QUANTUM IKHLAS

image: freeislamiccalligraphy.com

Quantum Ikhlas
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tidak heran. Jika even besar keagamaan seperti Idul Adha, Asma-Asma Allah (tasbih, tahmid, tahlil dan takbir) disandingkan dengan sosok kambing dan lembu. Tau kenapa?

Karena kita semua binatang, yang sedang berusaha menghadap Allah. Baru bisa ‘disejajarkan’ dengan Allah, kalau sudah ikhlas. Ikhlas adalah ‘binatang’ yang telah kehilangan “diri”, telah ‘digorok’, ‘dimatikan’, atau disucikan. Sehingga muncul dimensi ketuhanannya.

Secara lughawi (bahasa), ikhlas artinya “murni” atau “tidak bercampur”. Tidak ada unsur selain Allah. Maknanya, kesadaran berfikir dan bertindak berasal dari dimensi ruhaniah yang paling suci. Bukan sekedar mengikuti mood kimiawi atomik, atau alam bawah sadar yang sering bercampur rasa was-was.

Ikhlas yang sebenarnya hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang sudah melewati proses “penyucian diri” (ahli muraqabah). Yaitu orang-orang yang sudah tau apa maunya Allah. Lalu dia memilih untuk murni berserah diri, tunduk patuh, atau semata-mata mengikuti keinginan (bisikan) Allah. Bukan sekedar mengikuti kecerdasan akal personalnya.

Ikhlas secara teoritis juga diartikan: “menjadikan Allah sebagai sumber motivasi”. Praktisnya adalah; kita benar-benar terkoneksi, merasakan dan digerakkan hanya oleh vibrasi dari Energi (ke-Esa-an) Tuhan yang tidak terbatas. Inilah dimensi quantum dari tauhid. Sehingga surah tauhid dinamai “Al-ikhlas”, yaitu leburnya kemauan  diri dalam quanta muraqabah (kesadaran ilahiah). Kita akan lebih mudah memahami ini setelah mengikuti “training dzikir” (suluk/khalwat), yang hari ini saya rekomendasikan untuk dilakukan di Dayah Sufimuda, Aceh.

***

Singkatnya, ikhlas adalah “lebur atau pasrah dalam kemauan atau ridha Allah”. Secara teori terlihat mudah. Namun bagaimana kita memahami dan mempraktikkannya secara hakiki?

Mari kita mulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, anda sedang menghadiri sebuah acara. Tiba-tiba terfikir untuk pulang ke rumah, walaupun juga ada keinginan untuk tinggal lebih lama. Anda jadi ragu. Pertanyaannya, apa yang terbaik bagi anda: pulang saja atau tinggal lebih lama?

Anda dapat saja menganalisis dengan akal  pikiran ataupun nafsu. Yang jadi pertanyaan hakikinya adalah, menurut Allah sendiri bagaimana, apakah tetap tinggal atau harus segera pulang, sehingga anda dapat ikhlas mengikuti keputusan terbaik dari-Nya. Itu contoh sederhana. Dalam tindakan kecil sekalipun kita harusnya dapat memperoleh hidayah (petunjuk), atau isyarah (sinyal) dari Allah.

Contoh lain, suatu ketika anda berada dalam kelompok yang sedang mengkritisi seseorang. Pertanyaannya, bagaimana baiknya menurut Allah, apakah anda boleh ikut terlibat dalam diskusi itu atau lebih baik diam dan menarik diri?

Anda bisa saja menganalisis situasi ini menurut perasaan, kecerdasan intelektual, atau kepentingan hawa nafsu. Tetapi menurut Allah bagaimana? Boleh atau tidak? Dengan demikian anda dapat meng-ikhlaskan diri pada keputusan Allah, sehingga anda tidak salah melangkah. Bisakah pada saat menghadapi hal-hal seperti ini anda “mendengar” apa petunjuk Allah? Sebab, menuruti apa keputusan terbaik dari Allah itulah yang disebut ikhlas.

Begitulah kehidupan nyata. Setiap saat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Mulai dari hal-hal kecil sampai kepada hal-hal besar. Mulai dari keputusan pergi atau tinggal, terlibat atau menarik diri, berbicara atau diam, makan atau menahan diri, dan seribu satu tindakan lain dalam konteks tertentu. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat berkomunikasi dengan Allah setiap hari selama 24 jam, sehingga kita dapat mengambil keputusan dan tindakan yang benar-benar diridhai? Sebab, ikhlas adalah tunduk patuh hanya kepada apa yang Dia restui.

