ISLAM KARNAVAL

image: Serambi Indonesia (Jum’at, 30/8/2019)

Islam Karnaval
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Judulnya “Islam Karnaval”. Sudah hampir setahun seorang Guru sufi menugaskan kami untuk mengurainya. Tetapi entah kenapa, selalu tertunda. Ide-ide seperti susah mengalir. Padahal, sudah lebih dari 50 judul lain kami lahirkan dalam waktu selama ini. Ternyata, baru hari ini izin menulis “turun” dari langit, setelah membaca sebuah berita di harian Serambi Indonesia.

Tetapi dalam kevakuman penulisan ini, filsuf kita Teuku Muhammad Jafar yang juga dikenal sangat gigih dengan kritik terhadap suplai air bersih dan bioskop di Koetaradja, telah menjabarkan beberapa sisi dari judul itu. Tulisan ini coba mengulas aspek lainnya.

“Diminta jadi Imam karena Mirip Ustaz, ternyata…”. Itu judul berita yang tertera disudut kanan bawah halaman muka harian Serambi Indonesia (Jum’at, 30/8/2019). Isinya lucu, tentang masyarakat desa Gampong Teungoh Beureughang, Kecamatan Tanah Luas di Aceh Utara yang terlanjur mempersilahkan orang gila menjadi imam shalat magrib mereka.

Kisah ini berawal dari kagumnya masyarakat dengan kehadiran seorang pendatang di kampung mereka. Sosok asing itu terlihat anggun memakai teluk belanga berlengan panjang, dengan kain sarung, serta peci yang terlihat menutupi rambutnya yang tergerai panjang. Sebuah tasbih tergantung disela-sela jarinya, membuat masyarakat semakin yakin kalau ini sosok ustadz yang dekat dengan Allah. Tentu saja masyarakat dengan lugu mempersilakan si alim memimpin shalat. Sang ahli dzikir ini dengan penuh percaya diri maju mengimami belasan jamaah magrib pada Rabu petang (28/8/2019) itu.

Tiba-tiba, jamaah tersentak dengan bacaan Fatihahnya yang amburadul. Dilanjutkan dengan surah Al-ikhlas yang kacau balau. Sebagian jamaah mundur teratur, melanjutkan shalat sendiri-sendiri. Lainnya dalam keadaan gamang menamatkan magrib mereka bersama sang teungku. Tanya jawab setelah shalat magrib menguak fakta-fakta yang tidak diketahui sebelumnya.

Ternyata, ini orang gila. Semakin diwawancara, semakin kambuh sakitnya. Sampai ia mengamuk. Beberapa warga ingin dipukulnya. Polisi turun tangan mengamankan sosok ‘shaleh’ misterius yang kemudian diketahui bernama Miswar. Setelah berhasil menghubungi pihak keluarga, terkonfirmasi jika warga Kecamatan Baktiya Aceh Utara ini mengidap kelainan jiwa.

***

Bapak/ibu sekalian, kita tidak tau berapa banyak orang gila yang sudah terlanjur memimpin keimanan masyarakat kita. Mungkin bacaannya sangat fasih. Bahkan al-Fatihah dan Qulhunya sempurna. Penampilannya lebih Arab dari orang Arab. Gayanya lebih islami dari kebanyakan muslim. Bukan tidak mungkin, Quran dan hadis dihafalnya. Tapi siapa tau, isi dalamnya penuh dengan kelainan. Saban hari menyulut ayat dengan nada-nada penuh kebencian. Memprovokasi umat untuk saling berantam dan mengkafirkan. Saat Pemilu kentara sekali. Kita ramai-ramai mengatasnamakan Tuhan untuk bermacam agenda politik kepentingan. Negara dibuat menjadi tidak stabil dengan fitnah. Wallahu ‘alam!

Mayoritas umat rapuh. Lugu dan mudah percaya dengan “penampilan”. Dan ini wajar. Karena kebanyakan kita tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan langsung dari Allah, apakah setiap sosok yang terlihat alim yang kita jumpai, jiwanya berisi iblis atau malaikat. Muraqabah umat sudah mati. Tali sinyal komunikasi untuk connect dengan Allah sudah putus. Akibat ketidakmampuan mengakses isi batin seseorang, kepercayaan kepada sisi dhahirnya lebih tinggi. Padahal, setan yang sangat batiniah itu musuh “nyata” manusia. Sayangnya, kita tidak tau pasti yang mana setan dan yang mana Allah.

