MEMASTIKAN IBADAH KITA IKHLAS (DITERIMA ALLAH)

image: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (QS. Al-Kausar: 1-3).

Memastikan Ibadah Kita Ikhlas (Diterima Allah)
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kita harus ekstra hati-hati. Beribadah dengan dimensi fisik saja (tanpa kehadiran ruhani) tidak pernah membawa kita sampai kepada Yang Maha Gaib. Sebuah hadis menerangkan, ada orang yang rajin shalat. Tapi shalatnya dilipat-lipat oleh malaikat lalu dilemparkan kembali ke wajahnya. Persis seperti atasan yang memarahi kerja buruk bawahan. Secara fisik, gerak shalat dan bacaannya bagus. Namun ditolak. Karena ada dimensi batin yang tidak membuatnya terkoneksi dengan Allah. Ternyata, Allah tidak menerima semua dimensi material itu. Dia hanya mengapresiasi aspek taqwa (ketersambungan jiwa) dari semua persembahan lahiriah kita:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“(fisik material) Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya… (QS. Al-Hajj: 37).

Ada cerita menarik terkait ikhlas (taqwa). Alkisah, ada seorang mursyid tarekat Naqsyabandi Alkhalidi di Aceh. Namanya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda. Seringkali murid-muridnya mengantarkan makanan dan hadiah sebagai bentuk cinta mereka kepada guru. Persembahan-persembahan yang dibawa sering terlihat sempurna

Namun Beliau punya kemampuan untuk mengetahui wujud batiniah dari apa yang dibawa. Hanya yang disajikan secara ikhlas yang benar-benar diterima atau dicicipi olehnya. Misalnya, ada ada murid yang kebetulan marah-marah ketika memasak makanan itu di rumah. Beliau tau itu dan tidak mau mengkonsumsinya. Kata Beliau, “Saya tidak bisa memakan marah-marah kalian”. Yang terlihat dimatanya bukan makanan enak. Melainkan marah-marah si murid.

Ada juga makanan yang ketika diantar, diletakkan di kaki saat mengemudi. Beliau juga tidak mencicipinya karena dinilai makanan itu tidak diperlakukan dengan baik. Menurut Beliau, tidak pantas makanan yang dipersembahkan dengan niat lillahi ta’ala (hakikatnya untuk Allah) tetapi diletakkan di kaki. Beliau justru makan jenis apapun (sesederhana apapun) ketika benar-benar disajikan dengan penuh takzim oleh muridnya.

Saat ini, sekitar 300an murid sedang mengikuti suluk Idul Adha (khalwat/iktikaf) di dayahnya. Penulis pernah beberapa kali suluk meriset metode belajar para santri di tempat ini. Pendidikan ruhiyah yang dipimpinnya sangat ketat. Bahkan menurut kami dapat dikatakan sempurna. Makanan yang disajikan kepada jamaah suluk tidak hanya bebas dari unsur hewani, tetapi juga bersih lahir dan batin. Karena hanya dengan cara itu, sebagaimana kata Nabi SAW, aliran setan dalam darah bisa dibatasi.

Pernah beberapa kali saat suluk, petugas masak Beliau panggil. Alasannya sederhana, pada saat mencicipi makanan, Beliau mengetahui dari rasa makanan bahwa ada koki yang batal wuduk, kurang berdzikir, atau bahkan banyak berbicara. Itu salah satu bentuk kasyaf beliau dalam menjaga kualitas pendidikan dzikrullah. Bahkan satu ulat saja yang masih tersisa dalam sayuran yang dimasak di kuali besar, Beliau tau. Padahal Beliau tidak melihatnya. Beliau tau ketika mencicipi makanan itu ketika dihidangkan.

Ada teknik memasak para nabi atau sufi yang dapat memastikan unsur-unsur syaitani tidak hadir baik dalam kandungan bahan maupun proses memasak. Jenis makanan seperti ini yang dimakan para salik selama berhari-hari sehingga dzikirnya kuat dan kehadiran Allah dapat dirasakan.

Para sufi yang jiwanya sudah seperti cermin dapat mengetahui kehadiran unsur-unsur ilahiyah atau non-ilahiyah dalam berbagai dimensi duniawi. Bagi kita mungkin masih butuh menghafal dalil-dalil Quran dan hadis untuk mendefinisikan apa yang halal atau haram, baik atau buruk. Tapi bagi sebagian ahli sufi, Tuhan sendiri yang memberitahukan nilai kandungan sesuatu melalui vibrasi qalbu atau potensi kasyaf. Itu termasuk bagian dari “kehadiran Allah”, satu bentuk makrifat (gnostisisme) dalam Islam.

Dalam berbagai kasus di atas, Sufimuda seperti enggan atau menolak makanan yang disajikan secara tidak “steril” (tidak punya spirit ilahiyah). Ternyata, ini salah satu bentuk pendidikan sufisme. Tujuannya untuk mendidik murid memiliki totalitas sikap ikhlas dalam mempersembahkan atau menyajikan sesuatu. Sebab, ikhlas itu bagian dari taqwa. Dalam ibadah, gelombang ikhlas inilah yang ditangkap atau diterima Allah. Bukan sekedar mewahnya persembahan, sementara isinya penuh ananiyah (kekotoran jiwa).

Itulah penyebab ibadah atau persembahan mewah Qabil tidak diterima Allah. Dia tidak ikhlas. Sementara punya Habil diterima-Nya meskipun sederhana, karena disajikan sepenuh jiwa:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا
وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Maidah: 27).

Syariat fisik material dari kurban Qabil sudah terpenuhi. Tetapi nilai tasawuf atau ihsannya tidak ada, sehingga ibadahnya tertolak (QS. Al-Maidah: 27). Jadi membutuhkan prinsip-prinsip kearifan yang tinggi untuk membawa amalan kita sampai ke sisi Allah. Dalam hal ini, para guru sufi sering mengatakan: “Syariat adalah metodologi untuk memastikan sah atau tidak sahnya ibadah (secara lahiriah), sementara tarekat adalah metodologi yang dapat memastikan diterima atau tidak diterimanya ibadah (oleh Allah).”

Boleh jadi menurut hayalan kita, ibadah-ibadah kita sudah bagus sekali. Tetapi menurut Allah itu tidak benar. Sebaiknya kita tau, apakah ibadah-ibadah kita selama ini sudah benar-benar diridhai, diterima atau diperkenankan oleh-Nya. Terlalu telat kalau harus menunggu mati atau kiamat untuk menanyakan hal itu kepada Allah. Sebab, boleh jadi yang selama ini baik menurut kita, tidak baik menurut Allah. Atau sebaliknya, baik menurut Allah, tapi tidak baik menurut kita.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by PEMUDA SUFI:
menuju Indonesia yang bermuraqabah. 

2 Comments

  1. mantap …
    nmun metode untuk menginterkoneksikan jiwa kita dengan tuhan ini bagai mana kanda sehingga kita bisa tau akan kehadirat tuhan…?

    mhon pencerahan kanda
    hormat adinda dri HMI cabang bima

    Like

    1. Perlu melakukan proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), yang dalam dunia tasawuf atau irfan juga disebut sebagai proses tarekatullah (dengan berbagai instrumennya termasuk suluk/khalwat yang dibimbing seorang walimursyid).

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s