“THE POWER OF SHALAT”: RAHASIA IBADAT AHLI MAKRIFAT

image: cdn.pixabay.com

“THE POWER OF SHALAT”:
Rahasia Ibadat Ahli Makrifat

Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Sebagaimana diriwayatkan, semua kalimat azan yang berulang-ulang itu, kata Nabi SAW, dijawab sesuai panggilan. Ketika diseru Allahu Akbar, Asyhadu an-Lailaha illallah dan Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (masing-masing 2 kali); direspon dengan kalimat yang sama.

Berbeda dengan “Hayya ‘alash Shalah” (juga Hayya ‘alal Falah), jawabannya: La haula wala quwwata illa billah (“Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”). Mengapa?

Ada yang berseloroh. Penyebab malas shalat tercermin dari jawaban azan. Semua panggilan dijawab optimis dengan bahasa yang sama. Begitu sampai pada ajakan shalat, tiba-tiba diserahkan semuanya kepada Allah: “Tidak mampu aku ya Allah”. Akhirnya tidak shalat.

Apakah benar kalimat لاحول ولاقوّة الاّ بالله merepresentasikan fatalisme dan kemalasan?

Tentu tidak demikian. Ada pesan sufistik yang tinggi pada jawaban yang sangat “rapuh” ini. La haula wala quwwata illa billah hanya bisa dipahami oleh kaum sufi. Sebab, hakikat shalat ada dalam perbendaharaan ‘arif rabbani.

Apa itu shalat?

Kata Nabi SAW: “Ash-shalatu mikrajul mukminin”. Shalat adalah bentuk mikrajnya kaum mukmin untuk menjumpai Allah. Memang siapa diantara kita yang pernah berjumpa Allah saat shalat? Tidak ada. Terlihat seolah-olah seperti sedang shalat. Padahal lebih tepat disebut latihan shalat. Sedikit yang benar-benar menegakkan shalat. Sebab, kalau shalatnya asli, pasti berjumpa (liqa’) Allah.

Shalat itu media komunikasi (“bercakap-cakap”) dengan Allah. Tetapi saat shalat kita tidak berjumpa, tidak tersambung, tidak terhubung atau tidak terkoneksi “secara interaktif” dengan Allah. Padahal, selain para nabi (QS. Albaqarah: 253, An-Nisa: 164), Allah juga menjanjikan bagi manusia secara umum (basyar) untuk dapat berkomunikasi “secara langsung” dengan-Nya dengan berbagai cara:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ
أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Tidak adalah bagi manusia, bahwa Allah bercakap-cakap dengan dia, kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir, atau Dia utus seorang utusan (malaikat) lalu utusan itu mewahyukan dengan izin-Nya apa-apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha tinggi lagi Maha bijaksana” (QS. Asy-Syura: 51)

Mengapa dalam shalat kita tidak pernah berjumpa (terkoneksi) dengan Allah?

Itu akibat membawa diri sendiri. Mana mungkin rukuk, sujud dan bacaan kita sampai kepada Allah. Mana mungkin dimensi fisikal dan unsur-unsur material sampai kepada Allah. Allah maha gaib, melampaui dimensi bentuk dan gerak. Dia menolak unsur-unsur duniawi.

Allah berada pada dimensi ruhani murni. Dia hanya menerima unsurnya sendiri. Tidak mungkin Dia menyerap unsur-unsur alam kebendaan. Yang sampai kepada Allah hanya “unsur-unsur” Allah sendiri. “Hanya cahaya matahari yang sampai kepada matahari”, sebut Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda. Hanya cahaya Allah yang sampai kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW juga begitu, bisa sampai ke sisi Allah juga karena adanya cahaya Allah, yang populer disebut “Buraq”. Mana mungkin Muhammad sebagai makhluk biologis bisa sampai ke sisi immaterial Allah SWT. Buraq-lah yang mengantarkan ibadahnya kehadirat Ilahi.

Buraq adalah “kilat”, sebutan lain dari “cahaya Allah” (yang maha cepat dalam menyambungkan ruhani seseorang dengan Allah). Buraq bukan jenis binatang yang digambarkan dalam ceramah-ceramah israk mikraj. Sebab, binatang dan makhluk material lain yang berada pada dimensi rendah tidak pernah bisa sampai ke sisi Allah.