Pun yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari lebih luas dari teks universal tentang halal-haram atau baik-buruk yang terhimpun dalam Kitab Suci. Yang rutin kita hadapi sering berada dalam wilayah partikular yang “abu-abu” (debatable) dan memerlukan kecakapan pengambilan keputusan teknis kondisional, apakah halal atau haram, baik atau buruk, bid’ah atau tidak, sesat atau tidak.

Kita semua awam dan berperilaku spekulatif. Boleh jadi sesuatu yang baik dalam pandangan kita, buruk bagi Allah. Atau sebaliknya; buruk menurut kita, baik dalam pengetahuan Allah (QS. Al-Baqarah: 216). Mungkin suatu ketika kita ingin sekali membantu seseorang, tapi bisa jadi Allah dengan berbagai rahasia dan alasan, tidak menyukainya. Meskipun secara “tekstual” (sunnah teoritis), membantu orang itu baik. Tapi tidak semua yang baik itu baik.  Pun tidak semua yang buruk itu buruk. Dia lebih mengerti.

Praktisnya, tidak semua isi pikiran dan tindakan kita dapat dirujuk secara akurat kepada teks ayat atau hadis. “Hitam putih” sesuatu tidak bisa diputuskan secara langsung dan mudah. Apalagi ayat dan riwayat tidak luput dari perdebatan dan keragaman tafsir. Antar mazhab juga terkadang memiliki logika hukum yang berseberangan. Ayat dan hadis apa misalnya yang harus kita gunakan sebagai acuan bahwa Allah sudah setuju atau tidak setuju dengan undang-undang A, B, C dsb yang ingin kita sahkan? Bagaimana cara mengkonfirmasi rencana keputusan sebuah proyek sudah mendapat perkenan dari Allah. Sehingga kita dapat mengesahkan atau tidak bersedia mengesahkannya secara ikhlas, sesuai apa yang diharapkan Allah.

Namun jangan berfikir kalau dapat berkomunikasi dengan Allah kita akan selalu hidup “enak”. Disatu sisi, komunikasi merupakan alat untuk meminta pertolongan. Seringkali Dia membantu, jika dalam persepsi-Nya bernilai baik. Maka “Mintalah, pasti Kukabulkan” (QS. Mukmin: 60). Tapi jangan heran jika terkadang Allah justru menginginkan kita lapar, dahaga, susah, gagal, sedih, sakit, miskin bahkan mati/syahid sekalipun; guna memenuhi kebaikan-kebaikan yang tertinggi. Namun disitu letak ikhlas kita kepada apapun kemauan-Nya.

Problem kita yang awam adalah, kita tidak sampai pada level mengalami vibrasi energi muraqabah. Tidak tersambung saat berkomunikasi dengan Allah. Walaupun ibadah kita secara lahiriah terlihat sempurna, tetapi ada quanta batiniah yang terganggu sehingga tidak mengalami transendensi gelombang ketuhanan.

***

Ketersambungan sinyal dengan alam malakut (muraqabah) dapat dicapai melalui metodologi metafisika amali (irfan/tariqah). Keterbukaan ilham (wahyu) secara kuat memang disebut-sebut milik para nabi, wali, atau guru-guru spiritual (yang disebut sebagai “tali Allah” dimuka bumi, QS. Ali Imran: 103). Namun, siapapun dari umatnya dapat mencapai derajat tertentu dari wilayah yang membuat kita senantiasa dibimbing oleh Allah.

Jadi; untuk berperilaku ikhlas secara kontekstual kondisional,  tidak cukup hanya dengan berpedoman kepada undang-undang yang pernah diterbitkan Allah dan Nabi pada masa lalu (Alquran dan Sunnah). Sampai akhir zaman, kita memiliki peluang untuk berinteraksi dengan Allah dan ruhani rasulullah. Sebab Dia Maha Hidup, senantiasa menyaksikan, tidak pernah mati, dan memiliki sifat Kalam (senantiasa berkata-kata) sepanjang masa.

Bukti awal ketersambungan dengan Allah adalah muraqabah. Inilah yang dicari para salik (sufi). Dalam berbagai ayat, ketersambungan jiwa dengan Allah juga dilukiskan dengan kata-kata “ruju” (kembali) ataupun “liqa” (berjumpa). Hidupnya muraqabah merupakan indikasi awal dari perjumpaan ruhaniah dengan Allah. Muraqabah merupakan bentuk komunikasi hudhuri (laduni) dalam mengakses petunjuk secara spontan dari alam Rabbani. Muraqabah adalah salah satu bentuk terbukanya hijab-hijab gaib dalam proses mencapai bentuk ikhlas yang sempurna.

