SAYA DIGADAIKAN KEPADA IBLIS

Saya Digadaikan Kepada Iblis
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Memang aneh untuk membahas fenomena gaib di era modern ini. Namun kita tidak bisa menutup mata, banyak masyarakat kita yang masih terjebak dalam praktik-praktik perdukunan. Tidak terkecuali para politisi, artis dan pebisnis yang mencari pelaris dan popularitas melalui ‘guru-guru spiritual’ tertentu. Tidak hanya di negara berkembang, negara-negara maju sekalipun punya kelompok-kelompok pemujaan terhadap setan. Banyak politisi, milioner dan selebritis kelas dunia yang eksis dalam persekutuan mistik ini.

Meskipun tidak terdengar ke publik, amalan ilmu “kiri” masih ada dimana-mana. Usaha mengganggu orang dengan cara-cara “hitam” juga masih banyak dilakukan. Bahkan ada dokter yang angkat tangan dengan kejanggalan kasus pasiennya. Karena itulah Alquran sedikit banyak menyinggung tentang iblis, jin, setan dan sihir (QS. Al-Baqarah: 102; Yunus: 77, 81-82; Thaha: 67-69; Al-‘Araf: 117-122; Al-Falaq: 1-5; An-Nas: 1-5). Alquran juga menjanjikan obat bagi penyakit-penyakit ini.

Kisah ini merupakan salah satu fenomena spiritual di Dayah Sufimuda, Aceh. Diceritakan langsung oleh yang mengalaminya, terkait perobatan yang ia cari setelah sekian lama terganggu dengan energi negatif akibat perdukunan yang tidak ia sadari. Kesembuhan dan pengobatan ala sufi di Dayah ini menunjukkan adanya kekuatan metafisis yang maha dahsyat dari sisi Allah ta’ala melalui dzikir seseorang yang berkelas wali. Tidak ada proses rukyah. Sebab, Dayah ini tidak diperuntukkan untuk mengobati orang. Hanya untuk mengajarkan dzikrullah. Murid sembuh setelah mengamalkan dzikir. Berikut kisahnya.

***

Nama saya Turiyah. Saya lahir dan besar di Bandung dalam sebuah keluarga dengan tiga bersaudari. Saya ditinggal almarhumah ibu ketika berusia 4 tahun. Saat itu juga kehidupan saya mulai terasa perih. Saya tidak mau berbicara tentang masa kecil di Bandung. Saya hanya akan bercerita kehidupan sejak pindah ke Aceh. Saat kejadian aneh ini, usia saya 32 tahun.

Saya menikahi orang Aceh pada 28 Juli 2018. Pada 3 Agustus 2018 resmi saya menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekkah. Saya tinggal bersama mertua dan diterima hangat disini. Dua belas hari berlalu sejak pertama tiba. Lalu pada 15 Agustus 2018, peristiwa gaib mulai terjadi. Hari itu, sekitar pukul 15 wib saya kerasukan iblis jahat. Yang ternyata sudah ikut dalam tubuh saya.

Sebenarnya iblis itu belum saatnya muncul. Ini terjadi karena suami dan Yahbit (suami dari adik mertua saya) membakar serbuk yang ada dalam bungkusan plastik kecil milik saya. Serbuk itu pemberian dari seseorang yang selama ini saya anggap sebagai ibu angkat. Karena sudah lama kenal, saya merasa sangat dekat dan percaya penuh kepadanya. Sampai-sampai apapun yang diberikan saya ambil dan simpan. Makanan apapun yang diberikan saya makan. Serbuk itu diberikan dengan pesan untuk disimpan. Apabila suatu saat ia minta kembali, harus dikembalikan. Ia berpesan agar saya merahasiakan hal ini kepada siapapun. Karena serbuk itu, katanya, dapat memperlancar rejeki saya. Konyol memang, pada zaman modern seperti ini saya masih percaya pada hal-hal seperti itu.

Sesuadah Yahbit membakar serbuk itu, mata saya langsung memerah. Saya tidak sadarkan diri. Semua omongan yang keluar dari mulut saya, bukan dari kesadaran saya. Ia marah karena serbuk itu kami musnahkan. Serbuk itu ibarat alat bagi mereka untuk tetap berinteraksi dengan orang yang mengirim mereka. Iblis ini marah sekali sama suami saya dan dianggap biang keladi semua ini. Suami menikahi dan membawa saya pergi dari tanah Jawa. Karena jaraknya sangat jauh, mereka berupaya dengan berbagai cara gaib untuk menguasai saya.