Memang dalam dunia sufi dan keagamaan klasik sering ditemukan cara memvisualkan atribut-atribut ruhaniah agar mudah dipahami awam (sebagaimana halnya deskripsi imajiner tentang pahala, surga dan neraka). Terkait mengapa Buraq dilukiskan sebagai kuda atau singa berwajah perempuan yang bisa terbang, akan kami jelaskan pada tulisan yang lain.

Jadi, pada wujud hakikinya, shalat adalah bentuk mikrajnya orang-orang beriman. Shalat pada level makrifati melampaui bentuk-bentuk “jasadi”. Secara syari’at, sempurnanya shalat tentu dengan meniru gerak Nabi (meskipun dalam dunia Islam kita temukan tidak ada kesamaan sempurna dalam gerak atau tata cara shalat). Untuk meniru gerak, kita harus melihat cara Baginda shalat: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Tetapi untuk mengetahui apa yang Beliau alami dalam shalat, kita harus memahami ayat-ayat mistik serta petunjuk-petunjuk tarekat dari Nabi.

Shalat yang sempurna tidak hanya butuh jasad. Buraq-nya, ada atau tidak? Unsur “cahaya”-lah yang mengatarkan kita ke sisi Allah. Inilah yang menentukan kita benar-benar shalat (tersambung dengan Allah). Tanpa cahaya: “Shalat kita ibarat kabel listrik tanpa arus”, kata Abuya Sufimuda. Tidak ada kontak. Yang menghidupkan segalanya bukanlah kabel. Melainkan arus yang ada di dalamnya. Kata Nabi SAW, tidak ada yang diperoleh dari bentuk-bentuk ibadah yang kosong dari “arus”, kecuali letih dan dahaga.

Apa itu “Cahaya Allah” (Buraq)?

Cahaya Allah adalah entitas awal yang Dia ciptakan dari unsurnya sendiri. Dari elemen inilah tercipta alam semesta. Seluruh alam material ini sebenarnya tersusun dari atom-atom batiniah yang tidak terlihat, yaitu cahaya-Nya sendiri. Ibarat tubuh manusia, apa yang terlihat nyata (dhahir) pada diri kita, sebenarnya tersusun dari partikel-partikel dasar yang tak kasat mata (gaib).

Cahaya Allah merupakan jiwa sekaligus ‘material dasar’ dari alam semesta. Allah adalah cahaya langit dan bumi: “Allahu nur as-samawati wal-ardhi” (QS. An-Nur: 35). Baik dimensi malakut (”langit”) maupun lahut (bumi) tercipta dari cahaya Allah.

“Cahaya Allah” ini dibahasakan beragam: Nur, Nurullah, Nurun ‘ala Nurin, Akal Awal, Akal Pertama, Ruh, Ruh Ilahi, Ruhul Quddus, Ruhul Muqaddasah Rasulullah, Nur Muhammad, Hakikat Muhammad, Rasulullah, Qalam ‘Ala, Buraq, dan sebagainya.

Jadi, yang sampai kepada Allah hanya ‘unsur’ Allah sendiri, yaitu cahaya-Nya. Sebenarnya agak rancu dalam filsafat tauhid untuk mengatakan Allah memiliki unsur (seolah-olah Allah itu memiliki bagian). Ini hanya bahasa untuk memudahkan pemahaman.

Singkat cerita, hanya mereka yang mahir mengunakan Buraq yang sampai kehadirat Allah. Shalat yang terkoneksi dengan Allah adalah shalat yang “diterbangkan” ke langit spiritual tertinggi melalui wasilah atau frekuensi yang tersambung dengan Allah (yaitu Buraq atau cahaya Allah itu sendiri).

Oleh sebab itu, yang menyempurnakan segala bentuk ibadah (termasuk shalat) adalah ketersambungan kita dengan Buraq atau Ruhul Muqaddasah Rasulullah. Inilah yang dilatih dalam tasawuf dan praktik-praktik tarekat yang benar. Karena ini ruh suci, maka hanya bisa melekat pada jiwa-jiwa yang telah disucikan. Tarekat adalah wadah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) agar cahaya Allah bersedia hadir.

Bayangkan, mencuci baju yang sudah seminggu kotor butuh alat dan metodologi agar bersih. Konon lagi menyucikan batin yang sudah belasan bahkan puluhan tahun terkotori oleh noda dosa dan nafsu. Tentu butuh metodologi khusus untuk mengikis lembaran-lembaran hitam dari jiwa.

Itulah tarekat; jalan ritual bagi taubat, dzikir, suluk dan riyadhah lainnya. Cahaya atau berbagai atribut Allah yang maha suci baru akan melekat jika diri sudah kembali ke fitrah (suci).

Ketika entitas cahaya Allah (Buraq) sudah menyatu dengan jiwa, manusia bisa ‘terbang’ kemanapun juga. “Kamu tidak dapat menembus penjuru langit dan bumi kecuali dengan kekuatan -illa bisulthan” (QS. Ar-Rahman: 33). Sulthan adalah kekuatan, “cahaya Allah” atau teknologi spiritual yang dapat membuat kita menembusi berbagai dimensi (jabarut, malakut dan rabbani). Semakin kuat entitas nurullah yang menghampiri, semakin canggih kecepatannya.

Dalam dunia fisika sekalipun, kecepatan cahaya masih menjadi ukuran kecepatan yang tertinggi. Dengan kekuatan ini, jiwa nabi dan para auliya dapat mencapai makam “sidratul muntaha”. Inilah makam pengetahuan ruhani yang sudah “meliputi segala sesuatu”. Makam Alquran al-Karim (lauhul mahfudz). Makam orang-orang terpelihara. Makam yang tidak dapat disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci (QS. Al-Waqiah: 77-79).

Nabi Muhammad SAW secara fisikal terlihat sebagai manusia biasa (basyariah). Namun ada entitas nurullah atau rasulullah dalam dirinya yang membuat ia punya pengetahuan serba meliputi (kasyaf dan syuhud). Demikian juga sejumlah wali atau mursyid yang telah mengasah dirinya sehingga mengalami penyatuan dengan elemen malaikat dan ruh. Mudah bagi mereka untuk tersambung dengan Allah.

Karena sudah main pada kecepatan cahaya, gampang bagi mereka untuk mengetahui bermacam perkara yang lampau maupun masa depan. Ini penyebab “malaikat” tau manusia akan menumpahkan darah, jauh sebelum manusia diciptakan (QS.Al-Baqarah: 30) . Sebab malaikat adalah “cahaya”.

Kalau manusia masih murni berdimensi “tanah” (adam), ia tidak akan banyak tau. Manusia harus meng-upgrade diri untuk memiliki kapasitas (derajat) yang lebih tinggi. Ketika tanah ini menyatu dengan unsur ruhillah (ruh tertinggi, nurun ‘ala nurin), maka makhluk-makhluk lainpun -termasuk malaikat- harus tersungkur bersujud kepadanya. “(ingatlah) Ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya” (QS. Shad: 71-72).

Orang-yang sudah “disempurnakan” ini, dalam sebuah hadis qudsi disebut sebagai orang-orang yang “sudah dicintai Allah”. Sehingga telinga, mata dan lisannya sudah dalam dimensi qudrah iradahnya Allah. Orang-orang yang tersambung dengan Allah pasti makbul doa-doanya: “ud’uni astajib lakum” (QS. Al-Mukmin: 60). Tapi sehebat-hebatnya orang ini, iblis tetap tidak mau sujud kepadanya (QS. Al-Baqarah: 34).

Temui Allah dengan Pertolongan Allah (Billah)

Ada tiga kata yang sering digunakan dalam konteks ibadah: lillah, fillah dan billah.

Pertama, Lillah (karena Allah). Ini terkait dengan niat ibadah yang mesti berhubungan dengan motif dasar ketauhidan. Kedua, fillah (diatas Allah). Ini berhubungan dengan ibadah yang harus dikerjakan diatas tuntunan atau bimbingan syariat. Ketiga, billah (dengan Allah). Ini berkaitan dengan hakikat ibadah berupa hadirnya elemen ilahiah, pertolongan atau keikutsertaan Allah.

