DIMANA ALLAH?

image: Basic Training HMI Komisariat Fakultas Sains dan Teknologi UIN Arraniry (Jum’at, 25/10/2019)

Dimana Allah
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Semalam (Jum’at, 25/10/2019) saya kembali memberi materi “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan”. Kali ini di Latihan Kader (LK-1) HMI Komisariat Fakultas Sains dan Teknologi UIN Arraniry, Banda Aceh. Seperti biasa, sesi tentang ketauhidan selalu diwarnai pertanyaan-pertanyaan kritis seputaran eksistensi Tuhan.

“Dimana Allah?”, tanya seorang peserta perempuan. Khasnya HMI memang. Berani. Akalnya canggih.

Alih-alih menjawab dengan kerangka ilmu kalam (yang cenderung memahami Allah sebagai sebuah wujud yang jauh, terpisah, tidak dikenal, berbeda, tidak bertempat dan sebagainya – sehingga pertanyaan “dimana” Allah menjadi tidak relevan), kali ini saya merespon dengan pendekatan tasawuf: “Allah ada dihadapan anda sekarang!”.

Peserta bingung. Seperti tidak terima.

“Kalian sedang menghadap kemana sekarang?”, tanya saya lagi. “Sedang menghadap kearah kanda”, jawab peserta. “Nah, disitulah Allah”.

Saya menjelaskan, tidak perlu susah-susah mencari tau dimana Allah. Jangan bertuhan kepada sesuatu yang susah dicari. Tuhan kita sangat dekat. Dia ada kemanapun kita menghadapkan wajah. “Kebetulan kalian lagi menghadap ke arah saya, ya disitulah Allah sekarang”, saya menegaskan. Semua diam.

“Apa sebenarnya yang sedang kalian lihat sekarang, saya atau Allah?”, mereka kembali mendapat pertanyaan. Suasana sudah semakin tegang. Meskipun sesekali terdengar jawaban yang mengaku sedang melihat saya. Sebagian lain menjawab sedang melihat Allah. Sebagian lainnya tidak tau harus ngomong apa. Ada yang gemetar. Rasanya ingin membantah.

Saya membaca pikiran mereka, seperti ada yang menyimpulkan bahwa saya adalah Allah. “Ingat ya, saya bukan Allah dan tidak akan pernah menjadi Allah”, saya mengklarifikasi. Untunglah bukan Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, Mansur Al-Hallaj atau Abu Yazid Al-Bistami yang sedang memberi materi. Kalau sempat mereka yang hadir, pasti akan dijawab: “Subhani” (Maha Suci Aku), “Ana Al-Haqq” (Aku adalah Tuhan), atau “Ma fi Jubbati illa Allah” (Tidak ada apapun dalam jubah aku kecuali Allah).

Waktu terus berjalan. Kemudian saya menguraikan pemahaman irfani tentang dimensi Dhahir sekaligus Batinnya dimensi ilahiyah. Termasuk meminjam penjelasan fisikawan Bohm (1980) tentang “The Wholeness and Implicate Order”. Juga “The Divine Matrix” karya monumental Gregg Braden (2007) yang memaparkan jaringan energi yang menyatukan semua wujud kasat dan tidak kasat.

Fisika kuantum yang pelopori Max Planck (1900) telah banyak membantu kita memahami eksistensi yang satu (Ahad) dari semesta material (“bumi”) dan immaterial (“langit”). Temuan-temuan riset saintifik terkini pada akhirnya juga memberi jawaban tentang kesatuan, kehadiran atau eksistensi sebuah “Pikiran Supersadar dan Cerdas” (Allah) dalam semua dimensi. Alquran membahasakan ini dengan:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Baqarah: 115).

Saya kira, persis seperti penjelasan Guru kami pada pertemuan singkat kemarin: “Kita sedang hidup di abad dimana filsafat, tasawuf dan sain mulai tersatukan.” Dimensi gaib dan spiritual dari doktrin-doktrin Islam mulai dapat dipahami secara ilmiah. Sementara, pemikiran tauhid dan tasawuf era klasik yang terlalu tekstual dan terminologis (penuh dengan istilah dan hafalan) mulai terasa out of date. Artinya, beragama tanpa meng-upgrade pengetahuan saintifik, tidak akan begitu memberi kemajuan bagi peningkatan kesadaran universal kita (baik sisi eco-teologis maupun humanity). Perlu kitab tauhid khusus untuk era milenial, yang kontennya saintifik sekaligus memperkaya jiwa.

Saudara-saudara sekalian, memahami bahwa “Allah ada dimana-mana” itu satu hal. Sementara bagaimana cara ‘mengaktivasi’ agar keberadaan Allah dapat membawa mukjizat bagi kita, itu hal lain lagi. Karena, kalau sekedar percaya, orang kafir dan musyrik pun percaya kepada adanya Tuhan. Tapi yang melahirkan karamah melalui proses bertuhan bagaimana?

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s