Saat saya kerasukan, suami terus bertanya berbagai hal mengapa ini bisa terjadi. Termasuk mengapa mereka masuk dalam tubuh saya. Katanya, saya dipilih karena menurut mereka dapat menjadi pembawa rejeki bagi tuan mereka. Tuan saya menjanjikan janin yang nanti saya kandung dipersembahkan sebagai imbalan bagi mereka. Kata mereka, saya sudah diteluh dengan syarat yang sudah sempurna.

Sebelum ke Aceh, saya sempat tinggal di Jakarta selama 1 bulan. Disana saya tinggal bersama ibu angkat yang ternyata telah mengguna-guna saya. Saya diberikan makanan yang sebelumnya telah disyaratkan kepada iblis dan jin. Selama tinggal disana, setiap hari saya diberikan mie instan yang telah dicicipi kepada jenglot peliharaannya. Tidak hanya itu. Saya juga diminumkan air beras yang dicampur garam batu yang telah diritualkan terlebih dahulu. Saat saya tanya mengapa harus memakan atau meminum itu, katanya: “Agar rejekimu lancar”.

Saya juga diharuskan memakan secuil apel yang saya tidak tau apa gunanya. Setelah saya makan itu semua, saya disuruh gali tanah sedalam lengan dan kemudian menanam foto saya sendiri. Foto tersebut telah terlebih dahulu dibasahi 7 macam minyak dan dililit dengan benang 7 warna. Dengan lugu dan polos saya mengikuti semua permintaannya. Tidak ada kecurigaan, karena sudah saya anggap sebagai ibu sendiri. Sebelumnya ia juga telah mengambil cincin merah delima dijari saya, pemberian nenek. Sudah 13 tahun saya memakainya. Cincin itu katanya mengganggu proses yang sedang ia lakukan. Ternyata ibu angkat saya seorang pemuja sejati. Keinginannya untuk kaya raya telah membutakan mata hatinya. Di kota-kota besar banyak yang gelap mata, menempuh segala cara untuk sukses dan kaya.

Baru setelah berada di Aceh, semua yang saya alami di Jakarta tersambung ceritanya. Mereka masih menunggu janin yang dijanjikan dari saya. Selama 5 hari saya kerasukan terus menerus. Sehingga 24 jam dijaga ketat oleh suami. Sampai-sampai ia tidak sempat pergi bekerja. Suami menyiapkan apapun serta membuat aturan-aturan tidak boleh keluar malam. Sampai-sampai saya dibuat emosional. Saya dibuat bertengkar terus dengan suami. Saat sudah bertengkar, keluarlah permintaan agar saya dipulangkan ke Jawa. Itulah keinginan mereka. Memisahkan kami.

Lima hari setelah kerasukan, saya mulai bisa melihat makhluk dan bermacam roh aneh. Termasuk berbagai bisikan dan tipuan. Kata orang saya indigo. Padahal saya tidak bisa apa-apa sebelumnya. Saya juga mengalami bermacam bermimpi. Saat tidur juga sering bergetar dan terhentak, sehingga terjaga. Suami saya juga sudah sering diganggu dengan mimpi-mimpi aneh. Dia setiap hari menceritakan apa yang saya alami saat tidur. Hanya sekitar 30 persen dari waktu yang saya bisa mengendalikan diri. Selebihnya sudah dikuasai oleh unsur lain.

Anggota keluarga yang lain ada yang berusaha menenangkan dengan bacaan Alquran. Praktis selama 5 hari itu Yahbit yang tangani. Ia kelihatannya terlatih menangangi hal-hal seperti ini. Dia seperti membacakan sesuatu dan juga memberikan obat-obat tradisional. Namun pada kali lain saya dibuat betul-betul menderita. Sering teringat betapa jahatnya yang melakukan ini kepada saya. Hanya gara-gara dijanjikan untuk kaya 7 turunan oleh iblis dan jin. Saya hanya bisa pasrah dan mulai meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Suami saya juga begitu. Selang beberapa hari kami merayakan Idul Adha dengan perasaaan was-was. Berbagai bisikan masih datang ke telinga. Hari terus berlalu. Banyak hal yang saya alami, walaupun tidak kerasukan berat seperti sebelumnya.