Jadi, jawaban la haula wala quwwata illa “billah” saat diseru untuk shalat adalah kalimat kepasrahan total kepada Allah. Pada kata “billah” terkandung makna tunduk patuh dan ketidakberdayaan kita dihadapan Allah. Kita lemah. Tidak mandiri. Mana mungkin kita shalat dengan nafsu kita sendiri. Hanya dengan bantuan cahaya-Nya (billah) kita bisa menyembah-Nya. Hanya via “ke-ahad-an” (keikhlasan/kesatuan) dengan elemen nurullah kita bisa mencapai-Nya.

Surah Qulhuwallahu Ahad disebut surah Al-Ikhlas. Padahal tidak ada kata “al-ikhlas” dalam surah ini. Ikhlas artinya kondisi jiwa yang sudah menyatu dengan Allah. “Dia” (Huwa) dalam ayat pertama surah al-Ikhlas ada yang secara unik dimaknai sebagai Muhammad. “Katakanlah, Dia (Muhammad) adalah Allah yang esa (Ahad)”. Sebagian ahli tasawuf mempercayai, sosok Muhammad telah lebur dalam kemaksuman elemen nurullah. Ini sesuai dengan hadis: “Ana Ahmad bila mim” (Aku adalah Ahmad tanpa huruf mim, alias “Ahad”).

Ketika seorang hamba sudah terintegrasi dengan elemen nurullah (seperti ahad-nya Muhammad dengan Allah), barulah ia mencapai kelezatan intimasi dengan Allah. Dengan demikian, gerak Muhammad adalah gerak Allah (“billah”). Sebagaimana setiap kata-katanya (hadis) tidak lain adalah “wahyu” juga (QS. An-Najm: 3-4). Tafsir monisme sufistik Syeikh Qutbuddin Abdul Karim Al-Jilli ini (1355-1421 M) memang kontroversial. Banyak fuqaha dan mufassirin dibuat meradang olehnya.

Kembali ke “la haula wala quwwata illa billah“. Dari bentuk jawaban ini kita bisa tau bahwa sesungguhnya shalat itu ibadah hakikat (billah). Shalat adalah ibadah yang tidak bisa dilakukan tanpa adanya bantuan kekuatan atau daya yang berasal dari Dia sendiri. Daya ini merupakan “arus” yang terbit dan tidak pernah terpisah dari diri-Nya.

Ketika arus ini masuk dalam jiwa seorang hamba, itulah yang disebut “tajalli”, atau hadirnya bukti-bukti dhahir (nyata/fisik) dari eksistensi Allah yang maha batiniah. Terjadinya penyatuan “arus” dengan kabel ini juga dibahasakan dengan “wahdatul wujud” (waddhahiru wal batinu). Tetapi jangan terlalu dungu memahami filosofi kesatuan wujud:

“Arus adalah arus. Kabel adalah kabel. Keduanya tidak pernah sama. Allah tidak pernah menjadi manusia, begitu juga sebaliknya. Tetapi ketika Allah (cahaya Allah) termanifestasi dalam diri manusia, itulah penyebab terjadinya karamah” (Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda).

Maka jangan sombong dengan ibadah shalat kita. Kita tidak berdaya untuk menyembah-Nya. Dalam tasawuf dikatakan: “Shalat itu ibadah Allah menyembah Allah”. Sesungguhnya, “Yang menyembah dengan yang disembah adalah sama”. Sebab, “Hanya Dia yang dapat menyembah diri-Nya sendiri”. Hanya cahaya-Nya yang dapat kembali kepada-Nya. Kita ini tidak sampai kepada-Nya.

Dari penjelasan ini kita dapat memahami kalimat: “Innalillahi wainna ilaihi rajiun”. Sesungguhnya yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah. Apa yang berasal dari Allah? Apakah lempung pasir, mani, tulang, darah, daging dan tanah? Tentu bukan. Yang berasal dari Allah adalah cahaya Allah itu sendiri.

