). Ada waliyullah yang terus mengisi.

Termasuk Buhaira yang pernah berjumpa Muhammad. Buhaira haqqul yakin kalau anak kecil yang ditemuinya dalam sebuah kafilah dagang yang sedang menuju negeri Syam adalah pengganti Isa. Mengapa ia begitu mengenali cahaya nubuwwah dalam diri Muhammad? Ini terkait dalil tasawuf dan tarekat: “Hanya wali yang tau wali”.

Sejak Adam as, tali pengetahuan tidak pernah terputus antara satu nabi dengan nabi lainnya. Muhammad SAW tidak “simsalabim” jadi nabi dan rasul tanpa kehadiran pembimbing ruhani (“jibril”/”khidir”). Ia muncul juga membawa kekeramatan nabi-nabi terdahulu. Alhasil, Beliau turut dicap ahli bid’ah, tukang tenung dan lain sebagainya. Juga oleh kaumnya sendiri, para petinggi dan ahli ketuhanan di kota Mekkah.

Nasib para guru spiritual beda-beda. Jika Isa harus “menghilang” karena pressure kaum radikal, Muhammad SAW justru berhasil membangun perlawanan. Ia tidak pernah surut sampai menang. Semuanya diperoleh atas izin Allah.

Seterusnya, nasib serupa dialami para wali Allah dan imam-imam suci. Asal ada orang shaleh yang dapat membuktikan kekeramatan Alquran, langsung difatwakan sesat oleh kelompok takfiri. Selain ada yang sukses mengembangkan pengetahuan dalam berbagai hauzah dan zawiyah spiritual, juga ditemukan sejumlah sufi (seperti Husein Alhallaj, Hamzah Fansuri, Siti Jenar dan lainnya) yang di bully habis-habisan oleh fuqaha fundamentalis. Mereka juga syahid ditangan penguasa otoriter.

Mengapa sufi dikucilkan?

Karena, selain dapat menghilangkan wibawa dan pengikut kelompok-kelompok yang sudah mapan, terminologi “kekeramatan” ini tidak ada dalam mainstream agamawan radikal. Sesuatu yang tidak ada dalam perspektif kaum tekstual akan dikatakan tidak benar. Kaum tekstual meminggirkan akal dan logika dalam memahami agama. Semua dibawa lari pada: “mana dalilnya”. Kalaupun diberi dalil, “itu tidak sahih”.

Konon lagi, dimensi mistisisme Islam punya daya kejut luar biasa terhadap stagnasi dan formalitas beragama para ekstrimis. Kata Sayyid Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali kwh: “Hai saudaraku, banyak ilmu yang seperti mutiara, berlian, yang seumpama aku terangkan, maka aku akan dituduh sebagai seorang musyrik, dan orang Islam menganggap halal darahku, mereka (muslimin) menganggap perkara jelek yang dikerjakan itu sebagai kebaikan, sungguh! Mutiaranya ilmu itu tetap aku simpan supaya orang-orang bodoh tidak tahu, dan menjadikan fitnah”. 

Jamaah yang taklid buta kepada lahiriah teks tidak mengetahui adanya dimensi batin yang begitu dahsyat dari agama yang maha tinggi ini. “Penyakit kita orang Aceh, kalau tidak tau langsung kita katakan tidak ada”, sebut Abuya Sufimuda. Kalau ilmu kita tidak sampai kesitu, cukup katakan: “wallahu ‘alam”. Tak perlu menuduh orang sesat.

Sementara bagi pemerintah, sikap curiga dengan ulama yang tidak pernah sowan ke istana selalu ada. Sejak dulu, penguasa was-was dengan ulama kharismatik yang tidak bisa diberi “amplop” dan diajak “jalan-jalan”. Sementara bagi para wali dan ulama arif, adalah aib besar jika menghamba kepada penguasa. Karena ketauhidan yang murni seperti inilah mereka tetap kritis dan bebas bersuara. Benar adalah benar. Salah adalah salah.

Sistem kekuasaan kita, atau umumnya negara-negara muslim, cenderung mensubordinasi ulama. Sedikit contoh negara yang menempatkan ulama pada posisi puncak perpolitikan, dengan peran yang strategis. Selebihnya, ulama menjadi “stempel” kekuasaan. Ini alasan kaum arif bersikap hati-hati dan menjaga jarak terhadap perilaku politik yang mengkhawatirkan.

Agama ini telah melewati lika liku sejarah yang panjang penuh duri. Sesekali ia kehilangan elan vital dan terbujur kaku. Makanya, sebuah riwayat mengatakan, seorang kekasih Tuhan akan muncul setiap 100 tahun sekali. Para wali pembaharu ini bertugas menyalurkan spirit keislaman agar qalbu kita dapat kembali merasakan vibrasi ketuhanan yang asli. Ia ditugaskan untuk menunjukkan kekeramatan dari wajah Islam yang hakiki.

Berdoalah. Agar kita memperoleh karunia, dapat berjumpa dengan sosok-sosok qutb dari al-mahdi (pemberi petunjuk). Atau siapapun yang punya percikan dari cahaya mereka.

***

Buku “Karamah Auliya: Pengalaman Spiritual Murid-Murid Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda” hadir untuk menunjukkan eksistensi dimensi batin yang merupakan inti dari agama. Buku setebal 200 halaman ini berisi lebih dari 100 fenomena spiritual para pengamal Kalimah Allah di era milenial ini.

Gnostisisme tauhid memang selalu mengejutkan. Tetapi kami haqqul yakin, keberadaan buku ini akan kembali membawa pemahaman dan rasa beragama kita kepada Wujud Allah yang Maha Nyata.

Semoga anda beruntung dapat memiliki buku ini. Sebab, KA-37 tersebut tidak diedar secara terbuka. Hanya untuk dibaca oleh anda yang sungguh-sungguh ingin hijrah ke alam Rabbani.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

2 Comments

  1. M.Natsir Mahmud Nur

    Alhamdulillah, Masya Allah.Syukranbg Said.

    Like

  2. sayyid

    Assalamualaikum wr.wb,

    saya juga ada acehnya kok ,dari meulaboh, cuma lama tinggal di luar.

    menurut saya dari kitab suci alquran Allah berfirman dengan sabda nabi isa a.s
    surat maryam ayat 33.

    Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. (qs:33)

    dan sabda isa a.s telah ditegaskan oleh Allah dengan firmanNYA pada surat maryam
    ayat 34.
    Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.(qs:34)

    makna surat maryam ayat 33 inshaAllah
    kesejahteraan yg bermakna sbb,

    Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepaku pada hari aku dilahirkan = dilahirkan sebagai rasul dan nabi.

    Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku meninggal = meninggal secara wajar (tidak dibunuh atau disalib dll yg mengakibtkan terbunuh).

    Dan kesejahteran semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dibangkitkan hidup kembali =
    dibangkitan hidup kembali secara wajar seperti kebangkitan yg akan kita alami di saat kebangkitan (akhirat) dan isa tidak akan mengalami hisab seperti rasul2 dan nabi2 yg lain.

    Tidak ada hubungannya sama sekali dengan bangkit dari kubur lantas pindah tempat membawa agama seperti yg tertulis diatas.

    Dengan 3 keterangan sabda nabi isa a.s sangatlah jelas bahwa beliau telah selamat dunia dan akhirat.(tidak tercela sedikitpun)

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s