***

Bukanlah sebuah kebetulan, pada hari kami membaca berita orang gila yang memimpin jamaah, khutbah Jum’at di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah membahas tentang Hijrah. Salah satu konsep hijrah yang dimaksud, selain perpindahan tempat, adalah perpindahan keislaman kearah yang lebih substantif ketimbang simbol-simbol belaka. Rupanya dua hari setelah ini, Ahad 1 September 2019, kita akan merayakan 1 Muharram 1441 H. Perayaan tahun baru Islam biasanya dikemas dengan karnaval. Untuk itu, topik sedikit kami pertajam terkait Islam karnaval.

“Islam Karnaval” adalah Islam yang sering kita lihat pada perayaan hari-hari besar Islam. Anak-anak diarak berjalan dengan kostum-kostum kebesaran. “Tiba-tiba” semua terlihat seperti ulama. Pada even lain, 17 agustusan misalnya, anak-anak juga “berubah”. Menjadi polisi, tentara, dokter dan sebagainya hanya dengan baju yang dipakainya. Itu karnaval. Hanya show saja. Ganti baju tidak membuat mereka serta merta berganti kecakapan. Untuk anak-anak, itu dibenarkan, sebagai motivasi saja. Untuk orang dewasa, janganlah terus-terusan berkarnaval.

“Kita sering diajarkan untuk mengikuti sunnah nabi. Tapi hampir seluruhnya adalah sunnah Muhammad paska ia menjadi nabi, bukan sunnah sebelum ia menjadi nabi”, kata Abuya Sufimuda. Padahal, apa yang dilakukan Muhammad sejak usia muda, itulah yang menyebabkan ia menjadi nabi. Termasuk bagaimana ia menyendiri di pinggir gunung setiap waktu. Ini yang tidak diketahui banyak orang. Harusnya rahasia itu turut dipelajari dan ikuti.

Kita agak pincang dalam memotret sirah. Kita mengikuti Nabi SAW setelah Beliau menjadi nabi. Padahal, dibalik jenggot panjang dan jubah arabnya itu, ada dzikir selama lebih dua puluh tahun yang tidak terputus yang ia jalani. Ada ubudiyah sosial yang luar biasa yang ia tekuni. Itu semua membentuk kekeramatan, akhlak atau batin keislamannya. Kalau mau ikut Muhammad, tauladanilah hal-hal yang ia lakukan sejak belia sehingga ia dianggap pantas oleh Allah pada usia 40 untuk menerima mandat dari-Nya. Disitulah letak rahasia kenabiannya.

Sebenarnya, kalau kita beretika, “haram” hukumnya memakai pakaian Nabi. Kalau itu memang benar-benar “pakaian kenabian”. Memakai baju polisi saja bisa ditangkap. Sesekali ada polisi gadungan yang berkeliaran untuk menakut-nakuti orang. Makanya jangan berlagak jadi Nabi, apalagi untuk menakut-nakuti umat. Siapa kita sehingga begitu berani menyamakan bahu dengan nabi. Bahasa Aceh, “Nyan ken neuduek tanyoe”.

Sultan Ali Mughayatsyah pendiri Kerajaan Aceh Darussalam pernah meregulasi rakyat dalam 21 wasiatnya untuk tidak meniru warna pakaian bangsa tertentu dalam masyarakat. Masing-masing punya privilage. Mirip-mirip kita sekarang, tidak boleh memakai plat no.1 untuk kendaraan. Karena itu bukan “pakaian” kita. Itu punya presiden. Dalam tasawuf juga ada adab untuk tidak menyamai, apalagi melampaui penampilan guru. Kira-kira begitu.

Maka cukur saja jenggot anda. Buka jubah anda. Kalau tujuannya untuk “menyaingi” nabi. Biasa-biasa sajalah, menurut kelas kita masing-masing. Kaus oblong pun sebenarnya sudah memadai untuk merefleksikan maksimalnya level keimanan dan kealiman kita. Sebenarnya disitulah letak salah satu rahasia para wali. Mereka tersembunyi. Dalam artian, sulit ditemukan mereka dalam barisan karnaval berjubah yang seolah-olah paling islami. Batin mereka yang sejatinya mewarisi kesucian dari nabi.

