AKU VS. KAMI

image: http://www.powerofpositivity.com

Aku vs. Kami
Oleh Said Muniruddin

BISMILAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Aku” dan “kamu” adalah dua konsep wujud berbeda. Masing-masing punya ke-esa-an yang tidak bisa menyatu dengan yang lain. Itulah konsep tauhid para filsuf dan fuqaha. Tuhan berbeda dengan yang lain.

Namun, ketika yang digunakan adalah kata “kita” atau “kami”, pemahamannya menjadi berbeda. Karena pada kata “kita” atau “kami” terkandung makna menanunggalan berbagai pluralitas yang ada. Itulah tauhid sufi.

Kaum ‘urafa tidak lagi berbicara agama dalam bahasa egoisme: “aku” dan “kamu”. Melainkan sudah dalam kesatuan wujud: “kita” atau “kami”. Dzat yang berbeda memang tidak pernah menyatu (meskipun sebenarnya kita berasal dari wujud tunggal adam yang terus mengalami perkembangan). Tetapi spiritnya terintegrasi secara sempurna.

Ketauhidan sejati ada pada level kearifan seperti ini. Sehingga sifat toleran dan kasih sayang dominan muncul dalam perilaku sufi. Sebab, mereka sudah mampu melihat semesta perbedaan dalam satu titik kesamaan.

Sementara mereka yang anti sufi, cobalah anda lihat sendiri. Biasanya suka mengkafirkan dan membid’ahkan yang lain. Sebab, agamanya masih pada fase “aku”. Selain “aku” adalah “dia” atau “mereka”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****