AHLI BEDAH JIWA

image: npr.com

Ahli Bedah Jiwa
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Manusia terdiri dari unsur material dan immaterial. Untuk dekat dengan Allah Yang Maha Suci, keduanya tentu harus dibersihkan, dibedah atau disucikan. Caranya?

Gampang. Dibutuhkan unsur-unsur material (i.e. air) untuk membersihkan organ material (fisik/jasad). Begitu juga untuk membersihkan dimensi batiniah dari jiwa atau kalbu, harus dengan unsur-unsur batiniah pula. Sebab, jiwa tidak dapat dibersihkan dengan air thaharah, karena keduanya tidak setara. Ruh harus dibersihkan dengan ruh. Harus ada unsur sejenis untuk dapat membersihkan masing elemen ini.

Makin dalam unsur dari manusia, makin murni unsur yang diperlukan untuk dapat membersihkannya. Membersihkan kulit yang kotor, mungkin cukup dengan air sumur. Tapi untuk membersihkan luka dalam tubuh, itu harus dengan alkohol. Artinya, semakin halus elemen dari diri kita, dibutuhkan jenis unsur yang lebih steril untuk proses tazkiyah-nya.

Demikian juga dengan pensucian jiwa. Ruh atau jiwa manusia hanya dapat dibersihkan oleh ruh yang lebih tinggi, yang disebut dengan “ruh yang suci lagi mensucikan” (ruhul quddus, arwahul muqaddasah rasulullah). Mudah bagi kita untuk menemukan air guna membersihkan anggota tubuh. Tapi untuk menemukan “ruh suci” yang dapat mensucikan jiwa atau kalbu, itu pekerjaan sangat menantang bagi kita semua.

Dalam hal ini, fiqh (syariat) mengajari kita cara mengidentifikasi dan menemukan air yang bersih. Sementara tarekat (tasawuf) mengajari kita cara mengenal dan terhubung dengan ruhani rasulullah. Masing-masing punya metodologi untuk mengislamkan (mensucikan/membersihkan) kita, secara lahir maupun batin. Untuk itu dibutuhkan guru yang dapat membantu kita memahami serta mencapai kesucian kedua dimensi ini. Tipe guru untuk keduanya bekerja dengan cara berbeda (beruntung jika ada yang paham keduanya).

Untuk mengobati dan membersihkan kulit/dimensi luar, mungkin cukup dengan perawat (yang banyak sekali jumlahnya). Sementara untuk membedah organ terdalam, harus dengan dokter ahli (yang terbatas keberadaannya). Pun untuk belajar dimensi lahiriah agama, memadai dengan alim fiqh yang banyak sekali stock-nya (serta terus diproduksi di berbagai institusi agama). Tapi untuk membedah jiwa, butuh ulama irfani (mursyid) yang mampu menembus jiwa pasiennya dan jumlah mereka sangatlah langka.

Agama itu bukan sekedar tau, tetapi harus tersambung dengan Allah. Kalau sekedar tau tentang agama, mungkin sosok orientalis sepertinya Snouck Hurgronje lebih islami, lebih faqih dan paham tauhid, dibandingkan ulama-ulama lain pada masanya. Tapi apakah batinnya benar-benar tersambung dengan Allah?

Sebenarnya, dengan bantuan Google dan YouTube (serta ribuan manual kitab yang tersedia) sudah lebih dari cukup bagi kita untuk “tau” tentang agama. Karena itu ilmu akal. Rajin-rajin saja membaca, cerdas kita. Tetapi, untuk bersih dan tersambung dengan Tuhan, itu butuh edukasi dan perwalian khusus dengan seorang supervisor yang sudah mondar-mandir mikraj ke alam malakut dan rabbani. Disinilah letak makna hakiki dari “mencari guru”.

Manusia memiliki beragam kesadaran (consciousness) yang perlu diaktifkan. Pertama, “mind consciousness” (alam akal). Pembenahan dimensi ini dapat diupayakan oleh banyak guru. Seorang motivator kafir sekalipun dapat membangun kecerdasan level ini. Kesadaran bawah sadar kita dapat distimulir melalui retorika, musik, cerita, refleksi dan ragam visual lainnya. Banyak training yang tersedia untuk ini. Mulai dari yang biaya pendaftarannya ratusan ribu sampai ratusan juta.

Kedua, “spiritual consciousness” (kesadaran ruhani/ketersambungan dengan alam rabbani). Ini hanya dapat dilakukan oleh para nabi (atau yang mewarisinya). Mereka bahkan tidak butuh musik, diskusi, retorika atau presentasi visual apapun. Terkadang cukup dengan cara diam, menyendiri, tutup mata dan tidak bertanya sama sekali; berbagai keajaiban dapat terjadi. Dalam hal ini kita menemukan khalwat (suluk/iktikaf), misalnya, sebagai bagian dari gaya hidup seorang nabi.

Karena begitu esensialnya kecerdasan ruhani dan keterkoneksian dengan alam yang lebih tinggi, Salman Alfarisi memutuskan untuk mengembara dari Persia ke Romawi, sampai akhirnya tiba negeri Hijaz guna menemukan seorang guru ruhani (Muhammad SAW) yang muncul di tengah kelompok ummi. Sebab, kalau sekedar ahli logika, mungkin bangsa Persia sudah jagonya saat itu. Atau kalau sekedar menjadi ahli baca kitab; di Romawi, Yunani dan Palestina banyak ustadnya.

Sekarang, kemana kita harus pergi guna menemui “ahli bedah jiwa” yang dapat membimbing kita berjalan menuju alam rabbani? Atau mungkin sudah memadai dengan mendengar postingan ceramah para alim artis di medsos dan TV?

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by PEMUDA SUFI:
menuju Indonesia yang bermuraqabah. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s