“LEBAH-LEBAH” MULAI BERSARANG

image: “Sarang Lebah”

“Lebah-Lebah” Mulai Bersarang
Oleh: Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia” (QS. An-Nahl: 68).

***

LEBAH-LEBAH mulai bersarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, di tempat yang dibangun manusia. Mereka itu para salik penempuh jalan (QS. An-Nahl: 69). Tidak ada yang mereka makan, melainkan sari bunga yang terjaga kesucian.

Masing-masing bekerja sesuai “kasta”. Bermujahadah tanpa henti, sampai menghasilkan “madu” berkualitas tinggi. Dzikir merekalah yang membuat makanan jadi obat, membuat ayat penuh mukjizat.

Adab dan perilaku masyarakat lebah ditentukan oleh kehadiran seorang “Ratu”. Seorang Maha Guru yang hanya mengkonsumsi “royal jelli” bergizi, yang datangnya dari sisi Tuhan. Karenanya, sang induk tunggal ini mampu menjalankan fungsi-fungsi kewalian. Sang Lebah menerima wahyu (ilham). Dengan itu ia mengawal kegiatan, menyalurkan rahmat dan benar-benar dipatuhi anggota koloni.

Ini lebah Gunung Sinai. Ini lebah yang bersarang di Jabal Nur. Ini lebah Gunong Reubo. Jangan kau ganggu. Sengatannya aduhai!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s