Hanya itu yang bisa kembali kepada Allah. Hanya jiwa yang telah tersucikan (menyatu dengan cahaya Allah) yang dapat kembali kepada Allah. Selebihnya, jiwa-jiwa yang kotor akan gentayangan, tidak sampai ke langit dan juga tidak diterima bumi. “Sekali-kali tidak akan dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit” (QS. Al-‘Araf: 40). “Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS. Al-Hajj: 31).

Oleh sebab itu, para ahli makrifat menasehati. Jangan shalat dengan membawa diri sendiri. Pasti tidak sampai. Allah tidak mengenal lempung pasir dan tanah seperti kita. Bawalah diri-Nya sendiri. Bawalah Allah. Bawalah cahaya-Nya. Hanya itu yang sekufu (sepadan) dengan-Nya.

Kalau sekedar shalat semacam gerakan mematuk-matuk seperti burung gagak, siapapun bisa. Atau kalau sekedar membaca ayat dengan indah seperti merdunya nyanyian burung di waktu fajar, banyak yang ahli. Namun yang bisa tembus ke alam rabbani, itu butuh kesadaran yang tinggi untuk meng-upgrade kembali cara beragama kita.

Kata Nabi SAW, ada perbedaan mendasar antara ritus ibadah yang hanya berdimensi lahiriah dengan yang menyertakan aspek batiniah. “Dua orang dari umatku mengerjakan shalat. Rukuk dan sujud mereka sama. Tetapi diantara shalat mereka berdua ada perbedaan sejarak langit dan bumi”. Inilah dimensi mistisisme (dzikir) yang membentuk shalat. Namun diakui Nabi SAW, sedikit yang mengamalkannya:

لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

“Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana cara memperoleh Cahaya Allah (Buraq)?

Untuk memperoleh cahaya Allah (buraq), kita harus menempuh sebuah jalan. Namanya tarekatullah (jalan menuju Allah). Tidak susah memperoleh pengetahuan ini. Asal ketemu guru, pasti bisa.

Namun dalam tasawuf, guru itu ada dua. Ada guru umum dan ada guru khusus. “Guru umum” mengajari kita berbagai pengetahuan spiritual. Boleh jadi kajiannya mendalam sekali. Tetapi tetap saja yang disentuh itu kecerdasan akal atau kesadaran kognitif. Guru seperti ini banyak sekali. Bahkan lewat google dan youtube pun kita bisa berguru dengan para alim ulama seperti itu. Tugas mereka mencerdaskan otak kita.

Selanjutnya ada yang namanya “guru khusus”. Inilah yang disebut walimursyid. Seorang wali pendidik yang karamah. Dalam dirinya ada entitas “rasulullah” (kemursyidan). Dia membimbing ruhani. Bahkan ruhnya hadir mendampingi kita dalam perjalanan di alam gaib menuju sidratul muntaha. Dalam kubur pun mereka mendampingi (dalam agama sering dibahasakan sebagai “sosok” amal baik kita selama di dunia).

Inilah yang disebut buraq/jibril, yang mendampingi kita dalam perjalanan menuju Allah SWT. Guru seperti ini super langka. Dan tidak mungkin berguru kepada orang-orang seperti ini hanya dengan membaca kitab-kitab mereka, atau nonton youtube-nya. Jiwa kita harus di-talqin secara langsung olehnya (disalurkan Kalimah yang otentik ke dalam qalbu). Sebagaimana Jibril men-talqin “Iqra” kepada Muhammad. Atau sebagaimana Muhammad men-talqin pengetahuan-pengetahuan ruhani kepada para sahabat. Ini makna hakiki dari “diijazahkan”. Ilmunya pasti berpower (memiliki ruh).

Terus terang kami ini bodoh. Dalam kebodohan ini kami berusaha menggali kembali ilmu-ilmu irfani semacam ini di Dayah Tarekatullah Sufimuda, Aceh. Kami percaya, lautan pengetahuan ilahi tidak berbatas. Maka kami terus mencari para arifbillah yang kaya dengan ilmu-ilmu hikmah. Pencarian ini mempertemukan kami dengan khidzir.