Dengan petunjuk-petunjuk muraqabah inilah seorang hamba secara unik mengetahui baik buruknya sesuatu (tanpa harus membuka atau menghafal ribuan jilid kitab untuk menelusuri kebenaran agama). Kita tidak sedang menjelekkan profesi menghafal dan analisis teks. Itu juga sangat penting dan bagian tidak terpisahkan dari bangunan peradaban Islam. Kita sedang membahas keunikan “vibrasi ilahiyah” yang membuat para nabi yang tidak pernah menghafal kitab apapun misalnya, namun senantiasa memperoleh petunjuk langsung dari atas. Inilah mukjizat (karamah). Tindak tanduk mereka senantiasa dipayungi visi dari alam ilahiyah.

Sementara, untuk mencapai kondisi muraqabah perlu mujahadah. Makin kuat mujahadah, makin kuat dan intensif “vibrasi” muraqabah (yang juga disebut sebagai getaran qalbu ruhaniah, QS. Al-maidah: 1). Muraqabah merupakan wujud aktifnya quanta subatomik, “ayat-ayat anfusi”, atau tanda-tanda dari Allah dalam diri manusia (QS. Yusuf: 24). Faktanya, muraqabah ini baru hidup ketika software laduniyah (Kalimah Allah) di-install dalam qalbu. Untuk itu dibutuhkan seorang “ahli instalasi” yang punya license (otoritas) dari Allah.

Mursyid, demikian disebut dalam tasawuf (QS. Al-Kahfi: 17), adalah orang itu. Ia seorang maha guru atau washilah carier (pembawa washilah) yang bertugas mengaktifasi qalbu. Dalam dirinya ada sesuatu yang membuat ia punya kecakapan untuk membantu membersihkan “sampah-sampah” dalam file jiwa para murid. Sang mursyid harus mampu masuk jauh ke alam ruhani si murid. Lebih dalam dari sebatas kesadaran beta, alfa, teta dan delta dari gelombang bawah sadar. Ada wadah dalam diri si murid yang harus ia tempa agar Kalimah menetap. Kalimah ini adalah unsur nurullah, sebuah komponen batiniah yang dengannya memungkinkan bagi seseorang terkoneksi dengan alam yang lebih tinggi.

Oleh sebab itu, tazkiyatun nafs dalam tareqatullah menjadi fase paling awal dalam menggapai makrifat atau tersambung dengan Allah. Ketika jiwa telah disucikan dan Kalimah Allah telah aktif, muncullah muraqabah. Itu salah satu pertanda Allah sudah berkenan hadir. Sinyal-sinyal hidayah masuk dengan mudah melalui transmisi berbagai energi atau kekuatan malakutiyah (malaikat). Kalimah Allah dalam diri itulah yang mengendalikan gerak-gerik, tindak tanduk, pikiran, gagasan dan keinginan-keinginan agar sesuai kehendak Allah (ikhlas).

Muraqabah adalah juga bentuk energi  ikhlas yang secara alamiah hadir dari alam malakut untuk terapi berfikir positif. Ketika kita dalam proses berfikir misalnya, dan tanpa kita sadari bahwa itu salah, maka serta merta ada “petunjuk langsung” dari Allah yang memberi tau bahwa itu salah. Itulah muraqabah, yang dalam tulisan lainnya kami juga menyebutnya ‘Aqal al-Ilahi (BACA: POSISI ‘AQAL DALAM HUKUM ISLAM).

Jadi, mukhlisin itu orang-orang yang gerak-geriknya “ditentukan” Allah. Atas dasar inilah seseorang bisa menjadi “suci” seperti para nabi dan orang-orang terpilih lainnya. Sebab, bagaimana mungkin berdosa jika ia menyadari apa yang diinginkan Allah dan benar-benar patuh terhadap itu. Artinya, kedekatan (taqarrub) dengan Allah membuat tidak mustahil bagi seseorang untuk menjadi maksum (terpelihara), berada dalam pantauan, petunjuk dan perlindungan Allah. Namun, derajat kesucian juga bertingkat-tingkat. Sesuai level mujahadah. Pada level yang tinggi disebut kamil mukammil.

Itulah ikhlas. Tunduk patuh pada segala petunjuk, ketetapan, dan tanda-tanda dari Allah (muraqabah). Dengan memilih untuk ikhlas, gerak kita menjadi “gerak Allah” (gerak ilham). Semakin seseorang mengikuti muraqabah, semakin ia patuh pada dorongan/rekomendasi sikap dan perilaku yang datangnya dari sisi Allah. Itu yang secara hakikat disebut sebagai taqdir. Tunduk patuh pada “ketentuan” (kehendak, kemauan, hukum, atau ketetapan) Allah.