Dalam hal ini, saya kagum dengan Quraish Shihab. Dengan ketinggian ilmu tafsirnya, beliau menolak disebut “habib”. Pada saat kaum alawiyin ‘awam’ lainnya ramai-ramai ingin disebut “habib”. Susah memang memiliki sifat rendah hati. Karakter inti seorang habib memang rendah hati. Bukan sekedar jubah warisan kakeknya.

Oleh sebab itu, hijrah asesoris yang makin populer dewasa ini, seperti mengganti baju dan penampilan, tidak membuat kita serta merta menjadi ahlusunnah. Anak-anak memakai baju polisi, tentara atau dokter saat pawai, tidak otomatis merubah substansi mereka. Sebab, untuk menjadi dokter misalnya, seseorang harus menjalani wajib belajar selama 12 tahun (dari SD sampai SMA). Ditambah kuliah 4 tahun, serta menjalani koas serta pendidikan spesialis dalam beberapa tahun lagi. Tak kurang dari 20 tahun pendidikan dibutuhkan untuk membuat kita layak memakai sebuah baju yang sebenarnya.

Menjadi ulama pewaris nabi tentu lebih berat dari itu. Batinnya yang harus diwarisi. Maka hati-hati “mereplika” penampilan nabi. Faktanya, umat pun sering tertipu dengan ragam penampilan kita yang seperti itu. Tapi, sesekali sekedar kebutuhan karnaval, it’s ok lah. Tapi kalau sudah masuk ranah kejiwaan dan efeknya menggangu kenyamanan, negara harus turun tangan. Negeri-negeri arab telah dibuat hancur karena kegilaan nafsu yang dibungkus agama. Indonesia jangan kita biarkan menjadi seperti itu.

Sekali lagi, saya tidak mengatakan salah kalau kita berjubah. Apalagi sampai mendiskreditkan komunitas Arab yang telah mewarnai Nusantara ini. Kalau itu dianggap bagian dari mengikuti “sunnah.” Go ahead. Meniru pakaian artis saja kita suka sekali, apalagi merasakan baju yang kita yakini bagian dari style Nabi. Orang Arab sendiri banyak berjubah bukan semuanya karena alasan mengikuti sunnah. Tapi memang itu kearifan lokal, warisan leluhur yang sudah sangat tua. Nabi Muhammad SAW sendiri lahir dan besar dalam konteks itu.

Yang saya tidak setuju adalah, dengan baju itu hendak menampilkan bahwa kita lah yang paling berhak bicara atas nama Nabi dalam memutuskan kebenaran, halal dan bid’ah agama ini. Paling parah lagi, memakai jubah dan jenggot Nabi untuk melegalkan sakit jiwa dan caci maki. Seperti teresume pada caption gambar berita orang gila oleh harian Serambi Indonesia di awal artikel ini: “Jangan menilai orang hanya dari penampilan, karena terkadang penampilan bisa menjadi modus penipuan paling besar”.¬†

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

___________________
powered by PEMUDA SUFI:
“menuju Indonesia yang Bermuraqabah”.

7 Comments

  1. Makasih bang, tulisan2 Abang sungguh menemani dan menerangi akal bathin saya yg gersang diusia uzur 40 tahun, semoga Alloh limpahkan keshalehan pada Abang, hingga Abang bisa terus mencerahkan dan berbagi pengalaman untuk kebaikan umat Rosulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam, aamiin

    Like

    1. Sama-sama abang Stubruk. Semoga kita selalu dalam petunjuk-Nya.

      Like

  2. Abdul Qadir

    Mantap luar biasa abangda said muniruddin. Sungguh pencerahan yang sangat menarik bg orang yg berfikir.

    Like

    1. Alhamdulillah. Tk abang Abdul Qadir.

      Like

  3. Anonymous

    Thank you kakanda Said muniruddin sangat luar biasa tulisan dan isinya sehingga saya sbgai pembaca sangat terinpirasi.

    Like

  4. Anonymous

    Thank you kakanda Said muniruddin sangat luar biasa tulisan dan isinya sehingga saya sbgai pembaca sangat terinpirasi.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s