IQRA’ (DZIKIR)

image: fotografia.islamoriente.com

Iqra’ (Dzikir)
Oleh Said Muniruddin

Pengertian Dzikir

Dzikir bermakna “mengingat”. Pekerjaan mengingat sifatnya sangat batiniah (ruhaniah). Pekerjaan mengingat, apalagi mengingat sebuah wujud yang tidak kasat mata, merupakan aspek dari mental/jiwa. Kita bisa mengingat seseorang yang pernah kita lihat, sebab ada memorinya. Namun mengingat Allah yang belum pernah kita saksikan tentu butuh metode berbeda.

Para murid dalam pendidikan sufisme atau tarekat, biasanya diajarkan oleh mursyid sejumlah tingkatan (maqamat) dalam mengingat Allah. Mulai dari menghadapkan wajah kepada bangunan fisik Kakbah (kiblat syariat), menghadapkan wajah kepada titik qalbu (kiblat tarekat) sampai kepada menghadapkan wajah kepada Allah atau dimensi nurullah (kiblat hakikat). Butuh beberapa kali suluk untuk memahami dan mahir dalam amalan khawasul khawas ini.

Cara mengingat Allah juga melibatkan aspek “menyebut-nyebut”. Aktifitas menyebut-nyebut nama punya pengaruh kuat pada dimensi batiniah. Dengan menyebut nama, kita terkoneksi. Misalnya, ketika seseorang kita panggil dengan sebutan: “hai!” (padahal ia punya nama resmi) maka koneksinya lemah. Bahkan bisa marah kalau tidak disebut nama lengkapnya. Akan berbeda halnya jika kita sebut nama aslinya atau nama indahnya, ia pasti senang. Itu sesuatu yang alamiah. Hanya dengan menyebut nama, ikatan batin antara keduanya menjadi kuat.

Begitu juga dengan Allah SWT. Kita tidak tau bagaimana cara berjumpa dengan-Nya. Hanya dengan “mengingat”, “menyebut-nyebut” atau “memanggilnya” (berdzikir) kita tersambung. Allah punya banyak Nama. Dalam metodologi dzikir (tarekat), kita diajarkan untuk memanggil Dia secara khusyuk melalui Nama tertentu. Kalau sudah memenuhi syarat (kaifiyat), ia pasti datang kalau dipanggil.

Kasih sayang Allah melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Seorang ibu bisa berjalan tergopoh-gopoh saat mendengar tangisan anaknya. Pendengaran Allah jauh lebih tajam dari itu. Satu langkah kita berjalan menuju Allah, sepuluh langkah Dia berlari menghampiri kita. Satu kali kita mengingat-Nya, sepuluh kali Dia mengingat kita. Bahkan Allah akan berlari guna menghampiri seorang hamba yang berurai air mata memanggilnya. Menangis adalah sesuatu yang lumrah dalam tradisi sufi: “Kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui” (QS. Al-Maidah: 83). “Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58).

Macam cara orang mengingat atau menyebut-nyebut Allah. Ada jamaah sufisme yang mengakses Allah secara sirr (dalam hati) sebagaimana aslinya Naqsyabandi. Ada juga yang mengamati dzikir dengan panggilan jahar (lisan):

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia maha mengetahui segala isi hati” (QS. Al-Mulk: 13)

Dzikir esoteris ataupun eksoteris menguat­kan kehadiran Ilahi. Kata-kata mempunyai hubungan khusus dengan jiwa. Melalui invokasi kata-kata ini kita dikembalikan ke keadaan asali kita, karena kita diciptakan melalui Firman Ilahi. Olah dzikir melalui sebuah Nama Tuhan menjadi rantai transmisi menuju alam rabbani. Dzikir kita kepada Tuhan adalah totalitas keperiadaan kita. Manifestasi Kesempurnaan dan Kebaikan Allah akan terhujam dalam ruhani, terinternalisasi dalam karakter, ketika seseorang melakukan dzikir sepenuh hati. Secara misterius Tuhan hadir dalam Nama-Nama-Nya karena Cinta-Nya kepada kita.

Iqra’ adalah Perintah Dzikir

Begitu pentingnya ketersambungan dengan Allah melalui menyebut atau membaca Namanya. Sehingga 5 ayat pertama yang diturunkan Allah berisi perintah dzikir dan penjelasan manfaatnya. Surah Al-‘Alaq ayat 1-5 berisi petunjuk tentang dasar-dasar tarekatullah (perjalanan menuju Allah). Diawali perintah iqra’ atau “membaca”. Nabi Muhammad SAW bingung. Memangnya apa yang mau dibaca? Tidak ada tradisi membaca dalam dunia Arab saat itu. Saat diturunkan, juga tidak ada dokumen tertulis dari Alquran untuk dieja. Konon lagi ada pendapat bahwa Nabi SAW tidak bisa membaca. Jadi mengapa disuruh membaca? Apanya yang dibaca?

Yang diajarkan oleh Mursyid (Jibril as) kepada Muhammad SAW bukanlah membaca teks. Melainkan “membaca” sesuatu yang tidak tertulis. Ia dibimbing untuk membaca yang tersembunyi. Membaca “titik ba”. Untuk itu, ia “dipeluk”, “didekap” atau “dihimpit” berkali-kali. Sehingga Kalimah tersebut tertanam dalam dadanya. Itulah pekerjaan ahli dzikir, menyebut-nyebut ismu Dzat atau kalimah tauhid dengan metode tertentu. Pengalaman ini ditiru oleh para salikin ketika berdzikir dalam ruang-ruang sempit (kelambu). Dengan duduk berhimpit (saat suluk dan tawajuh misalnya) memungkinkan bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan khusus dari langit (laduni).

Menyebut-nyebut asma Allah dengan teknik tertentu telah memperjalankan Muhammad SAW dan umatnya dari alam jabarut (dunia material) ke alam malakut (terkoneksi dengan cahaya Allah/malaikat/ruh) sampai ke alam rabbani (makrifatullah). Karena memperoleh pengetahuan kelas tinggi (pengetahuan dari alam lain), tidak heran banyak sufi atau ahli dzikir yang “mabuk”. Ada yang dituduh gila, termasuk Nabi SAW: Mereka berkata: Hai orang yang diturunkan dzikir kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang gila” (QS. Al-Hijr: 6). Fenomena gaib sering membuat seseorang “gemetaran”. Bahkan Nabi Muhammad SAW diriwayatkan harus diselimuti karena pengalaman spiritualnya.

Iqra’: Metodologi untuk Menghadirkan Tuhan

Pertanyaan paling mendasar sejak zaman kuno adalah tentang hakikat kebenaran: “dari mana kita berasal” (bagaimana cara menjangkau, memahami, menemukan atau membuktikan kebenaran adanya Tuhan). Surah Al-‘Alaq 1-5 menjawab pertanyaan itu, sekaligus metode makrifatnya:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

(1) Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu”

Ayat pertama memberi tau kita bahwa menyebut Nama Tuhan (ismu Dzat) merupakan metode “membaca” (menemukan jawaban) tentang hakikat yang kita cari. Ayat pertama diturunkan untuk menjawab kebutuhan paling mendasar manusia tentang “adanya” Sang Khalik serta “metode makrifat” tentang-Nya. Pada ayat pertama ini pula termuat visi utama kenabian, yaitu memperbaiki akhlak. “Akhlak” berakar pada kata “khalik”. Akhlak yang baik akan terwujud manakala ada Khalik dalam diri kita. Akhlak adalah perwujudan sifat-sifat ilahiyah Sang Khalik. Dzikir merupakan metode mensucikan diri, memanggil-manggil, menghadirkan atau men-download karakter Khalik (Allah).

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

(2) “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”

Pada ayat kedua, Allah menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada “segumpal darah” (‘alaq). Inilah tempat bersemayamnya qalbu ruhaniah, atau hakikat dari insan. Dzikir bertujuan menghidupkan qalbu. Kita tidak pernah bisa menjangkau Allah yang laitsa kamislihi syaiun itu. Namun Allah dapat menghampiri qalbu yang tenang. Pada diri para sufi ditemukan dimensi ‘alaq (hati dalam dimensi material) yang bergetar, setelah qalbu mereka (hati dalam dimensi jiwa) dihidupkan dengan dzikir. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka” (QS. Al-Anfal: 2).

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

(3)“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia/Pemurah (Akram)

Pada ayat ketiga ini Allah berbicara tentang karamah yang bisa diperoleh manusia jika senantiasa berzikir, membaca atau mengulang-ulang Asma-Nya. Allah itu pemilik segala bentuk “akram” (kemuliaan). Siapapun akan memperoleh kemurahan dari Allah ketika jiwa sudah bersama-Nya. Namun kita tidak bisa memaksa diri untuk berjumpa dengan-Nya. Dia sendiri yang memilih dengan siapa Dia ingin bertemu. Kita berhasil bukan karena usaha kita. Melainkan karena kebaikan-Nya sendiri. Kalau mau dihitung-hitung, lalai dan dosa kita lebih banyak daripada amal shaleh. Kita selamat semata-mata karena kasih sayang-Nya. Kemurahhatian Allah lah yang kita cari.

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

(4)“Yang mengajar dengan perantaraan Qalam”

Pada ayat keempat Allah menjelaskan, bahwa Dia mengajarkan kita dengan “perantara” (washilah), yaitu qalam. Dalam pengertian lahiriah, qalam adalah “pena” untuk menulis. Namun belum ada tradisi mengasah pena dalam dunia Arab saat itu. Jadi, pengertiannya lebih kepada makna batiniah. Yang dimaksud qalam disini adalah qalam ‘ala, “qalam awal” atau entitas pertama yang diciptakan Allah, yang dengannya semua memperoleh wujud.[1] Itulah Nur Muhammad, sebuah perantara atau wasilah yang dengannya Tuhan menciptakan dan mengajarkan (membimbing) manusia. Ada banyak sebutan untuk Qalam Awal: ruh, ruhul quddus, ruhul muqaddasah rasulullah, hakikat muhammad, nur muhammad, ‘aqlu awwal, malak, ruh ilahi, amar Allah, nur, nurullah, atau nurun ‘ala nurin.

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(5) “Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”

Para ahli dzikir seperti nabi dan wali-walinya merupakan qalam Allah yang terus hadir sepanjang zaman. Melalui perantaraan mereka Allah mengajarkan manusia esensi pengetahuan. Rahasia-rahasia langit dan sesuatu yang tersembunyi menjadi diketahui karena adanya para nabi dan orang-orang kasyaf lainnya. Untuk memperoleh kebenaran tertinggi seperti yang dimiliki para kekasih Allah, kita mesti bermujahadah. Dengan ritual iqra’ (membaca dengan menyebut-nyebut Nama Allah) ruh manusia terkoneksi dengan ruh yang lebih tinggi (ruhul quddus). Ruhul quddus merupakan qalam Allah, pena awal atau batin Alquran. Melalui proses dzikir dan penyucian jiwa seseorang memiliki ketersambungan dengan qalam Allah ini: “Tidak ada yang dapat menjangkaunya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al-Waqi’ah: 79). Ada malam-malam tertentu (disebut malam qadar) yang baik untuk kita melakukan riyadhah sehingga memungkinkan untuk terkoneksi dengan dimensi malakut dan ruh ini: “Tanazzalul Malaaikatu war-Ruh” (Al-Qadar: 4).

Kesimpulan

Jadi, dzikir (usaha menghadirkan Tuhan) merupakan mainstream utama gerakan kenabian. Ayat-ayat pertama dari wahyu tersebut memerintahkan Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya untuk membangun kecerdasan spiritual melalui tadzkiyatun nafs dan dzikrullah: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan diri. Dan menyebut-nyebut Nama Tuhannya, lalu mendirikan shalat(QS. Al-‘Ala: 14-15). Tazkiyatun nafs dan dzikir merupakan ibadah terawal dalam Islam. Baru kemudian turun perintah shalat. Dzikir (membaca atau menyebut-nyebut ismu rabb) merupakan ritual dinamis untuk mengenal Allah (tarekatullah). Kalau sudah tersambung, baru kemudian Allah disembah melalui ritual statis (syariat shalat). Yang disebut khusyuk adalah, telah hidupnya dimensi dzikir dalam ibadah. Shalat itu sendiri juga disebut dzikir, ketika hati sudah terlatih untuk mengingat-Nya. Dengan demikian, syariat (shalat) menjadi sempurna dengan tarekat (dzikir).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
>> Powered by PEMUDA SUFI, “menuju Indonesia yang berakhlakul karimah.”

Catatan Kaki:

1] عَنْ أَبِی عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمُ فَقَالَ لَهُ اکْتُبْ فَکَتَبَ مَا کَانَ- وَ مَا هُوَ کَائِنٌ إِلَى یَوْمِ الْقِیَامَة

1 Comment

  1. […] artikel sebelumnya yang berjudul “Iqra’ (Dzikir)”, kami telah menjelaskan tentang teknik ketersambungan dengan sang Khalik melalui metodologi […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s