Memang kami ini malas-malas. Berulang kali gagal. Namun terus diajarkan. Bahwa untuk memperoleh cahaya Alquran, kita harus menanggalkan semua unsur diri yang penuh noda duniawi. Kami dibimbing untuk melazimkan taubat, kesucian dan uzlah. Ada sejumlah amalan yang kemudian dapat mengantarkan ruhani kita untuk lebih dekat kepada cahaya Allah.

Pada stasiun (makam) spiritualitas tertentu, ketika Allah berkenan, akan diperoleh sebuah “pencerahan” (spiritual enlightment). Malaikat dan Ruh akan turun menaungi jiwa, sebagaimana digambarkan dalam malam qadar: “tanazzalul malaaikatu war ruuh” (QS. Al-Qadar: 4). Unsur malakuti dan rabbani inilah yang -bi izni rabbihim- mengantarkan kita ke sisi Allah.

Tanpa quwwah (kekuatan) ini, tidak mungkin umat Muhammad dapat mencapai kemuliaan. Allah sendiri telah sangat berbaik hati, menjanjikan kekuatan dan kemuliaan (qadar) ini diberikan kepada semua umat Muhammad. Kita hanya perlu mencari mursyid yang otoritatif (jibril/khidir) guna dibimbing, sehingga memungkinkan bagi Allah untuk menurunkan “power ilahiah” (batin Alquran) yang sangat misterius ini.

Pengalaman Nabi-Nabi Lainnya

Proses mendownload cahaya Allah seperti ini juga dialami Musa as ketika diperintahkan untuk meninggalkan unsur-unsur kotor dirinya saat menuju “lembah yang suci” (muqaddasi thuwa): “tanggalkan kedua terompahmu”. Juga dengan perantaraan ‘api’ Musa mengalami musyahadah, menyaksikan keagungan Allah. ‘Api’ adalah bahasa figuratif lainnya untuk buraq atau cahaya Allah:

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَى (11) إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (12) وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (13) إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (14)

“Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa, sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku (Qs Thaha: 11-14)

Dalam ayat itu juga dikatakan, setelah selesai menempuh perjalanan untuk berjumpa Allah, Musa diperintahkan untuk melaksanakan shalat. Tujuannya untuk mengingat Allah: “dirikanlah salat untuk mengingat Aku” (QS. Thaha: 14). Jadi, shalat itu dilaksanakan setelah berjumpa Allah. Shalat merupakan bentuk “dzikir” (mengingat Allah). Maka harus berjumpa terlebih dahulu agar bisa mengingat-Nya. Kalau tidak pernah bertemu (tidak kenal/tidak memakrifati-Nya) bagaimana mungkin kita mengingatnya?

Ibrahim as juga sama. Usaha mencari “buraq” (cahaya Allah) juga memerlukan waktu sedemikian lama. Awalnya ia bertemu “bintang” yang kecil dan redup cahayanya. Lalu ia melihat “bulan” yang lebih besar namun cahayanya tidak mandiri. Kemudian ia bertemu “matahari” dengan cahaya yang lebih besar (QS. Al-‘An’am: 76-78).

Semua “benda” ini merupakan simbol-simbol dari gradasi atau lintasan cahaya yang disebut dalam surah An-Nur: 35. Allah itu cahaya langit dan bumi. Cahaya-Nya memiliki gradasi, mulai dari yang terlemah, sampai kepada yang terkuat  yang disebut: Cahaya diatas Cahaya (Nurun ‘ala nurin/Nur Muhammad). Inilah Buraq, cahaya tertinggi yang menyambungkan Ibrahim dengan Allah.

Setelah tersambung dengan Allah, barulah kemudian Ibrahim menegakkan shalat untuk kembali mengingat-Nya (menghadapkan wajahnya kepada Wajah Allah). Ayat Ibrahim inilah yang kita adopsi dalam shalat:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku (Ibrahim) menghadapkan wajahku kepada Wajah yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (QS. Al-‘An’am: 79).

Itulah juga alasan mengapa perintah shalat turun kepada Nabi Muhammad SAW setelah beliau menempuh perjalanan (tarekat) untuk memakrifati Allah. Dengan diperantarai malaikat dan ruh (Jibril dan Buraq), beliau berhasil menemui Allah disebuah makam spiritual bernama sidratul muntaha.