Sejak tiba di Aceh, saya tinggal di Indrapuri, di rumah nenek suami bersama adik dari ibu mertua. Beliau yang menjaga dan merawat saya. Kemudian pada 11 September 2018 saya mulai menetap di rumah mertua. Dan di sana saya kembali kerasukan. Semua berita yang bertendensi negatif terus masuk dalam pikiran saya. Segala cara untuk ribut dengan suami mencuat begitu saja. Saya kerasukan dari siang sampai petang, sampai tidak bisa ibadah.

Akhirnya Yahbit menyarankan untuk membawa saya ke Nagan Raya. Sebelumnya saya tidak pernah tau tentang daerah tersebut. Rupanya Yahbit pernah mengalami hal seperti saya. Tetapi sejak belajar dzikir disana, itu sudah tidak ada. Bahkan selama ini beliau yang membantu menenangkan saya. Beliau menceritakan keadaan dan suasana di Dayah Sufimuda kepada saya dan suami. Saya pun pasrah untuk dibawa ke sana.

Tepat pukul 10 wib pada 13 September 2018; saya dan suami beserta Yahbit dan istrinya berangkat ke Nagan Raya. Saat berangkat, saya kerasukan lagi. Namun hanya 50 persen yang dikuasainya. Kejanggalan lain terjadi saat mau berangkat. Saat mandi dan bersiap-siap, saya banyak melamun dan bicara tidak menentu. Tetapi suami sudah bertekad untuk kesana. Meskipun sebenarnya mustahil mencapai Nagan Raya dengan sepeda motor dalam keadaan kerasukan. Tetapi kami tetap berangkat dan hanya berharap petolongan Allah saja.

Kami berangkat dengan 2 sepeda motor. Diperjalanan, saya tidak sadarkan diri. Semua seperti mimpi.  Saat sampai di pabrik semen Lhoknga, saya berbicara atas nama iblis. Mereka berterima kasih karena telah membawa saya ke sarang mereka. Yaitu gunung dan laut. Sepanjang jalan pantai barat terbentang laut di sisi kanan dan gunung di sisi kiri. Suami saya sempat dibuat bimbang dengan kata-kata itu. Sebab, tujuan masih jauh. Namun suami sudah tidak mau tau lagi. Pokoknya harus sampai.

Perjalanan dilanjutkan dengan kecepatan 40 km/jam. Suami mengingatkan saya untuk terus beristighfar dan membaca ayat kursiy. Tepat dibelakang kami, Yahbit dan istrinya mengikuti. Mereka terheran-heran dan sesekali tertawa melihat saya. Sebab, saya mulai bergerak menari kegirangan ketika melihat laut. Dimata saya, laut terlihat seperti padang hijau penuh dengan kuda yang memanggil-manggil. Suami berusaha menyadarkan. Tetapi ia tidak sanggup dan hanya menurunkan kecepatan sepeda motor. Setiap saya melihat lautan, seketika kesadaran saya hilang. Iblis berharap suami saya menghentikan motor dan berbalik pulang. Saya dibuat oleh mereka berjaipong di atas sepeda motor, meskipun istighfar dan ayat-ayat suci terus keluar dari mulut. Suami tidak peduli, terus melanjutkan.

Gangguan juga terjadi saat shalat dhuhur di Masjid Lamno, Aceh Jaya. Selesai berwudhuk, saya berusaha masuk ke masjid. Namun entah kenapa sandalnya sulit sekali dilepaskan. Seperti tidak diijinkan masuk. Terpaksa suami yang datang dan melepaskannya sambil membaca bismillah 3 kali. Meskipun badan mereka kuasai, hati dan lisan saya masih dalam keadaan sadar.

Magrib kami tiba di Kota Meulaboh, Aceh Barat. Sekitar waktu isya baru tiba di Simpang Empat Nagan Raya. Kami terlalu lambat diperjalanan karena kondisi saya. Seharusnya, pukul 3 atau 4 sudah tiba. Ketika menuju ke Dayah Sufimuda, kami satu motor sudah bertiga. Dibelakang saya ada istri Yahbit yang mengapit saya. Yahbit mengikuti dari belakang sendirian dengan motonya. Karena sudah malam. Saya kerasukan lagi. Yahbit kemudian berjalan di depan menuntun kami. Meskipun sudah dua kali kesana, rupanya Yahbit sedikit lupa arah jalannya. Memang posisinya agak masuk ke dalam. Bahkan sempat salah jalan. Kami mengambil jalan lurus setelah jembatan besi. Saat mau belok ke kiri, seharusnya begitu, ada dua orang (sepasang suami istri usia 50an) yang terlihat sedang mendorong motor rusak. Mereka memberi tau kami bahwa jalan ke Dayah lurus.

