SEAKAN-AKAN MELIHAT ALLAH

image: “seakan-akan melihat Allah”

Seakan-akan Melihat Allah
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ihsan adalah, beribadah seakan-akan melihat Allah. Ibadah yang tidak sampai pada tingkat ihsan, tertolak. Sebab, ihsan itu adalah khusyuk (Allah hadir, dilihat saat beribadah).

Khusyuk itu kunci sukses ibadahnya orang-orang beriman (QS. Al-Mukminun: 1-2). Tanpa kemampuan melihat Allah saat shalat misalnya, kita disangkakan sebagai orang-orang yang lalai. Dikutuk sebagai pendusta agama (QS. Al-Ma’un: 4-5). Sebab, tanpa kehadiran Allah, semua lenggak lenggok ibadah bernilai palsu.

Kata Nabi SAW: “Ihsan adalah engkau beribadah seakan-akan melihat Allah, jika engkau tidak melihat Allah pastikan maka Allah melihatmu” (HR. Muslim dan lainnya). Tak ada ilmu yang secara spesifik mengajarkan kita cara melihat Allah, selain tarikat (irfan praktis).

Sementara fiqh dan tasawuf menguraikan ini secara teoritis (spekulatif). Tidak ada metode praktis untuk itu. Hanya sebatas kesadaran ilutif, kira-kira saja. Bukan bentuk kesaksian (musyahadah) yang empirik. Karena diyakini Allah itu murni batiniah: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui” (QS. Al An’am: 103).

Sementara tarikat (irfan) memahami Tuhan dalam tingkatan lebih advanced. Dia “dhahir” (empirik) sekaligus “batin” (spiritual). Allah yang spiritual menyatu dalam dimensi material (QS. Al-Hafid: 3). Dia ada dimana-mana. Meliputi segala sesuatu (QS. An-Nisa: 126). Imanen sekaligus transenden (QS. Al-Baqarah: 115). Allah itu unik, laitsa kamislihi syai’un. 

Makanya, wahdatul wujud yang membuat berang sejumlah teolog, adalah hal biasa saja dalam pandangan kaum sufi. Namun tentu saja perlu cara menguraikan yang lebih eksak tentang filsafat wujudiyah ini agar anak kecil tidak bingung. Saya tidak akan membahas tentang wujudiyah. Fokus kita ke “seakan-akan melihat Allah”.

Hadis di atas menegaskan adanya objek yang “dilihat”. Pada bentuk kesadaran (musyahadah) yang paling tinggi, yang harus dilihat adalah Allah. Namun tidak serta merta bisa langsung ke sana. Ada metode untuk bisa seperti itu. Tahap paling awal adalah “melihat kakbah”.

Shalat harus menghadap kiblat. Kiblat paling dasar adalah bangunan fisik berbentuk kubus yang ada di tengah kota Mekkah. Ini kiblat syariat. Kita disuruh menghadap wajah ke arah itu. Tetapi, bisakah anda melihat Allah dibangunan itu? Bagaimana kita dapat berimajinasi ada Allah di tembok Kakbah?

Shalat yang benar adalah yang menghadapkan wajah kepada Allah. Inni wajjahtu wajhiya.. (QS. Al-An’am: 79). Meskipun tidak serta merta dapat langsung melihat Wajah atau Dzat-Nya, Islam memberi tuntunan beragama lebih substantif agar kita bisa masuk dalam dimensi kiblat yang lebih “halus”. Disinilah dalam tarikat (irfan) dikenal terminologi washilah dan rabithah.

Pada saat belum dapat menjangkau “wajah Allah” yang hakiki (kiblat hakikat), kita terlebih dahulu diajarkan untuk menghadap ke arah “wajah kekasih-Nya” (kiblat tarikat). Kekasih-Nya senantiasa ada sepanjang zaman. Makanya Allah mengirim nabi dan rasul sepanjang zaman. Mereka bukan sekedar manusia biasa. Mereka juga sosok luar biasa karena telah disucikan (di install elemen washilah). Dalam filsafat metafisikanya, Prof. Qadirun Yahya menyebut mereka sebagai washilah carier (pembawa washilah). Ada “Wajah”, “cahaya Allah” atau “Nur Muhammad” dalam diri orang-orang hebat ini. Itulah mengapa mereka disebut sebagai “utusan Allah”. Semua kata-kata dan tindak tanduk mereka setara dengan wahyu (QS. An-Najm: 3).

Maka disinilah kemudian dalam tarikat ada ilmu rabithah. Ada teknik meditasi yang diajarkan para pewaris nabi untuk terkoneksi dengan ruh, cahaya atau wajah Allah yang dititip dalam diri para kekasih, khalifah, walimursyid atau imam zaman. Teknik ini lebih canggih dari berbagai bentuk meditasi agama manapun. Maka rugi umat Islam yang tidak mempelajari teknologi spiritual ini.

Melalui teknis dan teknologi spiritual inilah kita akan memahami dan merasakan apa yang disebut Nabi dengan “seakan-akan melihat Allah”. Matahari memang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tapi cahaya matahari (yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari matahari) dapat disaksikan saat ia menghampiri wujud tertentu.

Allah adalah cahaya langit dan bumi (QS. An-Nur: 35). Melalui metodologi khusyuk sufi inilah anda akan dibawa untuk “melihat” (cahaya) Allah secara empiris sekaligus spiritual (dhahir sekaligus batin). Seluruh potensi inderawi kita akan dibimbing oleh kesadaran spiritual untuk dipusatkan pada satu “titik suci”, kiblat hakikat atau wajah batiniah yang sesungguhnya terbit dari cahaya Allah itu sendiri.

Tanpa mengalaminya, anda akan sedikit sulit memahami tulisan sederhana ini. Memang begitu. Hakikat dari beragama adalah mengamali dan mengalami.

Terakhir, “… jika engkau tidak melihat Allah maka pastikan Allah melihatmu”. Ini juga sama, bagian dari ilmu rabithah dalam tariqah. Kalau kita tidak dapat me-rabith Allah, maka rabith saja dengan cara terbalik: Allah yang seakan-akan sedang me-rabith kita. Kedua cara ini sama-sama dapat membuat kita melihat atau menghadirkan Allah.

Inilah teknik dzikir yang benar, mengingat sekaligus melihat wajah-Nya. Selain dalam ibadah mahdhah (seperti shalat), ilmu dan praktik ini dapat diterapkan dalam semua bidang kehidupan: sosial, bisnis, politik dan sebagainya. Namun ada password, yang diperoleh dengan ijazah. Pun tanpa amal shaleh (ubudiyah) serta ibadah lainnya yang bersih dari unsur-unsur musyrik (seperti sombong dan riya), akan terasa sulit bagi kita untuk terhubung (liqa’) dengan Wajah yang suci ini (QS. Al-Kahfi: 110).

Muhammad bin Abdullah adalah contoh bagaimana seorang manusia biasa (basyar) yang mampu tembus sampai ke sidratul muntaha dengan teknologi batiniah ini. Para sufi pada derajat tertentu juga mengalami berbagai transendensi spiritual, dipenuhi karamah atau mukjizat, dalam ikhtiar mengakses Wajah-Nya.

Kami berterima kasih kepada Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda, seorang guru spiritual di tariqah Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah, Aceh, yang dengan penuh tilik kasih senantiasa membimbing kami yang bodoh-bodoh untuk sedikit mengenal ilmu-ilmu yang langka ini.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

1 Comment

  1. Anonymous

    Luar biasa abg da … ಥ_ಥ

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s