Setelah benar-benar “berjumpa” (liqa’) barulah shalat 5 waktu ditegakkan. Shalat merupakan repetisi untuk menghadirkan (kembali mengingat) Allah. Kalau tidak pernah berjumpa, bagaimana mungkin khusyuk? Apanya yang diingat? “Wajah” seperti apa yang harus dihadirkan?

Maka untuk bisa sampai kepada Allah, bertahun-tahun Muhammad melakukan riyadhah (olah ruhani). Ia berdzikir terus-menerus (baik di Gua Hirak maupun di rumahnya) guna menembus alam malakut dan rabbani. Dzikir terawal Muhammad adalah “dzikir dinamis” tarekat untuk me-rabith (menyambungkan ruhaninya) dengan entitas nurullah (buraq). Dzikir selanjutnya adalah shalat, yaitu “dzikir statis” syariat untuk kembali mengingat-ingat Allah.

Maka tarekat (dzikir) menjadi jalan untuk menyempurnakan syariat (shalat). Batin dari shalat adalah tarekatnya. Tanpa keterkoneksian dengan Allah, apalah artinya gerak-gerik dan bacaan shalat? Sebab, hanya shalat yang berpower (tersambung dengan Allah) yang membuat akhlak menjadi mulia (terjauhkan dari perilaku keji dan munkar).

Sebaliknya, jika setelah shalat masih korup dan suka menghasut, pasti itu shalat yang terkoneksi dengan unsur-unsur syaithaniyah. Kalau nelpon, itu namanya salah sambung. Frekuensinya terganggu, menghayal kemana-mana. Tujuannya tidak tercapai. Jiwanya ditangkap oleh syaitan. Inilah bentuk-bentuk kelalaian dalam shalat (tidak khusyuk), yang diancam sebagai orang-orang munafik, pendusta agama dan celaka (QS. Al-Ma’un: 1-7).

Kesimpulan

Jadi, tidak mungkin kita dapat menyembah Allah dan benar-benar tersambung dengan-Nya. Tidak mungkin kita khusyuk. Kecuali ada bantuan quwwah dari Dia sendiri. Nur Muhammad yang berasal dari sisi Tuhan inilah yang menjadi The Power of Shalat. Tanpa energi billah ini, seindah apapun bacaan kita, sebesar apapun jubah kita, semahal apapun sajadah kita, seputih apapun peci kita; shalat kita tidak bertenaga.

Rajin shalat tetapi tidak tersambung dengan elemen “ruhullah” (buraq), persis seperti orang yang terus menerus meng-engkol motor yang businya rusak. Gerak shalat memang terlihat gagah. Tetapi arus yang menyambungkan kita dengan Allah tidak ada.

Itulah mengapa ibadah Qabil tidak diterima Allah. Bentuk fisik persembahannya sangat sempurna. Tetapi ruhnya tidak ada. Yang diterima justru ibadah Habil. Terlihat biasa, namun cahaya ikhlasnya itu lho, luar biasa (QS. Al-Maidah: 27).  Pada ayat lain Allah mengatakan, elemen-elemen fisik dari ibadah tidak akan pernah mencapai Allah. Taqwa-lah yang sampai kepada Allah (QS. Al-Hajj: 37). Taqwa itu ketersambungan, manifestasi cahaya Allah dalam qalbu kita.

Saya bukan ahli makrifat. Namun pengetahuan ini hadir karena bimbingan Guru yang mulia. Apalah salah saya kalau sekedar berbagi dengan anda. Tambah kopinya!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT RAHASIA KALIMAT-KALIMAT AZAN LAINNYA: “The Power of Azan: Mengungkap Kesakralan Kalimat-Kalimat Azan”
___________________
>> Powered by
PEMUDA SUFI, “menuju Indonesia yang berakhlakul karimah.

1 Comment

  1. […] Pada tulisan berjudul “The Power of Shalat: Rahasia Ibadat Ahli Makrifat”, kami telah menjelaskan. Bahwa rahasia sukses ibadah, terutama shalat, adalah dengan cara […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s