KHAWAS AL-KHAWAS: MEMBANGUN TOTALITAS DAYA “INGAT” KEPADA ALLAH

image: “dzikir”

KHAWAS AL-KHAWAS:
Membangun Totalitas Daya “Ingat” kepada Allah

Oleh: Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tulisan ini mengupas dimensi “ingat” (dzikir), terutama dalam shalat dan puasa. Kekuatan inilah yang menentukan level manusia-manusia pilihan atau “khusus diatas khusus”-nya seseorang dalam beragama (khawasul khawas).

Dimensi “Ingat” dalam Shalat

Bentuk shalat yang sempurna adalah yang seluruhnya terisi dengan “ingat” kepada Allah (dzikrullah). Tanpa adanya unsur ingat yang hanya ditujukan kepada Allah (khusyuk), shalat menjadi lalai.

Jangan shalat dalam keadaan ‘gila’ (hilang ingat -kepada Allah). Juga jangan ‘gila’ (melamun) saat shalat. Sebab, shalat orang ‘gila’ (lalai dari mengingat Allah) dicerca Allah: “Maka celakalah orang-orang yang lalai dalam shalatnya” (QS. Al-Ma’un: 4).

Substansi agama adalah daya “ingat”. Pada kemampuan mengingatlah terletak “cinta”. Lihat bagaimana orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tak ada ruang dan waktu yang dilewati tanpa adanya ingatan kepada kekasihnya. Ingat kepada wajah kekasih, atau apapun yang terkait dengannya, memberikan rasa bahagia yang luar biasa. Dengan “ingat” kita tersambung.

Dengan perangkat kalbu, manusia merupakan makhluk cinta. Kita baru eksis kalau punya daya ingat dan mencintai. Itu fitrah. Maka bahaya sekali kalau hilang “ingat” kepada objek cinta sejati kita (Allah). Wisdom lokal Aceh mengingatkan: “Bek gadeh ingat” (jangan putus rabithah, atau senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala hal).

Lihat betapa bahagianya orang-orang yang jatuh cinta. Sebaliknya, putus cinta menyebabkan seseorang kehilangan orientasi. Galau dan stres yang dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari, juga terjadi akibat menurunnya ingatan kepada Allah. Orang-orang ini terlalu banyak mengingat “dunia” (cinta dunia). Yang dimaksud “dunia” adalah segala usaha, capaian, prestasi atau kemajuan yang tidak ada (ingatan kepada) Allah di dalamnya.

Sebaliknya, ibadah yang bernilai ukhrawi adalah ibadah yang menyertakan (ingatan kepada) Allah. Kalau Allah diingat dalam sebuah pekerjaan, pasti pekerjaan itu menjadi bagus. Malu kita berbuat curang, kalau Allah senantiasa “hadir” dan kita bawa kemana-mana.

Jadi, itulah shalat. Shalat adalah dzikir, upaya “mengingat” (menghadirkan) Sang Kekasih. Dahsyat sekali dzikir itu. Kalau kita tau metodologinya, Allah benar-benar hadir hanya dengan cara diingat (dan dipanggil-panggil, baik secara jahar ataupun sirr).

Dimensi “Ingat” dalam Puasa

Berat sekali memang untuk mencapai kondisi “ingat” yang sempurna. Pelatihan “mengingat” secara detil diajarkan dalam tasawuf dan tarekat (irfan). Riyadhah untuk memperkuat dimensi “ingat” (atau syahadah kepada Allah) disebut dengan khalwat, suluk, iktikaf atau uzlah.

Proses “bersemedi” inilah yang rutin dilakukan para nabi sehingga kalbu mereka menjadi bersih, sehingga dimensi “ingat” menjadi kuat. Doa pun makbul. Sebab Allah selalu hadir bersama mereka.