Saat sudah terlalu jauh lewat, kami kembali bertanya. Diingatkan oleh orang-orang di sebuah warung kopi, bahwa jalur ini kejauhan dan diminta putar arah. Tapi kami tetap melanjutkan sampai entah kemana-mana. Sempat beberapa kali Yahbit menelpon beberapa abang di Dayah untuk menjemput. Namun karena kesibukan pada acara penerimaan tarekat, mereka tidak bisa menjemput. Mereka hanya mengarahkan jalannya saja. Kami bolak balik tidak tau jalan. Sampai petir pun terjadi. Hujan mulai gerimis. Persis macam di film-film horor saja.

Kondisi saya semakin lemah. Akhirnya kami berbelok ke kiri dari sebuah SMP, sebagaimana arahan. Sekitar 100 meter dari belokan, tiba-tiba motor Yahbit jatuh oleng tidak karuan. Seperti ada yang mendorong. Sekitar 50 meter kemudian motor kami yang terjungkal ke kanan. Memang jalannya juga rusak bekas lalu lalang truk pengangkut sawit. Suami tak kuasa mengendalikan motor. Terasa ada yang berusaha membalikkan. Kami bertiga terlempar. Istri Yahbit terkejut dan menangis. Saya juga ikut menangis. Ditengah kegelapan malam dan hutan yang sunyi, kami terpaku sedih.

Tidak tau harus bagaimana. Suami memutuskan untuk kembali ke SMP tadi. Dengan gugup ia berusaha menyeimbangkan kembali sepeda motor. Sengaja ia berbalik, mengingat kami sudah lemas dan tidak pernah mengalami hal seperti ini. Malam itu sebenarnya saya melihat melalui mata batin apa yang terjadi. Namun tidak berani saya beritahukan. Ada yang keluar dari tubuh saya dan berusaha menjungkitkan sepeda motor. Begitu pula sejak awal melewati jembatan, Yahbit telah disesatkan oleh makhluk itu (menyamar sebagai sepasang suami istri yang mogok motor serta menuntun Yahbit ke arah jalan yang salah dan jauh).

Begitu tiba di SMP tersebut, kami kembali menelpon abang-abang Dayah. Dalam keputusasaan akhirnya kami dijemput oleh 2 anggota Dayah Sufimuda. Dengan tenaga yang tersisa, kami naik ke mobil mereka. Anehnya, tubuh saya tiba-tiba menjadi kuat kembali. Namun, kaki menjadi kaku dan berat. Seperti tidak mau naik. Berulang kali mulut saya berbicara ingin pulang. Saya diangkat paksa ramai-ramai. Iblis sama sekali tidak sudi jika saya pergi ke Dayah Sufimuda. Sekitar 20 menit kami tiba di Dayah. Namun kaki saya lagi-lagi kaku, tidak mau bergerak. Saya juga meronta meminta kepada suami untuk pulang. Tubuh saya diangkat oleh suami ke dalam Dayah. Disana saya sudah dalam kondisi setengah sadar.

Banyak keganjilan lain saya alami disana. Mulai dari perut yang membesar tidak karuan. Menatap orang-orang secara tajam dan sinis. Hingga omongan yang ngelantur kemana-mana. Namun kami terus mengikuti prosesi acara. Malam itu malam Jumat. Malam penerimaan tarekat. Walau terlambat beberapa jam, kami tetap bersemangat mengikutinya. Kami mengikuti secara khusyuk beberapa arahan dari para khalifah dari Abuya Sufimuda untuk proses tazkiyatun nafs (penyucian diri). Dalam proses itu, saya dipersilakan beristirahat (tidur). Saya dijaga tiga orang kakak petugas tueng tarekat. Pada waktu itulah mereka melihat saya bergerak-gerak. Kain yang menutup saya saat tidur terbuka dan terbang dengan sendirinya. Tidak masuk akal. Iblis dalam tubuh saya merasa kesakitan dengan proses tarekatullah yang saya jalani.

Subuh pun tiba. Saya bangun dan menjalankan shalat bersama jamaah Dayah dan peserta tarekat lainnya. Ada keanehan lain yang saya alami. Subuh itu saya melihat ada seseorang yang duduk di Kubah. Beliau juga terlihat memimpin shalat subuh. Belakangan saya baru tau itu adalah Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda (tapi dalam wujud ruhaniah). Rupanya Beliau yang hadir dibelakang Yahbit pada saat dulu saya ditenangkan ketika kerasukan di Indrapuri. Entah mengapa, seluruh tubuh bergetar pada saat melihat Beliau.