Sekilas, penjelasan ini terkesan fatalis dan deterministik (semua harus atas persetujuan Tuhan). Tidak juga demikian. Manusia adalah makhluk merdeka yang punya keinginan dan dapat membuat pilihan-pilihan. Mau melawan Tuhan dengan nafsu dan free-will juga bisa. Namun etisnya, pilihan-pilihan hidup dapat “dikoordinasikan” dengan Allah. Dialah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya. Sebab, iblis mudah masuk dalam berbagai sisi bodoh kita. Hanya Allah sendiri yang dapat mengalahkannya.

Maka tidak heran jika iblis mengatakan, ia tidak mampu mempengaruhi orang-orang ikhlas. Bagaimana mungkin diperdaya, orang-orang ini senantiasa dibimbing dan pasrah (ikhlas) pada petunjuk Allah:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40)

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan-perbuatan) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Al Hijr: 39-40).

Jadi, muraqabah merupakan instrumen paling esensial bagi kaum mukhlisin untuk memahami “perintah” dan “larangan” Allah. Sebagaimana firman Allah dalam ayat diatas, kita tidak boleh sekedar “memandang baik” (berprasangka baik) terhadap apa yang kita lakukan. Tetapi semua gagasan dan gerak kita sejatinya mengikuti apa maunya Allah. Sebab, iblis itu cerdik. Ia mudah masuk dalam setiap ide dan aksi kita.

Memastikan bagaimana iblis tidak menjadi “penumpang gelap” dalam setiap ide dan kegiatan manusia, merupakan ranah praktis ilmu tareqat atau irfan amali. Dalam dunia tarekat, muraqabah juga dikenal sebagai “detektor iblis”. Muraqabah adalah frekuensi yang hadir dari sisi Allah, yang dengan itu dapat secara mudah dideteksi keberadaan energi-energi pengganggu dari iblis dan syaitan.

Apa yang disebut sebagai “hisab” di akhirat, sesungguhnya adalah sebuah alat evaluasi adanya indikasi kecurangan (masuknya unsur-unsur iblis) dalam kerangka berfikir dan perilaku duniawi kita. Kalau sejak di dunia gerak kita sudah langsung didampingi (difasilitasi) oleh Allah, untuk apa lagi diperiksa nanti. Betul gak gaes?

Mengutip Nabi SAW, Guru kita Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda sering mengatakan, “ada orang-orang yang di akhirat tidak lagi dihisab oleh Allah. Bagaimana mungkin dihisab, semua yang dilakukan di dunia sudah duluan terkonfirmasi kepada Allah. Mana mungkin Allah meminta pertanggungjawaban apa yang sudah dari awal ia ridhai. Yang dituntut di akhirat itu hanyalah pikiran dan tindakan-tindakan kita yang tidak pernah terkonfirmasi kepada seleranya Allah.” Dari Beliaulah kami yang bodoh-bodoh ini mulai sedikit memahami realitas muraqabah (hakikat sufistik dari ikhlas).

Terakhir, muraqabah merupakan awal dari “quantum ikhlas”. Awal dari tauhid sufi. Awal dari  leburnya seorang hamba dalam ke-Esa-an Allah. Berbeda dengan ikhlas dalam perspektif syariat yang cenderung “teoritis” dan “spekulatif” (elok sangko), ikhlas dalam pengalaman sufistik hanya akan terjadi pada saat kita mengetahui secara “aktual” dan “praktis” apa maunya Allah. Namun teknologi untuk mengaktifasi energi muraqabah ini sangat langka. Bahkan di banyak tareqat atau kelompok tasawuf, muraqabah ini tinggal kajiannya saja. Barangnya mungkin sudah tidak ada.

Jadi, ikhlas itu adalah hilangnya unsur “kebinatangan” (diri/ego). Dan munculnya (kehendak) Allah. Karena ini elemen ihsan (sufistik), maka alat ukurnya adalah muraqabah.  Selama muraqabah (koneksi dengan Allah) belum ada, maka kita tidak dapat memastikan sesuatu sebagai sebagai benar-benar “ikhlas” (dorongan murni dari Allah). Melainkan sebatas perasaan “berbaik sangka” saja, seolah-olah Allah suka.

BACA JUGA: “MEMASTIKAN IBADAH KITA IKHLAS (DITERIMA ALLAH)”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube:https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb:http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG:@saidmuniruddin