Nabi Muhammad SAW selalu berkhalwat, baik sebelum menerima wahyu maupun sesudah mendakwahkan Islam. Sejak muda Beliau rutin menyepi (berdzikir) di Gua Hirak. Sampai ruhaninya menjadi tajam dan mampu menangkap pesan-pesan Tuhan secara gamblang (BACA ARTIKEL: VIBRASI GUA HIRAK dan UZLAH). Setelah periode keislaman, Nabi SAW juga saban waktu beruzlah, khususnya Ramadhan.

Khawasul khawas merupakan orang-orang yang memiliki totalitas “ingat” kepada Allah. Bukan cuma para nabi, orang-orang shaleh ditengah umat ini juga mewarisi itu. Dua kelompok lainnya dikenal dengan khawas (orang-orang yang telah memiliki dimensi “ingat” meskipun belum kuat) dan awam (orang-orang yang lemah daya “ingat” dalam beribadah atau bahkan tidak memilikinya sama sekali).

Dalam puasa, ketiga kelompok ini dikaitkan dengan kemampuan mereka dalam “menahan diri”. Orang awam, level puasanya  masih seputaran perut. Sekedar mampu menahan makan dan minum sudah dianggap sah puasanya. Sedangkan golongan khawas (khusus), sudah mulai mampu menahan panca indera dari penggunaannya yang negatif. Selama berpuasa memang masih boleh berbicara, melihat dan mendengar. Namun, jika itu dilakukan untuk hal-hal buruk; puasanya dianggap “batal”.

Yang diharapkan, kita dapat mencapai tingkatan khawasul khawas (sangat khusus). Inilah level orang-orang muttaqin dan arif muqarrabin. Bagi mereka, puasa adalah sebuah ibadah yang tidak hanya menahan makan dan minum, melainkan juga menahan diri untuk tidak bicara, melihat dan mendengar.

Puasa bicara dicontohkan oleh Zakaria as:

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِي آيَةً ۚ قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

“Zakaria berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.’ Tuhan berfirman, ‘Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat” (QS. Maryam: 10).

Juga oleh Maryam:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini (QS. Maryam: 26).

Selama puasa khawasul khawas, lidah harus dikunci. Kalau berbicara (atau banyak berkata-kata) puasanya “batal”. Kalau masih suka berceramah dari masjid ke masjid, membuka kajian agama saban hari; saya khawatir itu tidak akan pernah membawa kita pada tingkatan puasa ini. Tapi itulah trend beragama di akhir zaman. Kita para ustadz justru mendapat banyak panggilan selama Ramadhan.

Bulan puasa sepertinya lebih cocok disebut bulan bisnis dan jor-joran, ketimbang momentum untuk “menahan diri”. Bahkan tingkat konsumsi masyarakat jauh lebih tinggi di bulan ini daripada bulan lainnya. Kalau merujuk pada pola khawasul khawas-nya Nabi, berbuka hanya dengan air putih dan beberapa butir kurma. Pola sahur dan berbuka dalam puasa ini memiliki restriksi. Hanya jenis makanan tertentu yang boleh dikonsumsi.

Puasa khawasul khawas sama seperti melaksanakan shalat. Selain tidak boleh bicara, puasa ini juga “mengharamkan” hal-hal baik lainnya. Contohnya, aktifitas berfikir sangat baik dan dibolehkan dalam agama. Misalnya berfikir cara membangun masjid dan menyantuni anak yatim, itu baik. Tetapi kalau dipikirkan dalam shalat, itu “haram”. Setan itu cerdas. Mereka tidak hanya mengajak kita berfikir buruk. Tetapi juga mengalihkan pikiran kita untuk berfikir hal-hal (yang seolah-olah) baik, sejauh kita terpalingkan dari mengingat Allah.

Begitu juga puasa khawasul khawas, berfikir selain Allah, meskipun itu baik, dilarang. Sebab, puasa ini bertujuan menghidupkan dimensi dzikir.