Waktu berlalu. Sudah pukul 10 pagi. Kami berencana untuk pulang. Aneh, semua orang berbicara tentang kedatangan Abuya pukul 15 sore nanti. Padahal, sejak semalam sampai sekarang, Abuya ada di Kubahnya sedang berzikir. Rupanya yang saya lihat sejak semalam sampai tadi, adalah wujud ruhaniah Beliau. Saat saya ceritakan kepada beberapa orang di Dayah, mereka tersenyum. Pun ketika mau ambil langkah pulang, kami kembali masuk ke Dayah. Saat bangun dari sujud syukur, saya masih melihat Abuya duduk di Kubahnya. Malah beliau memanggil saya.

Saya pun merangkak pelan menghampiri dan bersalaman dengan Beliau. Saya berpamitan dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu melakukan sujud syukur. Seolah-olah perut saya digosoknya seraya berkata, “sembuh kamu”. Aneh. Cuma saya yang melihatnya. Yahbit dan suami saya tidak melihat itu. Mereka tercengang terhadap apa yang saya lakukan di Kubah yang menurut mata mereka kosong. Tak kuasa, Yahbit dan istrinya menangis terharu melihat saya.

Kami pulang ke Banda Aceh. Berbeda saat pergi, diperjalanan pulang semua terasa begitu aman dan tenang. Sejak saat itu saya sembuh dan tidak ada lagi kejangggalan. Sehari-hari saya mengamalkan dzikir yang diberikan. Baru beberapa minggu kemudian saya bertemu langsung sosok Abuya Sufimuda yang wujud ruhaninya pernah saya lihat di kubah. Saat bertemu di rumahnya, beliau berkata: “Bukan saya yang sembuhkan, tapi Allah”.

***

Demikian kisahnya, sebagaimana diceritakan langsung oleh Ibu Turiyah. Kebetulan, malam beliau masuk tarekat, kami juga ada di Dayah dan melihat langsung kejanggalan yang dialami ibu tersebut. Kami tidak tau, ternyata panjang cerita kenapa beliau bisa sampai begitu. Beberapa bulan setelah mengamalkan dzikir tariqah ia menceritakan secara detil kisah sebagaimana telah kami urai di atas.

Sebenarnya, ada lebih seratus fenonema spiritual lain yang kami rangkum dalam buku “Karamah Auliya: Pengalaman Spiritual Murid-Murid Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda (2018). Tidak hanya terkait perobatan. Juga ada pengalaman-pengalaman transendental lain terkait kasyaf, kehadiran mursyid dan penglihatan batin, makbulnya doa dan nazar, akibat tidak patuh, dimudahkan urusan, kecelakaan dan pertolongan, berbagai kekuatan dan kelebihan, keajaiban air tawajuh, singkatnya jarak dan waktu, benda-benda keramat, mimpi, perjalanan ruh, serta fenomena muraqabah dan ketenangan jiwa.

Dalam dunia sufi, khususnya yang dipimpin para wali, hal-hal supranatural semacam mukjizat atau karomah adalah perkara biasa. Buku tersebut sengaja kami susun guna mendokumentasikan fenomena-fenomena yang sudah langka dalam spiritualitas Islam. Kita sebagai makhluk tidak bisa mengabaikan kehidupan spiritual. Ketersambungan jiwa dengan Allah menjadi obat yang dapat menyembuhkan. Jika tidak, dunia ini akan memperdayakan. Menghancurkan.

Masalahnya, yang mengajarkan dzikir banyak. Tetapi yang berpower langka. Yang bisa baca kitab melimpah. Yang bacaannya mampu membangun kesadaran, serta efektif mengusir jin dan setan sangat sedikit. Untuk itulah Allah mengirim para nabi dan pewarisnya guna mengajarkan kita metode perjalanan jiwa agar terhubung dengan-Nya. Agar bacaan kita menjadi otentik. Itulah ilmu dan dzikir-dzikir yang “diturunkan” langsung oleh guru-guru spiritual yang otoritatif.

Pada skala global, kita sebenarnya sedang hidup dalam pengaruh satanic system. Sulit bergerak. Ekonomi, politik, budaya dan informasi sudah berada dalam kontrol adidaya-adidaya setan. Kita sedang mengalami tipudaya dalam perangkap sihir yang lebih parah dari yang dialami ibu Turiyah. Tanpa koneksi dengan Allah, mustahil kita bisa bebas.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI.