“THE POWER OF AZAN”: MENGUNGKAP KESAKRALAN KALIMAT-KALIMAT AZAN

image: azan

“THE POWER OF AZAN”:
Mengungkap Kesakralan Kalimat-Kalimat Azan

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pada tulisan berjudul “The Power of Shalat: Rahasia Ibadat Ahli Makrifat”, kami telah menjelaskan. Rahasia sukses ibadah, terutama shalat, adalah dengan cara memperoleh kekuatan langsung dari Allah (billah). Harus elemen Dia sendiri yang mengatarkan ruhani kita ke sisi-Nya. Sebab, unsur-unsur materialisme kita tidak mungkin sampai kehadirat Allah.

Kalimat penyerahan diri secara total kepada unsur wasilah (buraq) yang merupakan cahaya Allah, terkandung dalam jawaban kita saat mendengar panggilan hayya ‘alash shalah: “La haula wala quawwata illa billah”. Tidak ada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.

Syarat untuk benar-benar memperoleh kekuatan dari Allah, kita harus meninggalkan dimensi jabarut (material), lalu lebur dalam dimensi malakut dan rabbani. Ini semua proses ‘menghilangkan’ diri (fana fillah), sampai akhirnya benar-benar ‘berkekalan’ dalam dimensi ketuhanan (baqa billah).

Seruan untuk ‘meniadakan’ diri dalam shalat sudah dimulai sejak kalimat pertama azan: “Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Dalam shalat juga begitu, sejak takbir pertama kita sudah harus lebur dalam mikraj ruhani pada dimensi ketuhanan yang tidak berbatas.

Takbir adalah pengakuan “kemahabesaran” Allah. Pintu masuk menuju Allah adalah pengakuan akan kekerdilan, kebodohan, kehambaan, ketidakberdayaan, dan ketiadaan kita dihadapan Allah. Orang-orang yang punya rasa rendah seperti ini pada waktu shalat pasti akan melelehkan air mata. Sesungguhnya air mata itu adalah butir-butir keakuan yang luluh dalam dimensi ketuhanan (QS. Al-Isra: 109, Maryam: 58, Al-Maidah: 83).

Etika berdoa setelah shalat juga mengajarkan hal yang sama, membaca: “Rabbana dhalamna anfusa…”. Pengakuan diri dhalim diawal doa menjadi prasyarat diampuni dan diterimanya doa-doa. Banyak doa rintihan yang dapat ditemukan dalam tradisi keislaman, khususnya dari para Ahlul Bait Nabi SAW.

Jika engkau ada, maka AKU tiada

Guru yang sangat kami muliakan, Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda sering mengatakan: “Jika engkau ada, maka AKU tiada. Jika engkau tiada, maka AKU ada”. Jika kita hadir dalam rumah Allah dengan segala kebesaran kita, selamanya kita akan buta. Oleh sebab itu, begitu takbir dikumandangkan, kesadaran dunia materialisme harus sudah lebur, hilang dalam dimensi tak terbatas dari Allah SWT.

Hanya dengan lebur dalam ketidak terhinggaan-Nya, kita menjadi ‘bagian’ dari Dia. Hanya dengan larut dalam samudera-Nya kita dapat merasakan keindahan-Nya. Inilah makna kalimat persaksian atau syuhud dalam azan (asyhadu an-la ilaha illa Allah) yang diperoleh setelah kesadaran akan takbir (lebur dalam kebesaran-Nya). Keterleburan dan kesatuan ini yang membawa seorang hamba kepada makam wushul para pemikraj: “inni wajjahtu wajhiya.”

Tidak hanya diawal, akhir azan juga ditutup dengan takbir dan diikuti dengan musyahadah. Inilah pesan “Huwal awwalu wal-akhiru”. Dia ada di awal sekaligus di akhir. Kefanaan sejak awal sampai akhir akan membawa seorang hamba dalam kekekalan bersama Allah (baqa billah). Syuhud hakiki (musyahadah dan baqa billah) diperoleh dengan lebur dalam kemahabesaran Allah. Hilang diri kita, maka Dia baru nyata.

Shalat yang efektif seperti itu. Hilangkan dulu unsur-unsur diri, sampai kita khusyuk (lebur) dalam tarikan Ilahi. Sehingga yang terlihat, dimana-mana, baik di awal maupun di akhir, hanya Dia. Sebenarnya suluk selama berhari-hari seperti yang dijalani Nabi SAW di Gua Hirak mengajarkan hal ini. Iktiqaf atau khalwat adalah metode untuk lebur dalam Asma Allah, yang pada akhirnya menjembatani kita lebur dalam Dzatnya.

Kondisi ekstatik (dzauwq) seperti ini bukan hanya ada dalam teori. Tetapi senantiasa dialami oleh sahabat dan para sufi kemudian. Sayyidina Ali kwh misalnya, saat mendengar azan, qalbunya mengalami getaran: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2).

Fenomena ini ibarat Hp yang bersinyal. Kehadiran getaran di tubuh merupakan pertanda keterkoneksian jiwa dengan dimensi rabbani. Dalam shalatpun demikian. Anak panah dapat dicabut dari kakinya tanpa terasa sakit. Sisi materialisme dirinya sudah larut dalam ruh Ilahi. Ada banyak cerita dari para wali Allah dan orang-orang shaleh yang mencapai tingkat kefanaan seperti ini.

Saya pernah mendengar Guru bercerita, beliau mengalami “trance” dalam sebuah dzikir tawajuh. Kesadaran materialnya hilang lalu masuk dalam sebuah dimensi, dimana beliau hidup disana dalam hitungan tahun. Padahal, dzikirnya hanya berlangsung kurang dari satu jam. Cerita yang sama kita temukan pada Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani, dan wali-wali lainnya. Sebenarnya, inilah yang dialami Nabi SAW dalam peristiwa mikraj. Seolah-olah seperti menempuh perjalanan yang sangat lama dengan aneka peristiwa. Padahal hanya terjadi dalam waktu beberapa jam saja. Keseluruhan dimensi kemanusiaannya larut dan syuhud dalam kemahabesaran, ketakterhinggaan alam yang lebih tinggi.

Elemen Wasilah dalam Azan

Selanjutnya perhatikan, antara kesaksian kepada Allah (asyhadu an-la ilaha illa Allah) dengan shalat yang sempurna (hayya ‘alash-shalah), terdapat elemen washilah. Yaitu, kewalian kepada rasulullah (asyhadu anna Muhammadar Rasulullah). Untuk mencapai makam wushul harus disertai makam kewalian mutlak (makam Rasulullah).

Muhammad sebagai seorang hamba memang sudah tiada (wafat). Namun hakikat “rasul” itu adalah nurullah, tidak pernah mati. Keberadaannya senantiasa kita “naik saksikan”. Makam kerasulan ini masih terwarisi dalam kepemimpinan spiritual para wali (ulil amri). Kewalian itu sendiri merupakan batin kerasulan: “Athi’ullaha wa athi’urrasul wa ulil amri minkum” (QS. An-Nisa: 59). Maka senantiasalah bersama pewaris nabi (orang-orang yang mewarisi entitas kerasulan).

Ada hadis yang berbunyi: “[carilah] teman sebelum [menempuh] perjalanan”. Harus ada yang menyertai kita dalam perjalanan menuju Allah. Sebaik-baik teman tentu rasulullah itu sendiri. Hanya makhluk suci ini yang dapat menjamin (memberi syafaat) bagi perjalanan kita. Rasulullah merupakan entitas ruhaniah (cahaya Allah). Dialah Buraq yang menjadi wasilah penuntun jalan ruhaniah. Demikian juga para wali penerusnya.

Dalam Alquran, definisi “cahaya” juga dimaksudkan sebagai wujud dari orang-orang yang membawa petunjuk (QS. Al-Maidah: 15, Al-‘Araf: 157, Al-Hadid: 19 & 28, At-Taghabun: 8, At-Tahrim: 8, dan lainnya). Dalam kekuatan material (mulkiyyah) para nabi dan wali, ada kekuatan kemalaikatan (malakutiyah) yang dapat membimbing ruhani orang-orang yang shalat (mushallin).

Makna “Jamaah” dalam Shalat

Yang disebut “berjamaah” bukan sekedar kumpul-kumpul. Atau tunduk pada pemimpin politik yang dipertikaikan dalam Pemilu. Berjamaah bermakna selalu mengikat diri dengan seorang pemimpin yang kamil mukammil, khalis mukhlisin. Orang-orang seperti ini merupakan “tali Allah” di muka bumi: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah..” (QS. Ali Imran: 103).

Berjamaah dalam makna substantif ini tidak dimiliki oleh Ahlussunnah “lahiriah”. Kelompok ini resisten dengan kajian-kajian ruhiyah dan mistisisme Islam (padahal Islam itu jelas-jelas tersusun dari pokok-pokok perkara kepada yang gaib). Demikian juga dalam hal kepemimpinan, mereka merasa cukup dengan berimam kepada orang yang ada di depan saat shalat. Ataupun kepada orang-orang yang disebut sebagai imam-imam fikih yang sudah meninggal. Jadi kepemimpinannya hanya sebatas aspek lahiriah syariat saja.

Sementara, eksistensi kepemimpinan spiritual ada dalam Ahlussunnah “batiniah” (tasawuf dan tarekatullah). Bagi mereka, pemimpin adalah sesuatu yang hidup. Mereka menyebutnya sebagai “spiritual leader” (sebab spirit tidak pernah mati). Spiritual leader adalah mereka yang mewarisi spirit nur muhammadi. Spiritual leader merupakan imam atau walimursyid. Jadi, selain berimam secara lahiriah kepada pemimpin shalat, mengikuti Al-Quran dan fikih sunnah para fukaha yang sudah tiada, batin mereka juga berpegang kepada “tali Allah” (entitas ruhaniah rasulullah) yang senantiasa hidup. Jadi, keagamaan mereka tidak sebatas aspek lahiriah (eksoteris). Namun aktual sampai ke alam gaib (esoteris).

Sufisme sendiri tumbuh dalam upaya menjaga hubungan dengan kepemimpinan para pembawa “spirit” (ruhullah/waliyullah) yang hadir sepanjang zaman. Spirit inilah yang coba dipangkas oleh berbagai kekuatan politik duniawi (seperti yang dilakukan sejak era Muawiyah). Para sufi sering dicurigai karena keberjamaahan mereka yang kadangkala menjadi ancaman bagi kekuasaan para dinasti. Tampilan lusuh para sufi pada era tertentu sebenarnya juga sebagai bentuk protes sosial atas hedonisme penguasa.

Sekarangpun muncul gerakan-gerakan sosial (seperti membangun rumah dhuafa, dsb) dengan tampilan kesederhanaan. Sebenarnya ini juga bentuk-bentuk “protes” atas keberlimpahan anggaran dan kemewahan pejabat yang tidak peduli rakyat. Dibanyak tempat, kelompok-kelompok sufi dan tarekat yang tidak dekat dengan penguasa masih dicurigai dan difatwakan sesat. Mungkin karena itulah banyak ulama sejak dulu “merapat” ke pendopo raja. Terkadang bukan hanya untuk menjadi guru spiritual penguasa, tetapi juga sebagai bukti validitas mazhabnya. Selain ada juga yang sekedar mencari nasi di dapur istana.

Jadi, yang disebut berjamaah adalah menghubungkan jiwa atau ikatan batiniah (rabithah) dengan figur-figur yang mewarisi kekeramatan (kemuliaan) unsur-unsur malakutiyyah (nur muhammad). Figur-figur seperti inilah yang pantas menjadi “imam” dalam ibadah. Sebab, hanya makhluk-makhluk yang berdimensi spiritual yang dapat membawa kita kehadirat Allah.

Secara fisik (fikih) kita bisa bermakmum kepada siapa saja yang memimpin shalat. Tetapi mana mampu imam-imam itu membawa dan menanggung beban jamaah. Dia sendiri tidak berdaya dengan dosa-dosanya. Maka secara batiniah, imam kaum mukmin yang sesunguhnya adalah para imam, mursyid atau ulil amri yang dalam diri mereka ada entitas nurullah. Itulah mengapa diyakini ada pertanyaan “Man imamuka” (siapa imammu) di alam kubur. Imam kita adalah orang-orang yang dalam diri mereka ada (batin) Alquran. Sebenarnya ini bukan pertanyaan kepada orang yang sudah mati, tetapi kepada kita yang masih hidup.

Kepada elemen rasulullah ini sesungguhnya kita bersyahadat (berimam). Tradisi Ahlul Bait memiliki kesaksian kepada wali-wali paska rasulullah, yang dalam azan disimbolkan dengan kata “Ali”. Tradisi Sunni lainnya tidak ada kata-kata demikian. Namun secara batiniah kita juga meyakini regenerasi kewalian paska Muhammad. Dalam kewalian tarekat, selain berpunca kepada Ali, ada yang turun silsilahnya dari Abubakar (Naqsyabandi).

Namun semua umat Islam meyakini adanya entitas-entitas “al-mahdi”, para pembaharu atau wali-wali Allah pada setiap zaman. Ada ayat yang menyebutkan tentang eksistensi wali Allah (QS. Yunus: 62-67) dan juga wali mursyid (QS. Al-Kahfi: 17). Para pemimpin spiritual ini akan menjadi saksi bagi umatnya di akhirat nanti (QS. An-Nahl: 84 & 89, An-Nisa: 41-42, Al-Fath: 8-9, Al-Muzammil: 15-19, Al-Ahzab: 7-8, Al-Qashash: 74-75, Al-Hajj: 78, Hud: 17-18, Al-Isra: 71-72).

Menjadi Pengikut (Follower) yang Baik

“Semudah-mudah pekerjaan adalah menumpang”, begitu kata orang. Ikut aja orang-orang yang sudah ahli. Jadi kita tidak banyak habis energi. Hal bermiripan juga berlaku dalam agama. Ikut saja rasulullah, yang hakikatnya adalah nurullah. Pasti sampai. Ini namanya wasilah, memiliki pembimbing yang terjamin. Tidak perlu lagi meraba-raba. Ini namanya taklid dalam arti positif. Jadi, shalat yang “La haula wala quwwata illa billah” adalah shalat yang didahului dengan “kesaksian” (kepengikutan) kepada para ahlul dzikri, para nabi dan pewarisnya.

Percayakan diri anda kepada buraq untuk diantar ke tujuan. Bersikap bodoh dan patuh saja. Seperti sebagian umat Nabi Nuh as yang selamat karena percaya dan ikut serta dalam kapal. Atau seperti Abubakar r.a yang berkata: “Shadaqta ya Muhammad” (Benar engkau wahai Muhammad). Walaupun kejadian mikraj sendiri tidak mungkin dipahami olehnya. Itulah Islam, berserah diri kepada Allah dan ruhani rasulullah.

Untuk itu, di akhir azan dan iqamat ditegaskan kembali urgensi wasilah: “… Aati Muhammadanil washilata wal fadhilah”. Kita diingatkan, shalat tanpa berwasilah kepada ruhani rasulullah berpotensi disambar syaitan. Itulah yang disebut orang-orang yang lalai dalam shalat. Orang-orang yang ruhaninya terombang-ambing (hilang fokus).

Tidak hanya dalam shalat berjamaah, dalam shalat sendiri-sendiri pun kita ‘diwajibkan’ berjamaah. Kata Nabi SAW: “Orang mukmin, kesendiriannya adalah jamaah”. Shalat sendirian juga dianjurkan azan dan iqamat (atau iqamat saja). Tujuannya untuk memanggil entitas lain yang lebih tinggi dari kita. Azan dan iqamat itu mengundang para malaikat dan ruhani rasulullah. Azan itu ikhtiar untuk memutuskan diri dengan wasilah yang salah (setan). Lalu menggabungkan diri dengan wasilah yang benar (ruhani rasulullah).

Hakikat ibadah harus selalu dalam “jamaah”. Nabi SAW mengatakan, beda derajat orang yang ibadah sendirian (tanpa wasilah) dengan yang berjamaah (berwasilah). Shalat yang berjamaah bersama nur muhammad nilainya 27 kali lebih tinggi. Boleh jadi kita shalat ramai-ramai di masjid. Tanpa keterhubungan hati dengan ruhani rasulullah, itu juga bukan “jamaah” yang kuat. Namun kita tetap dianjurkan shalat secara ramai-ramai di masjid. Sebab, siapa tau diantara jamaah ada orang yang terpaut hatinya dengan makam kewalian rasulullah. Berkah akan mengalir kepada semua jamaah.

Mistisisme ini juga berlaku untuk ibadah di tempat tertentu. Diriwayatkan, shalat di Masjid Nabawi memiliki nilai 10.000 lebih tinggi dari berjamaah dimanapun juga. Pun di Masjidil Haram, memiliki derajat 100.000 kali lebih banyak dari tempat lainnya: “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Tingginya nilai shalat disitu bukan karena Abdurrahman Sudais yang memimpin shalat. Melainkan karena ruh para nabi dan wali senantiasa berkumpul disana, yang membimbing ruhani dan mensyafaati para jamaah. Tidak heran, banyak jamah haji yang kita dengar mengalami fenomena selama menjalankan ritual di tempat-tempat yang disebut “tanah suci”. Tempat manapun di muka bumi, selama malaikat dan ruh berkenan hadir, pasti keramat.

Oleh sebab itu, senantiasalah menjaga jamaah. Saat masih lemah, jadilah follower yang baik. Shalatlah dengan senantiasa berimam kepada entitas ruhaniah rasulullah. Ketika spiritual sudah kuat, giliran anda yang mengimami semua entitas suci. Sebagaimana Muhammad SAW mengimami ruh para nabi dan malaikat saat Israk ke Masjidil Aqsha. Itulah rahasia ayat ke 5 dan 6 surah Al-Fatihah yang menggunakan kata “kami” sebagai hakikat dari jamaah: “Hanya Engkaulah yang KAMI sembah, dan hanya kepada Engkaulah KAMI meminta pertolongan. Tunjukilah KAMI jalan yang lurus”.

Sesungguhnya, keseluruhan proses israk mikraj merupakan gambaran sempurna dari sebuah bentuk shalat berjamaah bersama ruhani rasulullah. Puncaknya adalah syahadah (perjumpaan dengan Allah SWT). Lalu kembali turun ke bumi untuk menebarkan salam, membawa berkah.

Semua Ibadah harus “Berjamaah”

Azan itu esensial sekali, karena kunci membangun jamaah. Bukan hanya berjamaah dengan sesama manusia. Paling utama adalah membangun “kebersamaan” dengan Nurun ‘ala Nurin. Maka dalam tarekat diajarkan, bukan cuma untuk shalat, berbagai urusan sosial dan bisnis diawali dengan azan. Dulu perilaku beragama masyarakat kita masih kental dengan bentuk-bentuk ritus (termasuk azan) yang sakral ini. Itulah jalan menuju kebersamaan dengan Allah, alias tarekatullah. Dalam hal ini, “keberjamaahan” dengan wajah batiniah dari mursyid (yang merupakan pancaran nur Ilahi) menjadi salah satu kunci kemenangan.

Itulah mengapa Nabi SAW berkata: “Ali, sertakan [rabith] KAMI dalam semua pekerjaanmu”. Makna “kami” disini adalah Allah dan Rasulullah (Muhammad). Dimana ada Rasulullah, disitu ada Allah. Kekasih dengan yang dikasihi, atau matahari dengan cahaya-Nya, tidak pernah terpisah. Tidak hanya shalat, semua ibadah harus berjamaah (menyertakan ruhani rasulullah). Dengan cara itulah Allah ikut serta dalam segala urusan. Jika Allah hadir, maka kekuatan Allah lah yang bermain. Kalau mengandalkan kekuatan sendiri, ujungnya bisa binasa.

Inilah juga jawaban: “La haula wala quwwata illa billah” pada panggilan hayya ‘alal falah. Hayya ‘alal falah adalah seruan paska shalat untuk memenangkan kompetisi dan memperbaiki kehidupan dunia. Hanya elemen Dia sendiri yang menggerakkan seluruh potensi kita untuk menang.

Terasingkan dari Hakikat Azan

Ilmu azan yang sangat dahsyat ini sudah asing bagi banyak orang. Memang: “Islam itu awalnya asing dan akan kembali asing”, Kata Nabi SAW. Begitulah keberadaan ilmu-ilmu hakikat. Azan-azan kita seperti tersisa teriakannya saja. Terdengar indah. Tetapi ruhnya entah kemana. Cina yang mendengar azan malah jadi takut dengan Islam. Padahal azanlah yang seharusnya mengundang banyak orang masuk Islam.

Sedikit yang mampu mengolah kelapa sehingga menghasilkan inti minyak yang awet dan bernilai tinggi. Umumnya hanya memanfaatkan kulit, sabut dan batoknya saja. Islam juga demikian. Yang menyelami sampai kepada pengetahuan sirr (rahasia) dari agama sangat terbatas. Yang kacau adalah, begitu tidak tau ilmu ini, dia bilang bid’ah.

Sudah lebih dari 100 tahun ilmu ini coba dihancurkan. Dimulai ketika kekuatan asing mengambil alih tanah Hijaz, Makkah, Madinah dan negeri-negeri muslim lainnya. Teknologi ketersambungan dengan Allah diasingkan. Sehingga Islam hanya tersisa kulit covernya saja. Perhatikan bagaimana kondisi negara-negara Islam yang telah menghilangkan dimensi ruhiyah dari azan dan shalat mereka, semua tunduk pada kekuatan dhalim US dan Israel.

Apa kurangnya ilmu hafal Quran, hadis, tafsir dan tauhid di negara-negara Arab itu? Mereka mampu membangun peradaban yang gemerlap dan maju. Tetapi lihatlah bagaimana seluruh negeri bertekuk lutut dihadapan Donald Trump dan Netanyahu. Tidak ada lagi ruhul muqaddasah rasulullah yang menjadi spirit pembebas. Tidak ada lagi cahaya yang mengantarkan kita kepada Allah.

Muhammad SAW juga manusia biasa seperti kita. Lemah, tak punya daya. Namun ia menjadi berpower ketika hadirnya entitas kerasulan (wahyu/nurullah). Kekuatan ilham inilah yang menggerakkan. Sebuah kekuatan inspiratif dari langit. Kekuatan yang tak satu orangpun bisa menghentikannya.

La haula wala quwwata illa billah adalah prinsip yang kemudian Muhammad transfer kepada kita dalam menegakkan shalat dan aktifitas duniawi, sehingga jiwa kita tersambung dengan elemen nurullah (khusyuk). Itu kunci menang: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun: 1-2).

Penutup

Sebagaimana telah kami ulas, untuk menjaga agar senantiasa berjamaah bersama Allah dan Rasulullah, kita harus selalu lebur dalam dimensi ketuhanan. Dalam seruan azan, kefanaan dan kekekalan bersama Allah dibahasakan dalam dua kali takbir, di awal dan di akhir: “Allahu akbar, Allahu akbar”. Keduanya sama-sama diikuti dengan syuhud (asyhadu an-la ilaha illa Allah/ la ilaha illa Allah).

Inilah “Huwal awwalu wal-akhiru”. Dia ada di awal sekaligus di akhir. Shalat dan pekerjaan apapun, efektifnya begitu. Hilangkan dulu unsur-unsur diri, sampai kita khusyuk (lebur) dalam tarikan Ilahi. Sehingga yang terlihat, dimana-mana, baik di awal maupun di akhir, hanya Dia.

Kefanaan awal dan akhir akan membawa seorang dalam kekekalan bersama Allah (baqa billah). Jadi, syuhud hakiki (musyahadah dan baqa billah) diperoleh dengan lebur dalam kemahabesaran Allah. Hilang diri kita, maka Dia baru nyata. Shalat dan pekerjaan apapun, efektifnya begitu. Hilangkan dulu unsur-unsur diri, sampai kita khusyuk (lebur) dalam tarikan Ilahi. Sehingga yang terlihat, dimana-mana, baik di awal maupun di akhir, hanya Dia.

Dalam metode dzikir, menjaga kefanaan dan kekekalan bersama Allah sejak awal sampai akhir, direpresentasikan dengan kalimat: mengingatnya “pagi” dan “petang.” Sebagaimana ayat: “…bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS. Al-Ahzab: 41-42). Di ayat lainnya: “…bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada waktu petang dan pagi (QS. Al-Mu’min: 55). Atau juga: “…bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (QS. Qaaf: 39).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
>> Powered by
PEMUDA SUFI: “menuju Indonesia yang berakhlakul karimah.”

2 Comments

  1. […] Tentu tidak demikian. Sesungguhnya, ada pesan sufistik yang tinggi pada jawaban yang sangat “rapuh” ini. Makna La haula wala quwwata illa billah hanya bisa dipahami oleh kaum sufi. Sebab, hakikat shalat hanya ada dalam perbendaharaan ‘arif rabbani (ahli makrifat). Sejumlah rahasia dari kalimat azan lainnya telah saya uraikan dalam: “The Power of Azan: Seputar Rahasia Kalimat-Kalimat Azan.” […]

    Like

  2. […] BACA JUGA: “THE POWER OF AZAN”: MENGUNGKAP KESAKRALAN KALIMAT-KALIMAT AZAN.  […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s