Selain itu, banyak melihat juga dapat “membatalkan” puasa khawasul khawas. Melihat yang (seolah-olah) baik sekalipun. Pandangan terhadap dunia harus dijaga (dikurangi) guna memperoleh penglihatan batin yang sempurna. Susah menjalani puasa ini kalau masih berada pada lingkungan awam. Terlalu banyak atraksi yang dipertontonkan di televisi selama Ramadhan. Sore hari kita juga terdorong untuk ngabuburit, jalan-jalan melihat keramaian. Sejatinya, Ramadhan merupakan bulan untuk memutuskan (mengurangi) kebutuhan inderawi, guna menghidupkan unsur-unsur ruhani murni (qalbi).

Jadi, puasa khawas al-khawas adalah puasa yang mengunci perut, lidah, mata dan telinga; dan kemudian memfokuskan pikiran dan hati hanya kepada Allah. Puasa ini dilakoni oleh para nabi, sufi, ahli dzikir atau oleh siapapun yang menempatkan totalitas “ingat” hanya kepada Allah (dzikir). Puasa khawasul khawas itu sebuah penghambaan  tertinggi seluruh dimensi zahir dan batin untuk semata-mata hanya ingat Allah. Sebagaimana firman Allah dalam sebuah hadis qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan imbalannya” (HR. Bukhari).

Setelah setahun sibuk dengan urusan masyarakat, wajar jika sebulan atau beberapa hari dalam setahun kita memutuskan hubungan dengan dunia dan hanya terkoneksi dengan alam spiritual saja. Bahkan sehari dalam seminggu kita harus menyediakan waktu khusus untuk anak atau istri. Semua urusan kantor dan bisnis harus dihentikan. Bila perlu hp juga dinonaktifkan. Itu penting dilakukan untuk menguatkan hubungan kita dengan keluarga. Dengan Allah juga seperti itu. Off-kan mata, lisan dan telinga anda dengan dunia. Lalu koneksikan diri hanya dengan-Nya.

Maka tidak heran, sejak usia muda, Nabi kita sering mengisolasi diri ke Gua Hirak guna menghidupkan dimensi jiwa. Bahkan ketika pengikutnya sudah banyak, beliau tidak mau mengimami shalat sunnah malam (tarawih/qiyamullail) selama Ramadhan, guna menyendiri bersama Tuhan. Sebagaimana diriwayatkan, taraweh berjamaah baru muncul pada masa Umar bin Khattab.

Tradisi uzlah ala nabi ini dilanjutkan oleh kaum sufi. Banyak dari orang tua kita dulu menjalani suluk selama Ramadhan, baik sebulan ataupun 40 hari. Mungkin tidak semua orang mampu menekuni puasa dan dzikir intensif selama itu. Sebagai alternatifnya, dalil-dalil agama juga menekankan pentingnya penggunaan 10 malam akhir Ramadhan untuk iktikaf. Iktikaf juga bagian dari puasa khawasul khawas (mengurangi berbicara, serta terfokus pada amalan-amalan khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT). Suluk merupakan bentuk dari iktikaf yang dibimbing secara khusus oleh seorang walimursyid (guru ruhani).

Kami mendapatkan pengetahuan dan pengalaman puasa khawasul khawas ini dari seorang arifbillah, Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda. Lebih dari 300 orang, tua muda, menempuh sulok (puasa khawasul khawash) selama 10 hari setiap Ramadhan di dayahnya. Terlalu banyak teori dan ceramah tentang puasa khawasul khawas yang sudah kita dapatkan. Namun sedikit yang mencobanya.

Maha Benar Allah dengan segala firmannya, vibrasi “turunnya malaikat dan ruh” (tanazzalul malaikatu warruh, QS. Alqadar: 4) benar-benar bisa diperoleh pada amalan puasa khawasul khawas ini. Banyak dari salik yang memperoleh “lailatul qadar” disana. Kalau anda tidak percaya, cobalah menjalaninya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

____________
powered by PEMUDA SUFI:
“Menuju Indonesia yang Bermuraqabah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s